Seri Buku: Kearifan Lokal Lampung dalam Kehidupan sehari-hari. SERI 1: ASAL-USUL DAN LANDASAN HIDUP. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami percaya bahwa tanah Lampung ini memiliki cerita yang sangat tua. Cerita itu berawal dari sebuah tempat bernama Sekala Beghak (atau Sekala Brak), di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat.
Di sanalah, menurut cerita yang turun-temurun, generasi awal Ulun Lampung (orang Lampung) berasal.

Konon, pada masa lampau di Sekala Brak hiduplah sekelompok orang yang disebut Buay Tumi, yang kala itu dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Sekerummong. Mereka masih menganut kepercayaan lama kepada benda-benda sakti, seperti Pohon Lemasa atau Pohon Melasa Kepampang.
Lalu, datanglah masa-masa perubahan besar. Empat orang laki-laki pembawa Islam dari Pagaruyung, Sumatera Barat, tiba di Sekala Brak. Mereka dikenal dengan nama Umpu Bejalan di Way, Umpu Nyerupa, Umpu Pernong, dan Umpu Belunguh. Dalam kitab kuno Kuntara Raja Niti, nama mereka disebut sebagai Inder Gajah, Sikin, Pak Lang, dan Belunguh.
Mereka inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Paksi Pak Sekala Beghak.

Kedatangan mereka membawa perubahan besar. Kepercayaan lama digantikan dengan ajaran Islam, dan pohon keramat yang selama itu dipuja pun ditebang dan dibuat menjadi sebuah singgasana yang disebut Pepadun. Sejak saat itulah, nama Pepadun diabadikan menjadi salah satu identitas adat di Lampung.
Dari perjalanan panjang itu, muncullah sebuah semboyan yang hingga kini menjadi simbol persatuan kita: Sai Bumi Ruwa Jurai. Secara harfiah, Sai Bumi berarti satu tanah, dan Ruwa Jurai berarti dua golongan. Maknanya sangat dalam: satu wilayah Lampung yang kita cintai ini dihuni oleh dua rumpun adat besar, yakni adat Pepadun dan adat Saibatin (atau Pesisir). Keduanya hidup berdampingan, mengisi satu bumi dengan kebudayaan yang sama-sama luhur.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 9: Dari Piring Tembaga ke Piring Plastik: Adaptasi Nilai dalam Generasi Digital. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Setiap rumpun adat memiliki karakter dan ciri khasnya masing-masing. Adat Pepadun umumnya mendiami daerah pedalaman dan dataran tinggi, seperti Abung, Pubian, dan Tulang Bawang. Dalam adat Pepadun, ada sebuah upacara sakral yang disebut Cakak Pepadun, di mana seseorang dinobatkan dengan gelar kehormatan dengan cara didudukkan di atas sebuah singgasana adat.
Sementara itu, adat Saibatin atau Pesisir mendiami wilayah pesisir, mulai dari Teluk Betung, Kalianda, Krui, hingga daerah lainnya. Masyarakat Saibatin sangat menjaga sistem keturunan atau Kepunyimbangan. Di pesisir, upacara penobatan pemimpin adat dikenal dengan istilah Ngejalang atau Netalaken yang memiliki tata cara berbeda dengan Pepadun. Meski berbeda, kita semua tetaplah satu, bagaikan dua jurai yang mengikat erat dalam satu tali bernama Lampung.

Jika Sai Bumi Ruwa Jurai adalah wadah kita, maka isi dan ruhnya adalah sebuah falsafah yang disebut Pi’il Pesenggiri. Inilah yang menjadi sokoguru atau tiang utama kehidupan orang Lampung. Pi’il Pesenggiri bukan sekadar kata-kata, melainkan landasan berpikir, bertindak, dan berperilaku.
Saya sering mendengar para punyimbang (tokoh adat) berkata, bahwa Pi’il Pesenggiri adalah harga diri, sebuah rasa malu akan perbuatan yang buruk dan sekaligus keberanian untuk menjunjung kebenaran. Falsafah ini begitu penting hingga dicatat rapi dalam lembaran-lembaran kitab adat kita yang paling sakral.

Baca Juga :  Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Sate Tuhuk, Kuliner dan Identitas Pesisir Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Apakah Anda tahu dari mana asal-muasal falsafah ini? Ia bersumber dari sebuah kitab kuno yang sangat dihormati, yakni Kitab Kuntara Raja Niti. Kitab ini adalah warisan budaya yang sangat nyata, sebuah catatan tentang kebudayaan masa lalu kita yang masih bisa dipakai hingga hari ini.
Pada Pasal 23 Kitab Kuntara Raja Niti, bahkan disebutkan secara jelas bagaimana Pi’il Pesenggiri harus dijaga oleh setiap lapisan masyarakat, dari seorang punyimbang hingga seorang anak. Konon, kata Pi’il sendiri berasal dari bahasa Arab, Fi’il, yang artinya perbuatan atau perilaku, sedangkan Pesenggiri adalah harga diri dan kehormatan.

Di dalam Kitab Kuntara Raja Niti, ada banyak sekali ajaran tentang bagaimana kita hidup. Misalnya, tentang bagaimana seharusnya sebuah tiyuh atau perkampungan itu diatur. Ada yang disebut Mayuh Tiyuh, yaitu sepuluh hal yang harus dihindari agar sebuah kampung menjadi buruk. Kata mayuh sendiri berarti buruk, hina, atau tercela.
Di antara larangan itu adalah tidak adanya masjid, tidak ada balai adat, dan para pemimpin yang tidak sepaham. Ini menunjukkan bahwa sejak dulu, adat dan agama (khususnya Islam) sudah berjalan beriringan, dan musyawarah adalah kunci keharmonisan.
Lewat kitab inilah kita tahu bahwa Pi’il Pesenggiri bukanlah sekadar sebuah konsep kosong. Ia adalah hasil dari perenungan panjang dan kesepakatan bersama untuk mempertahankan nilai-nilai luhur. Di tengah keberagaman suku dan adat di Lampung, Pi’il Pesenggiri inilah yang menjadi perekat.
Saya sering menyaksikan sendiri, bagaimana dalam sebuah pesta perkawinan adat, baik Pepadun maupun Saibatin, semuanya berjalan dengan rukun. Mereka saling menghormati, menghargai gelar, dan bersama-sama menjaga nama baik keluarga. Di situlah Pi’il Pesenggiri menjadi nyata: sebagai jati diri yang membuat kita tetap satu, tetap kuat, dan tetap tegak berdiri sebagai orang Lampung.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Dekat 14 Tiyuh Pubian Marga Bukuk Jadi Berikut Sebarannya di Kabupaten Lampung Selatan dan Pesawaran

Daftar Pustaka
1. Baried, S. (1994). Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Warisan Budaya Tak Benda. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
3. Hadikusuma, Hilman. (1983). Adat Istiadat Lampung. Bandung: Bina Cipta.
4. Irianto, S. (2011). Kearifan Lokal dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya.
5. Syahrul, M. (2011). Naskah Kuno Lampung: Kitab Kuntara Raja Niti. Bandar Lampung: Pustaka Adat Lampung.
6. Van Royen, J. (1930). De Lampongers. Batavia: Koninklijk Bataviaasch Genootschap.
7. Wahyu, E. (2013). Pedoman Hidup Masyarakat Lampung dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Skripsi, Universitas Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini