nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh di tepian Sungai Tulang Bawang, hiduplah seorang puyang bernama Umpu Ngegakh Raja. Beliau adalah keturunan marga Sungkai, salah satu marga tertua di Lampung yang dikenal dengan kebijaksanaannya. Keluarga ini sangat taat beragama dan selalu merayakan hari-hari besar Islam dengan penuh suka cita.
Menjelang Idul Fitri suatu tahun, seluruh keluarga berkumpul untuk merencanakan hidangan istimewa. Namun, nini (nenek) merasa bahwa hidangan yang biasa-biasa saja tidak cukup untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Beliau ingin menciptakan sesuatu yang istimewa, sebuah kue yang melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam.
Malam itu, nini bermimpi didatangi oleh seorang ulun tuha (tetua) yang memberinya petunjuk. Dalam mimpinya, sang ulun tuha berkata: “Buatlah kue yang berlapis-lapis seperti tangga ke langit, karena setiap lapisan adalah doa dan syukurmu kepada Yang Maha Kuasa.”
Keesokan paginya, nini pun bergegas ke dapur. Beliau mengocok puluhan telur bebek, yang konon melambangkan banyaknya amalan selama Ramadhan, dicampur dengan gula, mentega, dan susu kental manis. Adonan dituang setipis mungkin, selapis demi selapis, ke dalam loyang yang telah diolesi mentega. Setiap lapisan dipanggang satu per satu menggunakan api atas, menunggu lapisan sebelumnya matang sempurna. Proses ini memakan waktu berjam-jam, dengan kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa.
Ketika kue itu akhirnya matang, lapisan-lapisannya keemasan, terlihat seperti seribu lapisan doa yang naik ke langit. “Maksuba,” bisik nini dengan haru. Dalam bahasa Lampung, kata itu terinspirasi dari keindahan lapisan yang “tersusun rapi” dan “bertingkat” seperti “bersusun” atau “bertingkat”. Sejak saat itu, Maksuba menjadi kue wajib dalam setiap perayaan keagamaan, menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Maksuba bukanlah sekadar kue lapis yang lezat. Di balik setiap lapisannya tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Para tetua kami sering berkata, “Maksuba itu seperti hidup, harus dibangun lapis demi lapis, sabar dan telaten.”
Proses pembuatan Maksuba yang memakan waktu 2 hingga 4 jam dengan pemanggangan selapis demi selapis mengajarkan tentang kesabaran dan ketekunan. Setiap lapisan adonan tipis harus matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan, ini mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup dan beribadah, setiap langkah harus dilakukan dengan baik dan penuh kesungguhan.
Kue ini juga mencerminkan nilai Piil Pesenggiri, terutama Pesenggiri itu sendiri, harga diri dan kehormatan.
Dalam tradisi menjamu tamu di hari raya, menyajikan Maksuba adalah bentuk penghormatan tertinggi. Tamu yang datang bukan sekadar pengunjung, melainkan “utusan Tuhan” yang harus dimuliakan. Seperti yang tertuang dalam falsafah hidup orang Lampung, “Nemui Nyimah” mengajarkan keramahan dan kemurahan hati dalam menerima tamu. Maksuba dengan lapisan-lapisannya yang indah menjadi perwujudan dari keramahan itu.
Tidak hanya itu, Maksuba yang dibuat dengan telur, gula, dan mentega tanpa tepung terigu memiliki tekstur yang basah, lembut, dan sedikit kenyal. Kelembutan ini mengingatkan kita pada ajaran Islam tentang tawadhu’, rendah hati di hadapan Allah dan sesama manusia.
Dalam naskah kuno Kitab Kuntara Raja Niti yang menjadi rujukan para Punyimbang, pemuka adat yang disegani karena kebijaksanaan dan pengetahuannya tentang hukum adat, disebutkan bahwa orang Lampung memiliki “piil” yang keras dan pendirian teguh. Kitab yang ditulis pada era Majapahit ini mengatur tata cara hidup bermasyarakat dan menjadi pedoman bagi masyarakat Lampung hingga kini.
Kutipan dari Kitab Kuntara Raja Niti menyebutkan prinsip Piil Pesenggiri dalam kehidupan masyarakat: “Raja piilnya wanita, lemah lembut terhadap masyarakat; Punyimbang piilnya gadis, selalu berupaya mendapatkan kecintaan dan kekaguman masyarakat; Ibu Rumah piilnya bahan makanan dan biaya hidangan”.
Makna dari kutipan ini sangat dalam. Dalam konteks Maksuba, kita bisa memahami bahwa menyajikan kue terbaik dalam perayaan keagamaan adalah bagian dari menjaga kehormatan keluarga (Pesenggiri) dan menunjukkan keramahan (Nemui Nyimah). Ketika Maksuba hadir di meja makan saat Idul Fitri atau Idul Adha, itu bukan sekadar hidangan, itu adalah simbol bahwa keluarga tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama.
Dengan masuknya Islam ke Lampung yang dibawa oleh para ulama, nilai-nilai adat diselaraskan dengan syariat. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti juga diajarkan tentang “ganjaran bubai punyimbang” yang mengajarkan tentang religius, menghargai prestasi, mandiri, dan disiplin. Kue Maksuba yang dihadirkan pada hari raya adalah wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai tersebut, merayakan hari kemenangan dengan penuh syukur dan kebersamaan, tidak bertentangan dengan Islam karena bahan dasarnya halal dan prosesnya mencerminkan nilai-nilai spiritual.
Berikut adalah resep turun-temurun dari para leluhur Lampung untuk membuat Maksuba yang autentik dan sarat makna. Resep ini diwariskan dari nini kepada ibu, lalu kepada anak cucu, sebagai bagian dari pelestarian budaya dan tradisi keagamaan.
Bahan-bahan yang diperlukan:
* 20-25 butir telur ayam atau bebek, semakin banyak telur, semakin tebal lapisannya. Dalam tradisi, telur melambangkan banyaknya amalan yang dilakukan
* 400-650 gram gula pasir, sesuai selera kemanisan
* 1 kaleng susu kental manis (ukuran 370 ml) untuk memberikan kelembutan dan cita rasa legit
* 120-150 gram margarin cair, pilih yang berkualitas baik untuk hasil yang lembut
* Vanili secukupnya untuk aroma harum
* Loyang ukuran 18×18 cm hingga 22×22 cm, tergantung ketebalan yang diinginkan
Cara membuat dengan penuh cinta dan kesabaran:
1. Siapkan loyang dengan mengolesi mentega dan melapisi kertas roti agar kue tidak lengket
2. Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang sempurna, ini membutuhkan ketelatenan karena proses ini menentukan tekstur kue. Menurut cerita turun-temurun, semakin lama mengocok, semakin berkah kue yang dihasilkan
3. Masukkan susu kental manis dan vanili, aduk perlahan hingga tercampur rata. Jangan terlalu keras agar adonan tetap lembut
4. Tuangkan margarin cair sambil diaduk perlahan dengan teknik “aduk balik” agar adonan tidak turun volumenya
5. Panaskan oven dengan api atas, ini adalah keunikan Maksuba karena hanya menggunakan api atas, berbeda dengan lapis legit yang menggunakan api bawah atau api atas-bawah
6. Tuang adonan setipis mungkin ke dalam loyang, panggang selapis demi selapis. Setiap lapisan harus dipanggang hingga matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan. Proses ini diulang hingga adonan habis
7. Total waktu pemanggangan antara 2 hingga 4 jam, tergantung ketebalan lapisan yang diinginkan
8. Setelah matang sempurna dan lapisan terbentuk dengan rapi, angkat dan dinginkan sebelum dipotong
Tips dari pengalaman para tetua:
* Gunakan telur dalam suhu ruang agar lebih mudah mengembang
* Margarin harus benar-benar cair dan dalam suhu ruang
* Kesabaran adalah kunci utama, jangan terburu-buru menuangkan lapisan berikutnya sebelum lapisan bawah matang
* Oven dengan api atas menghasilkan lapisan yang renyah di setiap permukaan, inilah yang membedakan Maksuba dari kue lapis lainnya
Maksuba disajikan dalam dulang (talam besar) bersama dengan hidangan lainnya. Dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, kue ini diletakkan di tengah meja sebagai pusat perhatian, melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur. Biasanya disajikan bersama dengan sekubal (kue ketan khas Lampung) dan minuman tradisional seperti kopi robusta atau teh manis. Dalam acara yang lebih besar, Maksuba menjadi bagian dari bancakan yang dibagikan kepada seluruh hadirin sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi di hari kemenangan.
Maksuba mengajarkan kita tentang nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam dan Pancasila. Proses pembuatannya yang panjang dan penuh kesabaran mengingatkan kita pada pentingnya “sabar” dalam menjalani hidup, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Setiap lapisan yang terbentuk adalah simbol dari setiap amalan yang kita lakukan, semakin banyak dan baik lapisannya, semakin indah hasil akhirnya.
Nilai ini sejalan dengan sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia. Di meja makan saat hari raya, semua anggota keluarga dan tetangga duduk bersama, menikmati Maksuba yang sama. Tidak ada perbedaan status sosial, usia, atau pekerjaan, semua setara di hadapan hidangan yang disajikan. Inilah kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
Seperti yang sering diucapkan para ulun tuha (tetua adat): “Pusatken ghik mak ngelapah, sinji ghik mak bejuluk”, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Maksuba adalah cerminan bahwa dalam kebersamaan, ada kekuatan dan kebahagiaan yang manis seperti gula dan halus seperti lapisan telur. Dalam konteks keislaman, kebersamaan ini sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang pentingnya silaturahmi dan berbagi kebahagiaan di hari raya.
Maksuba juga mengajarkan nilai Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi.
Dengan menyajikan kue ini untuk tamu dari berbagai latar belakang, kita membuka diri untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan. Ini adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran, sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan yang kita anut.
Generasi muda Lampung kini mungkin lebih akrab dengan kue-kue modern yang instan, padahal Maksuba menyimpan cerita dan makna yang tak ternilai. Kue ini lahir dari kreativitas dan kesabaran nenek moyang, menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur dalam perayaan keagamaan.
Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, kita perlu berusaha menjaga warisan kuliner ini agar tidak punah. Mulailah dari hal kecil, buatlah Maksuba di rumah saat hari raya tiba. Ajak anak-anak untuk ikut membuatnya, merasakan proses yang memakan waktu, dan memahami bahwa di balik setiap lapisan ada doa dan syukur yang dipanjatkan.
Dengan melestarikan Maksuba, kita bukan saja menjaga warisan kuliner, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur: Piil Pesenggiri, keislaman, dan kebangsaan. Kita menjaga identitas sebagai orang Lampung sekaligus memperkuat jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk namun tetap bersatu. Mari kita hidupkan kembali Maksuba di meja-meja makan saat hari raya, karena di situlah keluarga bersatu, rasa syukur terucap, dan warisan leluhur tetap hidup dalam setiap generasi.
“Segagham ni ghik sebambangan, sai mak gham kenal mak gham sayang”, makanan yang dimasak bersama, yang tidak kita kenal tidak kita sayangi. Mari kenali dan sayangi Maksuba, kue tradisional Lampung yang sarat makna spiritual dan nilai-nilai luhur ini. (*)
Daftar Pustaka
1. Radartv.com. (2025). Serupa Tapi Tak Sama: Maksuba vs Lapis Legit.
2. Tribunlampung.co.id. (2022). 7 Menu Santapan Idul Adha di Nusantara.
3. Tribun Travel. (2020). 17 Kuliner Khas Idul Adha dari Berbagai Daerah.
4. Parapuan.co. (2021). Tak Hanya Daging, Ini Masakan Idul Adha yang Khas dari Tiap Daerah.
5. Journal2.um.ac.id. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti.
6. Repository.lppm.unila.ac.id. (2021). Draft Buku Monograf Lampung.
7. Garuda.kemdikbud.go.id. (2011). Upaya Penyelamatan Naskah Kuno Lampung.
8. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri.
9. Lemon8. Resep Lapis Legit Lampung Asli Maksuba.
10. Sadewo, P.A., dkk. (2024). Gastronomy in the Perspective of Local Wisdom of Lampung Community.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

