Mencari Roh Pendidikan. Catatan Lepas Gunawan Handoko /Ketua Harian KMBI (Komunitas Minat Baca Indonesia) Propinsi Lampung

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Sesekali saya melakukan diskusi kecil dengan isteri tentang berbagai hal terkait dengan dunia pendidikan. Dia bukan siapa-siapa, melainkan ‘hanya’ pensiunan PNS guru Sekolah Dasar yang selama puluhan tahun berdiri di depan kelas mengajari muridnya. Dia salah satu dari sekian banyak guru PNS yang dipekerjakan di sekolah SD Swasta di kota Bandar Lampung.

Berawal dari ucapan isteri yang menilai bahwa pendidikan saat ini telah kehilangan roh, kehilangan nilai-nilai yang sebenarnya penting. Pendidikan Cuma fokus pada aspek akademis dan kognitif, tanpa memperhatikan aspek emosional, spiritual atau karakter siswa. Lho, kenapa baru bicara sekarang? Isteri menjawab bahwa kebanyakan guru masih dihinggapi sikap takut untuk menyampaikan pendapat, gagasan, apalagi kritik. Dapat diyakini bahwa apa yang diungkapkannya lebih didasari atas pengalaman dirinya selama mengajar di sekolah swasta yang tergolong favorit, lalu dibandingkan dengan sistem pembelajaran yang ada di sekolah negeri pada umumnya. Sesungguhnya para anak didik di tingkat sekolah dasar ini sangat jenuh dengan rutinitas metode pembelajaran yang itu-itu saja, padahal masa anak-anak butuh waktu banyak untuk bermain.

Pendidikan yang terlalu fokus pada nilai akademis dan prestasi telah membuat siswa merasa bahwa tujuan utama sekolah adalah untuk mendapatkan nilai yang tinggi, bukan untuk mengembangkan diri secara holistik, ucap isteri. Tiba-tiba saya jadi teringat saat berkunjung ke beberapa sekolah di Asia Tenggara beberapa tahun silam.

Salah satunya sekolah dasar milik pemerintah Singapura yang bernama Yangzheng Primary School. Sekolah yang telah berumur lebih 100 tahun ini memiliki banyak keunikan, dari bentuk bangunan gedungnya yang mirip dengan mal sampai dengan sistem pembelajarannya. Di sekolah ini berlaku motto belajar sambil bermain. Siswa belajar secara berkelompok agar mampu untuk berpikir secara kolektif dalam menyelesaikan suatu persoalan. Dalam tahap awal, para siswa dibebaskan memilih kegiatan yang paling disukainya seperti bercocok tanam, main musik, berdagang, menulis, olah raga dan banyak pilihan yang lainnya.

Baca Juga :  Somasi Demokrat: Budhius Piliang Kena, Faizal Assegaf Luput. Oleh: Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

Tidak terlihat ada kursi murid berjajar menghadap papan tulis, sebagaimana layaknya sekolah di negeri kita. Ruang belajarnya semi terbuka, sengaja diciptakan seperti layaknya tempat bermain. Ada piano, video game, ruang bazaar, tempat melukis, laboratorium pertanian dan banyak sarana penunjang lainnya. Sasaran akhir adalah terbentuknya manusia yang memiliki jiwa kewirausahaan sesuai dengan bakat dan ketrampilan yang dimiliki siswa. Secara berkala pihak sekolah menghadirkan para alumni yang telah berhasil menjadi pengusaha sukses untuk memberikan motivasi kepada para siswa. Di Singapura profesi guru sangat dihargai dan diperhatikan, pemerintah dan masyarakat menyadari bahwa SDM guru sangat penting dan merupakan tonggak yang akan menentukan keberhasilan seorang siswa.

Dalam proses belajar mengajar, para siswa lebih difokuskan pada kegiatan membaca sesuai dengan slogan 3 M, yakni Membaca, Menulis dan Mengira. Maka perpustakaan sekolah disana di dukung puluhan ribu buku bacaan untuk menunjang proses belajar siswa. Secara berkelompok para siswa dibiarkan untuk banyak berinteraksi di luar kelas, di ajak bermain dan bersuka ria. Harap dicatat bahwa sekolah ini bukan hanya untuk konsumsi golongan elite dan kaya, anak dari keluarga miskin pun dapat mengenyamnya.

Dalam penerimaan siswa baru, pihak sekolah hanya melakukan seleksi umur. Selanjutnya, untuk menentukan calon siswa yang diterima, dilakukan melalui undian langsung secara terbuka. Untuk menanggulangi biaya pendidikan yang tidak sedikit, masyarakat yang kaya wajib untuk membantu masyarakat yang kurang mampu. Itu yang diterapkan di Yangzheng Primary School Singapura, tidak ada yang protes ini dan itu.

Walau hati merasa kagum, saya mencoba untuk tidak berangan terlalu jauh, walau itu bukan sebuah mimpi manakala semua pihak, pemerintah dan masyarakat secara sungguh-sungguh ingin meningkatkan pendidikan yang berkualitas di negeri ini. Boleh jadi yang diungkapkan isteri benar, bahwa pendidikan kita miskin dari roh. Padahal roh itu merupakan sebuah kekuatan dan spirit yang membuat murid menjadi semangat dalam belajar di sekolah. Untuk itu perlu dibuat kurikulum yang bisa mencapai tujuan itu. Pendidikan yang terlalu teoritis dan tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan pengetahuan dalam praktik, akan membuat siswa merasa bahwa pendidikan tidak relevan dengan kehidupan nyata. Harusnya pendidikan diarahkan untuk membentuk moralitas peserta didik.

Baca Juga :  PDIP, Single Majority dan Keseimbangan Politik. Oleh : M Habib *)

Pendidikan yang benar adalah menciptakan manusia yang memiliki kesantunan terhadap orang tua, rasa hormat pada guru, memiliki empati terhadap orang lain dan punya kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Semua itu tentu harus disertai ilmu dan pengetahuan yang memadai. Diyakini bahwa sesungguhnya para guru telah menggenggam banyak konsep tentang berbagai metode pembelajaran yang mampu menggairahkan siswa dalam belajar.

Pertanyaannya adalah, mengapa tidak ada yang memulai dengan mewujudkan semua konsep tersebut? Jawabnya, mayoritas guru takut menyalahi ketentuan, takut dianggap lancang karena keluar dari garis yang ditetapkan Pemerintah. Sebaliknya, ada kecenderungan mayoritas rekan seprofesi isteri saya yang terjangkit sikap apatis atau masa bodoh, karena untuk mewujudkannya butuh biaya tambahan. Sementara masyarakat sangat gencar menuntut pendidikan gratis, semua serba gratis, dari biaya sekolah, pakaian seragam hingga perlengkapan sekolahnya. Sumbangan uang melalui komite sekolah yang selama ini dapat mendukung kegiatan ekstra kurikuler bagi siswa, pun dihapus. Tapi ada nilai positifnya juga, dengan dihapusnya sumbangan komite dan larangan pungutan dalam bentuk lain, telah membuat guru sedikit tenang dan martabat guru kembali berharga.

Para guru tidak lagi di obok-obok dengan berbagai tuduhan negatif oleh para orang tua siswa, termasuk kalangan media. Biaya tambahan itulah yang menjadi momok bagi para guru sekolah negeri selama ini, meski nilainya tidak seberapa, namun hujatan yang diterima akan lebih menyakitkan. Maka bagi guru yang sudah putus asa akan berprinsip bahwa yang penting mengajar sesuai jadual yang telah ada. Di akhir tahun ajaran, semua siswa wajib untuk naik kelas, tanpa harus melihat nilai yang diperoleh ataupun sikap yang tercermin dalam perilaku kesehariannya.

Baca Juga :  Dua Jalan Pengacara: Dorong Klien Masuk Hotel Prodeo atau Sowan ke Solo. Oleh : Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

Ironis memang, di satu sisi banyak orang tua yang mengharapkan anaknya cerdas dan bermoral baik, dengan menyandarkan pendidikan anaknya kepada pihak sekolah negeri. Sementara di sisi lain, pihak sekolah tidak dapat mengembangkan kurikulum yang lebih luas, untuk membantu siswa memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih komprehensif. Beruntung, kewajiban sekolah gratis dan larangan pungutan belum merambah ke sekolah swasta, termasuk sekolah swasta yang memiliki prestasi baik, sehingga dapat menjadi alternatif bagi para orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas.

Memang, berbicara tentang rendahnya kualitas pendidikan selalu saja seperti mengurai gulungan benang yang kusut. Maka pilihan yang paling arif bagi kita adalah untuk bersikap sportif bahwa setiap orang pasti mempunyai keterlibatan dalam permasalahan ini. Masing-masing pihak harus tumbuh minat secara sungguh-sungguh untuk mengurai gulungan tali yang kusut tadi. Bicara masalah pendidikan bukanlah semata menekankan pada konteks hasil, namun lebih menekankan pada sebuah perjalanan luar biasa yang selama ini kita sebut sebagai proses. Proses yang bernama pembiasaan, proses yang bernama pembelajaran dan proses yang menyimpulkan pada sebuah tantangan besar.

Inilah saatnya untuk berbuat menuju perubahan, merubah pemikiran kita semua bahwa menjadikan pendidikan yang berkualitas kepada bangsa ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Setiap dari kita dapat mulai berbuat sesuai dengan peran masing-masing, untuk selanjutnya bersinergi. Pendidikan membutuhkan pengorbanan dan investasi, baik dari segi waktu, pemikiran dan tentu saja uang. Karena sesungguhnya pendidikan merupakan investasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi anak-anak bangsa. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini