Cermin Retak: Sebuah Tanda. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Isyarat semesta itu tidak berdusta. Ketika rakyat begitu menderita, kepedulian mahasiswa akan meluap bagai bah di lidah sungai.

Saya begitu tiba-tiba turut bergelora. Jiwa ini seperti memberontak di antara jumlah usia yang sudah sedikit lagi tersisa.

Air mata meleleh ugal-ugalan, saat melihat generasi masa depan itu berbaris-baris dalam satu komando: lawan ketidakadilan, bebaskan rakyat dari penderitaan.

Ampera-ampera. Begitulah tekadnya turun ke jalan. Mencatat setiap nafas bercampur keringat, aroma duka dan kelaparan. Anak-anak muda yang bergelora, tak pernah takut dengan moncong senjata, derap sepatu laras, dan jijik dengan para penjilat.

“Yuk Nah telah lahir kembali,” kata Pakde Kliwon tak henti-henti sambil menunjuk gawainya yang menampilkan perempuan sedang berbicara di hadapan pagar betis para polisi.

Baca Juga :  Kisah Fulanah: Ketika Istighfar, Tahajud, dan Al-Baqarah Menjadi Titik Balik Hidup Seorang Wanita

Mahasiswa memang tertahan, kendaraan yang mereka tumpangi tak bisa melanjutkan jalan. Blokade. Perempuan berjilbab itu mengambil megaphone, menantang-nantang. Perempuan itu bilang, tidak mewakili mahasiswa, tetapi mewakili ibu dari anak-anak mereka.

Saya melihat Pakde Kliwon menangis. Tubuhnya menggigil, gerahamnya menggeretak. Ia dulu, sebelum sebagian temannya buta hati turut merayakan penguasa tanpa hati nurani, pernah seperti mereka, para mahasiswa yang tak pernah peduli dengan kekuatan yang akan menggilasnya.

Gawai menunjukkan video di sudut lain. Tayangan itu pendek. Terdengar suara mahasiswa perempuan mempertanyakan dasar hukum pencegatan bus yang akan menuju ke lokasi demonstrasi. Pakde Kliwon mengacungkan jempol berulang-ulang dengan mata tetap memerah.

Baca Juga :  Misteri Langit Ketujuh dalam Perjalanan Mikraj Nabi

Seperti sejak dahulu, kata Pakde Kliwon, tak perlu mahasiswa risau dengan berbagai tuduhan yang diarahkan mereka. Tuduhan klasik, tentang antek asing, ada aktor intelektual, ada bohir. Tentu saja akan ada penunggang gelap untuk memperburuk citra mahasiswa di hadapan rakyat yang dibelanya.

“Terus maju, dan majulah,” kata Pakde Kliwon lirih. Bukan lagi terdengar sebagai dengus, tetapi lebih pas sebagai larik doa dari demonstran gaek dengan rambut putih dan keriput tulang pipi yang makin kentara.

Saya merasa inilah nyala api dari semesta. Sebuah tanda yang dikirim dengan lantang kepada para penguasa yang lupa diri. Para penguasa yang menjadikan rakyat sebagai tumbal bagi keserakahan, dan salah kelola negara.

Baca Juga :  Analisis Integratif Kemampuan Berbahasa Asing dalam Kognisi Sosial dan Pemahaman Interpersonal: Tinjauan Empiris 2020-2026 Oleh : Taufiq Hilman Nurrohman *)

Rakyat akan menjerit, semesta akan marah dan menunjukkan kekuatannya. Lihatlah, ketika Yogyakarta membara, Jakarta bergelora, Bandung mengaung, dan Makasar berjajar-jajar.

Dalam sebuah perjalanan senja, seorang teman yang duduk di sebelah dengan penuh semangat dan tangan menunjuk lurus ke atas, “Jika jaket kuning sudah turun ke jalan, itulah lampu kuning bagi penguasa yang zalim.”

Untunglah Pakde Kliwon tak berada di sampingku. Sehingga ia tak perlu menangis lagi. (*/47)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini