Filosofi “Nemui Nyimah” dan Implementasinya dalam Kehidupan Bertetangga. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Dalam kehidupan masyarakat adat Lampung, terdapat berbagai falsafah hidup yang menjadi pedoman dalam berinteraksi sosial. Salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi adalah “Nemui Nyimah”, yang memiliki makna mendalam dalam menjalin hubungan antarindividu dan menjaga keharmonisan sosial, khususnya dalam kehidupan bertetangga.

Makna Filosofis “Nemui Nyimah”

Secara harfiah, “Nemui” berarti menyambut atau mengunjungi, sedangkan “Nyimah” bermakna memberi atau menerima dengan ikhlas. Kedua kata ini jika digabungkan menjadi satu kesatuan nilai yang mencerminkan sikap keramahan, keterbukaan, dan kerelaan dalam menerima tamu, membantu sesama, serta menghargai kehadiran orang lain.

“Nemui Nyimah” bukan hanya bentuk etika sopan santun, tetapi juga cerminan dari jiwa gotong royong dan semangat persaudaraan yang sudah melekat dalam budaya Lampung sejak dahulu kala. Nilai ini tidak memandang status sosial atau perbedaan latar belakang, karena setiap individu diajak untuk menjalin hubungan yang harmonis.

Baca Juga :  Mengenal Masyarakat Adat Lampung Pepadun

Implementasi “Nemui Nyimah” dalam Kehidupan Bertetangga.

Dalam praktik sehari-hari, nilai “Nemui Nyimah” tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan bertetangga masyarakat Lampung, antara lain:

1. Menyambut Pendatang atau Tetangga Baru

Warga Lampung biasanya akan menyambut tetangga baru dengan kunjungan dan membawa buah tangan sebagai bentuk penerimaan. Ini memperlihatkan semangat “nyimah” sebagai tanda persahabatan dan keterbukaan.

2. Saling Menolong dalam Kegiatan Sosial.

Gotong royong saat ada warga yang mengadakan hajatan, membangun rumah, atau mengalami musibah adalah contoh implementasi nilai “nemui nyimah”. Tanpa diminta, warga akan datang membantu sebagai wujud kepedulian dan solidaritas.

3. Membuka Rumah sebagai Tempat Singgah

Rumah masyarakat Lampung umumnya terbuka bagi siapa pun yang datang, terutama saudara atau tetangga. Dalam adat, menolak tamu tanpa alasan yang jelas dianggap tidak etis karena bertentangan dengan prinsip “nyimah”.

Baca Juga :  Pubian Telu Suku Lampung Tengah

4. Berbagi Makanan dan Rezeki

Saat memasak makanan dalam jumlah banyak, warga akan membagi ke tetangga terdekat sebagai bentuk syukur. Ini bukan sekadar memberi, tetapi juga mengikat rasa persaudaraan dan memperkuat ikatan sosial.

5. Memberi dan Menerima Nasihat dengan Santun

Dalam komunitas adat, seseorang dapat memberikan masukan kepada tetangganya dengan cara yang halus dan penuh empati. Ini memperlihatkan bahwa nilai “nemui nyimah” juga mencakup komunikasi interpersonal yang membangun.

Relevansi Nilai “Nemui Nyimah” di Era Modern.

Meskipun zaman telah berubah, nilai “Nemui Nyimah” tetap relevan dan bahkan sangat dibutuhkan di tengah meningkatnya individualisme masyarakat urban. Dengan menghidupkan kembali semangat ini, kita dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih peduli, terbuka, dan harmonis.
Bagi generasi muda, mengenal dan mengamalkan nilai “Nemui Nyimah” berarti ikut melestarikan budaya luhur Lampung sekaligus membangun karakter sosial yang kuat dan berakar pada kearifan lokal.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

Kesimpulan:

Falsafah “Nemui Nyimah” adalah nilai kultural yang kaya akan makna kebajikan dan patut dijadikan inspirasi dalam membangun kehidupan bertetangga yang rukun dan saling mendukung. Dalam konteks masyarakat Lampung, nilai ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari identitas kolektif yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini