Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Sate Tuhuk, Kuliner dan Identitas Pesisir Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dari Laut ke Tengah Meja
Dahulu kala, para leluhur kami di pesisir Lampung memandang laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah ibu yang memberi kehidupan, sumber rezeki yang tak pernah berhenti mengalir. Dan dari kedalaman laut itulah lahir sebuah hidangan yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat pesisir Barat Lampung, yaitu sate tuhuk.
Nama “tuhuk” sendiri merujuk pada ikan black marlin atau ikan setuhuk, sejenis ikan laut besar yang hanya bisa ditangkap oleh nelayan-nelayan tangguh di perairan Samudra Hindia.

Bagi masyarakat Pesisir Barat, ikan ini begitu istimewa sehingga mendapat tempat tersendiri di hati dan lidah mereka. Konon katanya, ikan ini termasuk jenis ikan yang mahal harganya jika dijual di luar Lampung.
Aku masih ingat cerita dari seorang nelayan tua di Krui suatu sore. “Nak,” katanya sambil menatap laut yang mulai keemasan, “nenek moyang kami sudah mengenal ikan ini sejak lama. Mereka bilang, dagingnya lebih lembut dan rasanya khas, berbeda dari ikan laut lainnya. Maka kami pun mengolahnya menjadi sate, agar kelezatannya bisa dinikmati semua orang.” Kata-kata itu mengalir bersamaan dengan debur ombak yang datang dan pergi, seperti tradisi yang tak pernah surut.

Filosofi di Balik Setiap Tusukan.

Sate tuhuk bukanlah hidangan sembarangan. Dalam setiap tusukannya, ada filosofi tentang hubungan erat antara manusia dan laut. Ikan tuhuk yang hidup di kedalaman melambangkan kekayaan alam yang harus dijaga. Dagingnya yang putih dan lembut mengajarkan tentang kesederhanaan yang tetap bisa diolah menjadi sesuatu yang istimewa.
Filosofi awal kuliner ini adalah tentang pemanfaatan hasil laut secara bijak. Masyarakat pesisir Lampung tidak pernah menyia-nyiakan apa yang diberikan laut. Ikan tuhuk yang besar dan berdaging tebal diolah menjadi berbagai hidangan: ada yang dijadikan abon, ada yang dimasak gulai taboh, ada yang dipanggang, dan ada yang dibuat sate. Setiap olahan adalah wujud syukur atas rezeki yang melimpah.

Dalam falsafah Piil Pesenggiri, sate tuhuk mencerminkan nilai Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Ketika seseorang menyajikan sate tuhuk kepada tamu, itu adalah tanda bahwa ia menghormati orang yang datang. Masyarakat pesisir terkenal dengan keramahannya, dan sate tuhuk adalah salah satu wujudnya.
Hidangan ini juga mengajarkan Pesenggiri, harga diri. Menurut adat, menyajikan hidangan terbaik dari hasil laut adalah cara masyarakat menjaga kehormatan keluarga di mata tamu.

Resep dan Cara Membuat Sate Tuhuk.

Baca Juga :  Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 4 Mak Secadangan: Mewariskan Kearifan dalam Dunia Tanpa Ingatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Membuat sate tuhuk sebenarnya sederhana, namun membutuhkan ketelitian. Bahan utamanya adalah 1 kilogram ikan tuhuk atau tenggiri yang sudah dibersihkan. Ikan ini kemudian dipotong dadu seukuran satu suapan, lalu ditusuk dengan tusuk sate hingga habis.
Untuk marinasi, campurkan satu sendok makan kecap manis, dua sendok makan minyak, dan perasan jeruk nipis. Oleskan campuran ini ke seluruh permukaan sate, lalu diamkan sekitar 10 menit agar bumbu meresap.
Bumbu kacang menjadi kunci kelezatan sate tuhuk. Goreng 250 gram kacang tanah, 5 buah cabai merah keriting, 5 buah cabai rawit, 4 siung bawang putih, 2 siung bawang merah, dan 1 butir kemiri hingga matang. Haluskan semua bahan, tambahkan air panas secukupnya hingga menjadi saus kental. Beri garam, gula, dan kaldu bubuk secukupnya.
Sate kemudian dipanggang di atas arang sambil sesekali dibalik agar matang merata. Setelah matang, siram dengan bumbu kacang di atasnya dan taburi bawang goreng jika suka. Hasilnya adalah perpaduan rasa gurih, sedikit asam segar dari jeruk nipis, dan pedas gurih dari bumbu kacang yang khas Lampung.
Cara penyajian dalam acara adat biasanya dilakukan di atas talam atau nampan besar. Semua yang hadir duduk melingkar, dan sate tuhuk disantap bersama sebagai tanda kebersamaan. Ini adalah wujud Sakai Sambayan, gotong royong, yang menjadi inti kehidupan masyarakat pesisir.

Sejarah Marga dan Asal-usul Sate Tuhuk.

Kabupaten Pesisir Barat di Lampung adalah tempat di mana sate tuhuk lahir dan berkembang. Wilayah ini dihuni oleh masyarakat Saibatin atau yang biasa disebut Lampung Pesisir, yang secara keseluruhan bertempat tinggal di bagian pantai timur, selatan, dan barat Lampung. Masyarakat Saibatin dibagi menjadi beberapa kelompok besar, termasuk Paksi Pak Sekala Brak yang mendiami Lampung Barat.
Sejarah mencatat bahwa masyarakat Saibatin mendapat pengaruh dari Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Hal ini berkaitan dengan sejarah berdirinya Paksi Pak Sekala Bekhak, persatuan empat marga yang terdiri dari Buay Bejalan Diway, Buay Pernong, Buay Nyerupa, dan Buay Belunguh. Pada masa masuknya Islam di Lampung, daerah Sekala Bekhak mendapat pengaruh dari kerajaan Pagaruyung yang disebarkan oleh Ratu Ngegalag Paksi.
Menurut cerita lisan, sate tuhuk sudah dikenal oleh masyarakat pesisir sejak zaman dahulu. Namun, popularitasnya melonjak seiring dengan meningkatnya wisatawan yang datang ke Kabupaten Pesisir Barat. Wisatawan domestik dan mancanegara penasaran mencicipi olahan sate ikan yang satu ini, yang hanya bisa ditemukan di daerah tersebut. Berbagai olahan ikan tuhuk seperti abon, gulai taboh, panggang, dan sate tuhuk mulai berkembang dan digemari.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Hidup Tertib dan Damai di Bulan Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Kutipan Kitab dan Analisis Makna Spiritual.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, naskah kuno yang menjadi rujukan masyarakat Lampung baik Pepadun maupun Pesisir, terdapat ajaran yang relevan dengan semangat di balik sate tuhuk. Kitab ini berisi tuntunan moral yang menjadi pedoman masyarakat Lampung, ditulis oleh setiap kepala adat atau pemangku adat sebagai warisan kebudayaan.
Salah satu ajaran dalam kitab ini berbunyi: “Punyimbang ni mak peros hati dilom tiyuh hon”. “Penyimbang tidak asem hati saat ada hajatan.”
Artinya, seorang pemimpin adat harus selalu bersikap ramah dan lapang dada, terutama ketika menerima tamu. Sikap inilah yang diwujudkan melalui hidangan sate tuhuk. Ketika masyarakat pesisir menyajikan sate tuhuk kepada tamu, mereka menunjukkan keramahan yang tulus. Tidak ada yang dibuat-buat, semuanya datang dari hati.
Ajaran lain dalam kitab yang sama menyebutkan: “Temui ni mak silip”. “Baik dan perhatian terhadap tamu.”
Ini adalah cerminan dari Nemui Nyimah yang menjadi salah satu pilar falsafah hidup orang Lampung. Sate tuhuk menjadi media untuk mewujudkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
Makna spiritual dari hidangan ini adalah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dari laut. Setiap kali sate tuhuk dimasak, selalu ada doa yang dipanjatkan: agar nelayan selamat dalam melaut, agar ikan tetap melimpah, dan agar yang menyantap diberi kesehatan. Ini adalah wujud keselarasan antara kearifan lokal, spiritualitas, dan nilai-nilai keislaman.

Sate Tuhuk dan Nilai Pancasila.

Sate tuhuk bukan sekadar makanan. Ia adalah cerminan nilai-nilai Pancasila yang hidup dalam masyarakat pesisir Lampung.
Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tercermin dari doa dan rasa syukur yang selalu menyertai proses menangkap ikan hingga memasak. Nelayan selalu memanjatkan doa sebelum melaut, dan ibu-ibu selalu membaca basmalah sebelum mengolah ikan.
Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” terwujud dalam Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur. Siapa pun yang datang disambut dengan sate tuhuk sebagai tanda penghormatan. Tidak ada diskriminasi, semua tamu diperlakukan sama.
Sila ketiga, “Persatuan Indonesia,” hadir dalam tradisi Sakai Sambayan, gotong royong. Dalam proses pembuatan sate tuhuk untuk acara besar, semua warga bekerja sama: nelayan menangkap ikan, ibu-ibu mengolah bumbu, bapak-bapak memanggang sate, anak-anak menyiapkan meja. Semua bergerak bersama, seperti satu tubuh.
Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,” tercermin dalam musyawarah adat yang menentukan tata cara penyelenggaraan acara, termasuk hidangan yang disajikan. Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” hadir dalam semangat berbagi, setiap orang mendapat bagian yang sama, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 9 – Nilai Piil Pesenggiri dalam Tata Krama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Warisan Pesisir yang Tetap Hidup.

Hingga kini, sate tuhuk masih menjadi kebanggaan masyarakat Pesisir Barat Lampung. Kehadirannya di setiap acara adat dan pertemuan keluarga adalah bukti bahwa tradisi ini tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Meskipun zaman telah berubah dan banyak hal yang bergeser, esensi dari hidangan ini tetap sama: ia adalah pengingat bahwa manusia dan laut adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Anak-anakku akan mewarisi resep ini, dan cucu-cucuku akan mewarisi cerita ini. Semoga mereka mengerti bahwa di setiap tusukan sate tuhuk, ada cerita tentang nelayan yang berjuang di tengah ombak, ada doa agar laut tetap memberi, dan ada kebersamaan yang memperkuat persaudaraan.
Seperti kata pepatah Lampung: “Di dalam ghik di luar, ulun Lappung mulia”. di dalam maupun di luar, orang Lampung tetap mulia. Dan sate tuhuk, dengan segala kelezatan dan maknanya, adalah salah satu cara kami menjaga kemuliaan itu. Dari laut ke tengah meja, dari masa lalu ke masa depan, sate tuhuk akan terus menjadi saksi bisu perjalanan masyarakat pesisir Lampung, mengingatkan kami bahwa identitas bukanlah sesuatu yang usang, melainkan warisan yang terus diperbarui dengan cinta.

Daftar Pustaka
1. Fimela. (2022). Resep Sate Ikan Tuhuk khas Lampung.
2. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. (2018). Sate Ikan Tuhuk.
3. Disway. (2025). Yuk Kenalan dengan Satai Ikan Tuhuk: Makanan Kebanggaan dari Pesisir Lampung.
4. Pesisir Barat Kab. (2023). Profil Ekonomi Kreatif Kabupaten Pesisir Barat.
5. Utama, Prada. (2021). Survei Potensi Ikan Tuhuk sebagai Kearifan Lokal Daerah dan Pemanfaatannya di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung. Skripsi Universitas Lampung.
6. Journal of Public Service and Innovation. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti. JPSI, Vol. 1, No. 1.
7. Journal of Indonesian History. (2021). Sejarah dan Budaya Lampung Saibatin. Vol. 7, No. 2.
8. BINUS Library. Siger dan Adat Lampung Saibatin.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini