Mutiara Pagi: Tobat yang Sempurna Adalah Tobat yang Memperbaiki dan Menjelaskan Kebenaran. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Kesalahan dalam ucapan dapat melukai satu orang. Namun, kesalahan dalam fatwa, pengajaran, tulisan, atau dakwah dapat menyesatkan banyak orang. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa tanggung jawab seorang penyampai ilmu tidak berhenti pada menyampaikan, tetapi juga wajib meluruskan apabila ternyata yang disampaikannya keliru.

Allah Ta’ala berfirman:

«إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ»

“Kecuali mereka yang bertobat, memperbaiki diri, dan menjelaskan (kebenaran), maka terhadap mereka Aku menerima tobatnya. Dan Aku Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 160)

Ayat ini datang setelah Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang telah Allah turunkan. Namun, rahmat Allah tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya. Akan tetapi, Allah menetapkan tiga syarat agar tobat mereka menjadi sempurna.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kebaikan yang Menghapus Dosa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Pertama, تابوا (bertobat), yaitu menyesali dosa, meninggalkan kesalahan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Kedua, وأصلحوا (memperbaiki diri), yaitu memperbaiki amal, akhlak, dan kerusakan yang telah ditimbulkan oleh perbuatannya.

Ketiga, وبيّنوا (menjelaskan), yaitu menerangkan kebenaran yang dahulu disembunyikan atau meluruskan kesalahan yang pernah disebarkan. Inilah syarat yang sering terlupakan. Tobat seseorang yang kesalahannya hanya menyangkut dirinya mungkin cukup dengan istighfar dan amal saleh. Namun, apabila dosanya telah memengaruhi orang lain, maka ia juga berkewajiban menghilangkan pengaruh buruk tersebut dengan menjelaskan kebenaran.

Karena itu, para ulama mengambil faedah dari ayat ini bahwa orang yang pernah mengeluarkan fatwa yang batil, menyebarkan pemahaman yang keliru, atau mengajak manusia kepada kesesatan, tidak cukup hanya bertobat di hadapan Allah. Ia harus berusaha semampunya menjelaskan kebenaran kepada orang-orang yang dahulu telah dipengaruhinya.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Keridaan - Keyakinan Tenang dalam Pelukan Takdir. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Inilah makna yang terkandung dalam ungkapan para ulama:

«من أفتى بالباطل أو قاله للناس، لا تُقبل توبته حتى يُبيّن الحق لمن ضلّله.»

“Barang siapa memberikan fatwa yang batil atau menyampaikan kebatilan kepada manusia, maka tobatnya tidak sempurna hingga ia menjelaskan kebenaran kepada orang-orang yang telah disesatkannya.”

Ayat ini juga menjadi pelajaran bagi para dai, guru, penulis, khatib, dan siapa saja yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Amanah ilmu bukan sekadar berbicara, tetapi juga keberanian mengakui kekeliruan ketika nyata telah salah. Tidak ada kehinaan dalam menarik kembali pendapat yang keliru. Justru kemuliaan seorang pencari kebenaran tampak ketika ia lebih mencintai kebenaran daripada mempertahankan gengsi.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Meneguhkan Hati dengan Janji Akhirat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Semoga Allah menjadikan lisan kita sebagai penyampai kebenaran, menjaga kita dari berbicara tanpa ilmu, dan apabila kita pernah keliru, semoga Allah memberi kekuatan untuk memperbaiki, meluruskan, dan menjelaskan kebenaran kepada manusia. Dialah At-Tawwab, Yang Maha Penerima Tobat, lagi Ar-Raḥim, Yang Maha Penyayang. (*/296).
WaAllahu A’lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini