Penulis adalah: Pemerhati masalah sosial dan keagamaan, tinggal di Bandar Lampung
nataragung.id – Bandar Lampung – SETIAP 31 Desember malam, suasana masjid sepi. Anak muda termasuk sebagian orang tua – tumpah ruah ke jalan, tiup terompet dan bakar kembang api. Begitu juga setiap malam 1 Muharram yang merupakan tahun baru umat Islam, suasana masjid juga sepi. Kaum muda memilih rebahan dirumah sambil scroll TikTok ketimbang datang ke masjid. Ustadz didatangkan untuk ceramah di masjid, tapi jamaahnya hanya sebagian kecil bapak-bapak dan ibu-ibu.
Tentu ada yang salah disini, mestinya masjid jangan kalah meriah dari mall. 1 Muharram sepi bukan karena umat Islam tidak cinta tahun barunya. Tapi (mungkin) masjid belum memberi panggung untuk cinta itu diekspresikan.
Padahal meriah itu boleh, asal semata-mata untuk syiar, bukan untuk hawa nafsu. Mereka yang tidak hadir di masjid bukan berarti tidak suka mendengar ceramah, tapi karena ada pilihan lain.
Banyak penceramah kondang yang setiap saat bisa ditemukan di Youtube, disimak sambil rebahan dan minum kopi. Maka perlu inovasi agar masjid menjadi rame di dua malam itu, karena dua-duanya momentum tahun baru. Bedanya, Masehi mengajak untuk hura-hura, sedangkan Hijriah mengajak untuk hijrah.
Di era digital sekarang ini, kita tidak cukup hanya bertanya: kemana anak muda kita, adik-adik Remaja Masjid, mahasiswa dan pelajar, dan kaum muslim lainnya. Tapi perlu mencari solusi dengan melakukan inovasi. Memperingati hari-hari besar Islam tidak harus diisi dengan ceramah dan pengajian, sehingga kesannya monoton. Tapi bisa dikemas dalam bentuk lain yang menarik.
Masjid itu bukan rumahnya bapak-bapak pengurus DKM, tapi rumah Allah. Dan Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah At-Taubah: 18, Dan masjid-masjid itu hanya dimakmurkan oleh orang-orang yang beriman. Orang beriman bukan hanya orang tua, tapi juga kaum muda. Dimakmurkan artinya dihidupkan, bukan hanya dibersihkan oleh Marbot dengan sapu dan kain pel. Tapi perlu diisi suara anak-anak dan kaum muda yang mengaji, diskusi, tertawa karena kajian, bukan karena gossip.
Jika masjid hanya diisi oleh kaum tua, pada 10 tahun lagi siapa yang menggantikan kaum tua adzan Subuh? Siapa yang menggantikan mengurus kas masjid? Jika anak muda sekarang tidak diajak dan diberi panggung, maka jawabnya nggak ada.
Salah satu solusinya ada di TPA atau TPQ. Jika dikelola dengan baik, TPA itu bisa menjadi pabriknya kader masjid. Anak-anak usia TK, SD dan SMP yang tiap sore ngaji, itulah anak muda pada 5 hingga 10 tahun ke depan.
Di era digital sekarang ini, sudah saatnya TPA bukan hanya ngajari Iqro, tapi diberi panggung untuk latihan, latihan apa saja. Bisa latihan jadi pembawa acara atau MC, latihan Kultum dan lainnya. Dalam setiap even kegiatan seperti peringatan hari-hari besar Islam, serahkan kepada mereka untuk tampil. DKM cukup jadi dewan pembina, duduk, mengawasi, dan memberi arahan. Jangan sampai merebut mic dengan alasan ada yang kurang pas.
Ingat kisah Rasullullah SAW ketika cucu beliau naik ke punggung saat sedang sujud. Beliau tidak marah atau mengusirnya. Kalau Rasulullah saja memberi panggung ke cucu, masa kita tidak mau memberi panggung ke anak-anak TPA dan remaja masjid. Masjid yang memberi panggung ke anak muda, InshaAllah 20 tahun ke depan tetap rame. Sebaliknya masjid yang mengunci pintu buat anak muda, pada 20 tahun ke depan mungkin berubah seperti kuburan, sepi dan dingin.
Menjadi tugas kita bersama agar pada 31 Desember malam, yang kedengaran dari masjid bukan hanya suara petasan tetangga, tapi suara takbir dan doa yang didominasi kaum muda kita. Upayakan agar malam 1 Muharram suasana masjid tidak kalah rame dari mall atau tempat-tempat hiburan, karena anak muda kita sedang asyik lomba membuat video dakwah di lingkungan masjid. Intinya, masjid bukan hanya untuk shalat, tapi pusat aktivitas ummat.
Di masa Rasulullah SAW, beliau membiarkan budak Habasyah bermain tombak di pelataran masjid Nabawi saat hari raya. Itu rekreasi meriah dan halal di masjid. Contoh lain, remaja masjid Jogokariyan Jogjakarta membuat konser nasyid sehingga suasana terkesan berisik.
Jujur diakui, hingga sekarang masih ada penyakit klasik yang terjadi di Indonesia.
Banyak DKM yang berdalih agar masjid dijaga kesakralannya. Mereka takut jika masjid rame dan tidak terkontrol. Karpet kotor, mic rusak, dan suara anak-anak gaduh. Ada pula yang takut kehilangan pamor atau menjadi tidak penting, karena disalip kaum muda. Ujungnya masjid sepi, anak-anak muda lari ke mall dan kafe.
Setiap orang, apapun latar belakang yang disandangnya selalu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi cerdas, berakhlak, bermoral dan memiliki kepribadian yang baik. Sayangnya, keinginan tersebut sering tidak dibarengi denganp penerapan pola asuh yang benar dalam kesehariannya. Tidak jarang anak yang dilahirkan dari golongan keluarga terhormat justru terjerumus dalam tindak amoral dan perilaku negatif lainnya.
Generasi cerdas lahir dari keluarga yang telah mempersiapkan kehadiran mereka sejak dini sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, dan didukung lingkungan masyarakat yang baik serta memiliki kepedulian terhadap masa depan mereka.
Semoga 1 Muharram 1448 Hijjriah bukan hanya ganti kalender, tapi hijrahnya diri kita menjadi lebih baik, Aamiin. <>

