Sejarah Bangsa Melayu : Dihilangkan, Dikecilkan, Dijajah Kembali Lewat Narasi. Oleh: Kiagus Bambang Utoyo *)

0

nataragung.id – SIDOMULYO – Ketika sejarah bangsa besar ditulis oleh penjajah dan diamini oleh anak cucunya sendiri, maka penjajahan sejatinya belum pernah usai.

Begitulah realitas pahit yang dialami oleh Bangsa Melayu hingga hari ini. Meski memiliki akar peradaban maritim yang mendunia, sistem kerajaan bercorak Islam yang kuat, dan bahasa yang menjadi lingua franca di Asia Tenggara, sejarah Melayu hari ini dikerdilkan menjadi catatan kaki, bahkan seringkali dianggap hanya sebagai “suku” dalam narasi sejarah nasional modern.

Dari Bangsa Menjadi Suku: Pelemahan Identitas secara Sistematis

Dalam banyak buku pelajaran dan literasi populer, istilah “suku Melayu” terus diulang, seolah-olah Melayu tak lebih dari sekumpulan masyarakat lokal di pesisir Sumatra atau Semenanjung.

Padahal, sejak abad ke-7 hingga ke-19, bangsa ini telah melahirkan kerajaan besar seperti Sriwijaya, Melaka, Johor-Riau, hingga Kesultanan Palembang Darussalam dan Brunei Darussalam.

Penggunaan istilah ‘suku’ alih-alih ‘bangsa’ bukan kesalahan netral, melainkan strategi sistematis untuk menghapus legitimasi sejarah dan politik Melayu sebagai entitas peradaban.

Sebagaimana ditegaskan oleh sejarawan Prof. Dr. Farid Ahmad dalam Simposium Melayu Raya 2024:

Baca Juga :  Wacana Desa Masuk Kota Menguat, DOB Bandar Negara Terancam. Oleh : Gunawan Handoko *)

“Menyebut Melayu sebagai suku adalah amputasi identitas. Kita sedang menyaksikan bangsa yang pernah menguasai selat dan samudra, diperlakukan seperti komunitas adat yang tak lebih penting dari statistik sensus.”

Penulisan Sejarah: Peta yang Diatur oleh Kepentingan Penjajah

Sejarah resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah hari ini sangat berpusat pada narasi kolonial dan revolusi modern. Peran Kesultanan Melayu sebagai pusat perlawanan, pusat dakwah, dan pusat ilmu Islam hampir tak terdengar.

Traktat London 1824, misalnya, nyaris luput dari perhatian umum. Padahal, itulah momen paling tragis dalam sejarah Melayu: ketika Inggris dan Belanda membagi habis kepulauan Melayu tanpa melibatkan satu pun suara dari bangsanya sendiri.

Traktat itu menyatukan Singapura, Penang, dan Melaka ke tangan Inggris, dan menyerahkan Karimun, Batam, Bintan, dan Lingga ke tangan Belanda. Hasilnya adalah pemisahan budaya dan identitas Melayu secara geopolitik yang masih terasa hingga hari ini.

Penguburan Peradaban Lewat Kurikulum dan Akademia

Lebih parah lagi, sebagian akademisi kita hari ini justru mewarisi pola pikir kolonial dalam menulis sejarah Melayu. Manuskrip Jawi dianggap tidak ilmiah. Hikayat dan tambo dianggap mitos. Bahasa Melayu klasik ditinggalkan, bahkan dilabeli kuno dan tidak efisien.

Baca Juga :  Ketika Nilai Rapor Tidak Bicara Sejujurnya. Oleh : Gunawan Handoko *)

Padahal, bangsa yang besar seharusnya mengajarkan literasi sejarah yang membangkitkan harga diri, bukan justru melecehkannya. Tapi dalam kenyataan hari ini, anak-anak Melayu diajarkan sejarah bangsa asing lebih dalam daripada sejarah nenek moyang mereka sendiri.

Kita Sedang Dijajah Kembali Lewat Narasi

Jangan salah. Penjajahan modern tidak datang dengan kapal dan senjata. Ia datang dengan kurikulum, buku teks, film dokumenter, dan algoritma mesin pencari.

Ketika peradaban Melayu tidak dikenalkan dalam narasi sejarah dunia, dan ketika anak muda Melayu lebih mengenal kisah Romawi atau dinasti Cina daripada Kesultanan Riau-Lingga atau Sultan Mahmud Badaruddin II, maka penjajahan belum berakhir.

Bangsa Melayu Butuh Penulis, Bukan Penunggu Museum

Peradaban tidak hidup di dalam lemari arsip. Ia hidup dalam pena, film, kurikulum, dan keyakinan diri generasi penerusnya. Maka langkah yang harus dilakukan kini bukan sekadar nostalgia atau romantisme masa lalu.

Baca Juga :  Menjadi Warga Kota Harus Kaya. Catatan lepas : Gunawan Handoko *)

Kita butuh:

* Sejarawan dan penulis yang berani menggugat narasi dominan.

* Kurikulum sejarah baru yang menempatkan Melayu sebagai pusat peradaban Nusantara.

* Media, film, dan literasi digital yang menghidupkan kembali kisah para ulama, sultan, pendekar, dan pemikir Melayu.

* Jejaring intelektual Melayu Raya lintas negara untuk menyatukan kembali yang telah lama dipisahkan.

Penutup: Melawan Lupa adalah Melawan Penjajahan

Jika generasi ini tak segera menulis ulang sejarahnya sendiri, maka generasi berikutnya akan tumbuh tanpa akar, tanpa rasa bangga, dan tanpa orientasi.

Karena itu, marilah kita menulis kembali sejarah Bangsa Melayu. Bukan demi nostalgia, tapi demi keadilan. Bukan untuk menolak bangsa lain, tapi untuk mengangkat martabat sendiri. Karena Melayu bukan hanya masa lalu. Ia adalah fondasi masa depan.

“Bangsa yang besar tidak pernah membiarkan dirinya ditulis oleh tangan asing.” ***

*) Penulis adalah penggiat sosial budaya dan kemasyarakatan, tinggal di Sidomulyo, Lampung Selatan, Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini