nataragung.id – Bandar Lampung – Mumpung presidennya ahli perang bolehlah kita sebagai masyarakat ikut berbicara dari sudut pertahanan negara. Partisipasi masyarakat penting karena negara ini berdirinya beda dengan negara lain yang di beri oleh penjajahnya, sedang Indonesia merdeka karena revolusi rakyat merebut dari penjajah.
Perang yang akan datang sebagaimana perang Iran vs Israel kemarin, mereka gunakan teknologi militer (drone misill dll).
Dengan adanya perang mempergunakan teknologi militer modern, di bekali penginderaan jarak jauh, tidak ada tempat yang aman di permukaan tanah dari serangan musuh kecuali pertahanan bawah tanah.
Publik belum lupa ketika Amerika menyerang Irak sering kali salah sasaran, segerombolan domba yang sedang di gembala di bom oleh pesawat tempur dan rudal Amerika, karena di kira pasukannya Saddam Husein dan ketika Amerika duduki Afghanistan, di media kita sering baca bahwa pesawat dan rudal milik Amerika sering keliru. Orang berkerumun sedang hajatan di kira pergerakan gerilyawan Taliban.
Pertahanan bala tentara Jepang pada masa perang dunia kedua dengan cara membuat goa-goa Jepang yg tersebar di seluruh kawasan negara-negara yang di duduki Jepang.
Di Indonesia, di kota-kota tingkat karesidenan dan bahkan kawedanan yang ada tentara Jepangnya biasanya ada goa markas Jepang, kalaupun tidak ada sebenarnya karena tidak ketemu atau sudah di tutup oleh masyarakat .
Di antara goa markas tentara Jepang di Indonesia yang paling besar ada di Bukit tinggi Sumatera Barat yang menghadap ke ngarai sianok, kita bisa kelelahan mengelilingi ruangan-ruangan di dalamnya,
Konon goa-goa Jepang ini di bangun dengan tenaga kerja romusha dan untuk menjaga kerahasiaannya setelah selesai pembangunan goanya mereka di hilangkan.
Pertahanan militer goa bawah tanah Jepang ini juga banyak di Vietnam dan kemudian di teruskan oleh gerilyawan Vietcong ketika melawan Amerika.
Walaupun gerilyawan Vietcong di hujani bom napalm yg dahsyat dari pesawat tempur para gerilyawan nyantai di dalam goa dan akhir nya Amerika putus asa dan angkat kaki dari Vietnam.
Sebaiknya kedepan Indonesia mulai membuat pertahanan bawah tanah.
Semua instalasi militer dan non militer yg vital seperti gudang gas, pusat listrik, gudang BBM, elpiji (LPG) di bangun di bawah tanah.
Terbayang, bila kilang minyak di Cilacap dan di Balikpapan di bom musuh baik gunakan missil atau pesawat tempur yg berada di kapal induk, di pastikan mobil-mobil akan kehabisan bensin, belum lagi bila gudang gas elpiji di bom, ibu-ibu akan masak lagi gunakan kayu bakar ,listrik padam.
Dengan alat-alat modern bagi Indonesia sangat mudah membuat bawah tanah, selama ini pun jalan-jalan tol menembus gunung-gunung dan di Jakarta sekarang ini juga ada jalan kereta api bawah tanah ( MRT) yang ide nya sudah ada sejak presiden Soekarno, bila perlu mulai di buat gudang-gudang logistik dan mall bawah tanah.
Kita tidak tahu kapan perang terjadi, kitapun tidak menyangka ada perang India vs Pakistan , Kamboja vs Thailand, tapi bila terjadi perang negara raksasa Cina vs Amerika di pastikan Indonesia akan terdampak.
Nanti bagaimana bila hal itu benar-benar terjadi ? Mulai sekaranglah kita mengkalkulasi, di bidang panganpun pupuk kita masih tergantung dari luar negeri, tanpa pupuk di pastikan gagal panen padi dan artinya terjadi bencana kelaparan karena selama ini rakyat Indonesia sudah tergantung konsumsi pangan dari beras plus impor gandum dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Serangan gunakan narkoba, judi online, meningkat nya narasi-narasi yang kontennya adu domba bukan sesuatu yg tiba-tiba ada pihak luar yg meng orkestrasi.
Kata Presiden Prabowo dalam salah satu pidatonya Belanda lah yang fasilitasi Muso masuk ke Indonesia dari Uni Soviet untuk pimpinan pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 melawan pemerintah yang di pimpin Soekarno – Hatta.
Berbicara pertahanan meliputi banyak aspek, bukan hanya andalkan senjata militer konvensional, gotong royong dan usaha-usaha pemerintah menuju masyarakat adil dan makmur adalah modal nya. (*)
*) Penulis Adalah : Aktivis NU Lampung, Tinggal di Bandar Lampung.

