Satukan Gagasan Ulama, Akademisi, dan Alumni. MA IPNU Lampung Gaungkan Revitalisasi Peran NU Jelang Muktamar ke-35.

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Provinsi Lampung menggelar Diskusi Publik bertajuk “Momentum Merevitalisasi dan Mereaktualisasi Peran NU di Tengah Realitas Global” di Golden Tulip, Bandarlampung, Jumat (17/7).
Kegiatan itu menjadi ruang konsolidasi pemikiran untuk meneguhkan kembali peran NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan khittah perjuangannya.

Diskusi menghadirkan Ketua Presidium Pimpinan Pusat MA IPNU Pusat Prof. Dr. KH. Asrorun Niam Sholeh, Ketua PWNU Lampung Dr. Puji Raharjo, S.Ag., S.S., M.Hum., Ketua PCNU Kota Bandar Lampung Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., M.M., dan Ketua Presidium MA IPNU Lampung H. Hasanuddin Errezha.


Ketua Presidium Pimpinan Pusat MA IPNU, Prof. Dr. KH. Asrorun Niam Sholeh mengatakan, muktamar NU tidak semestinya dipahami hanya sebagai agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, muktamar merupakan momentum ijtihad jam’iyyah untuk merumuskan arah gerakan NU dalam menghadapi perubahan sosial, politik, ekonomi, hingga perkembangan teknologi yang terus bergerak dinamis.
Menurutnya, memasuki abad kedua, NU memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren sekaligus menghadirkan gagasan yang mampu menjawab persoalan-persoalan kontemporer. “NU tidak sedang mempertentangkan tradisi dengan modernitas, yang harus dijaga adalah bagaimana nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah menjadi kompas moral dalam membaca perubahan. Tradisi harus terus hidup, tetapi tradisi juga harus melahirkan inovasi yang menghadirkan kemaslahatan. Di situlah makna tajdid dalam waktu perspektif Nahdlatul Ulama,” kata Prof. Niam Soleh.
Ketua Majlis Fatwa MUI itu menambahkan, kaderisasi NU harus melahirkan generasi yang tidak hanya memahami struktur organisasi, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, memiliki integritas moral, serta mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan masyarakat modern.

Baca Juga :  Satu Abad NU, Totalitas Menjaga Marwah. Oleh: Edi Sriyanto *)


Senada dengan itu, Ketua PWNU Lampung Dr. Puji Raharjo menegaskan bahwa revitalisasi NU bukanlah upaya mengubah identitas organisasi, melainkan menghidupkan kembali semangat khidmah yang menjadi ruh perjuangan para muassis.
Menurutnya, NU sejak awal didirikan sebagai organisasi yang mengemban dua mandat besar, yakni menjaga kehidupan keagamaan sekaligus menggerakkan transformasi sosial masyarakat. “Muktamar harus menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan gerakan. Jangan sampai NU hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, sementara tantangan umat semakin kompleks. Khidmah NU harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, penguatan organisasi harus selalu berorientasi pada kemaslahatan,” ujarnya.
Dirjen Haji dan Umroh Kementrian Haji dan Umroh itu menekankan, bahwa prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah harus menjadi pijakan dalam setiap langkah organisasi, yakni menjaga warisan keilmuan para ulama sekaligus terbuka terhadap pembaruan yang membawa kemanfaatan.

Baca Juga :  Perda Pesantren Jadi Bahasan Krusial dalam Audiensi RMI PCNU Lamsel Bersama Bupati

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Bandar Lampung Ichwan Adji Wibowo melihat bahwa kekuatan NU selama ini justru tumbuh dari pelayanan di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, revitalisasi organisasi harus dimulai dari penguatan ranting, masjid, pesantren, majelis taklim, dan ruang-ruang pengabdian yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. “Jam’iyyah ini besar karena keikhlasan para kiai dan para penggeraknya. Kekuatan NU bukan hanya pada struktur organisasinya, tetapi pada budaya melayani yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Spirit inilah yang harus terus dirawat di tengah perubahan zaman,” katanya.

Ketua Presidium MA IPNU Provinsi Lampung H. Hasanuddin Errezha menyampaikan bahwa forum diskusi tersebut merupakan ikhtiar alumni IPNU untuk ikut berkontribusi dalam membangun diskursus ke-NU-an menjelang Muktamar ke-35.
Menurut Hasanudin yang juga Ketua Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Provinsi Lampung itu, alumni IPNU memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga estafet perjuangan organisasi melalui pengabdian sesuai bidang keahlian masing-masing. “Alumni IPNU tidak cukup hanya bernostalgia dengan masa kaderisasi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah terus hidup dalam setiap profesi, setiap ruang pengabdian, dan setiap ikhtiar membangun masyarakat. Khidmah tidak mengenal batas jabatan, tetapi lahir dari keikhlasan untuk terus memberi manfaat,” ujarnya.
Hasanuddin berharap MA IPNU Lampung menjadi ruang berhimpun bagi para alumni untuk memperkuat jejaring intelektual, sosial, dan profesional dalam mendukung gerakan Nahdlatul Ulama.
Hadir juga Rektor Universitas Ma’arif Lampung (UMALA) Dr. Agus Setiawan, Rektor ITS NU Lampung Prof. Subandi, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Provinsi Lampung, para pengurus PWNU dan badan otonom, serta sejumlah tokoh dan sesepuh Majelis Alumni IPNU Lampung yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan kaderisasi Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung.
Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang terdiri atas akademisi, kiai, guru, mahasiswa, kader IPNU-IPPNU, pengurus badan otonom NU, serta tokoh-tokoh Majelis Alumni IPNU dari berbagai daerah di Lampung. Kehadiran para rektor, pimpinan perguruan tinggi, organisasi profesi, dan para alumni menunjukkan bahwa gagasan tentang masa depan Nahdlatul Ulama bukan hanya menjadi tanggung jawab pengurus organisasi, tetapi merupakan ikhtiar bersama seluruh elemen nahdliyin. (mara)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini