nataragung.id – Pemanggilan – Islam bukan agama yang mengajarkan kemiskinan sebagai sebuah kemuliaan, dan bukan pula agama yang memusuhi kekayaan. Al-Qur’an tidak melarang seorang mukmin memiliki rumah yang megah, kendaraan yang nyaman, pakaian yang indah, atau makanan yang berlimpah. Semua itu adalah karunia Allah yang boleh dinikmati dengan penuh rasa syukur. Namun, Islam mengajarkan bahwa kenikmatan dunia tidak boleh membuat manusia melupakan Rabb yang menganugerahkannya dan tidak boleh menyeretnya kepada sikap berlebih-lebihan.
Karena itu Allah mengawali ayat ini dengan mengingatkan manusia kepada tempat sujud, seolah-olah hendak menegaskan bahwa sebelum menikmati nikmat dunia, jangan pernah melupakan hubungan dengan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini memadukan tiga pelajaran besar dalam satu rangkaian yang sangat indah.
Pertama, “Khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjid.” Berhiaslah ketika datang ke tempat sujud. Seorang mukmin dianjurkan menemui Allah dalam keadaan bersih, rapi, dan terhormat. Penampilan yang baik ketika beribadah adalah bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta.
Kedua, “Wa kuluu wasyrabuu.” Makanlah dan minumlah. Allah tidak melarang manusia menikmati rezeki yang halal. Makanan yang lezat, minuman yang baik, rumah yang nyaman, kendaraan yang layak, serta berbagai fasilitas kehidupan adalah nikmat yang boleh dimiliki selama diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan pada jalan yang diridhai-Nya.
Ketiga, “Wa laa tusrifuu.” Jangan berlebih-lebihan. Di sinilah letak keseimbangan Islam. Yang dilarang bukan kenikmatannya, melainkan sikap melampaui batas. Berlebih-lebihan dapat berupa pemborosan, kesombongan, pamer kemewahan, atau menghamburkan nikmat tanpa manfaat. Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi sebab datangnya hisab yang berat.
Kemudian Allah menegaskan bahwa tidak seorang pun berhak mengharamkan sesuatu yang telah Allah halalkan.
Allah berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan kelak pada hari kiamat menjadi milik mereka secara khusus.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 32)
Ayat ini menolak anggapan bahwa kedekatan kepada Allah harus ditunjukkan dengan menyiksa diri atau meninggalkan seluruh kenikmatan dunia. Justru Allah-lah yang menciptakan keindahan dan rezeki yang baik. Menikmati karunia-Nya dengan cara yang halal adalah bagian dari rasa syukur.
Akan tetapi, seorang mukmin tidak pernah menjadikan kemewahan sebagai tujuan hidup. Rumah yang luas tidak boleh membuatnya lupa kepada masjid. Kendaraan yang mahal tidak boleh menghalanginya menghadiri majelis ilmu. Makanan yang melimpah tidak boleh menjadikannya lupa kepada mereka yang kelaparan. Harta yang banyak tidak boleh memadamkan cahaya tawaduk dalam hatinya.
Nikmat dunia berada di tangan, bukan di hati. Hati seorang mukmin tetap terpaut kepada Allah. Ketika azan berkumandang, ia meninggalkan kesibukan dunianya untuk berdiri di hadapan Rabbnya. Ketika Allah memberinya kelapangan rezeki, ia menyadari bahwa di dalam hartanya terdapat hak fakir miskin, anak yatim, dan orang yang membutuhkan.
Inilah keseimbangan yang diajarkan Al-Qur’an: beribadah tanpa mengabaikan dunia, dan menikmati dunia tanpa melupakan akhirat. Kekayaan bukanlah aib, bahkan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan jika disertai syukur, infak, zakat, dan kepedulian. Sebaliknya, kemiskinan bukan pula jaminan keselamatan jika hati dipenuhi keluh kesah dan jauh dari Allah.
Maka nikmatilah apa yang Allah halalkan. Tinggallah di rumah yang nyaman jika Allah melapangkannya. Gunakan kendaraan yang baik jika Allah menganugerahkannya. Makanlah makanan yang halal dan baik. Berpakaianlah dengan indah. Namun, jangan biarkan semua itu membuatmu lupa kepada sajadah tempat engkau bersujud, kepada masjid tempat engkau menghadap Rabbmu, dan kepada akhirat yang menjadi tujuan perjalananmu.
Sebab kemuliaan seorang mukmin bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari kemampuannya menjadikan setiap nikmat sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah Subḥanahu wata’ala. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

