nataragung.id, Artikel — Tulisan ini saya dapatkan dari status dosen, Estelee Elora Akbar, yang membagikan pemikiran filosofis seputar akal, kondisi mental, dan cara manusia mengendalikan dirinya. Meski singkat, gagasan yang beliau bagikan sarat dengan makna mendalam dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Akal dan Kebenaran
Rumus pertama, akal manusia sejatinya mampu menemukan kebenaran. Namun, kemampuan itu tidak berdiri sendiri. Akal tetap membutuhkan bahan, yakni pengetahuan, untuk memecahkan sebuah masalah.
Rumus kedua, kerja akal sangat dipengaruhi oleh situasi mental. Kondisi batin menentukan sejauh mana akal bisa bekerja dengan normal. Jika seseorang sedang sangat marah, sangat sedih, atau bahkan terlalu gembira, maka akalnya tidak bisa jernih dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Dengan demikian, rentetan kerja akal dapat disimpulkan seperti ini:
“Akal bisa menemukan kebenaran atau kebaikan, hanya saja untuk itu ia butuh bahan berupa pengetahuan, dan cara kerjanya dipengaruhi oleh situasi mental.”
Menjaga Keseimbangan Jiwa
Selain kondisi mental, akal juga erat kaitannya dengan kondisi fisik. Tubuh yang sehat akan menopang jiwa yang sehat, sementara tubuh yang lemah dapat memengaruhi kerja pikiran.
Lebih jauh, ada enam hal yang sering kali membuat manusia kehilangan kendali:
Terlalu suka atau cinta berlebihan.
Terlalu benci.
Terlalu kagum.
Terlalu bersemangat.
Terlalu gembira.
Terlalu sedih.
Apabila enam hal tersebut menguasai diri kita, cara kita “menyetir” tubuh bisa kacau. Ibarat sopir yang lengah, kita bisa menabrak kiri atau kanan. Maka, keseimbangan adalah kunci.
Agar tubuh dan jiwa tetap terkendali dengan sehat, kita diajak untuk tidak berlebihan dalam merasakan sesuatu. Jangan terlalu suka, jangan terlalu benci, jangan terlalu kagum, jangan terlalu semangat, jangan terlalu gembira, dan jangan terlalu sedih.
Penutup
Teori sederhana ini ternyata melahirkan banyak pemikiran modern, termasuk dalam ranah psikologi dan tasawuf. Dunia filsafat dan dunia spiritual sama-sama menekankan pentingnya mengendalikan akal, tubuh, dan jiwa agar hidup tidak terjerumus dalam kekacauan.
Pada akhirnya, hidup adalah seni menjaga keseimbangan. Akal adalah nahkoda, jiwa adalah layar, dan tubuh adalah perahu. Jika salah satunya goyah, perjalanan akan tersesat. Maka, marilah kita belajar untuk menjadi pengendali diri, agar hidup tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar menemukan arah yang sejati.
“Kehidupan ini bukan soal seberapa cepat kita berlari, tetapi seberapa bijak kita menuntun akal dan jiwa dalam menapaki jalan kebenaran.”
Editor : Muhammad Arya

