Buku Seri: Piil Pesenggiri, Falsafah Kehormatan Orang Lampung dalam Cahaya Islam. Seri 2: Lima Tiang Kehormatan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Malam itu, di sebuah sesat (balai adat) beratap rumbia, Radin Perkasa duduk bersandar pada tiang kayu berukir. Lampu minyak menerangi wajahnya yang penuh kerut, sementara anak-anak marga (kelompok kekerabatan) nya duduk melingkar di bawahnya. Awan mendung menutup bulan, namun api semangat mereka tak padam.
“Hari ini kuceritakan tentang Piil,” ujarnya perlahan. “Bukan tentang siapa paling kaya atau siapa paling ditakuti. Tapi tentang lima tiang yang menyangga rumah kehormatan kita.”
Malu bukan lemah, tapi benteng harga diri.
Dahulu kala, di Kampung Bungamayang, hiduplah seorang muda bernama Buyut Tamin. Ia keturunan Penyimbang (pemegang adat) dari Suku Peminggir. Sayang, ia lebih suka pamer kekayaan daripada bekerja keras. Pada suatu cangget (acara adat dengan pantun bergilir), ia datang dengan pakaian gemerlap, sementara tetangganya kesusahan karena gagal panen.
Sampai suatu hari, tanahnya longsor. Tak seorang pun mau datang membantu. Para tetua berkata pelan, “Hilang sudah Pesenggiri -nya karena ia tak pernah punya rasa malu untuk berbuat salah.”
Dari situlah, masyarakat Lampung memahami: Piil Pesenggiri bukan gengsi buta. Menurut adat, Piil adalah rasa malu yang terpuji, malu jika berbuat curang, malu jika mengecewakan, malu jika hidup bermalas-malasan. Pesenggiri adalah keberanian membela kebenaran.
Dalam kitab Kuntara Raja Niti pasal 6 tentang Piil Pesenggiri, disebutkan bahwa seseorang yang kehilangan rasa malunya berarti telah meruntuhkan harga dirinya sendiri.
Menurut syarak, rasa malu ini adalah bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda, “Al-haya’u min al-iman” (Malu itu sebagian dari iman) (HR. Bukhari). Leluhur kita tidak salah: malu menjaga kehormatan adalah mahkota yang tak pernah pudar.
Kenapa orang Lampung sangat menjaga gelar.

Di tanah Ulun Lampung, setiap orang memiliki juluk (nama panggilan kecil) sejak kanak-kanak. Setelah menikah dan melalui cangget adok (upacara pemberian gelar dewasa), ia menyandang adok, gelar kehormatan yang diresmikan di hadapan Punyimbang.
Radin Perkasa lalu menceritakan adiknya dari Suku Nuban. Ia bernama kecil Bedu. Tapi setelah menikah, ia bergelar Pangeran Surya Kesuma. Sejak itu, ia tak bisa lagi bersikap sembarangan. Jika ia malas atau berbuat curang, orang akan berkata, “Mana gelarnya? Mana marwahnya?”
Juluk Adok bukanlah sekadar nama. Menurut adat, ini adalah tanggung jawab moral. Semakin tinggi gelar, semakin tinggi tuntutan menjaga perilaku.
Menurut Islam, gelar adalah identitas, bukan ajang kesombongan. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat (49): 11:

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Adat Menyambut Malam Lailatulqadar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Asbāb al-nuzūl: Ayat ini turun karena kebiasaan orang Arab menghina dengan gelar buruk. Sebaliknya, gelar mulia harus dijaga sebagai amanah, bukan untuk menyombongkan diri. Juluk Adok kita adalah cerminan nilai-nilai luhur yang sesuai dengan Pancasila sila ke-2, menghormati martabat setiap manusia.
Menyapa dengan hati, tapi tidak mengorbankan izzah (harga diri).

Cerita lain datang dari pesisir. Pada zaman penjajahan, seorang Laluyo (pemimpin) dari Suku Peminggir mendapat tamu utusan Belanda yang sombong. Meski hatinya panas, ia tetap menyambut dengan senyum dan menyajikan kopi serbat (kopi dengan rempah) terbaik. Itulah Nemui Nyimah: keramahan tanpa pamrih.
Namun, ketika tamu itu meminta tanah ulayat untuk perkebunan, Laluyo itu berdiri tegak. “Kami ramah pada manusia, tapi tidak ramah pada ketidakadilan,” katanya.
Nemui Nyimah tidak berarti mengorbankan Pesenggiri. Sebaliknya, keramahan adalah cara menjaga kehormatan tamu dan tuan rumah sekaligus. Tamu dipuliakan, tetapi tuan rumah tidak boleh “mengada-ngada” hingga meminta utang atau melanggar syariat.
Menurut Islam, memuliakan tamu adalah sunnah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari & Muslim). Nemui Nyimah adalah cerminan nyata dari Pancasila sila ke-3, persatuan dalam keragaman.
Bergaul tanpa melebur hilang jati diri.
Radin Perkasa melanjutkan, “Anak cucu, kita hidup di tanah yang sekarang didatangi banyak orang dari Jawa, Bali, Sunda. Mereka saudara kita. Maka, Nengah Nyampur (bergaul dalam masyarakat) wajib hukumnya.”
Ia lalu bercerita tentang Pekon (desa adat) tempat ia tinggal. Setiap Jumat, di masjid, duduk berdampingan para Punyimbang dari Pepadun dan petani transmigran dari Jawa. Saat Lebaran, mereka saling mengunjungi. Saat musim tanam, gotong royong dilakukan tanpa pandang marga.
Namun, ia mengingatkan: bergaul tidak berarti melupakan adat. Seperti tebu yang direndam air, ia tetap tebu, tidak menjadi air. “Kita nengah (bergaul) tapi kita tidak kehilangan Piil Pesenggiri kita,” tegasnya.
Menurut adat, pantun tua berbunyi: “Nengah-Nyampur mak ngungkung” (Bersosialisasi tanpa kehilangan jati diri).
Inilah wujud nyata dari Pancasila sila ke-4, bermusyawarah dan bergaul dengan tetap berpegang pada akar budaya.
Gotong royong ala Lampung: memberi tanpa meminta balas.

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 1 — Dua Adat, Satu Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Kisah terakhir adalah tentang musim paceklik. Di sebuah kampung, seorang janda miskin kehabisan beras. Tetangganya, seorang saudagar kaya dari Suku Abung, datang membawa sekarung beras. Ia tidak menggembar-gemborkan kedermawanannya. Ia hanya berkata, “Ini titipan. Kapan bisa, kau kembalikan.”
Janda itu pun bekerja keras. Setahun kemudian, ia mengembalikan beras itu. Namun, saudagar itu berkata, “Kembalikan saja pada yang lain yang membutuhkan.”
Itulah Sakai Sambayan: tolong-menolong yang tidak merendahkan martabat yang ditolong. Dalam Kuntara Raja Niti, disebutkan bahwa tolong-menolong harus dilakukan dengan hati ikhlas dan tidak meminta pamrih yang memalukan.
Menurut Islam, firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah (5): 2:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Asbāb al-nuzūl: Ayat ini turun untuk mencegah kerjasama dalam dosa dan permusuhan, serta mengajarkan bahwa tolong-menolong adalah ladang pahala, bukan ajang gengsi. Sakai Sambayan adalah jiwa dari Pancasila sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Radin Perkasa menutup ceritanya saat ayam berkokok. “Lima tiang itu, anak-anakku: Pesenggiri, Juluk Adok, Nemui Nyimah, Nengah Nyampur, dan Sakai Sambayan. Jika salah satu roboh, runtuhlah rumah kehormatan kita. Jaga ia dengan iman dan takwa, karena sejatinya, semua ini adalah cahaya Islam yang datang menyempurnakan akhlak.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Tradisi Berbagi di Kampung Lampung Tempo Dulu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini