Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 3 – Adat dalam Kehidupan Harian. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami percaya bahwa sebuah rumah tidak akan pernah sepi jika sudut dapurnya selalu berasap. Di tanah Lampung yang subur ini, hiduplah seorang gadis bernama Muli Agung. Suatu sore, saat ia tengah menyeduh kopi pahit untuk ayahnya yang kelelahan sepulang dari ladang, seorang musafir asing mengetuk pintu rumah panggung mereka.
Tanpa banyak tanya, Muli Agung segera membungkuk. “Pulanglah, Nuw,” sapanya lembut menggunakan gelar kehormatan untuk tamu. Ia tidak bertanya siapa atau dari mana asal musafir itu. Dalam pikirannya, hanya ada satu ajaran yang ia ingat jelas dari mendiang neneknya: Nemui Nyimah.
Nemui Nyimah adalah sikap ramah dan saling memberi.

Masyarakat Lampung meyakini bahwa memberi tidak akan pernah membuat kita miskin. Justru di situlah pintu rezeki terbuka. Muli Agung menyuguhkan kopi dan seiris pisang emas. Musafir itu, yang ternyata adalah seorang Punyimbang (pemimpin adat) dari marga jauh, tersenyum haru. Ia berkata, “Anak ini menjaga pesenggiri keluarganya. Ia tidak membiarkan tanak (tamu) berdiri di luar rumahnya.”

Dari cerita sederhana ini, kita belajar bahwa adat itu hidup di dapur dan di beranda. Sikap Nemui Nyimah ini bukan hanya sopan santun, tetapi juga cerminan Pesenggiri, harga diri dan kehormatan keluarga. Jika kita bersikap kasar pada tamu, berarti kita merendahkan martabat seluruh kaum.
Dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 36:
۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

wa‘budullâha wa lâ tusyrikû bihî syai’aw wa bil-wâlidaini iḫsânaw wa bidzil-qurbâ wal-yatâmâ wal-masâkîni wal-jâri dzil-qurbâ wal-jâril-junubi wash-shâḫibi bil-jambi wabnis-sabîli wa mâ malakat aimânukum, innallâha lâ yuḫibbu mang kâna mukhtâlan fakhûrâ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (QS. An-Nisa: 13).”

Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) sebagai bimbingan agar umat Islam menjaga silaturahmi dan ramah kepada siapapun, baik yang dekat maupun yang jauh (tetangga yang jauh diartikan sebagai musafir atau tamu). Betapa luhurnya nilai ini, di mana adat Lampung dan syariat Islam berjumpa dalam satu cangkir kopi hangat. Nilai ini juga sejalan dengan Sila ke-2 Pancasila, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, di mana kita memanusiakan tamu tanpa membedakan asal-usulnya.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 4: Jejak Sejarah dalam Kain: Filosofi di Balik Kain Tapis. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Esok harinya, suasana kampung berubah riuh. Pak Tua, tetangga sebelah, akan menggelar pesta pernikahan. Di sinilah kita melihat falsafah kedua: Sakai Sambayan (gotong royong). Muli Agung tidak perlu diminta. Semua pemuda kampung, dari marga Pepadun (sistem adat pedalaman yang demokratis) maupun Saibatin (sistem adat pesisir yang terstruktur), bergerak bersama.
Mereka bahu-membahu mengangkat papan kayu, membersihkan halaman, dan menyiapkan hidangan. Dalam masyarakat Lampung, Sakai Sambayan prinsipnya dilarang hukumnya untuk menjadi beban. Ini adalah investasi sosial. Hari ini kita membantu tetangga mengangkat tandu pengantin, besok lusa tetangga akan membantu kita menguburkan jenazah. Ini adalah siklus kehidupan yang tidak bisa berjalan tanpa kebersamaan.
Para leluhur menuliskan dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti: “Sakai Sambayan, dilom sibai wat paghasing.” Artinya, dalam gotong royong, tidak boleh ada yang merasa paling benar sendiri. Setiap orang meleburkan ego. Sejarah mencatat bahwa sistem Pepadun yang dianut oleh marga Abung Siwo Mego atau Pubian Telu Suku sangat mengedepankan musyawarah dalam gotong royong.
Nilai spiritual dari Sakai Sambayan sangat kuat. Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasa demam.” (HR. Muslim No. 2586).

Ajaibnya, nilai ini adalah cerminan Sila ke3 Pancasila, “Persatuan Indonesia” dan Sila ke-5, “Keadilan Sosial”. Tanpa gotong royong, adat akan mati. Tanpa adat, masyarakat akan kehilangan identitasnya.
Siang harinya, prosesi puncak dimulai: pemberian gelar atau Juluk-Adok. Dalam budaya Lampung, nama bukanlah sekadar panggilan. Gelar adalah doa dan beban moral.
Seseorang yang diberi gelar Suttan, Pangeran, atau Dalom tidak boleh sembarangan berbuat. Begitu pula di masyarakat Saibatin, gelar menunjukkan strata dan tanggung jawab menjaga adat istiadat pesisir. Muli Agung, karena keramahannya yang tak pernah lekang oleh waktu, dinobatkan dengan gelar “Bungsu Wat Indar Madu”, yang berarti “Si kecil yang memiliki cahaya manis seperti madu”.
Gelar ini membuatnya sadar akan harga dirinya (Pesenggiri). Ia akan merasa malu (malu dalam istilah Lampung adalah sesuatu yang sakral) jika sampai ketahuan berbohong atau malas.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 10: Pi’il Pesenggiri di Era Modern – Relevansi dan Ketahanan Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

wa laqad karramnâ banî âdama wa ḫamalnâhum fil-barri wal-baḫri wa razaqnâhum minath-thayyibâti wa fadldlalnâhum ‘alâ katsîrim mim man khalaqnâ tafdlîlâ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70).

Menjaga nama baik setelah mendapat gelar adat adalah bentuk nyata dari menjaga kemuliaan yang diberikan oleh Allah. Ini juga selaras dengan Sila ke-1 Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, di mana kita mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita, termasuk menjaga amanah gelar yang disandang, di hadapan Tuhan.
Saat pesta usai, para pendatang dari Jawa dan Bali ikut menari dalam irama musik tradisional. Di sinilah keajaiban lain terjadi: Nengah Nyappur.
Nengah Nyappur berarti keterbukaan dan pandai bersosialisasi. Orang Lampung tidak boleh eksklusif. Meskipun mereka memegang teguh adat, mereka adalah tuan rumah yang baik bagi para pendatang. Ini terbukti dari sejarah penyebaran suku Lampung yang tidak hanya diam di tengkuk Gunung Pesagi, tetapi juga berbaur hingga ke Banten, Sumatera Selatan, dan berbagai penjuru Nusantara.

Legenda menyebutkan bahwa seorang pemimpin marga dulu membuka lahan untuk para transmigran karena ia percaya “Bumi Lampung akan subur jika diinjak oleh banyak kaki dari suku yang berbeda.” Inilah yang membuat falsafah hidup ini menjadi perekat kebangsaan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dikukuhkan sebagai kekayaan.
Dalam konteks ini, Islam telah mengajarkan lebih dulu melalui firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 4 – Bahasa dalam Kehidupan Sehari-hari. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Ayat ini menjadi landasan bahwa Nengah Nyappur adalah ibadah. Mengenal orang lain, menerima tetangga baru, dan berbaur adalah jalan menuju ketakwaan, sekaligus implementasi dari Sila ke-3 Pancasila, “Persatuan Indonesia”.
Ketika matahari terbenam di ufuk barat Lampung, Muli Agung, kini dikenal sebagai Bungsu Wat Indar Madu, tersenyum. Ia sadar keluarganya tidak hanya terdiri dari ayah dan ibunya. Keluarganya adalah seluruh marga. Rumahnya bukan hanya tempat berteduh, melainkan benteng terakhir Piil Pesenggiri.
Adat dalam kehidupan harian bukanlah beban berat yang menghalangi modernisasi. Justru ia adalah filter. Ia membuat orang Lampung tetap Pesenggiri (bermartabat), tetap Nemui Nyimah (ramah), tetap Nengah Nyappur (terbuka), dan tetap Sakai Sambayan (gotong royong). Semua itu tidak lain adalah akhlak mulia seorang Muslim dan implementasi nyata dari nilai-nilai luhur Pancasila.
Mari kita jaga warisan ini. Bukan dengan membekukannya dalam museum, tetapi dengan menghidupkannya di setiap sapa, setiap kerja bakti, dan setiap teguk kopi bersama tamu.

Daftar Pustaka
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
2. Shahih Muslim. (Hadits tentang Perumpamaan Tubuh).
3. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno Adat Lampung).
4. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
5. Artikel “Mengenal Suku di Provinsi Lampung” – RRI.co.id.
6. Artikel “Piil Pesenggiri di Era Digital” – Hatipena.
7. Artikel “Status Sosial dalam Masyarakat Adat Lampung Pepadun” – Indonesia Kaya.
8. Artikel “Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun” – Portal Berita Natar Agung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini