nataragung.id – Lampung Selatan – Indonesia mungkin salah satu negeri yang paling rajin berbicara tentang moral. Ceramah tentang akhlak tumbuh di mana-mana. Seminar integritas digelar di hotel berbintang dengan backdrop bertuliskan transparansi. Di televisi, media sosial, ruang rapat, sampai mimbar keagamaan, bangsa ini nyaris tidak pernah kekurangan nasihat tentang kejujuran.
Namun semakin sering moral dibicarakan, semakin sulit ia ditemukan dalam bentuk yang paling sederhana: keberanian berkata benar.
Kita hidup di negeri yang sangat religius, tetapi kejujuran sering terasa seperti barang langka. Orang bisa berbicara panjang tentang amanah sambil tetap tenang menandatangani laporan yang ia tahu tidak sepenuhnya jujur. Kita memuja kesopanan sedemikian rupa sampai kritik kadang dianggap lebih berbahaya daripada kebohongan.
Barangkali karena itulah Mochtar Lubis terdengar seperti seseorang yang datang terlalu awal ke pesta besar kepalsuan nasional. Ketika menyampaikan ceramah terkenalnya Manusia Indonesia pada 1977, Indonesia sedang memasuki masa ketika stabilitas diperlakukan hampir seperti agama baru. Negara menuntut ketertiban. Birokrasi tumbuh semakin rapi. Bahasa pembangunan terdengar modern dan optimistis. Tetapi di balik semua itu, kritik mulai dicurigai dan kepatuhan perlahan diperlakukan sebagai kebajikan utama.
Di tengah suasana itulah Mochtar Lubis menyebut salah satu watak paling menonjol manusia Indonesia: hipokrisi. Bahasa sederhananya: lain di depan, lain di belakang. Kalimat pendek yang terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat banyak orang tersenyum sambil merasa tersinggung.
Feodalisme yang Berganti Pakaian
Menurut Mochtar Lubis, kemunafikan sosial kita tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sejarah panjang feodalisme dan kolonialisme yang mengajarkan manusia Indonesia untuk bertahan hidup dengan cara menunduk.
Dulu rakyat takut kepada raja.
Sesudah itu takut kepada penjajah.
Lalu takut kepada atasan. Sekarang? Kita menyebutnya budaya organisasi.
Feodalisme memang makhluk yang cerdik. Ia bisa berganti pakaian tanpa kehilangan wataknya. Dulu memakai mahkota dan singgasana. Kini memakai jas formal, ruang rapat berpendingin udara, dan presentasi PowerPoint dengan grafik berwarna biru.
Dulu titah turun dari istana. Sekarang ia datang lewat pesan singkat di grup WhatsApp kantor:
“Mohon dibantu dukungannya.”
Kalimat yang sering kali sebenarnya berarti:
“Jangan ada yang terlalu jujur.”
Maka lahirlah falsafah tidak resmi yang dipraktikkan dengan disiplin luar biasa: asal bapak senang, suasana tetap aman, kritik seperlunya, dan integritas jangan sampai mengganggu karier.
Kita berhasil membangun birokrasi yang tampak modern di permukaan. Laptop terbaru tersedia. Digitalisasi dibicarakan di mana-mana. Slogan transparansi ditempel di setiap sudut kantor.
Hanya saja, cara berpikirnya kadang masih versi kerajaan abad pertengahan. Atasan harus selalu tampak benar.
Bawahan wajib pandai membaca arah angin. Dan kenyataan di lapangan boleh dibengkokkan sedikit demi menjaga stabilitas suasana.
Dari situ lahirlah seni administrasi paling canggih di republik ini: membuat laporan yang cukup indah untuk menaikkan jabatan, tetapi cukup kabur untuk menghindari tanggung jawab.
Moralitas Sebagai Pertunjukan
Mochtar Lubis mungkin belum mengenal istilah performative morality, tetapi ia sudah membedah gejalanya jauh sebelum akademisi menjadikannya tema seminar.
Hari ini kita hidup di zaman ketika moral lebih sering dipamerkan daripada dijalankan. Kejujuran menjadi slogan. Kesederhanaan berubah menjadi konten. Integritas menjadi dekorasi backdrop acara. Yang penting terlihat bersih. Soal benar-benar bersih, itu urusan belakangan.
Ironisnya, masyarakat sering kali tahu semuanya.
Kita tahu banyak pidato antikorupsi dibacakan dengan wajah serius oleh orang yang mungkin baru selesai membicarakan proyek. Kita tahu banyak rapat evaluasi sebenarnya hanyalah estafet pujian dengan slide elegan dan istilah seperti “optimalisasi”, “penguatan”, atau “sinergi lintas sektor”.
Kita tahu target gagal. Namun selama presentasi tampak meyakinkan, semua orang masih bisa pulang dengan tenang dan berkata:
“Secara umum sudah cukup baik.”
Inilah paradoks modern Indonesia:
demokrasi dipuji, kritik dicurigai,
transparansi dirayakan, informasi disembunyikan,
meritokrasi diumumkan, koneksi tetap menentukan,
agama dibela mati-matian, kejujuran dinegosiasikan pelan-pelan. Kita seperti bangsa yang sangat takut terlihat buruk sampai akhirnya terbiasa hidup di dalam kepalsuan yang rapi.
Harmoni Sosial dan Seni Bertahan Hidup
Tentu persoalannya tidak sesederhana menyebut masyarakat Indonesia munafik. Sebagian orang tumbuh dalam kebudayaan yang menempatkan harmoni sosial sebagai nilai penting. Konflik dihindari. Nada bicara dijaga. Perasaan orang lain dipertimbangkan.
Dalam batas tertentu, itu justru kekuatan.Tidak semua persoalan harus diselesaikan lewat benturan terbuka. Banyak komunitas bertahan karena masyarakatnya masih mengenal sopan santun dan kemampuan menahan diri.
Masalah muncul ketika budaya sungkan berubah menjadi budaya menutup-nutupi. Ketika kesopanan dipakai bukan untuk menjaga martabat bersama, melainkan untuk melindungi kepalsuan.
Akhirnya banyak orang hidup dengan dua wajah sosial:
satu untuk rapat,
satu lagi untuk obrolan setelah rapat. Di depan memuji. Di belakang mengeluh.
Dan anehnya, semua orang memahami permainan itu, tetapi tetap ikut bermain demi bertahan hidup. Orang yang pandai menyenangkan semua pihak disebut bijaksana.
Sementara orang yang terlalu jujur sering dianggap:
“kurang etis,”
“tidak memahami budaya,” atau kalimat paling halus sekaligus paling berbahaya:
“belum matang.”
Padahal kadang yang disebut matang hanyalah kemampuan mengemas kepalsuan dengan nada santun.
Belajar Jujur Tanpa Kehilangan Kesopanan.
Meski terdengar sinis, kritik Mochtar Lubis sesungguhnya bukan ajakan membenci bangsa sendiri. Ia sedang mengingatkan bahwa bangsa yang terlalu sibuk terlihat bermoral bisa lupa bagaimana caranya benar-benar bermoral.
Kita gemar membangun citra baik karena citra memang jauh lebih murah daripada integritas.
Integritas menuntut keberanian.
Citra cukup membutuhkan desain grafis. Padahal bangsa tidak runtuh hanya karena ekonomi buruk atau teknologi tertinggal. Bangsa lebih cepat lapuk ketika kepalsuan dianggap kewajaran dan kejujuran mulai diperlakukan sebagai ancaman.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar mengganti pemimpin, memperbarui slogan reformasi, atau mengganti logo program setiap lima tahun. Yang jauh lebih sulit adalah mengubah mentalitas: bahwa menghormati atasan tidak berarti berhenti berpikir, dan menjaga kesopanan tidak harus dilakukan dengan memelihara kebohongan.
Mungkin inilah warisan paling mengganggu dari Mochtar Lubis:
ia memaksa kita bercermin. Dan seperti semua cermin yang jujur, pantulannya tidak selalu menyenangkan.
Sebab masalah terbesar kita mungkin bukan karena terlalu banyak orang jahat. Melainkan terlalu banyak orang baik yang terlalu lama belajar berpura-pura demi bertahan hidup.
Karena kepalsuan yang dilakukan sendirian disebut dusta. Tetapi ketika dipraktikkan bersama-sama terlalu lama, ia perlahan berubah menjadi budaya. (*)

