Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Lagu daerah tidak sekadar menjadi warisan budaya, melainkan juga cerminan kehidupan psikologis masyarakat yang melahirkannya. Setiap bait menyimpan representasi emosi, nilai sosial, harapan, hingga cara manusia menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Lagu Lampung “Andanan Hati” karya Nuridosia merupakan salah satu contoh karya budaya yang menggambarkan pengalaman universal manusia, yaitu kerinduan terhadap seseorang yang dicintai karena terpisahkan oleh jarak dan waktu. Lagu “Andanan Hati” mulai dikenal luas dan viral di media sosial sekitar tahun 2024, , terutama setelah banyak digunakan sebagai latar suara di platform digital seperti TikTok. Tema kerinduan pada lagu ini merupakan salah satu pengalaman emosional yang paling banyak dikaji dalam psikologi. Kerinduan muncul ketika seseorang memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap individu lain sehingga ketiadaan figur tersebut memunculkan kebutuhan psikologis untuk kembali terhubung. Perasaan tersebut tidak selalu berdampak negatif. Kerinduan dapat menjadi sumber motivasi, harapan, sekaligus memperkuat makna hubungan interpersonal apabila dikelola secara sehat.
Psikologi modern memandang bahwa hubungan emosional yang hangat merupakan kebutuhan dasar manusia. Teori Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan Abraham Maslow (1943) menempatkan kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (love and belongingness) sebagai kebutuhan fundamental setelah kebutuhan fisiologis dan keamanan. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa manusia akan terus mencari kedekatan emosional dengan orang-orang yang dicintainya. Perspektif Islam memberikan penegasan bahwa kasih sayang merupakan fitrah manusia yang diciptakan Allah Swt. Firman Allah: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).” (QS. Ar-Rum [30]: 21). Ayat tersebut menunjukkan bahwa kerinduan, kasih sayang, dan keinginan untuk selalu dekat dengan orang yang dicintai merupakan bagian dari fitrah yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia.
Kerinduan sebagai Wujud Kelekatan Emosional yang Sehat.
John Bowlby (1969) melalui “Attachment Theory” menjelaskan bahwa manusia sejak kecil membangun ikatan emosional dengan figur yang memberikan rasa aman. Ikatan tersebut berkembang hingga dewasa dalam bentuk hubungan persahabatan, keluarga, maupun hubungan romantis. Tema utama dalam lagu “Andanan Hati” menggambarkan adanya kelekatan emosional yang tetap bertahan meskipun dipisahkan oleh ruang dan waktu. Individu yang memiliki secure attachment tidak kehilangan rasa percaya kepada pasangannya walaupun sedang berjauhan. Kerinduan yang muncul justru memperkuat komitmen hubungan.
Penelitian Cindy Hazan dan Phillip Shaver (1987) memperluas teori “Bowlby” ke dalam hubungan romantis orang dewasa. Keduanya menemukan bahwa hubungan cinta memiliki pola psikologis yang hampir sama dengan hubungan anak dan orang tua, yaitu membutuhkan rasa aman, kepercayaan, dan kedekatan emosional. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa seseorang dapat memikirkan pasangan sepanjang hari. Otak menyimpan representasi mental terhadap figur yang dicintai sehingga kehadirannya tetap dirasakan walaupun tidak berada di tempat yang sama.
Albert Bandura (1997) melalui konsep “self-efficacy” menjelaskan bahwa keyakinan terhadap keberhasilan hubungan akan memengaruhi kemampuan seseorang bertahan menghadapi tantangan. Hubungan yang dipenuhi rasa percaya akan lebih kuat menghadapi jarak dibanding hubungan yang dipenuhi prasangka. Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan penuh kepercayaan. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut mengandung prinsip empati, kepedulian, dan ketulusan yang menjadi fondasi hubungan interpersonal yang sehat.
Harapan dan Regulasi Emosi ketika LDR.
Kerinduan sering kali disertai rasa sedih, cemas, bahkan kesepian. Psikologi positif memandang bahwa emosi negatif bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya, melainkan perlu dikelola agar berubah menjadi kekuatan psikologis. Charles Snyder (2002) melalui “Hope Theory” menjelaskan bahwa harapan tersusun atas dua komponen utama, yaitu kemampuan menemukan jalan menuju tujuan (pathway thinking) serta keyakinan mampu mencapainya (agency thinking). Individu yang memiliki harapan tinggi cenderung mampu menghadapi perpisahan dengan lebih adaptif.
Tema dalam lagu “Andanan Hati” menunjukkan bahwa kerinduan tidak berhenti pada kesedihan, melainkan disertai optimisme untuk dapat bertemu kembali. Harapan tersebut berfungsi sebagai mekanisme psikologis yang menjaga stabilitas emosi. James Gross (1998) melalui teori “Emotion Regulation” menjelaskan bahwa individu yang mampu mengelola emosinya akan lebih sehat secara psikologis dibanding mereka yang terus-menerus larut dalam kesedihan. Regulasi emosi dilakukan dengan mengubah cara berpikir terhadap situasi yang sedang dihadapi sehingga perasaan negatif berubah menjadi energi positif.
Martin Seligman (2011) dalam konsep “PERMA” menempatkan hubungan positif (Positive Relationships) sebagai salah satu unsur utama kesejahteraan psikologis. Hubungan yang dipenuhi kepercayaan, komunikasi, dan komitmen akan meningkatkan kebahagiaan meskipun pasangan berada pada lokasi yang berbeda. Masyarakat Lampung sejak dahulu dikenal memiliki falsafah Piil Pesenggiri, terutama nilai Nemui Nyimah dan Sakai Sambayan. Nilai tersebut mengajarkan penghargaan terhadap sesama, kesetiaan, saling mendukung, dan menjaga hubungan sosial secara harmonis. Lagu “Andanan Hati” dapat dipahami sebagai ekspresi budaya yang memperkuat nilai-nilai tersebut. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kesulitan akan selalu disertai kemudahan. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6). Ayat tersebut memberikan landasan spiritual bahwa perpisahan bukan akhir dari hubungan apabila manusia tetap menjaga ikhtiar, kesabaran, dan harapan.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa lagu “Andanan Hati” bukan sekadar kisah tentang kerinduan seorang kekasih, melainkan refleksi mendalam mengenai kebutuhan dasar manusia untuk mencintai dan dicintai. Perspektif psikologi terapan menunjukkan bahwa kerinduan merupakan konsekuensi alami dari kelekatan emosional yang sehat sebagaimana dijelaskan oleh Bowlby (1969), Hazan dan Shaver (1987), Maslow (1943), Snyder (2002), Gross (1998), Bandura (1997), dan Seligman (2011). Pandangan Islam memperkaya pemahaman tersebut melalui konsep mawaddah wa rahmah, yaitu kasih sayang yang dibangun atas dasar keimanan, kesabaran, dan kepercayaan kepada Allah Swt. Kerinduan yang dikelola dengan baik tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga melatih regulasi emosi, optimisme, dan ketangguhan psikologis. Lagu daerah Lampung seperti “Andanan Hati” pada akhirnya memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Lagu tersebut menjadi media pembelajaran psikologis, pelestarian budaya, serta penguatan karakter masyarakat Lampung. Nilai-nilai cinta, kesetiaan, harapan, dan keteguhan hati yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bekal membangun hubungan interpersonal yang sehat di tengah tantangan kehidupan modern. (*)

