Blog

  • Dinas Kesehatan Pesawaran Gelar Bimtek Penyuluhan Keamanan Pangan Bagi Pelaku Usaha UMKM

    Dinas Kesehatan Pesawaran Gelar Bimtek Penyuluhan Keamanan Pangan Bagi Pelaku Usaha UMKM

    nataragung.id – Pesawaran – Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran, dr. Imelda Carolia, M.Kes, secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) Batch 2 Tahun 2026 bagi pelaku usaha UMKM Kabupaten Pesawaran di Hotel Regency Pringsewu pada Rabu (29/7/2026).

    Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai 29 hingga 30 Juli 2026 ini diikuti oleh para pelaku usaha UMKM Kabupaten Pesawaran.

    Dalam sambutannya, dr. Imelda Carolia menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan aspek penting dalam menjamin kualitas produk yang dikonsumsi masyarakat. Oleh karena itu, pelaku usaha UMKM diharapkan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip keamanan pangan dalam proses produksi.


    “Melalui kegiatan ini, kami berharap kepada para pelaku UMKM dapat menyerap ilmu yang didapat dari narasumber dan ke depannya di lapangan bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat dengan produk kualitas layak jual serta peningkatan dari komptensi owner agar produk bisa naik nilai jualnya,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan kepada para pelaku UMKM agar tidak hanya berfokus pada biaya produksi tetapi harus mementingkan kualitas produk. “Dinas kesehatan akan memantau apakah setelah adanya Bimtek ini ilmu yang diberikan akan dijalankan atau tidak, karena kami bisa merekomendasikan ke DPMPTSP untuk memutus surat izin. Jadi Bimtek ini sangat penting agar ke depan para pelaku UMKM bisa memproduksi produk sesuai aturan,” jelasnya.

    Bimtek PKP Batch 2 Tahun 2026 menghadirkan pemateri dari ECK (Erlangga Consultant & Knowledge), Trisuyarto yang memiliki kompetensi di bidang keamanan pangan dan pendampingan pelaku usaha pangan.


    Pemateri memberikan materi mengenai Regulasi, keamanan dan mutu pangan, produksi olahan pangan yang baik, teknologi proses pengolahan pangan, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP), kemasan label, iklan pangan olahan serta sertifikasi dan pelabelan halal pangan juga etika dan jejaring bisnis.

    Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para pelaku usaha UMKM, sehingga mampu menghasilkan produk pangan yang luas, aman, bermutu, dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ((*/Diah)

  • Pemkab Lampung Selatan Perluas Perlindungan Sosial bagi 7.882 Pekerja Rentan, Bupati Egi Roadshow BPJS Ketenagakerjaan di Katibung

    Pemkab Lampung Selatan Perluas Perlindungan Sosial bagi 7.882 Pekerja Rentan, Bupati Egi Roadshow BPJS Ketenagakerjaan di Katibung

    nataragung.id – Katibung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus menggencarkan roadshow penyerahan kartu BPJS Ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya memperluas perlindungan sosial bagi 7.882 pekerja rentan. Kali ini, penyerahan kartu dilaksanakan di Aula Kantor Kecamatan Katibung, Rabu (29/7/2026).

    Kegiatan ini menjadi rangkaian komitmen pemerintah daerah untuk memastikan masyarakat yang bekerja di sektor rentan memperoleh jaminan sosial ketenagakerjaan, sehingga memiliki perlindungan ketika menghadapi risiko kecelakaan kerja maupun risiko kematian.

    Pada kesempatan itu, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyerahkan secara simbolis kartu BPJS Ketenagakerjaan kepada 554 pekerja rentan yang berasal dari 12 desa di Kecamatan Katibung.

    Bupati Egi menegaskan bahwa kartu BPJS Ketenagakerjaan yang diterima masyarakat bukan sekadar bukti kepesertaan, melainkan simbol hadirnya negara dalam memberikan rasa aman, kepastian, dan harapan bagi para pekerja beserta keluarganya.

    “Hari ini yang kita serahkan memang berupa kartu BPJS Ketenagakerjaan. Namun sesungguhnya, yang sedang kita hadirkan adalah rasa aman, kepastian, dan harapan bagi para pekerja serta keluarganya. Inilah wujud nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat yang setiap hari bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,” ujar Egi.


    Bupati Egi menjelaskan, pada tahun 2026 Pemkab Lampung Selatan memberikan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan kepada 7.882 pekerja rentan yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat, pemerintah daerah menanggung pembayaran iuran kepesertaan selama tiga bulan, yakni mulai Juni hingga Agustus 2026.

    Menurut Egi, program tersebut menjadi salah satu langkah nyata pemerintah dalam memperkuat jaring pengaman sosial, khususnya bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal dan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap risiko pekerjaan.

    Bupati Egi juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kecamatan Katibung beserta seluruh kepala desa yang dinilai aktif melakukan pendataan serta mengusulkan masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai penerima manfaat.

    “Khusus di Kecamatan Katibung, program ini menjangkau 554 pekerja rentan dari 12 desa. Saya mengapresiasi Camat Katibung beserta seluruh kepala desa yang aktif melakukan pendataan dan mengusulkan masyarakat yang berhak menerima manfaat program ini,” kata Egi.

    Melalui pelaksanaan roadshow tersebut, Pemkab Lampung Selatan berharap semakin banyak pekerja rentan yang terlindungi oleh program jaminan sosial ketenagakerjaan. Langkah ini sekaligus menjadi wujud komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan perlindungan yang lebih merata, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat ketahanan sosial di seluruh wilayah Kabupaten Lampung Selatan. (mara-kmf)

  • Warga Desa Suak Dapat Apresiasi Bupati Egi, Program HELAU Wujudkan Desa Bersih, Aman, dan Menginspirasi

    Warga Desa Suak Dapat Apresiasi Bupati Egi, Program HELAU Wujudkan Desa Bersih, Aman, dan Menginspirasi

    nataragung.id – Sidomulyo – Semangat gotong royong masyarakat Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, tertata, aman, dan nyaman melalui implementasi Program HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul) mendapat apresiasi dari Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama.

    Apresiasi tersebut disampaikan Bupati Radityo Egi Pratama saat meninjau langsung pelaksanaan Gerakan Desa HELAU di Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Rabu (29/7/2026).

    Menurutnya, perubahan yang terlihat di desa tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan akan memberikan hasil nyata ketika pemerintah desa dan mampu bergerak bersama melalui budaya gotong royong.

    Dalam kunjungan itu, Bupati Egi didampingi Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Tri Umaryani, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Erdiyansyah, Pelaksana tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Hendry Kurniawan, Camat Sidomulyo Fran Sinatra Adung, serta jajaran perangkat daerah terkait lainnya.

    Bupati Egi menilai, transformasi yang terjadi di Desa Suak lahir dari kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan sekaligus mempercantik lingkungan desa. Berbagai upaya dilakukan secara bersama-sama, mulai dari pemilahan sampah organik dan nonorganik, pembangunan pos keamanan lingkungan, pemasangan penjor yang dilengkapi lampu hias, hingga penataan jalan desa dengan marka jalan.

    Tidak hanya menghadirkan lingkungan yang lebih bersih dan tertata, Gerakan Desa HELAU juga mendorong tumbuhnya kreativitas masyarakat dalam mengelola lingkungan.

    Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pembuatan tempat sampah organik dan nonorganik berbahan bambu anyaman hasil karya warga. Inovasi tersebut menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dimanfaatkan menjadi sarana pengelolaan sampah yang memiliki nilai fungsi sekaligus estetika.


    Bupati Egi mengatakan, Gerakan Desa HELAU bukan sekedar menciptakan desa yang indah dipandang, namun juga menjadi wujud nyata kolaborasi pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun daerah dari tingkat paling dasar.

    “Saya mengapresiasi semangat masyarakat Desa Suak yang telah bersama-sama membangun desa melalui Gerakan Desa HELAU. Keindahan, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan ini harus terus dijaga agar Desa Suak semakin mandiri dan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya di Lampung Selatan,” ujar Bupati Egi.

    Lebih lanjut, Bupati Egi mengajak seluruh masyarakat untuk terus mempertahankan budaya gotong royong sebagai modal sosial utama dalam mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan lingkungan sekitar.

    Sementara itu, masyarakat Desa Suak mengaku merasakan manfaat langsung dari Gerakan Desa HELAU. Selain menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, rapi, dan nyaman, program tersebut juga mempererat kebersamaan antarwarga, meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, membangkitkan kembali semangat gotong royong, serta mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis potensi lokal yang mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan. (mara-kmf)

  • Andanan Hati: Psikologi Kerinduan, Kelekatan Emosional, dan Harapan dalam Perspektif Psikologi Terapan

    Andanan Hati: Psikologi Kerinduan, Kelekatan Emosional, dan Harapan dalam Perspektif Psikologi Terapan

    Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
    Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

    nataragung.id – Metro – Lagu daerah tidak sekadar menjadi warisan budaya, melainkan juga cerminan kehidupan psikologis masyarakat yang melahirkannya. Setiap bait menyimpan representasi emosi, nilai sosial, harapan, hingga cara manusia menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Lagu Lampung “Andanan Hati” karya Nuridosia merupakan salah satu contoh karya budaya yang menggambarkan pengalaman universal manusia, yaitu kerinduan terhadap seseorang yang dicintai karena terpisahkan oleh jarak dan waktu. Lagu “Andanan Hati” mulai dikenal luas dan viral di media sosial sekitar tahun 2024, , terutama setelah banyak digunakan sebagai latar suara di platform digital seperti TikTok. Tema kerinduan pada lagu ini merupakan salah satu pengalaman emosional yang paling banyak dikaji dalam psikologi. Kerinduan muncul ketika seseorang memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap individu lain sehingga ketiadaan figur tersebut memunculkan kebutuhan psikologis untuk kembali terhubung. Perasaan tersebut tidak selalu berdampak negatif. Kerinduan dapat menjadi sumber motivasi, harapan, sekaligus memperkuat makna hubungan interpersonal apabila dikelola secara sehat.

    Psikologi modern memandang bahwa hubungan emosional yang hangat merupakan kebutuhan dasar manusia. Teori Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan Abraham Maslow (1943) menempatkan kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (love and belongingness) sebagai kebutuhan fundamental setelah kebutuhan fisiologis dan keamanan. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa manusia akan terus mencari kedekatan emosional dengan orang-orang yang dicintainya. Perspektif Islam memberikan penegasan bahwa kasih sayang merupakan fitrah manusia yang diciptakan Allah Swt. Firman Allah: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).” (QS. Ar-Rum [30]: 21). Ayat tersebut menunjukkan bahwa kerinduan, kasih sayang, dan keinginan untuk selalu dekat dengan orang yang dicintai merupakan bagian dari fitrah yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia.

    Kerinduan sebagai Wujud Kelekatan Emosional yang Sehat.

    John Bowlby (1969) melalui “Attachment Theory” menjelaskan bahwa manusia sejak kecil membangun ikatan emosional dengan figur yang memberikan rasa aman. Ikatan tersebut berkembang hingga dewasa dalam bentuk hubungan persahabatan, keluarga, maupun hubungan romantis. Tema utama dalam lagu “Andanan Hati” menggambarkan adanya kelekatan emosional yang tetap bertahan meskipun dipisahkan oleh ruang dan waktu. Individu yang memiliki secure attachment tidak kehilangan rasa percaya kepada pasangannya walaupun sedang berjauhan. Kerinduan yang muncul justru memperkuat komitmen hubungan.

    Penelitian Cindy Hazan dan Phillip Shaver (1987) memperluas teori “Bowlby” ke dalam hubungan romantis orang dewasa. Keduanya menemukan bahwa hubungan cinta memiliki pola psikologis yang hampir sama dengan hubungan anak dan orang tua, yaitu membutuhkan rasa aman, kepercayaan, dan kedekatan emosional. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa seseorang dapat memikirkan pasangan sepanjang hari. Otak menyimpan representasi mental terhadap figur yang dicintai sehingga kehadirannya tetap dirasakan walaupun tidak berada di tempat yang sama.

    Albert Bandura (1997) melalui konsep “self-efficacy” menjelaskan bahwa keyakinan terhadap keberhasilan hubungan akan memengaruhi kemampuan seseorang bertahan menghadapi tantangan. Hubungan yang dipenuhi rasa percaya akan lebih kuat menghadapi jarak dibanding hubungan yang dipenuhi prasangka. Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan penuh kepercayaan. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut mengandung prinsip empati, kepedulian, dan ketulusan yang menjadi fondasi hubungan interpersonal yang sehat.

    Harapan dan Regulasi Emosi ketika LDR.

    Kerinduan sering kali disertai rasa sedih, cemas, bahkan kesepian. Psikologi positif memandang bahwa emosi negatif bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya, melainkan perlu dikelola agar berubah menjadi kekuatan psikologis. Charles Snyder (2002) melalui “Hope Theory” menjelaskan bahwa harapan tersusun atas dua komponen utama, yaitu kemampuan menemukan jalan menuju tujuan (pathway thinking) serta keyakinan mampu mencapainya (agency thinking). Individu yang memiliki harapan tinggi cenderung mampu menghadapi perpisahan dengan lebih adaptif.

    Tema dalam lagu “Andanan Hati” menunjukkan bahwa kerinduan tidak berhenti pada kesedihan, melainkan disertai optimisme untuk dapat bertemu kembali. Harapan tersebut berfungsi sebagai mekanisme psikologis yang menjaga stabilitas emosi. James Gross (1998) melalui teori “Emotion Regulation” menjelaskan bahwa individu yang mampu mengelola emosinya akan lebih sehat secara psikologis dibanding mereka yang terus-menerus larut dalam kesedihan. Regulasi emosi dilakukan dengan mengubah cara berpikir terhadap situasi yang sedang dihadapi sehingga perasaan negatif berubah menjadi energi positif.

    Martin Seligman (2011) dalam konsep “PERMA” menempatkan hubungan positif (Positive Relationships) sebagai salah satu unsur utama kesejahteraan psikologis. Hubungan yang dipenuhi kepercayaan, komunikasi, dan komitmen akan meningkatkan kebahagiaan meskipun pasangan berada pada lokasi yang berbeda. Masyarakat Lampung sejak dahulu dikenal memiliki falsafah Piil Pesenggiri, terutama nilai Nemui Nyimah dan Sakai Sambayan. Nilai tersebut mengajarkan penghargaan terhadap sesama, kesetiaan, saling mendukung, dan menjaga hubungan sosial secara harmonis. Lagu “Andanan Hati” dapat dipahami sebagai ekspresi budaya yang memperkuat nilai-nilai tersebut. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kesulitan akan selalu disertai kemudahan. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6). Ayat tersebut memberikan landasan spiritual bahwa perpisahan bukan akhir dari hubungan apabila manusia tetap menjaga ikhtiar, kesabaran, dan harapan.

    Akhirnya penting untuk dipahami bahwa lagu “Andanan Hati” bukan sekadar kisah tentang kerinduan seorang kekasih, melainkan refleksi mendalam mengenai kebutuhan dasar manusia untuk mencintai dan dicintai. Perspektif psikologi terapan menunjukkan bahwa kerinduan merupakan konsekuensi alami dari kelekatan emosional yang sehat sebagaimana dijelaskan oleh Bowlby (1969), Hazan dan Shaver (1987), Maslow (1943), Snyder (2002), Gross (1998), Bandura (1997), dan Seligman (2011). Pandangan Islam memperkaya pemahaman tersebut melalui konsep mawaddah wa rahmah, yaitu kasih sayang yang dibangun atas dasar keimanan, kesabaran, dan kepercayaan kepada Allah Swt. Kerinduan yang dikelola dengan baik tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga melatih regulasi emosi, optimisme, dan ketangguhan psikologis. Lagu daerah Lampung seperti “Andanan Hati” pada akhirnya memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Lagu tersebut menjadi media pembelajaran psikologis, pelestarian budaya, serta penguatan karakter masyarakat Lampung. Nilai-nilai cinta, kesetiaan, harapan, dan keteguhan hati yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bekal membangun hubungan interpersonal yang sehat di tengah tantangan kehidupan modern. (*)

  • DPRD Lampung Dukung Penegakan Hukum terhadap Peredaran Narkoba

    DPRD Lampung Dukung Penegakan Hukum terhadap Peredaran Narkoba

    nataragung.id – Bandar Lampung – DPRD Provinsi Lampung menegaskan dukungannya terhadap upaya penegakan hukum dalam pemberantasan peredaran narkotika di Provinsi Lampung. Dukungan tersebut disampaikan Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung Edward Rasyid, SE yang mewakili DPRD Provinsi Lampung pada kegiatan pemusnahan barang bukti narkotika dan senjata api ilegal yang diselenggarakan Polda Lampung di Gedung Serba Guna (GSG) Polda Lampung, Rabu (29/7/2026).

    Kegiatan tersebut dipimpin Kapolda Lampung Irjen. Pol. Helfi Assegaf, SH, SIK, MH, dan turut hadir Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, ST, MM, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Lampung.

    Edward Rasyid menyampaikan bahwa DPRD Provinsi Lampung mendukung penuh langkah aparat penegak hukum dalam anggota peredaran narkotika. Menurutnya, narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan generasi muda sehingga memerlukan penanganan yang komprehensif melalui penegakan hukum yang tegas, disertai upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat.

    DPRD Provinsi Lampung mendukung penuh upaya penegakan hukum terhadap peredaran narkotika. Sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan masyarakat harus terus diperkuat agar peredaran narkoba dapat ditekan dan Lampung semakin aman, ujar Edward Rasyid.

    Ia juga mengapresiasi konsistensi Polda Lampung dalam mengungkap kasus narkotika serta melaksanakan pemusnahan barang bukti yang telah berkekuatan hukum tetap sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas penegakan hukum.

    DPRD Provinsi Lampung berharap kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam pemberantasan narkoba terus ditingkatkan sehingga mampu melindungi, khususnya masyarakat generasi muda, dari bahaya penyalahgunaan narkotika serta mewujudkan Provinsi Lampung yang aman, tertib, dan bebas dari peredaran narkoba. (*/SMh)

  • Teras HELAU Jadi Langkah Baru Pengentasan Kemiskinan, Bupati Egi Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkular dari Pekarangan Warga

    Teras HELAU Jadi Langkah Baru Pengentasan Kemiskinan, Bupati Egi Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkular dari Pekarangan Warga

    nataragung.id – Kalianda – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui pendekatan yang berkelanjutan.

    Salah satunya dengan mendorong Program Teras HELAU, sebuah inovasi pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan ketahanan pangan keluarga dengan konsep ekonomi sirkular berbasis pemanfaatan pekarangan rumah.

    Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Radityo Egi Pratama saat meninjau pelaksanaan pilot project Program Teras HELAU di kediaman Arsyam, warga Lingkungan Jati Dalam, Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda, Rabu (29/7/2026).

    Arsyam merupakan salah satu masyarakat yang berada di dataran rendah yang sebelumnya menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kini, pekarangan rumahnya disulap menjadi kawasan produktif yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga berpotensi menambah pendapatan rumah tangga.

    “Hari ini kami berada di lokasi pilot project Program Teras HELAU, dan insyaallah ke depan akan kami terapkan juga di seluruh kecamatan dan desa,” ujar Bupati Egi.

    Dalam peninjauan tersebut, Bupati Egi melihat langsung pemanfaatan pekarangan rumah yang ditanami berbagai komoditas hortikultura, mulai dari kangkung, cabai keriting, cabai rawit, tomat, terong, daun bawang, jahe, nanas hingga sawo.

    Selain itu, di lokasi juga dikembangkan budidaya ikan lele menggunakan sistem budikdamber (budidaya ikan dalam ember) serta peternakan ayam yang menjadi sumber pangan sekaligus peningkatan ekonomi keluarga.


    Menurut Bupati Egi, Program Teras HELAU dirancang agar masyarakat dapat memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal sehingga mampu menciptakan kemandirian pangan sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga.

    “Lele ini dipelihara oleh masyarakat, kemudian hasilnya bisa untuk dikonsumsi keluarga. Kalau hasilnya lebih, bisa dijual sehingga ekonomi keluarga berputar,” kata Egi.

    Lebih jauh lagi, Program Teras HELAU tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mengedepankan konsep ekonomi sirkular yang melibatkan kolaborasi lintas perangkat daerah.

    Melalui konsep tersebut, sampah organik rumah tangga akan diolah menjadi pakan maggot. Selanjutnya maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele sehingga tercipta sistem produksi yang saling terhubung, ramah lingkungan, dan meminimalkan limbah.

    “Perangkat daerah terkait akan dilibatkan, termasuk Dinas Lingkungan Hidup. Sampah organik nantinya diolah menjadi makanan maggot, kemudian maggot menjadi pakan lele. Jadi siklusnya terus berputar, tidak ada yang terbuang, dan masyarakat juga akan diberikan pendampingan dalam pengelolaannya,” jelasnya.

    Bupati Egi menegaskan, rumah percontohan di Kelurahan Way Urang akan menjadi model pengembangan Program Teras HELAU yang selanjutnya direplikasi ke seluruh kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan sebelum diterapkan lebih luas hingga tingkat desa.

    Dengan pendekatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap Program Teras HELAU mampu menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah, melalui pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan.


    Sementara itu, Arsyam mengaku merasakan manfaat nyata sejak mengikuti Program Teras HELAU. Menurutnya, pekarangan rumah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini mampu menyediakan kebutuhan sayur dan lauk bagi keluarganya, sehingga pengeluaran rumah tangga menjadi lebih hemat.

    “Manfaatnya sangat besar bagi keluarga kami. Sekarang kebutuhan sayur dan lauk sudah tersedia dari pekarangan sendiri, sehingga tidak perlu lagi membeli setiap hari. Kalau hasilnya lebih, kami juga bisa berbagi dengan tetangga. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Radityo Egi Pratama atas bantuan bedah rumah dan Program Teras HELAU yang sangat bermanfaat bagi keluarga kami,” ungkap Arsyam.

    Pada kesempatan yang sama, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Lampung Selatan juga turut membagikan bibit tanaman kepada masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan Program Teras HELAU sekaligus mendorong semakin banyak pekarangan produktif di masyarakat lingkungan. (mara-kmf)

  • UM Kalianda dan CV. Rizky Berkah Utama Jalin Kerja Sama Strategis untuk Perkuat Tri Dharma dan Pemberdayaan UMKM

    UM Kalianda dan CV. Rizky Berkah Utama Jalin Kerja Sama Strategis untuk Perkuat Tri Dharma dan Pemberdayaan UMKM

    nataragung.id – Kalianda – Universitas Muhammadiyah Kalianda (UM Kalianda) bersama CV. Rizky Berkah Utama (UMKM Lamban Kelor Bulok) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Agreement (IA) di Aula Universitas Muhammadiyah Kalianda, Rabu (29/7/2026).

    Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan usaha berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.


    Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Kalianda, Susilawati, S.Sos., M.IP., M.M., bersama Ketua CV. Rizky Berkah Utama (UMKM Lamban Kelor Bulok), Pujo, S.Pd. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan MoA antara Fakultas Teknologi dan Bisnis UM Kalianda dan CV. Rizky Berkah Utama yang ditandatangani Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis, Egi Radiansyah, S.M., M.M. Selanjutnya, Implementation Agreement ditandatangani oleh Ketua Program Studi Manajemen, Lukman Nuzul Hakim, S.Kom., M.M., serta Ketua Program Studi Agribisnis, Aryan Ari Sepri YH., S.P., M.Sc., bersama pihak mitra.

    Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Kalianda, Susilawati, menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Menurutnya, kerja sama tersebut tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen, melainkan harus diwujudkan dalam program-program yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat serta dunia usaha.

    “Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan dunia usaha harus mampu melahirkan program-program yang benar-benar bermanfaat dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Susilawati.


    Sebagai implementasi awal, kerja sama tersebut langsung diwujudkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tahun 2026 yang didanai melalui Program BIMA dengan mengusung tema “Pemberdayaan UMKM Lamban Kelor melalui Teknologi Pengemasan Otomatis dan Penyediaan Website Pemasaran Digital Berbasis Job Relevant Training.”

    Sementara itu, Ketua CV. Rizky Berkah Utama, Pujo, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kemitraan tersebut. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan dunia usaha merupakan fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

    Ia menjelaskan bahwa pengembangan UMKM Lamban Kelor tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal, pengembangan budidaya kelor, pengelolaan lahan produktif, serta penguatan jiwa kewirausahaan.

    “Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi diwujudkan dalam program yang memiliki roadmap yang jelas, terukur, berkelanjutan, mampu menciptakan lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Pujo.

    Melalui kerja sama ini, Universitas Muhammadiyah Kalianda dan CV. Rizky Berkah Utama berkomitmen mengembangkan berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, digitalisasi UMKM, pelatihan, serta pengembangan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Sinergi tersebut diharapkan menjadi model kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. (edi’s)

  • Pemprov Lampung Perkuat Ekosistem Literasi, Wagub Jihan Ajak Seluruh Elemen Bangun SDM Berkualitas

    Pemprov Lampung Perkuat Ekosistem Literasi, Wagub Jihan Ajak Seluruh Elemen Bangun SDM Berkualitas

    nataragung.id – Bandar Lampung – Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurela tegaskan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam membangun budaya literasi yang kuat.

    Komitmen tersebut disampaikan Wagub Jihan saat membuka Festival Literasi Provinsi Lampung Tahun 2026 bertema “Semangat Literasi Membangun Rakyat Lampung Maju” di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Selasa (28/7/2026).

    “Modal utama membangun Lampung adalah kolaborasi dan sinergi. Dengan semangat itulah kita optimistis mampu membawa Lampung semakin maju,” ujarnya.

    Wagub Jihan berpendapat bahwa pembangunan literasi memiliki karakter yang berbeda dengan pembangunan infrastruktur fisik.

    Ia mengasumsikan jika pembangunan jalan, gedung, dan sarana publik menjadi tanggung jawab utama pemerintah, maka peningkatan kualitas SDM merupakan tanggung jawab bersama.

    Ia menilai penyediaan fasilitas literasi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak dibarengi dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk gemar membaca dan terus meningkatkan pengetahuan.

    “Pemerintah membangun ekosistem melalui infrastruktur dan akses. Namun masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menumbuhkan budaya membaca dan meningkatkan literasi dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

    Wagub Jihan menuturkan bahwa tantangan literasi saat ini tidak lagi berkaitan dengan sulitnya memperoleh bahan bacaan seperti yang pernah dialaminya ketika bersekolah di Lampung Timur.

    Menurutnya, kini tantangan terbesar justru bagaimana masyarakat, khususnya anak-anak, mampu menyaring derasnya arus informasi di era digital.

    Wagub Jihan mengatakan perkembangan media sosial dan konten berdurasi pendek telah memengaruhi daya fokus anak dalam menerima informasi.

    Kondisi tersebut menjadi tantangan baru yang harus dihadapi bersama oleh keluarga, sekolah, dan pemerintah.

    Menurutnya, anak-anak saat ini harus dibekali kemampuan memilah informasi yang benar, membedakan fakta dan hoax, serta memanfaatkan informasi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

    Karena itu, ia mengajak para Bunda Literasi, tenaga pendidik, dan orang tua untuk membangun ekosistem literasi yang sehat, sekaligus mengedukasi anak agar bijak menggunakan teknologi serta membatasi waktu penggunaan (screen time) gawai secara proporsional.

    Upaya tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan budaya literasi yang kuat.

    “Bukan berarti mengurangi kecerdasan anak, tetapi tingkat fokus mereka menjadi lebih pendek. Ini menjadi PR kita bersama,” ujarnya.

    Selain meningkatkan minat baca, Wagub Jihan juga menekankan pentingnya pelestarian sejarah dan budaya daerah melalui literasi.

    Ia mengapresiasi peluncuran buku “Kisah dari Tanah Lado: 15 Cerita Rakyat Lampung”, yang dinilai menjadi media penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkan warisan daerah kepada generasi muda.

    “Sejarah akan hilang jika hanya disimpan dalam ingatan, tetapi tidak dituliskan dan didokumentasikan. Buku ini menjadi instrumen penting untuk merawat sejarah Lampung,” ujarnya.

    Di sisi lain, Wagub Jihan meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota mempersiapkan administrasi penilaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Gemar Membaca (TGM) secara optimal.

    Menurutnya, perubahan metode penilaian memberi peluang bagi daerah untuk meningkatkan capaian indikator literasi apabila seluruh persyaratan dipersiapkan dengan baik sejak awal.

    Sementara itu, Bunda Literasi Provinsi Lampung Purnama Wulan Mirza mengatakan Festival Literasi Provinsi Lampung 2026 berlangsung sejak 18 hingga 30 Juli 2026, dengan puncak kegiatan digelar pada 28 Juli di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung.

    Menurutnya, festival tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kualitas literasi masyarakat.

    Rangkaian kegiatan meliputi bazar buku, festival kuliner, rapat koordinasi Bunda Literasi se-Provinsi Lampung, peluncuran buku cerita rakyat Lampung yang menghimpun karya dari 15 kabupaten/kota, pengukuhan Bunda Literasi Keuangan, pojok literasi keuangan, talkshow literasi digital, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, pameran arsip dan naskah kuno, hingga berbagai kelas literasi tematik seperti mendongeng, public speaking, membaca nyaring, literasi keuangan, serta pelatihan bagi pegiat literasi.

    Batin Wulan menyebut seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana berkat kolaborasi pemerintah, perbankan, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, serta masyarakat.

    Ia berharap gerakan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat sejak usia dini.

    “Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga upaya bersama meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kami ingin Nuwo Baca menjadi ruang belajar, ruang rekreasi keluarga, sekaligus pusat tumbuhnya budaya membaca di Provinsi Lampung,” pungkasnya.

    Dalam kesempatan tersebut, dikukuhkan juga Bunda Literasi Keuangan Provinsi Lampung dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung.

    Festival Literasi Provinsi Lampung 2026 menjadi penegasan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari tumbuhnya masyarakat yang gemar membaca, berpikir kritis, serta mampu memanfaatkan informasi secara bijak.

    Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan menuju terwujudnya Lampung Maju. (*/SMh)

  • Ketua TP PKK Pesawaran Hadiri Festival Literasi Lampung 2026, Tegaskan Komitmen Perkuat Budaya Literasi Dan Literasi Keuangan

    Ketua TP PKK Pesawaran Hadiri Festival Literasi Lampung 2026, Tegaskan Komitmen Perkuat Budaya Literasi Dan Literasi Keuangan

    nataragung.id – Bandar Lampung – Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran yang juga menjabat sebagai Bunda Literasi Kabupaten Pesawaran, Cindy Aria Anton, S.E., M.M., menghadiri Festival Literasi Provinsi Lampung Tahun 2026 yang mengusung tema “Semangat Literasi Membangun Rakyat Lampung Maju”, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Selasa (28/7/2026).

    Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, tersebut turut dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Bunda Literasi, Pengukuhan Bunda Literasi Keuangan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Pameran Inklusi Sosial yang diikuti oleh 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.

    Dalam kegiatan tersebut, Cindy Aria Anton hadir bersama para Bunda Literasi dari 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat budaya literasi, meningkatkan minat baca masyarakat, sekaligus mendorong literasi keuangan di daerah.


    Menurut Cindy, Festival Literasi menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, hingga masyarakat dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

    “Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga membangun karakter, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta membekali masyarakat dengan literasi keuangan agar mampu mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Cindy.

    Cindy berharap semangat yang dibangun melalui Festival Literasi Provinsi Lampung Tahun 2026 dapat terus ditularkan hingga ke tingkat desa dan kelurahan, sehingga budaya membaca, belajar sepanjang hayat, serta pemahaman literasi keuangan semakin tumbuh di tengah masyarakat Kabupaten Pesawaran.


    “Kami berharap gerakan literasi tidak berhenti pada sebuah kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi gerakan bersama yang mampu melahirkan generasi Pesawaran yang gemar membaca, cerdas, kreatif, berkarakter, serta memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan. Melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat, kami optimistis budaya literasi akan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah,” tutup Cindy. (*/Diah)

  • Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Maksuba dalam Tradisi Hari Besar Islam. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Maksuba dalam Tradisi Hari Besar Islam. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh di tepian Sungai Tulang Bawang, hiduplah seorang puyang bernama Umpu Ngegakh Raja. Beliau adalah keturunan marga Sungkai, salah satu marga tertua di Lampung yang dikenal dengan kebijaksanaannya. Keluarga ini sangat taat beragama dan selalu merayakan hari-hari besar Islam dengan penuh suka cita.
    Menjelang Idul Fitri suatu tahun, seluruh keluarga berkumpul untuk merencanakan hidangan istimewa. Namun, nini (nenek) merasa bahwa hidangan yang biasa-biasa saja tidak cukup untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Beliau ingin menciptakan sesuatu yang istimewa, sebuah kue yang melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam.
    Malam itu, nini bermimpi didatangi oleh seorang ulun tuha (tetua) yang memberinya petunjuk. Dalam mimpinya, sang ulun tuha berkata: “Buatlah kue yang berlapis-lapis seperti tangga ke langit, karena setiap lapisan adalah doa dan syukurmu kepada Yang Maha Kuasa.”

    Keesokan paginya, nini pun bergegas ke dapur. Beliau mengocok puluhan telur bebek, yang konon melambangkan banyaknya amalan selama Ramadhan, dicampur dengan gula, mentega, dan susu kental manis. Adonan dituang setipis mungkin, selapis demi selapis, ke dalam loyang yang telah diolesi mentega. Setiap lapisan dipanggang satu per satu menggunakan api atas, menunggu lapisan sebelumnya matang sempurna. Proses ini memakan waktu berjam-jam, dengan kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa.
    Ketika kue itu akhirnya matang, lapisan-lapisannya keemasan, terlihat seperti seribu lapisan doa yang naik ke langit. “Maksuba,” bisik nini dengan haru. Dalam bahasa Lampung, kata itu terinspirasi dari keindahan lapisan yang “tersusun rapi” dan “bertingkat” seperti “bersusun” atau “bertingkat”. Sejak saat itu, Maksuba menjadi kue wajib dalam setiap perayaan keagamaan, menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

    Maksuba bukanlah sekadar kue lapis yang lezat. Di balik setiap lapisannya tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Para tetua kami sering berkata, “Maksuba itu seperti hidup, harus dibangun lapis demi lapis, sabar dan telaten.”
    Proses pembuatan Maksuba yang memakan waktu 2 hingga 4 jam dengan pemanggangan selapis demi selapis mengajarkan tentang kesabaran dan ketekunan. Setiap lapisan adonan tipis harus matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan, ini mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup dan beribadah, setiap langkah harus dilakukan dengan baik dan penuh kesungguhan.
    Kue ini juga mencerminkan nilai Piil Pesenggiri, terutama Pesenggiri itu sendiri, harga diri dan kehormatan.

    Dalam tradisi menjamu tamu di hari raya, menyajikan Maksuba adalah bentuk penghormatan tertinggi. Tamu yang datang bukan sekadar pengunjung, melainkan “utusan Tuhan” yang harus dimuliakan. Seperti yang tertuang dalam falsafah hidup orang Lampung, “Nemui Nyimah” mengajarkan keramahan dan kemurahan hati dalam menerima tamu. Maksuba dengan lapisan-lapisannya yang indah menjadi perwujudan dari keramahan itu.
    Tidak hanya itu, Maksuba yang dibuat dengan telur, gula, dan mentega tanpa tepung terigu memiliki tekstur yang basah, lembut, dan sedikit kenyal. Kelembutan ini mengingatkan kita pada ajaran Islam tentang tawadhu’, rendah hati di hadapan Allah dan sesama manusia.

    Dalam naskah kuno Kitab Kuntara Raja Niti yang menjadi rujukan para Punyimbang, pemuka adat yang disegani karena kebijaksanaan dan pengetahuannya tentang hukum adat, disebutkan bahwa orang Lampung memiliki “piil” yang keras dan pendirian teguh. Kitab yang ditulis pada era Majapahit ini mengatur tata cara hidup bermasyarakat dan menjadi pedoman bagi masyarakat Lampung hingga kini.
    Kutipan dari Kitab Kuntara Raja Niti menyebutkan prinsip Piil Pesenggiri dalam kehidupan masyarakat: “Raja piilnya wanita, lemah lembut terhadap masyarakat; Punyimbang piilnya gadis, selalu berupaya mendapatkan kecintaan dan kekaguman masyarakat; Ibu Rumah piilnya bahan makanan dan biaya hidangan”.
    Makna dari kutipan ini sangat dalam. Dalam konteks Maksuba, kita bisa memahami bahwa menyajikan kue terbaik dalam perayaan keagamaan adalah bagian dari menjaga kehormatan keluarga (Pesenggiri) dan menunjukkan keramahan (Nemui Nyimah). Ketika Maksuba hadir di meja makan saat Idul Fitri atau Idul Adha, itu bukan sekadar hidangan, itu adalah simbol bahwa keluarga tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama.

    Dengan masuknya Islam ke Lampung yang dibawa oleh para ulama, nilai-nilai adat diselaraskan dengan syariat. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti juga diajarkan tentang “ganjaran bubai punyimbang” yang mengajarkan tentang religius, menghargai prestasi, mandiri, dan disiplin. Kue Maksuba yang dihadirkan pada hari raya adalah wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai tersebut, merayakan hari kemenangan dengan penuh syukur dan kebersamaan, tidak bertentangan dengan Islam karena bahan dasarnya halal dan prosesnya mencerminkan nilai-nilai spiritual.
    Berikut adalah resep turun-temurun dari para leluhur Lampung untuk membuat Maksuba yang autentik dan sarat makna. Resep ini diwariskan dari nini kepada ibu, lalu kepada anak cucu, sebagai bagian dari pelestarian budaya dan tradisi keagamaan.

    Bahan-bahan yang diperlukan:
    * 20-25 butir telur ayam atau bebek, semakin banyak telur, semakin tebal lapisannya. Dalam tradisi, telur melambangkan banyaknya amalan yang dilakukan
    * 400-650 gram gula pasir, sesuai selera kemanisan
    * 1 kaleng susu kental manis (ukuran 370 ml) untuk memberikan kelembutan dan cita rasa legit
    * 120-150 gram margarin cair, pilih yang berkualitas baik untuk hasil yang lembut
    * Vanili secukupnya untuk aroma harum
    * Loyang ukuran 18×18 cm hingga 22×22 cm, tergantung ketebalan yang diinginkan

    Cara membuat dengan penuh cinta dan kesabaran:
    1. Siapkan loyang dengan mengolesi mentega dan melapisi kertas roti agar kue tidak lengket
    2. Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang sempurna, ini membutuhkan ketelatenan karena proses ini menentukan tekstur kue. Menurut cerita turun-temurun, semakin lama mengocok, semakin berkah kue yang dihasilkan
    3. Masukkan susu kental manis dan vanili, aduk perlahan hingga tercampur rata. Jangan terlalu keras agar adonan tetap lembut
    4. Tuangkan margarin cair sambil diaduk perlahan dengan teknik “aduk balik” agar adonan tidak turun volumenya
    5. Panaskan oven dengan api atas, ini adalah keunikan Maksuba karena hanya menggunakan api atas, berbeda dengan lapis legit yang menggunakan api bawah atau api atas-bawah
    6. Tuang adonan setipis mungkin ke dalam loyang, panggang selapis demi selapis. Setiap lapisan harus dipanggang hingga matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan. Proses ini diulang hingga adonan habis
    7. Total waktu pemanggangan antara 2 hingga 4 jam, tergantung ketebalan lapisan yang diinginkan
    8. Setelah matang sempurna dan lapisan terbentuk dengan rapi, angkat dan dinginkan sebelum dipotong

    Tips dari pengalaman para tetua:
    * Gunakan telur dalam suhu ruang agar lebih mudah mengembang
    * Margarin harus benar-benar cair dan dalam suhu ruang
    * Kesabaran adalah kunci utama, jangan terburu-buru menuangkan lapisan berikutnya sebelum lapisan bawah matang
    * Oven dengan api atas menghasilkan lapisan yang renyah di setiap permukaan, inilah yang membedakan Maksuba dari kue lapis lainnya

    Maksuba disajikan dalam dulang (talam besar) bersama dengan hidangan lainnya. Dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, kue ini diletakkan di tengah meja sebagai pusat perhatian, melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur. Biasanya disajikan bersama dengan sekubal (kue ketan khas Lampung) dan minuman tradisional seperti kopi robusta atau teh manis. Dalam acara yang lebih besar, Maksuba menjadi bagian dari bancakan yang dibagikan kepada seluruh hadirin sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi di hari kemenangan.

    Maksuba mengajarkan kita tentang nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam dan Pancasila. Proses pembuatannya yang panjang dan penuh kesabaran mengingatkan kita pada pentingnya “sabar” dalam menjalani hidup, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Setiap lapisan yang terbentuk adalah simbol dari setiap amalan yang kita lakukan, semakin banyak dan baik lapisannya, semakin indah hasil akhirnya.
    Nilai ini sejalan dengan sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia. Di meja makan saat hari raya, semua anggota keluarga dan tetangga duduk bersama, menikmati Maksuba yang sama. Tidak ada perbedaan status sosial, usia, atau pekerjaan, semua setara di hadapan hidangan yang disajikan. Inilah kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
    Seperti yang sering diucapkan para ulun tuha (tetua adat): “Pusatken ghik mak ngelapah, sinji ghik mak bejuluk”, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Maksuba adalah cerminan bahwa dalam kebersamaan, ada kekuatan dan kebahagiaan yang manis seperti gula dan halus seperti lapisan telur. Dalam konteks keislaman, kebersamaan ini sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang pentingnya silaturahmi dan berbagi kebahagiaan di hari raya.
    Maksuba juga mengajarkan nilai Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi.

    Dengan menyajikan kue ini untuk tamu dari berbagai latar belakang, kita membuka diri untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan. Ini adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran, sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan yang kita anut.
    Generasi muda Lampung kini mungkin lebih akrab dengan kue-kue modern yang instan, padahal Maksuba menyimpan cerita dan makna yang tak ternilai. Kue ini lahir dari kreativitas dan kesabaran nenek moyang, menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur dalam perayaan keagamaan.
    Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, kita perlu berusaha menjaga warisan kuliner ini agar tidak punah. Mulailah dari hal kecil, buatlah Maksuba di rumah saat hari raya tiba. Ajak anak-anak untuk ikut membuatnya, merasakan proses yang memakan waktu, dan memahami bahwa di balik setiap lapisan ada doa dan syukur yang dipanjatkan.
    Dengan melestarikan Maksuba, kita bukan saja menjaga warisan kuliner, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur: Piil Pesenggiri, keislaman, dan kebangsaan. Kita menjaga identitas sebagai orang Lampung sekaligus memperkuat jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk namun tetap bersatu. Mari kita hidupkan kembali Maksuba di meja-meja makan saat hari raya, karena di situlah keluarga bersatu, rasa syukur terucap, dan warisan leluhur tetap hidup dalam setiap generasi.
    “Segagham ni ghik sebambangan, sai mak gham kenal mak gham sayang”, makanan yang dimasak bersama, yang tidak kita kenal tidak kita sayangi. Mari kenali dan sayangi Maksuba, kue tradisional Lampung yang sarat makna spiritual dan nilai-nilai luhur ini. (*)

    Daftar Pustaka
    1. Radartv.com. (2025). Serupa Tapi Tak Sama: Maksuba vs Lapis Legit.
    2. Tribunlampung.co.id. (2022). 7 Menu Santapan Idul Adha di Nusantara.
    3. Tribun Travel. (2020). 17 Kuliner Khas Idul Adha dari Berbagai Daerah.
    4. Parapuan.co. (2021). Tak Hanya Daging, Ini Masakan Idul Adha yang Khas dari Tiap Daerah.
    5. Journal2.um.ac.id. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti.
    6. Repository.lppm.unila.ac.id. (2021). Draft Buku Monograf Lampung.
    7. Garuda.kemdikbud.go.id. (2011). Upaya Penyelamatan Naskah Kuno Lampung.
    8. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri.
    9. Lemon8. Resep Lapis Legit Lampung Asli Maksuba.
    10. Sadewo, P.A., dkk. (2024). Gastronomy in the Perspective of Local Wisdom of Lampung Community.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.