Nabi Nuh alaihis salam dan Air Bah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Sebelum menceritakan kisah Nabi Nuh ‘alaihissalām, Allah berulang kali mengingatkan bahwa para nabi adalah manusia yang memiliki hati. Mereka bukan batu yang tidak merasakan sedih, bukan pula malaikat yang tidak mengenal air mata. Di dalam Surat Hud ayat 40–49, Allah bukan hanya mengisahkan banjir besar, tetapi juga membuka tabir tentang pergolakan batin seorang ayah, seorang nabi, dan seorang hamba yang sepenuhnya tunduk kepada keputusan Rabb-nya.

Ketika Air Bah Menguji Hati Seorang Nabi

Tadabbur Surat Hūd Ayat 40–49

Hari itu langit tidak lagi menjadi atap yang teduh.

Awan-awan hitam bergulung tanpa henti. Langit membuka pintu-pintunya, sementara bumi memancarkan mata air dari setiap celahnya. Air turun dari atas dan memancar dari bawah. Alam semesta seakan bersatu melaksanakan satu perintah yang agung: mengakhiri sebuah peradaban yang telah lama membangkang kepada Allah.

Allah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Hingga apabila datang perintah Kami dan memancarlah air dari tanur, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing (makhluk) sepasang, juga keluargamu kecuali yang telah ditetapkan akan binasa, dan orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama Nuh kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)

Betapa berat suasana batin Nabi Nuh. Setelah berdakwah selama ratusan tahun, yang menyambut seruannya hanyalah segelintir manusia. Namun beliau tetap menaati perintah Allah tanpa ragu. Keimanan mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya pengikut, melainkan kesetiaan kepada wahyu.

Ketika bahtera mulai bergerak, Nabi Nuh mengucapkan kalimat yang penuh tawakal:

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Naiklah kalian ke dalamnya. Dengan nama Allah kapal ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud : 41)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Harta Bisa untuk Semua, Iman Hanya untuk yang Dicintai Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Di tengah gelombang yang menggunung, beliau tidak menggantungkan harapan kepada kayu kapal, melainkan kepada Allah. Sebab yang menyelamatkan bukanlah kapal, tetapi pertolongan-Nya.

Lalu datanglah ujian yang paling mengguncang hati seorang ayah.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ

“Bahtera itu berlayar membawa mereka di tengah gelombang yang seperti gunung.” (QS. Hud: 42)

Gelombang itu bukan sekadar ombak. Allah menggambarkannya seperti gunung-gunung yang bergerak. Di tengah kedahsyatan itu, mata Nabi Nuh menangkap sosok yang sangat beliau cintai: putranya sendiri.

Maka keluarlah panggilan yang lahir dari kasih sayang seorang ayah.

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

“Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang terpisah, ‘Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.'” (QS. Hūd: 42)

Perhatikan kelembutan panggilan beliau:

“يَا بُنَيَّ”

“Wahai anakku tercinta…”

Tidak ada bentakan.

Tidak ada kemarahan.

Yang terdengar hanyalah kasih sayang seorang ayah yang masih berharap hingga detik terakhir agar anaknya memilih keselamatan.

Namun sang anak menjawab dengan kesombongan.

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

“Ia berkata, ‘Aku akan mencari perlindungan ke sebuah gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.'” (QS. Hud: 43)

Inilah potret manusia yang lebih percaya kepada kekuatan dunia daripada pertolongan Allah. Gunung yang tampak kokoh dianggap lebih mampu menyelamatkan daripada wahyu yang dibawa seorang nabi.

Nabi Nuh menjawab dengan keyakinan yang teguh.

قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ

“Nuh berkata, ‘Pada hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari keputusan Allah selain orang yang dirahmati-Nya.'” (QS. Hud: 43)

Belum selesai kalimat itu terucap, takdir Allah pun datang.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : 7 Amalan yang Menghantarkan kepada Kesabaran. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“Lalu gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43)

Betapa menyayat hati.

Seorang ayah menyaksikan anaknya hilang ditelan gelombang.

Bukan karena beliau tidak mencintainya.

Bukan karena beliau berhenti mendoakannya.

Tetapi karena hidayah adalah hak Allah semata.

Setelah banjir usai, bumi kembali tenang.

Allah berfirman:

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي…

“Wahai bumi! Telanlah airmu. Wahai langit! Berhentilah (menurunkan hujan).” (QS. Hūd: 44)

Hanya dengan satu perintah Allah, bumi dan langit langsung taat. Alam semesta tunduk kepada Rabbnya, sementara manusia sering kali enggan menaati-Nya.

Namun, di balik ketenangan itu, hati Nabi Nuh masih menyimpan duka.

Beliau bermunajat:

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu adalah benar, Engkaulah Hakim yang paling adil.” (QS. Hūd: 45)

Ini bukan protes kepada Allah. Ini adalah doa seorang ayah yang sedang mencari penjelasan dengan penuh adab. Beliau tidak menuduh, tidak menyalahkan. Beliau mengawali dengan pengakuan bahwa janji Allah pasti benar.

Lalu Allah menjawab dengan penuh hikmah.

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

“Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang dijanjikan selamat), karena sesungguhnya perbuatannya tidak baik.” (QS. Hud: 46)

Allah mengajarkan bahwa hubungan yang paling kuat bukanlah hubungan darah, melainkan hubungan iman. Nasab dapat mempertemukan manusia di dunia, tetapi hanya iman yang akan mempertemukan mereka di surga.

Mendengar teguran itu, Nabi Nuh tidak membantah.

Beliau segera merendahkan diri.

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Jika Engkau tidak mengampuniku dan merahmatiku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Hūd: 47)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Hidup yang Terkunci Oleh Ketakutan. Penulis : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Inilah puncak kemuliaan seorang nabi: ketika diberi pengarahan oleh Allah, beliau segera tunduk, memohon ampun, dan tidak mempertahankan pendapatnya.

Akhirnya Allah menenangkan hati beliau.

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ…

“Dikatakan, ‘Wahai Nuh, turunlah dengan keselamatan dan keberkahan dari Kami atasmu…'” (QS. Hud: 48)

Perjalanan panjang itu ditutup dengan salam dan keberkahan. Kesedihan Nabi Nuh tidak sia-sia. Allah menggantinya dengan ketenteraman dan kemuliaan.

Mari merenung sejenak. Surat Hud ayat 40–49 menggambarkan bahwa seorang mukmin bisa saja menangis, kehilangan, dan merasakan pedih yang sangat dalam. Bahkan seorang nabi pun merasakan duka sebagai seorang ayah. Namun, ketika keputusan Allah telah nyata, ia mendahulukan iman daripada perasaan, ridha daripada protes, dan ketundukan daripada penolakan.

Kisah ini mengajarkan bahwa:

– Hidayah tidak diwariskan oleh hubungan darah, tetapi diberikan oleh Allah kepada siapa yang Dia kehendaki.

– Kasih sayang kepada keluarga harus disertai usaha mengajak mereka kepada iman.

– Ketika takdir Allah terasa berat, adab kepada-Nya harus tetap dijaga.

– Seorang mukmin yang sejati akan kembali berserah diri kepada Allah, karena yakin bahwa keputusan-Nya selalu mengandung hikmah, meskipun air mata masih mengalir.

Semoga Allah meneguhkan hati kita sebagaimana Dia meneguhkan hati Nabi Nuh ‘alaihissalam, menghimpunkan keluarga kita dalam keimanan, dan mempertemukan kita kembali di surga-Nya yang penuh rahmat. Aamiin. <>
✒️ Komiruddin Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini