Cangget, Tarian Sakral yang Menghubungkan Masa Lalu dan Kini. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Pesagi yang megah, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Dipuncak. Ia dikenal arif dan bijaksana, namun tanah kelahirannya kerap dilanda perselisihan antar kelompok. Suatu malam, dalam mimpi yang nyata, ia didatangi seorang bidadari. Sang bidadari tidak berkata-kata, melainkan mulai menari. Setiap gerakannya penuh arti, langkahnya yang mantap membumi laksana menancapkan tiang rumah, lenggaknya yang gemulai bagai aliran sungai Way Sekampung, dan tatapannya yang tajam ibarat elang yang mengawasi anaknya. Tarian itu berakhir dengan sang bidadari menyatukan kedua tangannya di atas kepala, membentuk suatu mahkota.

Terbangun dari mimpinya, Ratu Dipuncak merekam setiap gerakan dalam ingatannya. Esok harinya, ia mengumpulkan para tetua dan memeragakan tarian tersebut. Mereka yakin itu adalah petunjuk dari nenek moyang. Tarian itu kemudian dinamai Cangget, yang konon berasal dari kata ‘cang’ yang berarti tegak atau lurus dan ‘get’ yang berarti gerak, melambangkan gerakan yang tertib, lurus, dan penuh makna. Ratu Dipuncak kemudian dinobatkan sebagai pemimpin pertama dengan gelar Suttan, duduk di atas Pepadun, singgasana bertingkat yang menjadi lambang perjalanan spiritual dan hierarki adat.
Sejak saat itu, Cangget menjadi medium untuk menyatukan hati, menyelesaikan sengketa tanpa perang, dan melantik pemimpin.

Baca Juga :  Humor Ala Gus Dur - MAJALAH NATAR AGUNG

Cangget bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah kitab hukum dan filsafat hidup yang hidup (living law). Setiap gerakannya adalah sebuah ayat, setiap irama gamalannya adalah sebuah pasal.
Pertunjukan Cangget selalu dibuka dengan Cangget Bakha, tarian penyambutan. Gerakan membungkuk dan mengangkat nisembilan jari (jari kecuali kelingking) bukanlah sekadar salam.

Filsuf adat Lampung, M.H. Widjaja, dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti menuliskan, “Sembilan jari itu adalah sembilan lorong hidup manusia: hati, pikiran, kata, perbuatan, lahir, batin, adat, pusako, dan iman.” Mengangkat sembilan jari adalah janji untuk menjaga kesembilan lorong itu dalam kebenaran selama upacara berlangsung.
Gerakan inti dari Cangget, seperti nindai (melihat ke sekeliling) dan lenggang (melenggang), sarat dengan tuntunan hidup.

Nindai mengajarkan untuk selalu waspada dan aware terhadap lingkungan sosial, sementara lenggang yang dilakukan dengan anggun mencerminkan kesopanan dan kehati-hatian dalam bertindak. Sebuah petuah dalam Kuntara Raja Niti berbunyi, “Tindak hendaklah ditindai, kata hendaklah ditimbang,” yang berarti setiap langkah harus diperhitungkan dan setiap perkataan harus dipikirkan masak-masak.

Puncaknya adalah Cangget Pilangan, yang ditampilkan dalam puncak acara adat seperti pemberian gelar (Suttan). Penari memegang tumbuk, semacam bokor, yang melambangkan amanah dan kekuasaan. Gerakan memutar dan mengangkat tumbuk ini simbol dari kesiapan menerima tanggung jawab besar untuk memimpin dengan adil dan bijaksana, menjaga marwah marga, dan melestarikan adat istiadat. Kekuatan magis-spiritual inilah yang membuat Cangget begitu dihormati dan tidak boleh dipentaskan sembarangan.

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 4 — Sakai Sambayan: Hidup Saling Membantu. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam pusaran globalisasi dan derasnya arus modernitas, Cangget justru menemukan relevansinya yang paling vital. Nilai-nilai yang dikodekan dalam tarian ini menjadi penawar bagi krisis identitas dan erodingnya nilai sosial.

Pertama, nilai piil pesenggiri (harga diri yang diikat dengan martabat dan prestasi). Cangget mengajarkan bahwa harga diri bukan untuk sombong, tetapi untuk mendorong setiap individu berbuat kebajikan dan berkontribusi bagi masyarakat. Di era media sosial di mana pencapaian sering diukur dari likes dan views, piil pesenggiri mengingatkan generasi muda Lampung untuk mencari penghormatan melalui prestasi nyata dan sikap santun, bukan pencitraan.

Kedua, nilai nemui nyimah (keterbukaan dan keramahan). Cangget Bakha adalah manifestasi sempurna dari nilai ini. Dalam dunia yang semakin terkotak-kotak oleh perbedaan, semangat nemui nyimah mengajak untuk membangun jembatan dialog, menerima tamu dengan hangat, dan menghargai perbedaan pendapat. Ini adalah modal sosial yang tak ternilai untuk membangun masyarakat inklusif.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 7: Warisan yang Tidak Pernah Tumpul. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ketiga, nilai sakai sambayan (gotong royong). Sebuah pagelaran Cangget tidak mungkin dilakukan oleh satu orang. Ia membutuhkan kerjasama puluhan penari, pemusik, dan penyelenggara. Ini melatih solidaritas sosial dan mengingatkan bahwa kesuksesan sebuah komunitas dibangun di atas kolaborasi, bukan kompetisi individualistik.

Cangget adalah lebih dari sekadar warisan; ia adalah nafas yang masih hidup. Ia adalah benang emas yang menyambung visi para leluhur di masa lalu dengan realitas generasi kini. Melestarikan Cangget bukan berarti hanya mempelajari gerakannya, tetapi yang lebih utama adalah menghidupkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya dalam keseharian. Dengan demikian, tarian sakral ini akan terus menjadi kompas spiritual, menuntun masyarakat Lampung untuk bergerak maju ke masa depan tanpa tercerabut dari akar budayanya yang dalam dan agung. Ia tetap menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan sesamanya, dengan leluhurnya, dan dengan Tuhannya. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini