nataragung.id – Bandar Lampung – Di tengah gemuruh modernitas, masyarakat adat Lampung Pepadun berdiri tegak laksana tiang penyanggah yang kokoh, menjulang dengan filosofi hidup yang dalam. Nama “Pepadun” sendiri bukan sekadar penanda geografis atau suku, melainkan sebuah konsep kosmologis yang merangkum tata nilai, hierarki, dan perjalanan sejarah yang panjang.
Tulisan ini berusaha menelusuri asal-usul kampung halaman masyarakat pepadun melalui lensa fiksi tradisional yang dirajut dari cerita rakyat, legenda marga, dan kitab kuno, untuk memahami bagaimana sebuah komunitas menemukan bentuk dan jati dirinya.
Alkisah, pada zaman yang silam, hiduplah seorang pemuda gagah berani bernama Ratu Brajanata. Ia adalah keturunan dari para Unyai, tetua bijak yang mendiami lereng Bukit Pesagi, gunung keramat yang diyakini sebagai titik pusat semesta dalam kosmologi Lampung.
Suatu hari, sebuah wangsit datang dalam mimpinya. Ia mendengar suara gaib yang berseru, “Tindaklah ka arah matahari pagi, hingga kau menemukan tanah di mana bambu kuning (trimang) tumbuh subur di tepi aliran air yang jernih. Di sanalah pusaka kita akan bertakhta.”
Dengan berpedoman pada petunjuk itu, Ratu Brajanata beserta sejumlah pengikut setianya dari marga Buay Tumiyang, salah satu marga tertua, memulai pengembaraan. Setelah berhari-hari menembus belantara, mereka tiba di sebuah dataran subur yang dialiri sungai bening. Di tepiannya, rumpun bambu kuning (trimang) tumbuh menjulang, batangnya berwarna keemasan diterpa matahari. Ratu Brajanata pun berseru, “Inilah pekhuwah (petunjuk) yang ditunjukkan Sang Bumi! Di sini kita menancapkan tulang bawang (tiang pertama), di sini kita membangun rumah pusako (rumah pusaka)!”
Lokasi itu kemudian dinamai Tiuh (Kampung) Tumiyang, yang diyakini sebagai cikal bakal dari seluruh permukiman Pepadun. Penemuan bambu kuning bukanlah peristiwa biasa. Dalam kitab Kuntara Raja Niti, sebuah naskah kuno yang berisi pedoman hidup, disebutkan: “Trimang mas, tanda bumi bejunjung, tanda kebandakhàn marga, tanda tuha berjati.” (Bambu mas, tanda bumi yang dimuliakan, tanda kekuatan marga, tanda ketuaan yang berjati diri).
Analisis filosofisnya mendalam: bambu kuning (trimang) melambangkan kekayaan, kemuliaan, dan kelurusan hati. Air yang jernih melambangkan kesucian dan kejernihan hukum. Kombinasi keduanya menandakan suatu tempat yang layak ditinggali untuk membangun peradaban yang adil dan makmur.
Perjalanan Ratu Brajanata tidak dilakukan sendirian. Ia adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat yang telah teratur. Legenda menyebutkan bahwa para leluhur awal Pepadun berasal dari empat keturunan utama yang disebut Buay (kelompok besar marga), yaitu Buay Tumiyang, Buay Canang, Buay Unyi, dan Buay Nuban. Masing-masing Buay dipimpin oleh seorang Punyimbang yang bijaksana.
Silsilah kepemimpinan ini dicatat secara turun-temurun pada bilah bambu atau kulit kayu yang disebut warahan adat. Salah satu kutipan dari dokumen kuno marga Canang menyatakan: “Jama sai Punyimbang Canang, sai berasal dari Sekala Brak, sai turun ka Paksi Pak, membawa pusako piring perak, cakak pepadun tempat duduk.” (Adapun Punyimbang Canang, yang berasal dari Sekala Brak, yang turun ke Paksi Pak, membawa pusaka piring perak, dan cakak pepadun tempat duduk).
Pusaka seperti piring perak (piring perak) dan tempat duduk (cakak pepadun) bukanlah benda mati. Mereka adalah simbol legitimasi kekuasaan dan otoritas adat. Piring perak, sering kali berukir motif pucuk rebung (tunas bambu), melambangkan kemakmuran yang harus dibagikan secara merata oleh seorang pemimpin. Sementara itu, cakak pepadun, bangku bertangga yang kelak menjadi nama masyarakat ini, adalah singgasana tempat seorang penyimbang memimpin dengan adil, duduk sejajar dengan rakyatnya, bukan di atas mereka.
Puncak dari perjalanan sejarah dan silsilah ini termanifestasi dalam sebuah ritual agung: Cakak Pepadun. Ritual ini bukan sekadar upacara pemberian gelar, melainkan sebuah prosesi “kelahiran kembali” seorang bangsawan (anak bangsawan) menjadi manusia utuh yang memikul tanggung jawab besar.
Prosesinya dimulai dengan Menyambai, yaitu berdialog adat dengan bahasa yang penuh kiasan untuk menguji pemahaman calon pemimpin terhadap hukum dan falsafah adat. Lalu, calon tersebut diarak dan didudukkan di atas cakak pepadun di tengah balai adat. Saat didudukkan, tetua adat mengucapkan mantra: “Duduk di pepadun, tegak di sanggaran, pijak di bumi datar, pandang ka sekala brakhàn.” (Duduk di pepadun, tegak di sanggaran (tempat sesajian), berpijak di bumi yang datar, memandang ke Sekala Brak (pusat spiritual)).
Analisis mendalam terhadap ritual ini menunjukkan lapisan makna yang kompleks:
1. Duduk di Pepadun: Melambangkan ketinggian martabat, kebijaksanaan, dan kewenangan untuk memutuskan hukum. Namun, bangku yang bertangga itu juga mengingatkan bahwa kekuasaan itu diraih secara bertahap, penuh proses dan pembelajaran.
2. Tegak di Sanggaran: Sanggaran adalah tiang penyangga rumah adat. Ini melambangkan keteguhan hati, ketegasan, dan menjadi penopang utama bagi masyarakatnya. Seorang pemimpin harus kuat dan tidak mudah goyah.
3. Pijak di Bumi Datar: Menandakan kesederhanaan, kedekatan dengan rakyat, dan selalu berpijak pada realitas kebenaran yang nyata (hukum adat).
4. Pandang ka Sekala Brakhàn: Menunjukkan bahwa visi seorang pemimpin haruslah jauh ke depan, terhubung dengan leluhur dan nilai-nilai asal-usul, serta memiliki wawasan yang luas.
Ritual ini adalah esensi dari demokrasi tradisional Lampung Pepadun. Seorang pemimpin tidak sah hanya karena keturunan; ia harus melalui proses pengujian dan pengakuan dari komunitasnya, dan yang terpenting, ia harus memahami beban filosofis dari kursi yang didudukinya.
Asal-usul Kampung Pepadun, yang diceritakan kembali melalui legenda Ratu Brajanata, silsilah marga Buay, dan kekayaan ritual Cakak Pepadun, lebih dari sekadar dongeng penghantar tidur. Ia adalah sebuah narasi besar tentang penataan ruang, pembentukan struktur sosial, dan penciptaan sistem nilai yang berkelanjutan. Setiap bambu kuning, setiap pusaka piring perak, dan setiap undakan pada cakak pepadun adalah sebuah ayat dalam kitab suci kebudayaan yang mengajarkan tentang kelurusan, kemakmuran, keteguhan, dan keadilan. Kampung Pepadun tidak hanya dibangun dari kayu dan bambu, tetapi dipatri oleh filosofi yang dalam, menjadikannya sebuah tiang penyanggah peradaban yang terus berdiri kokoh dari masa ke masa.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung. (Buku Fisik).
2. Kartodirdjo, Sartono. (1993). Kuntara Raja Niti: Naskah Acuan Adat Lampung. Firma Nusantara: Jakarta. (Buku Fisik/Digital dari koleksi museum).
3. Marjohan, Admi. (2008). Sistem Pemilihan Penyimbang Pada Masyarakat Adat Lampung Pepadun. Jurnal Humanus Vol. VII. (Jurnal Digital Terverifikasi).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

