Cermin Retak: Kurban. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Hari ini, Yuk Nah tidak menjual sate. Sebagai pedagang senior ia tahu persisi, para tetangganya akan menerima bagian daging kurban Masjid di desanya

“Semua orang akan memasak sate,” kata Yuk Nah sambil menyiapkan perlengkapan warung setelah ikut salat Iduladha.

Pelanggan setianya, Pakde Kliwon, Pakde No, dan saya sudah enggak sabar mau menikmati kopi racikan mau Yuk Nah. Namun, tetap harus menunggu Yuk Nah yang sedang super sibuk mempersiapkan warungnya.

“Pak Presiden tahun ini membeli hewan korban, seribuan lebih katanya,” ujar Pakde No.

Baca Juga :  Tips Anti Sinusitis dan Penyembuhan Tanpa Obat

“Dan menjadi olok-olokan warga net,” sahut Pakde Kliwon.

Pasalnya, kata Pakde Kliwon, tak sepantasnya hewan-hewan yang dibeli menggunakan dana APBN itu disebut kurban. Sebut saja itu pembagian daging sapi bersamaan dengan pembagian daging kurban.

“Jadi bukan boleh atau tidak boleh Presiden menggunakan dana APBN dalam kerangka Bantuan Presiden (Banpres),” lanjut Pakde Kliwon.

“Apa ya menteri agama enggak memberikan pemahaman mengenai kurban, ya?” tanyaku entah kepada siapa kutujukan.

Baca Juga :  Kinerja APBN April 2026: Menjaga Optimisme Fiskal di Tengah Tantangan Ekonomi. Oleh : Abi Khoiri // Warga Kelahiran Desa Mandah (Natar) - Kepala Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan KPPN Kuala Tungkal - Jambi

Saya yakin benar, tiga orang sahabat baikku itu, enggak bakal ada yang bisa jawab. Lah, mereka juga enggak kenal dengan Menteri Agama.

Saya ingin menarik kembali pertanyaan yang tak memiliki target untuk menjawabnya. Namun, Yuk Nah terlanjur mendengarnya, dan kulihat ia membersihkan tangan dengan ujung kainnya.

Lalu angkat bicara, “itu bukan tugas Menteri Agama. Presiden mesti punya guru ngaji, sehingga bisa belajar mengenai bab kurban.”

Yuk Nah bilang, dengan begitu Presiden enggak menjadi bahan perundungan karena salah konsep tentang kurban.

Baca Juga :  Inilah Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Yang Telah Diusulkan ke Kementerian Dalam Negeri. MAJALAH NATAR AGUNG

“Terus para bawahannya, para Menteri itu enggak hanya membeo dan mengiyakan apa yang menjadi keinginan Presiden,” lanjut Yuk Nah.

Saya hanya bisa garuk-garuk kepala yang memang gatalnya bukan alang kepalang. Mungkin sampho yang saya gunakan tidak cocok dengan kondisi kulit kepalaku. (*/42)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini