Tidak Cukup dengan Tanggap Darurat, Tapi Tanggap Penyebab – Catatan Lepas seputar Bencana Banjir. Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Tidak seperti hari-hari biasa, suasana di gardu ronda semalam dipenuhi oleh warga, baik yang terdampak banjir maupun yang lolos dari bencana. Selain bermalam Minggu, mereka berkumpul untuk sekedar ngobrol-ngobrol menghibur diri atas musibah yang terjadi sambil ngopi dan menyantap makanan kecil. Setiap kali datang bencana, selalu saja muncul orang-orang baik, walau sekedar membawa termos berisi minuman kopi atau teh serta makanan ringan. Bila nasib sedang mujur, tidak jarang ada warga dari luar yang datang sambil membawa nasi bungkus dan sembako seperti yang terjadi semalam.

Ada 3 orang tak dikenal turun dari mobil dan menghampiri mereka sambil menenteng beberapa tas kresek berisi nasi bungkus dan sembako. Setelah berbasa-basi dengan bertegur sapa dan menyerahkan bantuan, salah seorang dari mereka dengan nada menghibur berkata, bahwa kita tidak bisa menyalahkan hujan yang turun, karena sesungguhnya air itu merupakan rahmat Tuhan, ucapnya. Tapi karena tidak dikelola dengan baik, nikmat Tuhan itu justru sering menimbulkan masalah.

Setiap musim hujan terjadi banjir, saat kemarau kita menderita kekurangan air. Semua ini bisa terjadi karena manusia tidak mampu untuk mengelola air, lanjutnya sambil berharap agar semua warga tetap sabar dan tawaqal dalam menerima musibah. Yakinlah, bahwa dibalik musibah tentu ada hikmahnya, ucapnya.

Mewakili puluhan warga, pakdhe Handoyo menyampaikan terimakasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada warga. Tapi ketika ditanya asalnya darimana, rombongan tersebut hanya menjawab dengan senyuman. Bapak-bapak berdo’a saja, semoga bencana banjir ini segera tertangani dengan baik.

Baca Juga :  Memahami Islam Kontemporer. Oleh : Gunawan Handoko *)

Pak Gubernur dan jajarannya sudah turun gunung untuk mengatasi banjir yang telah puluhan tahun terjadi di kota kita, ucapnya. Pakdhe Handoyo kembali bertanya, apakah bapak-bapak ini dari jajaran yang diperintah Gubernur untuk turun gunung, atau dari lembaga atau organisasi apa? Lagi-lagi cuma dijawab dengan senyuman sekaligus berpamitan pergi untuk mengunjungi warga yang lain.

Sambil melahap nasi bungkus dengan menu ayam bakar, warga mulai penasaran, sebagian meyakini bahwa rombongan yang datang merupakan orang-orangnya Gubernur, atau paling tidak ada keterkaitan dengan program penanganan banjir. Usai makan, pakdhe Handoyo berinisiatif memberi penjelasan terkait apa yang diucapkan tamu asing tadi. Beberapa hari lalu usai terjadi bencana, Gubernur pak Mirzani Djausal langsung memerintahkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) teknis untuk melakukan gerak cepat, menuju lokasi banjir guna melakukan penanganan darurat, ucap pakdhe Handoyo. OPD teknis itu diminta untuk melakukan pemetaan sistem drainase serta penanganan secara permanen. Menurut pak Gubernur, untuk mengatasi banjir di kota Bandar Lampung tidak bisa hanya dengan tanggap darurat, tapi harus tanggap penyebab. Nah, sebagai pemegang komandonya telah ditunjuk Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela untuk mengkoordinir tugas besar ini, ucap pakdhe Handoyo yang disambut manggut-manggut oleh warga.

Baca Juga :  Tsunami Selat Sunda, Antara Duka dan Pembelajaran (Mengenang 7 Tahun Tsunami Selat Sunda). Oleh : Gunawan Handoko *)

Herman, tokoh pemuda setempat menimpali bahwa beberapa hari lalu melihat pak Gubernur dan rombongan datang ke posko di Panjang. “Kebetulan saya melihat langsung”, ucapnya dan dibenarkan oleh pakdhe Handoyo bahwa kedatangan Gubernur Lampung Yai Mirza untuk meninjau langsung dan memastikan proses penanganan darurat dan pasca bencana berjalan dengan optimal. Termasuk meninjau dapur umum untuk melihat ketersediaan logistik yang dibutuhkan. Mukidi yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kasar di pelabuhan Panjang tiba-tiba bertanya, kapan perbaikan akan dilaksanakan? Pasalnya, seluruh perabotan rumahnya terendam air, termasuk kasurnya hingga sekarang belum kering. “Sabar Lik, semua sedang berproses dan butuh perencanaan yang matang dan tidak asal-asalan”, ucap pakdhe Handoyo yang dikenal kritis lewat tulisan opini sambil menjelaskan bahwa Wakil Gubernur Lampung Mbak Jihan Nurlela sebagai panglima sudah melakukan gerakan cepat. “Begitu mendapat perintah, Wakil Gubernur langsung membuat gebrakan dengan melakukan penutupan secara permanen terhadap penambangan ilegal. Ini bagian dari tanggap penyebab tadi” ucapnya yang langsung disambar oleh Herman dengan nada berseloroh. “Rupanya Wakil Gubernur Lampung sudah lama gerah menyaksikan lereng dan perbukitan di kota ini yang semakin hari bertambah botak dan gundul, sementara para petinggi kita melakukan pembiaran dan pura-pura tidak tahu”. Padahal, penambangan liar tersebut jelas-jelas telah membuang limbah pasir ke aliran air dan berakibat terjadinya sedimentasi serta penyumbatan di beberapa titik, ucap Herman.

Baca Juga :  NAHDLATUL ULAMA DAN PANCASILA. Oleh : HM.Habib Purnomo

Mbak Jihan Nurlela menilai bahwa banjir adalah peringatan serius dan perlu perbaikan infrastruktur pengendali banjir perkotaan yang menurutnya masih lemah. Juga dampak buruk dari eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali dan butuh perbaikan. Herman juga memberi apresiasi kepada Pemerintah provinsi Lampung yang telah membuka kanal aduan cepat bagi warga yang terdampak, khususnya untuk pelaporan titik-titik genangan dan hambatan aliran air. Ini bentuk komitmen Pemerintah dalam melakukan penanganan banjir secara sungguh-sungguh, tidak berhenti pada tanggap darurat.

Bukan itu saja, Pemerintah provinsi Lampung juga akan menyusun kebijakan jangka menengah untuk pemulihan lingkungan, audit drainase dan revisi tata ruang di wilayah rawan bencana. Masyarakat sedang menunggu proses yang sedang berjalan guna mengakhiri bencana banjir yang tidak kunjung usai. Gerak cepat yang diambil oleh Gubernur Lampung menjadi simbol harapan dan bukti nyata bahwa perhatian Pemerintah sangat berarti di tengah situasi krisis seperti sekarang ini. Terimakasih Pak Gubernur yang telah membantu Walikota Bandar Lampung dalam menangani musibah banjir.

*) Pemerhati masalah Lingkungan dan Permukiman, tinggal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini