Ketika Guru Tergelincir: Kajian Psikologi tentang Integritas dan Pengendalian Diri

0

Oleh: Aguswan Khotibul Umam (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

nataragung.id – Metro – Profesi guru merupakan salah satu profesi yang paling mulia dalam kehidupan manusia. Dari tangan guru lahir para pemimpin, ulama, ilmuwan, pejabat, pengusaha, bahkan para penegak hukum yang menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, masyarakat tidak hanya menilai guru dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari karakter, moralitas, dan keteladanannya. Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang Sales Promotion Girl (SPG) di Solo yang menyeret seorang oknum guru PPPK sebagai tersangka menjadi perbincangan luas di masyarakat. Peristiwa tersebut tentu menimbulkan kekecewaan publik karena sosok guru selama ini identik dengan figur pendidik, pembimbing, dan teladan moral.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi individu tertentu, karena proses hukum memiliki mekanisme dan ketentuannya sendiri. Namun dari perspektif psikologi, kasus tersebut memberikan pelajaran penting tentang integritas, pengendalian diri, dan ujian moral yang melekat pada profesi guru sepanjang hayat.

Guru: Profesi yang Tidak Pernah “Pulang”

Banyak profesi berakhir ketika jam kerja selesai. Namun profesi guru berbeda. Meskipun jam mengajar telah usai, identitas sebagai guru tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Indonesia mengenal ungkapan Jawa yaitu “Guru iku digugu lan ditiru.” Artinya, guru adalah sosok yang dipercaya dan dicontoh. Seorang guru bukan hanya mengajarkan matematika, bahasa, IPA, atau agama, tetapi juga mengajarkan nilai melalui perilakunya. Cara berbicara, cara berpakaian, cara memperlakukan orang lain, hingga sikapnya di ruang publik menjadi objek pembelajaran sosial bagi peserta didik. Karena itu, kesalahan seorang guru sering mendapat sorotan lebih besar dibanding profesi lain. Bukan karena masyarakat membenci guru, melainkan karena masyarakat menaruh harapan yang tinggi terhadap profesi tersebut.

Integritas: Ketika Tidak Ada yang Mengawasi.

Psikolog moral Lawrence Kohlberg (1981) menjelaskan bahwa tingkat perkembangan moral tertinggi seseorang tampak ketika ia mampu berbuat benar meskipun tidak ada pengawasan dan tidak ada ancaman hukuman. Dalam teori “Moral Development”, Seseorang yang telah mencapai tahap moral matang akan menjadikan nilai kebenaran sebagai kompas hidupnya. Integritas bukanlah kemampuan berbicara tentang moralitas, melainkan kemampuan menjalankan moralitas tersebut dalam tindakan nyata. Dengan kata lain yaitu integritas diuji saat berada sendirian, integritas diuji saat ada kesempatan melanggar aturan, dan integritas diuji saat dorongan pribadi bertentangan dengan norma.
Kasus-kasus pelanggaran etika sering kali bukan karena pelaku tidak mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi karena gagal mempertahankan integritas ketika menghadapi godaan.

Baca Juga :  Mengendalikan Akal dan Jiwa: Catatan dari Status Dosen Estelee Elora Akbar

Pengendalian Diri: Benteng Utama Karakter.

Salah satu konsep penting dalam psikologi adalah “Self-Control Theory” yang dikembangkan oleh Roy Baumeister (1998). Menurut teori ini, pengendalian diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengatur dorongan, emosi, dan keinginannya agar tetap sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Orang yang memiliki pengendalian diri tinggi mampu untuk menahan impuls sesaat, mengendalikan hawa nafsu, mengelola emosi dengan baik, dan mempertimbangkan akibat jangka panjang. Sebaliknya, rendahnya pengendalian diri sering dikaitkan dengan berbagai perilaku menyimpang seperti kekerasan, pelecehan seksual, perselingkuhan, penyalahgunaan jabatan, korupsi, dan penyalahgunaan media sosial. Dalam banyak kasus, masalah utama bukan kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya kemampuan mengendalikan dorongan sesaat.

Mengapa Orang Berpendidikan Bisa Melakukan Kesalahan?

Masyarakat sering bertanya: “Bagaimana mungkin seorang guru melakukan tindakan yang tidak pantas?”. Psikologi menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kematangan moral. Daniel Goleman (1995) dalam teori “Emotional Intelligence” menjelaskan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh IQ, tetapi juga oleh kemampuan mengelola emosi, empati, kesadaran diri, dan pengendalian diri. Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi tetap gagal mengendalikan impuls pribadinya. Karena itu pendidikan karakter menjadi sama pentingnya dengan pendidikan akademik.

Baca Juga :  Suami Paling Menyedihkan di Dunia. 0leh : Mukhotib MD *)

Moral Licensing: Ketika Reputasi Menjadi Jebakan

Psikolog Merritt, Effron, dan Monin (2010) memperkenalkan konsep “Moral Licensing”. Fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa dirinya telah memiliki reputasi baik sehingga tanpa sadar menganggap dirinya aman dari penilaian negatif. Contohnya yaitu merasa sudah berjasa bagi Masyarakat, merasa memiliki status sosial tinggi dan merasa dihormati karena profesi tertentu. Akibatnya, sebagian orang menjadi kurang waspada terhadap perilakunya sendiri. Padahal integritas bukanlah penghargaan yang diperoleh sekali seumur hidup, melainkan kualitas yang harus dijaga setiap hari.

Teori Pembelajaran Sosial: Murid Meniru Guru

Menurut Albert Bandura (1977) melalui “Social Learning Theory”, manusia belajar melalui observasi dan peniruan. Anak-anak sering kali lebih cepat meniru perilaku dibanding mendengarkan nasihat. Mereka memperhatikan cara guru berbicara, cara guru bersikap, cara guru menghormati orang lain dan cara guru mengendalikan emosi. Karena itu seorang guru pada hakikatnya sedang mengajar sepanjang waktu, bahkan ketika ia tidak sedang berada di dalam kelas. Perilaku guru dapat menjadi inspirasi, tetapi juga dapat menjadi contoh buruk apabila tidak dijaga dengan baik.

Perspektif Islam: Guru sebagai Pewaris Tugas Kenabian

Dalam Islam, kedudukan guru sangat mulia karena menjalankan fungsi pendidikan yang dahulu diemban para nabi. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”. (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ayat ini mengingatkan pentingnya keselarasan antara ucapan dan tindakan. Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90). Seorang guru tidak cukup hanya mengajarkan nilai, tetapi juga wajib menampilkan nilai tersebut dalam kehidupannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Hadis ini menunjukkan bahwa inti pendidikan sesungguhnya adalah pembentukan akhlak. Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Guru adalah pemimpin moral bagi murid-muridnya. Oleh karena itu, amanah yang dipikulnya jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Baca Juga :  Dialog Para Kambing dan Sapi pada Masa Idul Adha: Kajian Psikologi Pendidikan tentang Kemuliaan Akhir Kehidupan

Pelajaran bagi Dunia Pendidikan

Kasus yang melibatkan oknum guru ini memberikan beberapa pelajaran penting yaitu. Pertama, pendidikan karakter harus dimulai dari pendidik. Tidak mungkin karakter siswa terbentuk kuat apabila karakter pendidiknya diabaikan; Kedua, pengendalian diri harus terus dilatih. Tidak ada seorang pun yang kebal dari godaan, termasuk guru. Ketiga, integritas lebih penting daripada reputasi; Reputasi dibangun dari penilaian orang lain, sedangkan integritas berasal dari hati Nurani dan Keempat, profesi guru adalah amanah sepanjang hayat. Keteladanan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi atau jam kerja berakhir.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa guru memang manusia yang dapat melakukan kesalahan. Namun masyarakat berharap guru memiliki kemampuan lebih dalam menjaga integritas, pengendalian diri, dan keteladanan karena profesinya berkaitan langsung dengan pembentukan karakter generasi masa depan. Psikologi mengajarkan bahwa karakter dibangun melalui pengendalian diri, kematangan moral, dan konsistensi perilaku. Islam mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan akhlak mulia. Ketika ilmu tidak diiringi integritas, maka kehormatan profesi dapat runtuh dalam sekejap. Pada akhirnya, ujian terbesar seorang guru bukanlah saat mengajar di depan kelas, melainkan saat menjaga kehormatan dirinya ketika tidak ada murid yang melihat, tidak ada kepala sekolah yang mengawasi, dan tidak ada masyarakat yang menilai. Sebab di situlah integritas sejati menemukan maknanya. Menjadi guru yang hebat mungkin membutuhkan kecerdasan. Namun menjadi guru yang diteladani membutuhkan karakter. Dan karakter selalu diuji setiap hari. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini