Kolaborasi di Balik Proklamasi. Oleh : Herry Tjahyono *)

0

nataragung.id – JAKARTA – “Kalau Proklamasi tak dibacakan Soekarno, kalian masih jadi budak.”
Begitu kalimat yang keluar dari Megawati, penuh percaya diri, penuh keyakinan. Tak salah, tapi tidak juga sepenuhnya benar. Ingat, sejarah bukanlah panggung tunggal. Sejarah adalah orkestra–dan Proklamasi 1945 bukan solo– melainkan simfoni dari banyak tangan, suara, dan nyawa.

Ya, Bung Karno adalah pembaca teks itu. Tapi sebelum kalimat itu menggema dari Jl. Pegangsaan Timur No. 56, ada detik-detik genting yang menuntut keberanian kolektif. Ada pemuda-pemuda “penculik” ke Rengasdengklok yang tak bisa tidur melihat kelambanan elite. Ada Wikana, Sutan Syahrir, Chaerul Saleh yang menekan waktu, menolak kompromi, karena mereka tahu: sejarah tak menunggu orang tua berunding. Bahkan teks proklamasi yang dirumuskan bersama Hatta pun, diketik oleh Sayuti Melik, lalu digenapi oleh tanda tangan bersama atas nama bangsa. Ada pula tiga pemuda pengibar bendera merah putih pertama yaitu Latif Hendraningrat, S. Suhut dan S.K. Tri Murti (membawa bendera sebelum dikibarkan). Dan jangan lupa, ada ibu Fatmawati yang menjahit bendera.

Baca Juga :  Imaji Kebangsaan. Oleh : Gunawan Handoko. Mantan Aktivis Organisasi Kepemudaan, tinggal di Bandar Lampung

Menyebut bahwa tanpa Soekarno, “kalian masih jadi budak,” terdengar seperti narasi tunggal yang memandulkan peran rakyat, pemuda, bahkan sejarah itu sendiri. Kata “budak” terlalu keras, terlalu simplistik untuk bangsa yang sejak awal tak pernah diam. Perlawanan dari Aceh, Banten, sampai Maluku, dan berbagai daerah lainnya senusantara adalah bukti bahwa bangsa ini tak sudi jadi budak–jauh sebelum Proklamasi dibacakan.

Baca Juga :  SAATNYA MEMUTUS LINGKARAN "MIKUL DHUWUR MENDEM JERO" (𝘔𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘛𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘩𝘭𝘢𝘯 𝘐𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘫𝘢𝘻𝘢𝘩 𝘑𝘰𝘬𝘰𝘸𝘪) 𝘖𝘭𝘦𝘩 : 𝘏𝘦𝘳𝘳𝘺 𝘛𝘫𝘢𝘩𝘫𝘰𝘯𝘰 *)

Mungkin yang kita butuhkan bukan ancaman bernada nostalgia kekuasaan, tapi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah dari satu figur, melainkan akumulasi kesadaran kolektif. Indonesia tidak dimerdekakan. Indonesia memerdekakan dirinya.

Kalau saja sejarah hanya milik satu nama, maka kita semua memang budak dari narasi itu.

Dan bangsa yang terlalu sering diingatkan bahwa ia “dimerdekakan,” bisa lupa bagaimana cara memerdekakan dirinya lagi–saat diperlukan.

Baca Juga :  Pancasila dan Politik Para Serigala. Oleh: Kiagus Bambang Utoyo // Pemerhati Sosial Kemasyarakatan, tinggal di Sidomulyo - Lampung Selatan

*) Penulis adalah Profesional (Former), CEO Perusahaan Swasta, Penulis Buku, Kolumnis KOMPAS.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini