Blog

  • Perkuat Kepercayaan Publik, Sekda Supriyanto Minta Seluruh Perangkat Daerah Gencarkan Sosialisasi Halo Lamsel

    Perkuat Kepercayaan Publik, Sekda Supriyanto Minta Seluruh Perangkat Daerah Gencarkan Sosialisasi Halo Lamsel

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus memperkuat komunikasi publik melalui optimalisasi layanan Halo Lamsel sebagai kanal resmi penyampaian aspirasi, pengaduan, dan laporan pelayanan publik.

    Untuk itu, seluruh perangkat daerah diminta lebih aktif menyosialisasikan layanan tersebut agar semakin dikenal dan dimanfaatkan masyarakat.

    Arahan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, saat memimpin rapat koordinasi mingguan bersama jajaran perangkat daerah di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, Senin (27/7/2026).

    Supriyanto menilai, hingga kini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan Halo Lamsel sebagai sarana komunikasi resmi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Karena itu, ia meminta setiap perangkat daerah mengambil peran aktif dalam memperluas sosialisasi melalui berbagai media informasi yang dimiliki.

    “Masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan Halo Lamsel. Karena itu saya minta seluruh perangkat daerah ikut menyosialisasikannya agar masyarakat mengetahui dan memanfaatkan kanal resmi yang telah disediakan pemerintah,” kata Supriyanto.

    Menurutnya, optimalisasi Halo Lamsel merupakan bagian dari upaya membangun pelayanan publik yang lebih responsif, transparan, dan mudah diakses.

    Melalui kanal tersebut, masyarakat diharapkan dapat menyampaikan aspirasi, pengaduan, maupun laporan pelayanan publik secara tepat sehingga dapat ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.


    Selain mendorong penguatan sosialisasi Halo Lamsel, Supriyanto juga mengingatkan pentingnya peran perangkat daerah dalam memberikan edukasi informasi publik yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Ia mengatakan, di tengah derasnya arus informasi, pemerintah daerah dituntut mampu menghadirkan informasi yang jelas, mudah dipahami, serta menjadi rujukan terpercaya bagi masyarakat.

    Apabila muncul informasi yang kurang tepat atau berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, perangkat daerah diminta segera memberikan klarifikasi secara bijaksana dengan mengedepankan edukasi kepada masyarakat.

    “Kalau ada informasi yang perlu diklarifikasi atau kurang tepat, buatlah pemberitaan yang benar. Sampaikan informasi yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat, sehingga mereka menerima informasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru,” ujar Supriyanto.

    Supriyanto berharap, penguatan edukasi informasi publik yang diiringi optimalisasi sosialisasi Halo Lamsel dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah sekaligus mendorong partisipasi publik dalam pembangunan melalui penyampaian aspirasi dan pengaduan secara tepat. (mara-kmf)

  • Kecerdasan Pasangan dan Keharmonisan Pernikahan Perspektif Psikologi Terapan

    Kecerdasan Pasangan dan Keharmonisan Pernikahan Perspektif Psikologi Terapan

    Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
    Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

    nataragung.id – Metro – Kecerdasan intelektual (IQ) selama ini sering dianggap sebagai modal utama keberhasilan hidup. Penelitian Robert Sternberg (1986) melalui “Triangular Theory of Love” justru menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan lebih ditentukan oleh keseimbangan tiga unsur, yaitu intimacy (kedekatan emosional), passion (gairah), dan commitment (komitmen), bukan semata-mata kemampuan berpikir logis. John Gottman (1999), setelah meneliti ribuan pasangan selama puluhan tahun, menemukan bahwa prediktor utama langgengnya pernikahan adalah kemampuan mengelola konflik, menghargai pasangan, serta memperbanyak interaksi positif. Tingkat pendidikan maupun kecerdasan bukan faktor yang secara langsung menentukan keberhasilan rumah tangga.

    Perspektif psikologi terapan pada bidang sosial menjelaskan bahwa individu yang sangat analitis sering kali memiliki kecenderungan melakukan “overthinking”, mengevaluasi setiap keputusan secara berlebihan, serta sulit menerima ketidaksempurnaan pasangan. Fenomena tersebut dikenal sebagai “analysis paralysis”, yaitu kondisi ketika terlalu banyak berpikir justru menghambat pengambilan keputusan maupun ekspresi kasih sayang. Makna “idiot” dalam kutipan yang viral sebenarnya lebih dekat kepada keberanian untuk mencintai tanpa terlalu banyak kalkulasi. Seseorang bersedia meminta maaf terlebih dahulu, mengalah saat diperlukan, serta menerima kelemahan pasangan tanpa harus selalu menjadi pihak yang paling benar.

    Al-Qur’an menggambarkan tujuan pernikahan bukan untuk menunjukkan keunggulan intelektual, melainkan menghadirkan ketenangan hidup. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenteraman kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat tersebut menempatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagai fondasi keluarga, bukan perlombaan siapa yang paling pintar.

    Ego, Kerendahan Hati, dan Kecerdasan Emosional dalam Pernikahan.

    Daniel Goleman (1995) menjelaskan bahwa “Emotional Intelligence” jauh lebih berpengaruh terhadap kualitas hubungan dibandingkan IQ. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan mengenali emosi diri, memahami perasaan pasangan, mengendalikan kemarahan, serta membangun empati. Pasangan yang sama-sama ber-IQ tinggi dapat hidup harmonis apabila keduanya memiliki EQ yang baik. Sebaliknya, pasangan yang sama-sama cerdas tetapi sama-sama mempertahankan ego akan lebih mudah terjebak dalam konflik berkepanjangan. Teori “Attachment” dari John Bowlby (1969) juga menjelaskan bahwa hubungan yang aman dibangun melalui rasa percaya (secure attachment), bukan kompetisi intelektual. Individu yang merasa aman bersama pasangannya tidak perlu membuktikan dirinya selalu lebih benar.

    Rasulullah ﷺ juga mencontohkan hubungan yang dibangun atas dasar penghormatan terhadap pasangan. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut menunjukkan bahwa kualitas suami maupun istri diukur dari akhlak dan perlakuannya kepada pasangan, bukan dari keunggulan intelektual semata.

    Pernikahan Membutuhkan Kebijaksanaan Bukan Kompetisi.

    Psikologi positif yang dikembangkan Martin Seligman (2011) menjelaskan bahwa hubungan yang bertahan lama dibangun melalui kekuatan karakter (character strengths), seperti kerendahan hati (humility), kasih sayang (kindness), rasa syukur (gratitude), kemampuan memaafkan (forgiveness), dan harapan (hope). Konflik rumah tangga sering muncul ketika pasangan mengubah hubungan menjadi arena adu argumentasi. Masing-masing ingin menang, ingin diakui lebih benar, serta sulit menerima kritik. Kondisi demikian memunculkan power struggle yang menguras energi psikologis.

    Hubungan yang sehat justru membutuhkan fleksibilitas psikologis sebagaimana dijelaskan Steven C. Hayes (1999) dalam “Acceptance and Commitment Therapy (ACT)”. Individu yang mampu menerima ketidaksempurnaan pasangan akan lebih mudah membangun komitmen jangka panjang daripada individu yang terus berusaha mengendalikan segala sesuatu secara rasional. Kutipan viral tentang “dua orang pintar tidak bisa saling mencintai” dari Tokoh penulis Rusia Bernama Fyodor Dostoevsky dapat dimaknai sebagai kritik terhadap dominasi ego, bukan terhadap kecerdasan itu sendiri. Cinta memang menuntut keberanian untuk sesekali “menjadi bodoh”, yakni berani meminta maaf, berani mengalah, berani mempercayai pasangan, serta rela berkorban tanpa selalu menghitung untung dan rugi.

    Kehidupan nyata Fyodor Dostoevsky justru memberikan pelajaran berbeda dari kutipan yang disematkan kepadanya. Anna Dostoevskaya dikenal sebagai perempuan yang sangat cerdas, terampil mengelola keuangan, sekaligus mampu menjadi mitra intelektual suaminya. Keharmonisan mereka lahir karena adanya saling menghormati ruang pribadi, saling percaya, dan pembagian peran yang sehat. Kecerdasan Anna tidak menjadi ancaman bagi Dostoevsky, melainkan menjadi kekuatan yang menopang kehidupan dan karya-karyanya. Kebijaksanaan dari pasangan suami istri seperti saling rendah hati mutlak diperlukan untuk terciptanya pasangan yang harmonis. Firman Allah Swt.: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63). Kerendahan hati merupakan salah satu fondasi utama hubungan interpersonal yang sehat.

    Akhirnya penting untuk dipahami bahwa kutipan yang selama ini dikaitkan dengan tokoh penulis Rusia bernama Fyodor Dostoevsky kemungkinan besar bukan berasal darinya. Popularitasnya mencerminkan kegelisahan masyarakat modern terhadap hubungan yang semakin dipenuhi logika, kalkulasi, dan ego. Kajian psikologi terapan menunjukkan bahwa keberhasilan pernikahan tidak ditentukan oleh siapa yang lebih pintar atau siapa yang kurang pintar, melainkan oleh kemampuan mengelola emosi, membangun kepercayaan, menghargai perbedaan, serta mempraktikkan empati dalam kehidupan sehari-hari. Pernikahan yang kokoh bukan mempertemukan dua orang yang saling mengalahkan dalam adu kecerdasan, melainkan dua pribadi yang saling melengkapi dalam kebijaksanaan. IQ dapat membantu seseorang memecahkan persoalan hidup, tetapi EQ, kematangan spiritual, dan akhlak mulia menjadi penentu utama lahirnya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Dalam perspektif Islam maupun psikologi modern, cinta sejati bukan membutuhkan “orang bodoh”, melainkan manusia yang cukup rendah hati untuk mencintai tanpa diperbudak ego. (*)

  • Fenomena Viral Perempuan Memamerkan Akta Cerai di Media Sosial Perspektif Psikologi Terapan

    Fenomena Viral Perempuan Memamerkan Akta Cerai di Media Sosial Perspektif Psikologi Terapan

    Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
    Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

    nataragung.id – Metro – Media sosial kembali menghadirkan fenomena yang memancing perdebatan publik. Sejumlah video viral memperlihatkan perempuan keluar dari Pengadilan Agama dengan wajah penuh senyum sambil memperlihatkan akta cerai. Fenomena tersebut muncul di berbagai daerah seperti Bojonegoro, Jombang, Demak, dan Lamongan. Beragam komentar bermunculan. Sebagian memberikan dukungan karena menganggap perceraian menjadi jalan keluar dari hubungan yang penuh tekanan. Sebagian lain menilai ekspresi tersebut kurang pantas karena perceraian bukanlah sesuatu yang layak dirayakan.

    Kajian psikologi terapan memandang fenomena tersebut tidak cukup dipahami sebagai tindakan mencari sensasi atau sekadar mengikuti tren media sosial. Ekspresi kebahagiaan setelah perceraian dapat menjadi bentuk pelepasan beban psikologis yang telah berlangsung lama. Kondisi tersebut terutama terjadi apabila individu sebelumnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), manipulasi emosional, perselingkuhan, penghinaan, pengabaian, ataupun relasi yang bersifat toxic.

    Teori “Stress and Coping” dari Richard Lazarus dan Susan Folkman (1984) menjelaskan bahwa individu akan berupaya mengurangi tekanan psikologis melalui berbagai mekanisme koping. Perceraian dalam kondisi tertentu dapat menjadi bentuk problem-focused coping, yaitu menyelesaikan sumber masalah secara langsung ketika berbagai upaya mempertahankan hubungan tidak lagi memberikan harapan. Islam sendiri memandang pernikahan sebagai ikatan yang agung untuk mewujudkan keluarga yang tenteram. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu memperoleh ketenangan (sakinah) kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan ketenangan, bukan penderitaan yang berkepanjangan.

    Pilihan Perceraian sebagai Jalan Pemulihan Psikologis.

    Tidak semua perceraian identik dengan kegagalan hidup. Sebagian perceraian justru menjadi langkah penyelamatan kesehatan mental. Psikolog Martin E. P. Seligman (2011) melalui konsep “Positive Psychology” menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis (well-being) tidak hanya diukur dari kemampuan bertahan menghadapi penderitaan, melainkan juga kemampuan mengambil keputusan yang memungkinkan seseorang kembali berkembang secara sehat. Hubungan yang penuh kekerasan verbal, ancaman, kontrol berlebihan, penghinaan, ataupun kekerasan fisik berpotensi menimbulkan berbagai gangguan psikologis seperti kecemasan kronis, depresi, trauma, rendah diri, hingga learned helplessness sebagaimana dijelaskan Martin Seligman (1975). Korban sering kali merasa tidak berdaya meskipun sebenarnya memiliki kesempatan untuk keluar dari situasi tersebut.

    Teori “Trauma Recovery” dari Judith Herman (1992) menjelaskan bahwa korban kekerasan akan mengalami tiga tahap pemulihan, yaitu membangun kembali rasa aman, memproses pengalaman traumatis, dan membangun kembali kehidupan. Putusan perceraian dapat menjadi simbol dimulainya fase pertama pemulihan karena ancaman psikologis mulai berakhir. Ekspresi tersenyum di depan gedung pengadilan dalam konteks demikian lebih tepat dipahami sebagai “release emotion”, yaitu pelepasan ketegangan emosional yang telah dipendam bertahun-tahun. Air mata dan senyuman sama-sama dapat menjadi bahasa psikologis ketika seseorang berhasil melewati masa yang sangat berat. Islam juga tidak menghendaki seseorang terus berada dalam kemudaratan. “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…. (QS. Al-Baqarah: 195). Prinsip tersebut menunjukkan bahwa menjaga keselamatan jiwa, fisik, dan kesehatan mental merupakan bagian dari tujuan syariat (maqashid syariah).

    Validasi Diri dan Etika Bermedia Sosial.

    Fenomena memamerkan akta cerai tidak dapat dilepaskan dari budaya media sosial yang mendorong individu membagikan setiap momen penting kehidupannya. Teori Presentation of Self dari Erving Goffman (1959) menjelaskan bahwa individu cenderung menampilkan citra tertentu di hadapan publik. Unggahan tersebut dapat menjadi bentuk narasi bahwa dirinya telah berhasil keluar dari hubungan yang merugikan. Teori “Self-Determination” dari Edward Deci dan Richard Ryan (1985) juga menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Setelah bertahun-tahun kehilangan kendali dalam hubungan yang tidak sehat, sebagian individu merasakan kembali kebebasan menentukan arah hidupnya. Perasaan tersebut kemudian diwujudkan melalui unggahan di media sosial sebagai bentuk validasi diri.

    Fenomena tersebut tetap memerlukan kebijaksanaan. Tidak semua pengalaman pribadi perlu dipublikasikan secara terbuka. Unggahan yang terlalu euforia dapat memunculkan persepsi bahwa perceraian merupakan sesuatu yang layak dirayakan, padahal perceraian tetap meninggalkan luka psikologis, terutama bagi anak, keluarga besar, maupun lingkungan sosial. Teori “Social Learning” dari Albert Bandura (1977) menjelaskan bahwa perilaku yang sering ditampilkan dan memperoleh banyak respons positif berpotensi ditiru oleh orang lain. Fenomena viral dapat membentuk persepsi baru bahwa memamerkan akta cerai merupakan hal yang lumrah. Dampak tersebut perlu diantisipasi agar masyarakat tidak memandang perceraian sebagai tren atau simbol kebebasan, melainkan sebagai pilihan terakhir setelah seluruh ikhtiar memperbaiki rumah tangga dilakukan secara maksimal.

    Islam memberikan ruang bagi perceraian ketika kehidupan rumah tangga tidak lagi dapat dipertahankan. Perceraian bukanlah pilihan utama. Rasulullah SAW bersabda: “Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak.” (HR. Abu Dawud No. 2178; dinilai hasan oleh sebagian ulama). Hadis tersebut mengajarkan bahwa perceraian dibolehkan sebagai jalan keluar ketika memang diperlukan, bukan untuk dirayakan ataupun dianggap sebagai prestasi. Al-Qur’an juga mengajarkan etika ketika perpisahan tidak dapat dihindari. “…Tahanlah mereka dengan cara yang baik atau lepaskanlah mereka dengan cara yang baik….” (QS. Al-Baqarah: 229). Prinsip tersebut mengandung pesan bahwa sekalipun berpisah, martabat, kehormatan, dan adab masing-masing pihak tetap harus dijaga.

    Akhirnya penting untuk dipahami bahwa fenomena perempuan tersenyum sambil memperlihatkan akta cerai di depan Pengadilan Agama merupakan gejala psikologis dan sosial yang tidak dapat dinilai secara hitam putih. Bagi korban hubungan yang penuh kekerasan, ekspresi tersebut dapat menjadi simbol berakhirnya penderitaan dan dimulainya proses pemulihan psikologis. Kajian psikologi terapan melalui teori Lazarus dan Folkman, Seligman, Judith Herman, Goffman, Deci dan Ryan, serta Bandura menunjukkan bahwa pelepasan dari hubungan yang merusak dapat meningkatkan kembali rasa aman, harga diri, dan harapan hidup. Perspektif Islam tetap menempatkan pernikahan sebagai ikatan suci yang bertujuan menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Perceraian dibolehkan sebagai solusi terakhir ketika kemaslahatan keluarga sudah tidak dapat diwujudkan. Kebahagiaan setelah terbebas dari kekerasan merupakan respons psikologis yang manusiawi. Kebijaksanaan dalam mengekspresikannya di ruang publik tetap diperlukan agar tidak menggeser makna perceraian menjadi sesuatu yang layak dirayakan, melainkan dipahami sebagai keputusan berat yang diambil demi menjaga keselamatan jiwa, kesehatan mental, dan martabat manusia. (*)

  • Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Warisan Adat untuk Generasi Masa Depan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Warisan Adat untuk Generasi Masa Depan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami menuturkan bahwa hidup di tanah Lampung bagaikan setangkai lada yang tumbuh merambat, akarnya saling bertaut dan dahannya saling menaungi. Di kampung-kampung tua seperti Gunung Sugih, Seputih Surabaya, dan daerah Pubian, setiap anak kampung hafal betul nama semua tetangga. Bukan sekadar nama panggilan, melainkan mengetahui pula asal-muasal marga-nya, gelar Punyimbang yang disandang keluarganya, dan bahkan siapa yang berhak menjadi pemuka adat di sesat (balai adat) bila terjadi musyawarah.
    Anak-anak waktu itu akrab dengan panggilan “Tulang” untuk paman dari pihak ibu atau “Buyut” untuk tetua yang dihormati. Ketika senja merebah di ufuk barat, rumah panggung tempat kami bermain diterangi pelita dari minyak kemiri. Ibu-ibu duduk di beranda menjemur lada sambil bercerita, sedangkan bapak-bapak berkumpul di balai kampung membicarakan Sakai Sambayan, gotong royong, untuk memperbaiki jalan atau membangun jembatan. Begitulah kehidupan bergulir, hangat dan penuh makna.

    Suatu hari, saya bertemu dengan seorang Punyimbang tua di Kampung Kenali, Lampung Barat. Beliau bercerita tentang Ratu Ganta, seorang pemuda gagah perkasa namun sombong yang biasa masuk ke setiap pekon (kampung) tanpa menunduk atau mengucapkan tabik pun kepada para tetua. Suatu ketika, ia tersesat di hutan lebat sekitar Danau Ranau selama tujuh hari tujuh malam. Seorang Punyimbang yang ditemuinya berkata, “Anakku, engkau kehilangan jalan karena engkau kehilangan adab. Salam adalah peta, hormat adalah kompas.” Sejak itu, Ratu Ganta bertobat dan mengajarkan bahwa setiap pertemuan wajib diawali dengan penghormatan. Inilah salah satu jejak hidup yang mulai kita lupakan.
    Sekarang, generasi muda kerap tak mengenal lagi tetangga sebelah rumah, apalagi gelar adatnya. Teknologi yang seharusnya menjadi jembatan justru menjadi sekat. Mobilitas tinggi membuat anak-anak muda merantau ke Bandar Lampung atau keluar pulau, sehingga ikatan geneologis (hubungan darah) dalam marga mulai renggang. Kita kehilangan ruang untuk bercerita di beranda, dan itu berarti kita kehilangan cara merawat jejak hidup bersama.
    Padahal di balik setiap marga Lampung, tersimpan sejarah panjang yang tercatat dalam naskah-naskah tua. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti disebutkan bahwa masyarakat Lampung telah memiliki tatanan hukum adat sejak zaman Kesultanan Banten dan pengaruh Kerajaan Majapahit. Naskah kuno di Sekala Bekhak yang ditulis di atas kulit kayu dan tanduk kerbau memuat silsilah Buay atau Paksi yang menunjukkan bahwa kita semua berasal dari satu rumpun.
    Di dalam kitab itu tersurat: “Tegak buway adok mulai dari sekala bekhak, turun-turun sampai ke ujung tanah pesisir.” Artinya, marga yang kita kenal sekarang berawal dari pusat peradaban Sekala Bekhak yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru Lampung.

    Masyarakat adat Lampung terdiri dari dua golongan besar: Pepadun dan Saibatin. Pepadun umumnya berada di wilayah pedalaman dengan sistem yang lebih demokratis dan terbuka, sedangkan Saibatin di pesisir dengan sistem yang lebih aristokratis.
    Meskipun berbeda, keduanya sama-sama mengenal pedoman hidup yang disebut Piil Pesenggiri, yang di dalamnya terdapat komponen-komponen luhur: Pesenggiri (harga diri), Juluk-Adok (gelar kehormatan), Nemui Nyimah (keramahan), Nengah Nyappur (keterbukaan bersosialisasi), dan Sakai Sambayan (gotong royong).
    Secara etimologis, kata “Penyimbang” atau “Punyimbang” berasal dari kata dasar “simbang” yang berarti seimbang atau adil. Gelar ini bukan sekadar kehormatan, melainkan institusi budaya yang memuat filosofi hidup dan tanggung jawab moral-spiritual.
    Seorang Punyimbang adalah representasi manusia utuh: bijaksana, adil, berwibawa, serta memiliki ikatan spiritual dengan leluhur. Sebagaimana tertuang dalam naskah kuno: “Ganjaran bator: ngangas ngudat punyimbang ni mak kurang, punyimbang ni mak peros hati dilom tiyuh hon”, celakalah pemimpin yang meskipun sirih dan rokoknya tak kurang di sesat, tetapi hatinya sudah tak terbuka lagi untuk kampungnya.
    Dalam masyarakat Pepadun, upacara Begawi menjadi momen penting untuk mendapatkan gelar kehormatan. Upacara ini sarat dengan nilai Sakai Sambayan, karena tak seorang pun dapat melaksanakannya sendiri. Nilai kebersamaan, kesetiakawanan, keikhlasan, dan tolong-menolong menjadi ruh dari setiap rangkaian adat. Saya teringat petuah dari Dalom Putekha Jaya Makhga, nama besar dari Mohammad Medani Bahagianda, yang mengatakan bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar kerja fisik, melainkan pengakuan bahwa manusia tak bisa hidup sendirian. Dalam setiap Begawi, terkumpul tenaga, pikiran, dan doa dari seluruh warga. Itulah wajah sejati persaudaraan.
    Nilai-nilai luhur ini sungguh selaras dengan ajaran Islam dan Pancasila. Bahkan, Piil Pesenggiri merupakan pengejawantahan syariat Islam dan menjadi pilar ideologi Pancasila. Mari kita renungkan satu per satu.
    Pesenggiri, harga diri dan kehormatan, mengajarkan bahwa martabat manusia harus dijaga. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Isra (17): 70: “Wa laqad karramnā banī ādama”, Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam. Harga diri dalam adat Lampung bukanlah kesombongan, melainkan keberanian menjaga kehormatan keluarga dan kampung halaman. Dalam Pancasila, nilai ini tercermin dalam sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
    Juluk-Adok, gelar kehormatan, mengingatkan bahwa nama baik lebih berharga daripada harta. Seorang yang bergelar Punyimbang atau Dalom harus mampu menjadi teladan dalam tutur kata dan perilaku. Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari). Gelar bukanlah simbol status semata, melainkan amanat.
    Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi, adalah sikap menerima siapa pun dengan lapang dada. Masyarakat Lampung dikenal memperlakukan tamu dengan hormat tanpa membedakan kelas sosial. Ini tercermin dalam QS. Al-Hujurat (49): 13: “Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min dzakariw wa untsā wa ja’alnākum syu’ūbaw wa qabā’ila lita’ārafū”, Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) untuk menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukanlah karena keturunan, melainkan ketakwaan. Inilah juga ruh sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia.
    Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi, menuntut kita untuk bergaul tanpa batas, tanpa membedakan suku, agama, atau golongan. Rasulullah SAW mengajarkan, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim, No. 13). Semangat ini selaras dengan sila keempat Pancasila tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
    Sakai Sambayan, gotong royong, adalah aliran air yang menghidupi desa. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti tersurat: “Senang negeri: Cawa sepuluh sudi cukup, Muli meranai lamon sai ranta sapun”, bahagia suatu negeri jika sepuluh kata sudah cukup untuk saling memahami, dan para pemudanya tahu sopan santun. Ini selaras dengan ajaran Islam tentang ukhuwah dan sila kelima Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    Di Kampung Tanjung Raya, pernah terjadi perselisihan yang bermula dari seorang pemuda yang masuk ke ruang sesat tanpa memberi salam. Para tetua menganggapnya sebagai tindakan tidak hormat. Baru setelah upacara Begawi besar-besaran, perdamaian tercapai. Ini mengajarkan bahwa salam dan hormat adalah perekat sosial.

    Dalam tradisi nyubuk atau nindai, saat pemuda dan pemudi bertemu dalam Cangget Pilangan di acara Begawi, adab pertama diuji sebelum bicara atau menikah. Mereka harus memberi hormat kepada tetua yang duduk melingkar di Pepadun (singgasana adat).
    Naskah kuno di Kampung Pugung, Lampung Timur, bahkan menyebut bahwa orang yang tak memberi salam dianggap “tiada berjiwa” karena menolak mengakui keberadaan orang lain. Al-Qur’an sendiri menegaskan dalam QS. An-Nisa (4): 86: “Wa idzā ḫuyyītum bitaḫiyyatin fa ḫayyū bi’aḫsana min-hā au ruddūhā”, Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah dengan yang lebih baik. Ayat ini turun ketika para sahabat bertanya tentang membalas salam dari orang Yahudi yang mengucapkan “as-sāmu ‘alaikum” (kematian atasmu), maka beliau mengajarkan membalas dengan “wa’alaikum” (dan atasmu juga). Dari sinilah ulama Lampung mengambil pelajaran bahwa setiap salam harus dibalas dengan yang lebih baik, inilah yang menjelma menjadi tabik pun dan hormat adat.
    Kita boleh menggunakan ponsel pintar, tetapi jangan sampai alat itu mematikan hati. Dalam QS. Al-Hujurat (49): 10, Allah berfirman: “Innamal-mu’minūna ikhwatun”, Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Saudara bukan hanya yang sedarah, tetapi juga yang seirama dalam kebaikan.
    Di beberapa kampung seperti Gunung Sugih, cerita Wayang Sekelik masih dipentaskan untuk mengenalkan lakon sejarah, seperti kisah Patik Guling Sekaro dan Marskal Sigalang-galang yang membuka pemukiman di Pulau Apus hingga menjadi Gunung Sugih. Itulah media luar biasa. Dengan cara menyenangkan, sejarah marga dan nilai-nilai luhur bisa terus bertahan.
    Saya mengajak kita merawat “jejak hidup” itu. Mulailah sederhana: di akhir pekan, ajak anak atau cucu berjalan menyusuri kampung, perkenalkan mereka pada tetangga. Ceritakan siapa nama mereka, dari marga mana, dan apa jasa mereka di masa lalu. Kunjungi sesat atau balai adat. Kunjungi Rumah Daswati di Bandar Lampung, saksi sejarah berdirinya Provinsi Lampung yang kini mulai dilupakan generasi Z.

    Sebagai penutup, saya petikkan sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya” (HR. Muslim). Memuliakan dan mengenal tetangga adalah bagian dari iman. Kenalilah tetanggamu, karena dalam kesulitan, merekalah yang datang lebih dulu sebelum sanak saudara.
    Inilah Pesenggiri yang hakiki: menjaga kehormatan diri dengan mengenal dan menghormati sesama. Inilah Nemui Nyimah yang sejati: menerima siapa pun dengan keramahan. Inilah Sakai Sambayan yang kita rindukan: bergotong royong merawat warisan agar tak punah.
    Semoga kita semua, marga Paksi, Skala Brak, Anak Tuha, dan seluruh ulun Lampung, tetap teguh menjaga jejak hidup. Karena dari jejak itulah, generasi mendatang akan tahu dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka harus melangkah. Sebab, sebagaimana tertuang dalam Kitab Kuntara Raja Niti: “Lampung mak siwo-muakhak, jama mak sikhok-muakhak”, Lampung tanah berpayung kuning, anak manusia berjiwa bersih. Marwah adat berdiri tegak dari pengulangan. Ulangilah, lestarikanlah.

    Daftar Pustaka
    1. Bahagianda, Mohammad Medani (gelar Dalom Putekha Jaya Makhga). “Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang: Dulu Anak Kampung Mengenal Semua Tetangga.” Portal Berita Natar Agung, 10 Juli 2026.
    2. Bahagianda, Mohammad Medani (gelar Dalom Putekha Jaya Makhga). “Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun: Seri 1, Asal Usul dan Filosofi Gelar Penyimbang.” Pemerintah Provinsi Lampung, 9 Januari 2022.
    3. Bahagianda, Mohammad Medani (gelar Dalom Putekha Jaya Makhga). “Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang: Ketika Salam Adat Tak Lagi Menjadi Pembuka.” Portal Berita Natar Agung, 27 Juni 2026.
    4. Bahagianda, Mohammad Medani (gelar Dalom Putekha Jaya Makhga). “Jejak Khitanan dalam Adat Pepadun Pubian Bukuk.” Portal Berita Natar Agung, 10 Agustus 2025.
    5. Bahagianda, Mohammad Medani (gelar Dalom Putekha Jaya Makhga). “Serial Buku, Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Buku 3: Tepuk Tangan Bukan Sekadar Irama.” Pemerintah Provinsi Lampung, 9 Januari 2022.
    6. Kesuma, Tubagus Ali Rachman Puja, dan Cicilia, Deri. “PIIL PESENGGIRI: Strategi Resolusi Konflik Menggunakan Nilai-Nilai Agama dan Pancasila.” Jurnal Masyarakat dan Budaya 19, no. 2 (2018): 237–252.
    7. Naskah Kuno Buay Bahuga (Abad 15). Museum Negeri Lampung, Kode: MNL-MS-017.
    8. Kitab Kuntara Raja Niti. Transkripsi Hasan, N. (2015). Adat Istiadat Masyarakat Lampung Saibatin dan Pepadun. UPTD Balai Bahasa Lampung.
    9. Wulandari, Heni Tri, Arif, Suparman, dan Pratama, Rinaldo Adi. “Implementasi Sakai Sambayan dalam Upacara Begawi Adat Lampung pada Masyarakat Tiyuh Karta.” Seminar Nasional Pendidikan Sejarah, 24 Maret 2022.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Cekhita Lappung – Nasihat Mehayu: Poligami atawa Kawwin Luwot. Tulisan: Mang Kumir *)

    Cekhita Lappung – Nasihat Mehayu: Poligami atawa Kawwin Luwot. Tulisan: Mang Kumir *)

    nataragung.id – Teginenong – Suasana arisan di Tiyuh Sekhab-ba Mukkin de-khani sina cukup khamik. Suwa nginum kupi jama nganik bebuwak. Se-khadu unyin peserta kuppul, kaban mak-mak ngobrol setehalu ni obrolan.

    Bu Eka:
    “Mak-mak, kak khadu massa uloman anjak Pak Ahmad Sumartono api makkung?”

    “Undangan api, Bu Eka? Nge-khuwah, ulang tahun, api syukuran?” Tim-mbal Bu Nani penasaran.

    Bu Eka:
    “Layin. Pak Ahmad haga kawwin luwot. Kabakh ni Bu Nana, kebayan ni pesai, sai ngejuk izin. Soalni tiyan kak kawwin happekh puluh tahun makkung ngedok anak.”

    Kaban mak-mak langsung khituk nengis ni.

    “Aduh… nyak, paling mak ge-khing lamun mengiyanku poligami atawa kawwin luwot, cawa Bu Ririn.

    “Nyak munih, lamon mengiyanku bekhani poligami, lebih betik nyak kilu cekhai anjak mengiyanku,” tim-mbal Bu Susi.

    Bu Erna nutuk cawa.
    “Tekhus-tekhang nyak makkung lekot ngenah ulun sai poligami temon-temon nyaman atawa bahagia. Sai ge-khing ditengis justru delom keluarga tiyan, khituk tekhus pekhadda kebayan ni.”

    “Lamun nyak, apipun alasan ni, nyak mak sudi di madu,” cawa Bu Ijah tenah-han emosi.

    Unyin mak-mak ngangguk setuju. Cuma kebayan ustadz Munawwar sai anjak jeno mennong gawoh suwa sengah-sengih.

    Bu Asni:
    “Bu Ustazd, anjak jeno lahapi cuma sengah-sengih gawoh. Cuba jelasko, api sebenokh ni pandangan menurut Islam ngeliak poligami sa.”

    Kebayan Ustazd Munawwar ngejawab kalem.

    Bu Ustazd:
    “Mak-mak, nyak cuma haga ngekhu-lusko pemahaman kham. Poligami sangun pekakha sensitif. Nengis ni gawoh ngeguway hati kaban kebayan mak nyaman.Tapi sebagai umat Islam, kham wajib ngen-nah ni sesuai syariat Allah, layin cuma nutuk pekhasaan gawoh.”

    “Delom Islam, poligami hukum ni mubah, khat-ti ni dapok. Layin wajib, layin munih sunnah guway kaban kha-gah. Islam cuma ngejuk ruang guway kaban kha-gah sai sangun ngebutuh ko khik sang-ngup memenuhi syakhat-syakhat ni. Syakhat ni munih biyak yaitu adil.”

    Tekhus Kebayan Ustadz Munawwar ngebacako firman Allah:

    «فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً»

    Khat-ti ni: “Lamun niku kawatekh mak sang-ngup berlaku adil, maka cukup sai gawoh.” (QS. An-Nisa’: 3)

    Bu Ustaz:
    “Jadi syakhat paling utama delom poligami iyalah adil. Adil delom nafkah, gilekhan, pakaian, pok ting-ngal, perhatian khik hak-hak kebayan.”

    Bu Narni:
    “Tapi Bu Ustazd, api wat kudo jelema sai temon-temon adil?”

    Bu Ustazd:
    “Sai dimaksud adil dija iyalah adil delom pekakha sai mampu dijalanko jelema. Adapun ukhusan ge-khing atawa cinta di hati, sina sangun mak mukkin di gegoh ko.”

    Bu Ustadz tekhus ngebacako ayat layin.

    «وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ»

    Khat-ti ni: “Niku sekali-kali mak akan sang-ngup berlaku adil antakha kaban kebayan-kebayan, walaupun niku sangun mekhat-tok temon ngeguway goh na.” (QS. An-Nisa’: 129)

    Bu Ustazd:
    “Ayat sa tentang khasa ge-khing atawa cinta di hati. Tapi hak-hak lahekh ni tetop wajib digegohko.”

    Bu Karimah:
    “Jadi lamun gohna, Bu Ustazd ngedukung atawa setuju poligami, ya?”

    Bu Ustaz nyengih.

    “Layin soal setuju atawa mak setuju. Sai wajib kham setujui iyalah syariat Allah. Api sai Allah halalko, mak dapok kham hakhamko. Gohna munih api sai Allah hakhamko, mak dapok kham halalko.”

    “Poligami disyariatko ulah ngedok hikmah ni. Misal ni wat kaban kha-gah sai mekhattok ngedok anak, tapi kebayan ni mak dapok ngan-ndung. Wat munih kebayan sai makhing atau khadu menopause sehingga mak dapok lagi memenuhi kebutuhan mengiyan ni. Atawa jumlah bubay lebih nayah anjak kaban kha-gah.”

    “Delom keadaan-keadaan semacom ina, poligami dapok jadi solusi guway ngejaga kehormatan, ngejawoh ko anjak zina guway ngelindungi kaban bubay.”

    Beliau ngelanjutkon,

    “Sedih ni, nayah ulun sai nolak poligami, tapi nagan ko perselingkuhan, bubay simpanan, kuppul bejama tapi mak nikah. Padahal Islam justru ngajak kaban jelema hukhik terhormat.”

    Suasana ngedadak hening.

    Tekhus Bu Narni nge-guda kebayan ustadz Munawwar.

    “Lamun gohna, Bu Ustazd siap lamun suatu khani natti Ustazd Munawwar kawwin luwot ?”

    Unyin mak-mak lalang.

    Bu Ustazd nutuk lalang.

    “Lamun nyak, In Syaa Allah siap menekhima syariat Allah. Tapi Ustazd Munawwar ni sai mak siap. Ia kelewat ge-khing jama nyak.”

    Unyin mak-mak langsung lalang ngelah-hay bakhong.

    Mak munni tuan rumah ngeluwahko tekwan han-ndop jama jus mang-nga. Arisan pun ditutup jama ngocok ge-khal peserta.

    De-khani sina mak-mak mulang layin cuma ngusung bingkisan arisan, tapi munih ngusung pemahaman bahwa poligami delom Islam layin sekadar nutuki kehagaan ni kaban kha-gah, melayinko syariat sai diizin ko, tapi syakhat-syakhat ni biyak jama nayah hikmah ni. (*/305)
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair
    📚 Cekhita Lappung

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Terkait Dugaan Upeti Kegiatan Dinas Luar, Muncul Issue Sekwan Lampung Selatan Kumpulkan Staf. LSM Pro Rakyat: Benarkah Ada Intimidasi?

    Terkait Dugaan Upeti Kegiatan Dinas Luar, Muncul Issue Sekwan Lampung Selatan Kumpulkan Staf. LSM Pro Rakyat: Benarkah Ada Intimidasi?

    nataragung.id – Kalianda – Adanya pemberitaan dugaan upeti dari para staf Sekretariat Dewan (Setwan) yang mengadakan perjalanan dinas luar (DL) kepada pejabat pembuat Surat Perintah Tugas (SPT) beberapa waktu lalu, tak urung membuat Sekretaris Dewan (Sekwan) Lampung Selatan Achmad Herry, S.E, M.M., gerah.

    Kegerahan tersebut terlihat saat diadakan rapat staf sekretariat dewan pada Senin (20/7/2026). “Iya Bang, saya melihat ada rapat staf di setwan, tapi saya cuma liat sekilas aja, gak tahu apa yang dibahas,” ucap seorang ASN dari salah satu OPD kepada nataragung.id, yang tidak sengaja melihat rapat tersebut, serta mengaku kehadirannya ke gedung parlemen untuk mendampingi pimpinannya guna melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan salah satu komisi di DPRD setempat.

    Menariknya kegiatan rapat staf itu, juga sudah di dengar oleh kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Adalah Ketua LSM Pro Rakyat Aqrobin AM, yang membeberkan materi rapat berdasarkan informasi yang dia terima. Melalui unggahannya di sebuah group perpesanan WhatsApp yang beranggotakan para anggota DPRD Lamsel, anggota DPD RI dapil Lampung, kepala desa, kalangan wartawan, para ketua partai, penggiat atau praktisi hukum, LSM, dan tokoh masyarakat lainnya, Aqrobin menulis: “Issuenya waktu abis Kanda beritain terkait upeti waktu itu.Staf2 di Kumpulin setengah di intimidasi? Kalau masih cerita2 ke Media? Mau di cari tau dan pasti nanti tau katanya? Hadeh! Bukannya di kasih masukan untuk Introsfeksi malah seperti itu? Awas nanti kesandung kalau udah terlalu Arogan? Hehe,” tulis Aqrobin AM, pada Jum’at (24/7/2026) sekitar pukul 14.38 WIB dan langsung di timpali oleh SyahidanMh, “Apa iya?”

    Lantas tulisan Aqrobin juga mendapat sahutan dari Arista Trisnadi, seorang aktivis LSM dan pengurus sebuah partai politik. “Biasalah, kalo sudah jadi Pejabat egonya naik, sifat aslinya keluar, marah, main tunjuk, lempar kue, sambil caci maki,”

    Kemudian Aqrobin kembali menjawab. “Iya Issuenya seperti itu Kanda? Makin Semangat Nyari Salahnya Kalau Betul Seperti Itu Kanda? Hehe Piss!,”

    Membaca percakapan di WA group itu, nataragung mencoba menggali materi rapat yang dilaksanakan sekretariat dewan kepada Aqrobin AM, Ketua LSM Pro Rakyat. Ditemui di Kalianda pada Sabtu (25/7/2026) Aqrobin membeberkan materi rapat yang dia ketahui.

    Menurutnya berdasarkan informasi yang didapat, diduga membahas pemberitaan tersebut. Saat itu Sekwan mengumpulkan staf untuk rapat internal menyikapi pemberitaan yang terbit. “Bisa saja ada pembahasan masalah lain, bukan rapat khusus membahas pemberitaan saja,” kata Aqrobin.

    Lebih lanjut Aqrobin mengungkapkan, sebenarnya sangat bagus jika pertemuan itu di jadikan kesempatan untuk evaluasi dan meminta masukan dari staf. “Kita patut apresiasi. Tapi jika rapat itu diduga malah sebaliknya di jadikan untuk intimidasi staf di sertai ancaman, ini harus kita sama-sama kecam,” kata Aqrobin.

    Apa lagi, masih menurut Aqrobin, dalam rapat tersebut Sekwan dengan percaya diri menyampaikan bahwa jika pemberitaan itu terus mencuat, Sekwan akan memanggil si penulis berita untuk mengakui dan membuka siapa staf yang membocorkan hal itu. “Alangkah hebatnya dia, bisa menekan media atau si penulis untuk mengakui. Ngaca pak anda cuma Sekwan bukan Sekneg,” lanjut Aqrobin dengan nada tinggi.

    “Maksudnya bersiap-siap apa? stafnya mau di pecatkah? Justru itu makin mempertegas dan mempertontonkan kesalahannya. Saya yakin persoalan ini akan semakin melebar dan bisa lari ke ranah hukum,” tegas Aqrobin geram.

    Selaku ketua LSM Pro Rakyat, dirinya menyampaikan beberapa hal terkait kritik yang telah dilontar oleh dirinya di media masa. Pertama: Seharusnya sebagai pejabat, seorang abdi negara/ASN, harus menunjukkan prilaku dan menjadi contoh yang baik. Menjadikan kritik sebagai masukan guna memperbaiki kesalahan dan meningkatkan kinerja.

    Kedua: Pemberitaan itu harus dijadikan semacam koreksi untuk Introspeksi diri, bukan jadi alasan untuk mengintimidasi staf. Kalau memang bersih kenapa harus risih?.

    Dan yang ketiga: Selaku ketua LSM Pro Rakyat, dirinya mengingatkan bahwa Sekwan Itu manusia biasa bukan malaikat. Jadi jangan merasa paling benar dan paling hebat. “Jangan sampai kami sebagai sosial kontrol membuka catatan dosa-dosa yang lalu, juga yang sekarang. Tidak ada yang boleh merasa paling hebat. Ini Lamsel Bung!,” ucap Aqrobin sembari mengepalkan tangan sedikit emosi.

    Pada saat yang sama, Aqrobin juga menyayangkan, dalam hal ini kenapa Ketua DPRD sebagai pimpinan di lembaga perwakilan rakyat terkesan cuek, jika benar Sekwan seperti itu. “Harusnya, paling tidak dia sebagai pimpinan bisa memberikan arahan atau memberikan solusi agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi,”

    “Saya juga mendapat kabar, ketua DPRD menurut Informasi yang beredar suka menghindari media, dan tidak wellcome terhadap teman-teman wartawan,” pungkas Aqrobin mengakhiri perbincangannya.

    Ketika hal ini di konfirmasi kepada Sekretaris Dewan Achmad Herry, S.E, M.M., melalui aplikasi perpesanan WhatsApp di nomer
    +62 812-1313-6*** pada hari Minggu (26/7/2026), beliau menulis jawaban, secara lengkap sebagai berikut: “Waalaikum salam pak.
    Bener di tanggal itu kami rapat setiap biasa yg kami lakuka untuk mrmbahas permintaan data untuk pengisian mckpk tidak ada bahasan atau. Sampai mengintimidasi stap kami terhadap berita yg. Beredar karna saya tidak melakukan apa yang dituduhkan dan hal lain ini bisa konfirmasikan dg stap kami saya langsung jadi tidak ada intimidasi atau pun menuduh dan menghujat Trimakasih atau perhatian.”

    “Menuduh saja tidak apalagi disertai ancaman trimakasih
    Pak.”

    Sebagaimana diberitakan sebelumnya (18/7/2026),
    Ketua LSM Pro Rakyat Aqrobin AM, mengecam keras dugaan upeti dalam kegiatan dinas luar (DL) yang sering dilakukan oleh sekretariat dewan guna mendampingi anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dalam kunjungan ke berbagai daerah di luar provinsi Lampung. Hal tersebut disampaikan Aqrobin AM di Kalianda Jum’at malam (17/7/2026), menanggapi keluhan staf sekretariat DPRD setempat.

    Menurut Aqrobin, dalam dunia birokrasi di kalangan ASN, tidak ada istilah upeti. Namun jika dikalangan orang pasar atau terminal ada istilah JP alias jatah preman atau uang jago. “Kalau memang ada upeti di sekretariat lembaga terhormat tersebut, ini tidak bisa di anggap remeh ini sama saja pungli dan pungli jelas ada sanksi hukumnya,” beber Aqrobin.

    Lebih lanjut Aqrobin mengungkapkan, ada ketidak adilan yang selama ini telah dilakukan. Ketidak adilan alias pilih kasih. “Ini akan menimbulkan asumsi, apakah karena ada unsur nepotisme atau karena ada upeti tadi atau sengaja yang diajak adalah orang-orang yang satu circle dengan para petinggi setwan agar bisa diajak kompakan, misal jika ada hal-hal yang perlu ditutupi dalam proses kunker tersebut,” urai Aqrobin dengan penuh tanda-tanya.

    Aqrobin juga mempersoalkan, bahwa pimpinan dewan ada kesan tidak berani tegas, karena bisa jadi dia lebih takut dengan Sekwan. Takut dalam artian kalau-kalau pada suatu saat dia perlu bantuan Sekwan, misalnya memproses SPJ atau apapun terkait keperluan ketua dan unsur pimpinan dewan lainnya akan dipersulit, diperlambat dalam proses administrasinya, untuk pencairan yang lebih cepat atau biar lebih di prioritaskan dalam urusan-urusan di kesekretariatan dan lain-lain. “Bukan rahasia lagi jika sekwan itu atasannya ada dua, yaitu ketua DPRD dan Bupati, karena Sekwan adalah ekskutif, maka Sekwan lebih tunduk pada perintah bupati ketimbang ketua DPRD,” kata Aqrobin.

    Terkait bahwa staf sekretariat dewan sebelumnya telah melapor kepada ketua DPRD, Aqrobin mengkritik sikap yang ditunjukkan oleh ketua DPRD dan pimpinan dewan lainnya. Menurut Aktivis penggiat anti korupsi ini, sebagai pimpinan dewan seharusnya mereka bisa bersikap bijak dan adil. “Mereka harus memiliki jiwa kepemimpinan yang menyejukkan, bisa ngemong dan tidak boleh membeda-bedakan apa lagi pilih kasih,”

    Dirinya juga menyoroti bahwa DPRD periode saat ini adalah priode yang menurutnya adalah terburuk sepanjang orde reformasi di Lampung Selatan. Ia bukan menafikkan para anggota dewan senior yang sudah berpengalaman, tapi karena mereka bagian minoritas di DPRD sekarang, mau tidak mau dan bisa jadi, mereka yang senior itu terbawa dengan irama dan kinerja anggota lainnya. “Bisa juga karena pimpinan dewannya kurang cakap, hal ini akan berpengaruh pada kinerja dan marwah DPRD secara kolektif,” ujar Aqrobin

    Tingkat kehadiran anggota dewan juga tak luput jadi soroton Aqrobin, termasuk kedisiplinan para wakil rakyat yang terlihat amat buruk di mata warga masyarakat. Ia mencontohkan salah satu yang masih hangat dalam ingatan warga masyarakat, ketika akan diadakan rapat paripurna beberapa hari lalu, ternyata ruangan rapat masih sepi sampai bupati balik kanan dan paripurna ditunda pada keesokan harinya. “Ini kan malah jadi tidak efektif dan efesien. Bisa juga suatu pemborosan anggaran, karena persiapan yang sudah ada hari itu, akibat penundaan esok harinya maka harus ada persiapan lagi, termasuk snack beserta makan minumnya, berapa juta anggaran yang dibuang sia-sia,” pungkas Aqrobin. (SMh)

  • Pemprov Lampung Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Wagub Jihan : Perlindungan Perempuan dan Anak Harus Menjadi Gerakan Bersama

    Pemprov Lampung Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Wagub Jihan : Perlindungan Perempuan dan Anak Harus Menjadi Gerakan Bersama

    nataragung.id – Bandar Lampung – Penguatan perlindungan perempuan dan anak menjadi salah satu agenda prioritas Pemerintah Provinsi Lampung yang terus dibangun melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

    Upaya tersebut tergambar dalam Rapat Koordinasi Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA), Forum Anak Daerah, Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), dan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Arifah Fauzi di Ruang Abung Balai Keratun, Minggu (26/7/2026).

    Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaska bahwa Pemprov Lampung memandang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sebagai agenda pembangunan yang harus dijalankan secara kolaboratif.

    Menurutnya, keberhasilan menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan serta anak tidak dapat hanya mengandalkan intervensi pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.

    Karena itu, Pemprov Lampung terus memperkuat berbagai program yang menyentuh akar persoalan, mulai dari penguatan peran keluarga, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga peningkatan partisipasi anak dalam pembangunan.

    Wagub Jihan menjelaskan bahwa salah satu langkah yang tengah dikembangkan ialah Program Desa Tapis (Desa Kesejahteraan Keluarga untuk Lampung Maju Menuju Indonesia Emas).

    Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga menjalankan program pembimbingan teknis bagi Perempuan Kepala Keluarga (PEKA).

    Program ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

    Di sisi penguatan keluarga, Pemprov Lampung juga mengembangkan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) sebagai ruang edukasi bagi para orang tua untuk meningkatkan kualitas pengasuhan yang sehat dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    Pemprov Lampung juga memperluas ruang partisipasi anak melalui Forum Anak Daerah yang kini telah terbentuk di seluruh 15 kabupaten/kota.

    Wagub Jihan menekankan anak tidak hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki hak menyampaikan pendapat dan berkontribusi dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.

    Pemprov Lampung juga menggaungkan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS) yang diatur melalui Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 104 Tahun 2026 yang juga mencakup Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) guna mendukung peran aktif ayah dalam pendidikan anak.

    Di bidang perlindungan, Wagub Jihan menegaskan komitmen Pemprov Lampung untuk tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan maupun anak.

    Melalui koordinasi yang kuat antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung dengan seluruh kabupaten/kota, layanan UPTD PPA terus diperkuat, mulai dari pendampingan hukum, pendampingan psikologis, rehabilitasi, hingga dukungan Pos Bantuan Hukum sebagai bagian dari upaya memastikan negara hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat.

    “Kami berupaya memastikan bahwa pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bukan hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama,” tegasnya.

    Sementara itu, Menteri PPPA Arifah Fauzi mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Lampung.

    Menurutnya, Lampung menjadi salah satu provinsi yang telah membentuk UPTD PPA di seluruh 15 kabupaten/kota sehingga memiliki fondasi kelembagaan yang kuat dalam penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

    Meski demikian, ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia, sarana, dan prasarana tetap perlu menjadi perhatian bersama.

    Arifah juga mengingatkan bahwa tantangan perlindungan perempuan dan anak semakin kompleks.

    Ia memaparkan bahwa persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan serius secara nasional.

    Berdasarkan data Simfoni PPA, sepanjang 2025 tercatat 35.020 kasus dengan 36.920 korban, sementara hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja menunjukkan satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

    Arifah berpendapat tingginya angka tersebut menjadi alarm bahwa perlindungan anak harus dimulai dari keluarga.

    “Anak-anak kita hari ini adalah pemimpin Indonesia masa depan. Bagaimana mereka memimpin pada 2045 tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka hari ini,” ujarnya.

    Ia menilai tantangan perlindungan anak kini semakin kompleks karena ancaman juga hadir melalui penggunaan gawai dan media digital.

    Karena itu, orang tua dituntut terus memperbarui pola pengasuhan agar mampu mengikuti perubahan zaman.

    Menurut Arifah, fondasi utama perlindungan anak bukan hanya prestasi akademik, melainkan penanaman nilai agama, moral, etika, dan karakter sejak dini di lingkungan keluarga.

    Ia juga mendorong penguatan permainan tradisional berbasis kearifan lokal sebagai salah satu cara mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

    Sebelumnya, Arifah telah mengunjungi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Lampung di Jalan Puri Besakih, Bandar Lampung.

    Kunjungan tersebut difokuskan untuk meninjau peningkatan kualitas layanan sekaligus bertemu langsung dengan korban kekerasan yang tengah menjalani pendampingan.

    Disana, Arifah memberikan pendampingan psikologis secara langsung kepada dua anak korban kekerasan seksual serta mengapresiasi peningkatan kualitas sarana prasarana dan layanan.

    Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan agar mampu menangani kasus-kasus yang semakin kompleks.

    “Kita bekerja di ranah ini bukan semata-mata karena tugas atau kewajiban profesi, tetapi harus berangkat dari hati. Memberikan pertolongan kepada mereka membawa kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dibayar dengan materi. Jadikanlah pekerjaan pendampingan ini sebagai ladang ibadah,” tegasnya.(*/SMh)

  • Purnama Wulan Mirza Lepas 700 Peserta Magnificent Run 7.0, Meriahkan HUT ke-50 SMAN 9 Bandar Lampung

    Purnama Wulan Mirza Lepas 700 Peserta Magnificent Run 7.0, Meriahkan HUT ke-50 SMAN 9 Bandar Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Ketua TP-PKK Provinsi Lampung Purnama Wulan Mirza melepas ratusan peserta Magnificent Run 7.0 yang digelar di SMA Negeri 9 Bandar Lampung, Minggu (26/7/2026).

    Kegiatan yang diikuti sekitar 700 peserta tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-50 SMA Negeri 9 Bandar Lampung.

    Dalam sambutannya, Batin Wulan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, komunitas lari, dan para peserta yang telah berpartisipasi memeriahkan kegiatan tersebut.

    Ia juga menyampaikan terima kasih kepada komunitas Kawan Lari yang dipimpin atas dukungannya dalam menyukseskan penyelenggaraan Magnificent Run 7.0.

    “Alhamdulillah hari ini kita sama-sama siap melaksanakan Magnificent Run 7.0. Saya juga mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-50 SMA Negeri 9 Bandar Lampung,” ujarnya.

    Ia mengajak seluruh peserta untuk menikmati setiap lintasan lari dengan penuh semangat, namun tetap mengutamakan keselamatan hingga garis akhir.

    Batin Wulan berharap seluruh peserta dapat menyelesaikan lomba dengan kondisi sehat dan selamat.

    Menurutnya, pencapaian terbaik dalam sebuah ajang lari bukan hanya memperoleh medali, tetapi juga mampu menyelesaikan perlombaan dengan penuh sportivitas.

    “Kegiatan hari ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan. Yang terpenting, kita bersama-sama merayakan Hari Ulang Tahun ke-50 SMA Negeri 9 Bandar Lampung melalui semangat hidup sehat dan olahraga,” pungkasnya.

    Mengusung tema “Run For Eternity”, Magnificent Run 7.0 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menjadi momentum memperkuat solidaritas antaralumni, siswa, guru, masyarakat, dan komunitas lari di Provinsi Lampung.

    Semangat kebersamaan yang tercipta sepanjang kegiatan diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan SMA Negeri 9 Bandar Lampung dalam terus melahirkan generasi yang sehat, berprestasi, dan berkarakter, seiring peringatan usia emas sekolah tersebut.(*/SMh)

  • Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Cup Semarakkan HUT Ke-19 Kabupaten Pesawaran

    Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Cup Semarakkan HUT Ke-19 Kabupaten Pesawaran

    nataragung.id – Pesawaran – Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali, S.H. secara resmi membuka Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Pesawaran Cup yang digelar di Halaman Kantor Pemerintah Kabupaten
    Pesawaran, Minggu (26/7/2026).

    Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-19 Kabupaten Pesawaran ini diikuti sekitar 800 peserta dari berbagai komunitas pecinta burung berkicau, baik dari Provinsi Lampung maupun luar daerah, dengan hadiah utama satu unit sepeda motor.

    Tingginya antusiasme peserta menjadikan perlombaan ini tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi antar-komunitas sekaligus sarana memperkenalkan potensi Kabupaten Pesawaran kepada masyarakat yang lebih luas.


    Dalam sambutannya, Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, komunitas, sponsor, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi sehingga kegiatan tersebut dapat terselenggara dengan baik.

    “Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan luar biasa ini. Antusiasme peserta yang begitu tinggi menjadi bukti bahwa hobi burung berkicau memiliki komunitas yang besar dan solid,” ujar Antonius.

    Ia menilai, jika dikemas secara berkelanjutan dan profesional, lomba burung berkicau memiliki potensi menjadi agenda unggulan yang mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

    Lebih lanjut, Wakil Bupati mengingatkan seluruh peserta untuk menjunjung tinggi nilai sportivitas, kebersamaan, dan kekeluargaan selama kompetisi berlangsung. Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan tujuan penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam rangka Hari Jadi ke-19 Kabupaten Pesawaran.


    “Perlombaan ini bukan semata-mata untuk mencari juara. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi, menyatukan seluruh elemen masyarakat, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun Kabupaten Pesawaran yang semakin maju,” tutupnya.

    Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Pesawaran Cup menjadi salah satu rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-19 Kabupaten Pesawaran yang diselenggarakan untuk menghadirkan hiburan bagi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat melalui kegiatan yang positif, edukatif, dan penuh semangat kebersamaan. (*/Diah)

  • Пин Ап Казино – играть в онлайн Pin Up Casino – официальный сайт

    Пин Ап Казино – играть в онлайн Pin Up Casino – официальный сайт

    Если вы ищете надежное и проверенное онлайн-казино, где можно играть в любое время и из любой точки мира, то Pin Up Casino – ваш выбор. Это официальный сайт, где вы можете играть в игры с лицензированными игровыми автоматами и играть в живые игры с дилерами.

    Pin Up Casino – это международная онлайн-казино, которая была основана в 2016 году и с тех пор стала одним из самых популярных онлайн-казино в мире. Казино имеет лицензию на игорный бизнес, выдана в Мальте, и подчиняется строгим правилам и нормам, чтобы обеспечить безопасность и честность игроков.

    На официальном сайте Pin Up Casino вы можете играть в более 3 000 игровых автоматов, включая слоты от известных разработчиков, таких как NetEnt, Microgaming и Playtech. Кроме того, вы можете играть в живые игры с дилерами, включая покер, бинго и другие игры.

    Pin пин ап Up Casino предлагает своим игрокам широкий спектр бонусов и акций, включая приветственные бонусы, реферальные бонусы и другие акции. Кроме того, казино предлагает свою программу лояльности, которая позволяет игрокам получать бонусы и преимущества за свою лояльность.

    Если вы ищете надежное и проверенное онлайн-казино, где можно играть в любое время и из любой точки мира, то Pin Up Casino – ваш выбор. Это официальный сайт, где вы можете играть в игры с лицензированными игровыми автоматами и играть в живые игры с дилерами.

    Зарегистрируйтесь на официальном сайте Pin Up Casino и начните играть в любое время!

    Пин Ап Казино – играть в онлайн

    Если вы ищете надежное и интересное онлайн-казино, то Pin Up Casino – ваш выбор. Это официальный сайт, где вы можете играть в слоты, карточные игры и другие азартные игры. Pin Up Casino предлагает широкий выбор игр от известных разработчиков, включая NetEnt, Microgaming и Pragmatic Play.

    Один из преимуществ Pin Up Casino – это его мобильная версия. Вы можете играть в любое время и из любой точки мира, используя свой смартфон или планшет. Это особенно удобно для тех, кто не может играть на компьютере или prefers to play on the go.

    Pin Up Casino также предлагает различные бонусы и акции, чтобы помочь вам начать играть. Вы можете получать бонусы за регистрацию, депозит и другие действия. Это отличный способ начать играть и получить больше из вашего игрового времени.

    В целом, Pin Up Casino – это отличный выбор для тех, кто ищет надежное и интересное онлайн-казино. С его широким выбором игр, мобильной версией и бонусами, вы можете играть в любое время и из любой точки мира.

    Официальный сайт Pin Up Casino

    Официальный сайт Pin Up Casino – это удобный и доступный способ играть в онлайн-казино. Сайт предлагает широкий выбор игр, включая слоты, карточные игры и рулетку. Вы можете играть в любое время и из любого места, имея доступ к интернету.

    • Большой выбор игр
    • Удобный и доступный доступ
    • Безопасность и конфиденциальность

    Официальный сайт Pin Up Casino также предлагает различные бонусы и акции, чтобы помочь вам начать играть. Вы можете получать бонусы за регистрацию, депозит и другие действия. Бонусы могут быть использованы для игры в любые игры на сайте.

    Преимущества и функции онлайн-казино Pin Up Casino

    Одним из преимуществ Pin Up Casino является его огромный выбор игр. Здесь вы можете найти более 3 000 игр от ведущих разработчиков, включая игры от NetEnt, Microgaming и Pragmatic Play. Это означает, что у вас будет выбор между классическими играми, такими как рулетка и бэккарат, и более современными играми, такими как слоты и карточные игры.

    Кроме того, Pin Up Casino предлагает функцию live-игр, которая позволяет игрокам играть с дилерами в реальном времени. Это означает, что вы можете чувствовать себя как в традиционном казино, но с комфортом и удобством игры из дома.

    Pin Up Casino также предлагает функцию мобильной версии, которая позволяет игрокам играть на своих смартфонах и планшетах. Это означает, что вы можете играть где угодно и когда угодно, не зависящий от места.

    Кроме того, Pin Up Casino предлагает функцию быстрого депозита и снятия средств, что означает, что вы можете начать играть как можно быстрее. Это также означает, что вы можете снимать свои выигрышные средства в любое время.

    Pin Up Casino также предлагает функцию поддержки, которая работает круглосуточно, чтобы помочь вам в любое время. Это означает, что вы можете получать помощь в любое время, если у вас возникнут вопросы или проблемы.

    В целом, Pin Up Casino – это отличное онлайн-казино, которое предлагает игрокам широкий спектр игр и функций. Если вы ищете место, где можно играть в онлайн-казино, то Pin Up Casino – это отличный выбор.

    Также, Pin Up Casino предлагает программу лояльности, которая позволяет игрокам получать бонусы и преимущества за свою лояльность к казино. Это означает, что вы можете получать дополнительные преимущества, если вы будете играть регулярно.

    В целом, Pin Up Casino – это отличное онлайн-казино, которое предлагает игрокам широкий спектр игр и функций. Если вы ищете место, где можно играть в онлайн-казино, то Pin Up Casino – это отличный выбор.

    Начните играть сейчас!