Serial Buku – Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung. Buku 5 – Kue Adat dan Doa Ibu. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

Pnataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Dalam tradisi masyarakat Lampung, kue adat lebih dari sekadar makanan ringan yang manis dan menggugah selera. Ia merupakan simbol kebersamaan, kasih sayang, dan pewarisan nilai-nilai luhur yang turun-temurun.
Kue-kue seperti lemper, bugis, lapis legit, kue talam, dan kue lapis tidak hanya menjadi suguhan dalam pesta atau perayaan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan yang tak terucapkan, terutama dari seorang ibu kepada anaknya.
Kue adat di Lampung memiliki posisi sentral dalam berbagai kegiatan adat dan sosial. Dalam perayaan seperti pernikahan (cangget), sunatan (khitan), aqiqah, upacara kematian (nyewu, mendak), hingga syukuran rumah baru, kue-kue tradisional selalu hadir sebagai bagian dari sesajen atau hantaran.
Kue menjadi representasi rasa syukur, doa, dan hormat terhadap tamu atau leluhur. Ia menjadi medium komunikasi antara yang memberikan dan menerima, antara yang masih hidup dan yang telah tiada.
Fungsi sosial kue adat juga terlihat dalam praktik pemberian “nasi besengek” atau “hidangan hantaran” kepada keluarga atau tetangga. Dalam paket ini, biasanya disertakan beberapa jenis kue khas, yang dipilih bukan hanya berdasarkan rasa, tetapi juga makna simboliknya.
Lapis legit, misalnya, dengan lapisan demi lapisan yang tersusun rapi, melambangkan harapan agar kehidupan sang penerima berjalan teratur dan harmonis.
Salah satu aspek menarik dari kue adat Lampung adalah keterlibatan perempuan, khususnya ibu, dalam proses pembuatannya.

Kegiatan membuat kue seringkali dilakukan secara gotong royong oleh para perempuan dalam komunitas, terutama menjelang hajatan besar.
Proses ini menjadi ajang silaturahmi, tempat berbagi cerita, serta media pewarisan budaya secara informal. Anak perempuan biasanya diajak serta, untuk belajar cara memasak sekaligus memahami filosofi di balik setiap bahan dan teknik pengolahan.
Kue adat juga memiliki peran dalam praktik sosial seperti “ngirim” (mengirim makanan) dan “ngaji selamatan”. Ngirim adalah tradisi memberikan makanan, termasuk kue, kepada orang lain sebagai bentuk perhatian, sedekah, atau menjalin silaturahmi.
Dalam ngaji selamatan, kue menjadi bagian penting dari hidangan tasyakuran yang diiringi dengan doa bersama. Hal ini menunjukkan bahwa makanan, dalam hal ini kue adat, merupakan bagian dari relasi sosial yang sangat dihargai.
Dalam konteks migrasi, kue adat berfungsi sebagai penghubung antara kampung halaman dan tanah rantau. Seorang ibu seringkali mengemas kue-kue ini untuk dibawa oleh anaknya yang akan merantau.
Dalam bungkusan kue itu, terdapat rindu, harapan, dan doa. Ini adalah cara masyarakat Lampung menjaga kedekatan emosional dan identitas budaya, meskipun secara fisik berjauhan.
Kue adat juga memiliki dimensi simbolik yang mendalam. Dalam beberapa tradisi, kue dijadikan lambang keberkahan dan kelimpahan. Sebagai contoh, kue bugis yang dibungkus daun pisang dan berisi kelapa manis, melambangkan harapan agar hidup manis, meski tertutup oleh kerendahan hati (daun pisang).
Kue talam yang berlapis warna putih dan coklat juga merepresentasikan dualitas kehidupan: suka dan duka, terang dan gelap, yang semuanya harus dijalani dengan seimbang.

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 4 — Sakai Sambayan: Hidup Saling Membantu. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Masyarakat Lampung juga memiliki sistem pengetahuan tersendiri dalam pemilihan bahan kue. Semua bahan biasanya berasal dari hasil bumi lokal: kelapa, beras ketan, gula merah, daun pandan, dan sebagainya. Ini menunjukkan keterikatan mereka dengan alam dan prinsip keberlanjutan.
Tidak hanya itu, kue adat diproses tanpa bahan pengawet atau pemanis buatan, mencerminkan nilai kesederhanaan dan keaslian.
Dalam kegiatan adat resmi, seperti penyambutan tamu kehormatan atau pembukaan acara adat, kue adat disajikan sebagai bentuk penghormatan. Keberadaannya sejajar dengan makanan besar seperti seruit atau gulai taboh.
Ini mengindikasikan bahwa dalam pandangan masyarakat Lampung, tidak ada pemisahan antara yang ringan dan berat, semua memiliki peran dalam menciptakan harmoni.

Secara keseluruhan, kue adat dalam budaya Lampung adalah warisan tak ternilai. Ia mencerminkan tatanan sosial yang menjunjung tinggi kebersamaan, solidaritas, dan kesetaraan.
Dalam setiap lemper atau kue lapis, tersimpan pelajaran hidup, kenangan masa kecil, dan nasihat yang tak lekang oleh waktu. Ia adalah representasi nyata dari nilai-nilai adat yang terwujud dalam bentuk paling manis dan penuh cinta.

Di balik kelezatan dan keindahan visual kue adat Lampung, tersembunyi dimensi spiritual yang kaya dan mendalam. Kue tidak hanya berfungsi sebagai santapan, tetapi juga sebagai medium doa, harapan, dan bentuk persembahan kepada Sang Pencipta maupun leluhur. Dalam masyarakat adat Lampung yang religius dan menjunjung nilai spiritualitas, kue menjadi bagian dari ritus suci dan kehidupan batin yang penuh makna.
Salah satu praktik spiritual yang berkaitan dengan kue adat adalah dalam upacara syukuran dan ritual peralihan hidup. Dalam acara kelahiran, misalnya, keluarga sering mengadakan doa bersama atau pengajian yang disertai dengan pembagian kue kepada tetangga dan kerabat.
Kue ini bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga sebagai bagian dari sedekah dan harapan agar sang bayi mendapatkan keberkahan dan perlindungan.
Begitu juga dalam peristiwa duka, seperti kematian atau haul (peringatan hari meninggal), kue-kue tertentu disiapkan dan dibagikan kepada para pelayat. Kegiatan ini dipercaya dapat memberikan pahala kepada almarhum serta mempererat hubungan sosial. Di sini, makanan menjadi sarana spiritual untuk berbuat baik, berempati, dan mengingatkan akan kefanaan hidup.
Kue adat juga erat kaitannya dengan nilai-nilai keberkahan yang dipahami masyarakat adat Lampung. Misalnya, dalam acara buka puasa bersama di bulan Ramadan, kue adat menjadi hidangan pembuka yang dipercaya dapat membawa berkah karena dibuat dengan niat ikhlas dan penuh cinta. Proses memasak kue ini pun sering diiringi doa atau dzikir, sehingga makanan yang dihasilkan dianggap lebih berkualitas secara spiritual.
Peran ibu dalam proses ini sangat penting. Dalam pandangan masyarakat Lampung, ibu bukan hanya juru masak, tetapi juga penjaga nilai spiritual keluarga. Doa-doa yang terucap saat ibu mengaduk adonan atau membungkus kue dipercaya dapat menyatu dalam rasa dan energi makanan tersebut. Oleh karena itu, kue dari tangan ibu memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar produk kuliner.
Kue adat juga digunakan dalam upacara adat untuk menghormati roh nenek moyang. Dalam ritual adat seperti “nyambai” atau “ngajoh”, kue ditempatkan di altar persembahan sebagai simbol rasa hormat dan penghubung antara generasi sekarang dan masa lalu. Ini menunjukkan bahwa makanan memiliki fungsi spiritual yang melampaui dimensi material, menjadi jembatan antara dunia fisik dan spiritual.
Ada pula praktik menyisipkan doa-doa dalam bentuk simbolis melalui jenis dan susunan kue. Misalnya, tumpukan kue yang semakin kecil ke atas melambangkan harapan agar hidup semakin mendekati Sang Pencipta. Kombinasi warna dan rasa dalam kue juga mengandung makna: warna merah untuk semangat, putih untuk kesucian, coklat untuk keteguhan, dan rasa manis sebagai lambang cinta kasih.
Spiritualitas dalam kue adat juga tampak dalam prinsip kesucian bahan dan proses. Masyarakat adat sangat menjaga kebersihan lahir dan batin saat menyiapkan makanan untuk acara keagamaan. Bahkan ada yang berpuasa atau mandi suci sebelum mulai memasak, terutama untuk acara besar seperti kenduri adat atau penyambutan tamu sakral.

Baca Juga :  Buku Seri Lampung Pubian Dalam Komunitas Pepadun Seri 2: Struktur Adat dan Kelembagaan dalam Pubian Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam konteks modern, nilai spiritual ini tetap relevan, meski kemasannya berubah. Banyak ibu di perkotaan yang masih mempertahankan kebiasaan membuat kue adat saat Lebaran, peringatan keluarga, atau ulang tahun anak. Mereka percaya bahwa kue buatan sendiri membawa energi positif yang tidak bisa digantikan oleh produk pabrik. Ini adalah bentuk spiritualitas kontemporer yang tetap berakar pada nilai adat.
Lebih jauh, spiritualitas dalam kue adat adalah bentuk dari “doa yang dimakan”—ungkapan kasih sayang dan harapan baik yang tidak selalu terucap dengan kata-kata, tetapi hadir dalam rasa, tekstur, dan aroma kue. Ketika seorang anak memakan kue buatan ibunya, ia tidak hanya menikmati manisnya gula, tetapi juga menyerap cinta, pengorbanan, dan nilai yang dibalut dalam setiap adonan.
Dengan demikian, kue adat bukan hanya makanan, melainkan ritual harian yang sarat makna. Ia adalah bentuk spiritualitas yang sederhana, namun mendalam; ritual cinta dari ibu yang menjelma dalam rasa manis dan bentuk indah. Dalam kue-kue ini, masyarakat Lampung mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang rasa yang menyentuh batin.

Baca Juga :  BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN. Seri 4: PAKAIAN, SIMBOL DAN KELENGKAPAN DALAM BEGAWI. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

“Kue Adat dan Doa Ibu” bukan hanya judul yang puitis, melainkan gambaran konkret dari budaya masyarakat Lampung yang kaya akan nilai sosial dan spiritual. Dalam setiap kue, tersimpan pelajaran tentang solidaritas, cinta, keberkahan, dan penghargaan terhadap tradisi.
Proses membuat, menyajikan, dan menikmati kue adat merupakan praktik budaya yang menghubungkan generasi, memperkuat komunitas, dan membangun hubungan spiritual yang mendalam.
Di tangan ibu, kue menjadi lebih dari makanan, ia adalah pesan tanpa kata, doa yang lembut, dan warisan nilai yang tak ternilai. Dalam setiap lemper, bugis, atau lapis legit, ada cerita yang disampaikan, ada cinta yang diikatkan, dan ada identitas yang dirayakan. Kue adat adalah bukti bahwa nilai-nilai luhur bisa diwariskan tidak hanya lewat pidato atau buku, tetapi juga lewat rasa. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini