Iran Versus Israel dan Amerika. Oleh : M. Habib Purnomo *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Perang di Ukraina sejatinya bukan sekadar konflik teritorial antara Rusia dan Kiev. Di balik narasi media Barat yang menuduh Rusia sebagai agresor, tersimpan strategi geopolitik jangka panjang dari blok NATO. Tujuannya jelas: mengalihkan konsentrasi Rusia dari kawasan Syam, khususnya Suriah, di mana sejak lama senjata-senjata berat dan pasukan elite Rusia telah disiagakan untuk mendukung sekutunya yang sah secara konstitusional—Presiden Bashar al-Assad—dalam menghadapi tekanan militer Israel dan intervensi Amerika Serikat.

Ketika perhatian Rusia terhisap oleh front Ukraina, terjadi pergeseran drastis di internal Suriah. Bashar al-Assad yang selama ini menjadi poros perlawanan regional bersama Iran dan Hizbullah, dilaporkan kini berada dalam pengasingan di Moskow. Kursi kekuasaan Suriah secara mengejutkan diduduki oleh Ahmad al-Sharaa, alias Abu Julani, figur yang dikenal anti-Iran dan cenderung pro-Barat. Dengan perubahan rezim ini, maka kehadiran pasukan dan sistem persenjataan Iran-Rusia yang sebelumnya telah siaga di perbatasan Suriah-Israel menjadi terancam dan mundur secara paksa.

Baca Juga :  Fenomena Pragmatisme. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Perlu digarisbawahi, selama senjata berat Iran dan Rusia masih berada di Suriah, tidak satu pun kekuatan, bahkan Israel dan Amerika sekalipun, berani gegabah menyerang jantung Republik Islam Iran. Penarikan pasukan ini, betapapun taktis dari sudut pandang militer, justru menciptakan celah keamanan yang dimanfaatkan oleh Israel.

Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa tanah Syam adalah kuburan bagi banyak rencana imperialis. Tidak menutup kemungkinan bahwa rudal-rudal canggih milik Iran dan Rusia yang dahulu disembunyikan di dalam tanah Suriah masih tersisa dan belum ditemukan. Bila unit-unit kecil Iran berhasil merangsek kembali ke titik-titik penyimpanan ini, maka skenario keamanan Israel bisa runtuh dalam hitungan menit. Amerika sadar akan ancaman ini, dan dengan tekanan diplomatik maupun militer, akan memerintahkan penguasa boneka di Damaskus untuk memblokade infiltrasi Iran.

Baca Juga :  Dinamika Hubungan Gus Dur dan Soeharto. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Sementara itu, keheningan yang mencurigakan dari OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dalam menyikapi agresi Israel terhadap Palestina menunjukkan keberhasilan kampanye diplomatik Israel-Amerika dalam melumpuhkan solidaritas Islam. Padahal, jika OKI bersidang dan mengambil keputusan strategis demi kemerdekaan Palestina, situasi di lapangan bisa berubah drastis. Apalagi kini yang menyerang Israel bukan lagi hanya pasukan non-negara seperti Hamas, Hizbullah, atau Houthi, melainkan kekuatan resmi Republik Islam Iran—dengan disiplin militer tinggi dan sejarah panjang dalam menundukkan imperium-imperium, termasuk Yahudi kuno dalam lima periode kekuasaan Persia.

Bagi Amerika dan sekutunya, kepemilikan senjata nuklir adalah hak istimewa yang hanya boleh dimiliki oleh Israel di kawasan Timur Tengah. Maka, serangan langsung Amerika ke pusat-pusat nuklir Iran—yang diklaim Iran telah dialihkan ke lokasi lain—merupakan bentuk nyata politik standar ganda dan upaya terakhir menekan Iran secara militer. Namun serangan ini menyimpan risiko strategis: apakah Rusia dan Cina akan tinggal diam?

Baca Juga :  Approval Rating dan Cermin Kepemimpinan. 𝘞𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘢𝘬 𝘉𝘪𝘴𝘢 𝘋𝘪𝘳𝘦𝘬𝘢𝘺𝘢𝘴𝘢. Oleh : Herry Tjahyono *)

Jika Moskow dan Beijing memutuskan untuk turut campur, maka eskalasi akan meningkat ke fase global. Serangan balasan terhadap fasilitas nuklir Israel tidak hanya mungkin terjadi, tapi bisa memicu malapetaka ekologis berupa kebocoran radiasi nuklir yang mengancam nyawa jutaan penduduk Israel sendiri.

Dalam hitungan jam ke depan, dunia menanti: apakah Timur akan benar-benar bangkit, atau apakah skenario besar Barat berhasil mencegah kebangkitan kembali kutub kekuatan Islam-Persia di jantung Timur Tengah. ***

*) Penulis adalah Aktivis NU Lampung, tinggal di Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini