Blog

  • Pemprov Lampung Perkuat Ekosistem Literasi, Wagub Jihan Ajak Seluruh Elemen Bangun SDM Berkualitas

    Pemprov Lampung Perkuat Ekosistem Literasi, Wagub Jihan Ajak Seluruh Elemen Bangun SDM Berkualitas

    nataragung.id – Bandar Lampung – Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurela tegaskan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam membangun budaya literasi yang kuat.

    Komitmen tersebut disampaikan Wagub Jihan saat membuka Festival Literasi Provinsi Lampung Tahun 2026 bertema “Semangat Literasi Membangun Rakyat Lampung Maju” di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Selasa (28/7/2026).

    “Modal utama membangun Lampung adalah kolaborasi dan sinergi. Dengan semangat itulah kita optimistis mampu membawa Lampung semakin maju,” ujarnya.

    Wagub Jihan berpendapat bahwa pembangunan literasi memiliki karakter yang berbeda dengan pembangunan infrastruktur fisik.

    Ia mengasumsikan jika pembangunan jalan, gedung, dan sarana publik menjadi tanggung jawab utama pemerintah, maka peningkatan kualitas SDM merupakan tanggung jawab bersama.

    Ia menilai penyediaan fasilitas literasi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak dibarengi dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk gemar membaca dan terus meningkatkan pengetahuan.

    “Pemerintah membangun ekosistem melalui infrastruktur dan akses. Namun masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menumbuhkan budaya membaca dan meningkatkan literasi dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

    Wagub Jihan menuturkan bahwa tantangan literasi saat ini tidak lagi berkaitan dengan sulitnya memperoleh bahan bacaan seperti yang pernah dialaminya ketika bersekolah di Lampung Timur.

    Menurutnya, kini tantangan terbesar justru bagaimana masyarakat, khususnya anak-anak, mampu menyaring derasnya arus informasi di era digital.

    Wagub Jihan mengatakan perkembangan media sosial dan konten berdurasi pendek telah memengaruhi daya fokus anak dalam menerima informasi.

    Kondisi tersebut menjadi tantangan baru yang harus dihadapi bersama oleh keluarga, sekolah, dan pemerintah.

    Menurutnya, anak-anak saat ini harus dibekali kemampuan memilah informasi yang benar, membedakan fakta dan hoax, serta memanfaatkan informasi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

    Karena itu, ia mengajak para Bunda Literasi, tenaga pendidik, dan orang tua untuk membangun ekosistem literasi yang sehat, sekaligus mengedukasi anak agar bijak menggunakan teknologi serta membatasi waktu penggunaan (screen time) gawai secara proporsional.

    Upaya tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan budaya literasi yang kuat.

    “Bukan berarti mengurangi kecerdasan anak, tetapi tingkat fokus mereka menjadi lebih pendek. Ini menjadi PR kita bersama,” ujarnya.

    Selain meningkatkan minat baca, Wagub Jihan juga menekankan pentingnya pelestarian sejarah dan budaya daerah melalui literasi.

    Ia mengapresiasi peluncuran buku “Kisah dari Tanah Lado: 15 Cerita Rakyat Lampung”, yang dinilai menjadi media penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkan warisan daerah kepada generasi muda.

    “Sejarah akan hilang jika hanya disimpan dalam ingatan, tetapi tidak dituliskan dan didokumentasikan. Buku ini menjadi instrumen penting untuk merawat sejarah Lampung,” ujarnya.

    Di sisi lain, Wagub Jihan meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota mempersiapkan administrasi penilaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Gemar Membaca (TGM) secara optimal.

    Menurutnya, perubahan metode penilaian memberi peluang bagi daerah untuk meningkatkan capaian indikator literasi apabila seluruh persyaratan dipersiapkan dengan baik sejak awal.

    Sementara itu, Bunda Literasi Provinsi Lampung Purnama Wulan Mirza mengatakan Festival Literasi Provinsi Lampung 2026 berlangsung sejak 18 hingga 30 Juli 2026, dengan puncak kegiatan digelar pada 28 Juli di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung.

    Menurutnya, festival tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kualitas literasi masyarakat.

    Rangkaian kegiatan meliputi bazar buku, festival kuliner, rapat koordinasi Bunda Literasi se-Provinsi Lampung, peluncuran buku cerita rakyat Lampung yang menghimpun karya dari 15 kabupaten/kota, pengukuhan Bunda Literasi Keuangan, pojok literasi keuangan, talkshow literasi digital, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, pameran arsip dan naskah kuno, hingga berbagai kelas literasi tematik seperti mendongeng, public speaking, membaca nyaring, literasi keuangan, serta pelatihan bagi pegiat literasi.

    Batin Wulan menyebut seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana berkat kolaborasi pemerintah, perbankan, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, serta masyarakat.

    Ia berharap gerakan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat sejak usia dini.

    “Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga upaya bersama meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kami ingin Nuwo Baca menjadi ruang belajar, ruang rekreasi keluarga, sekaligus pusat tumbuhnya budaya membaca di Provinsi Lampung,” pungkasnya.

    Dalam kesempatan tersebut, dikukuhkan juga Bunda Literasi Keuangan Provinsi Lampung dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung.

    Festival Literasi Provinsi Lampung 2026 menjadi penegasan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari tumbuhnya masyarakat yang gemar membaca, berpikir kritis, serta mampu memanfaatkan informasi secara bijak.

    Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan menuju terwujudnya Lampung Maju. (*/SMh)

  • Ketua TP PKK Pesawaran Hadiri Festival Literasi Lampung 2026, Tegaskan Komitmen Perkuat Budaya Literasi Dan Literasi Keuangan

    Ketua TP PKK Pesawaran Hadiri Festival Literasi Lampung 2026, Tegaskan Komitmen Perkuat Budaya Literasi Dan Literasi Keuangan

    nataragung.id – Bandar Lampung – Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran yang juga menjabat sebagai Bunda Literasi Kabupaten Pesawaran, Cindy Aria Anton, S.E., M.M., menghadiri Festival Literasi Provinsi Lampung Tahun 2026 yang mengusung tema “Semangat Literasi Membangun Rakyat Lampung Maju”, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Selasa (28/7/2026).

    Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, tersebut turut dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Bunda Literasi, Pengukuhan Bunda Literasi Keuangan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Pameran Inklusi Sosial yang diikuti oleh 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.

    Dalam kegiatan tersebut, Cindy Aria Anton hadir bersama para Bunda Literasi dari 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat budaya literasi, meningkatkan minat baca masyarakat, sekaligus mendorong literasi keuangan di daerah.


    Menurut Cindy, Festival Literasi menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, hingga masyarakat dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

    “Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga membangun karakter, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta membekali masyarakat dengan literasi keuangan agar mampu mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Cindy.

    Cindy berharap semangat yang dibangun melalui Festival Literasi Provinsi Lampung Tahun 2026 dapat terus ditularkan hingga ke tingkat desa dan kelurahan, sehingga budaya membaca, belajar sepanjang hayat, serta pemahaman literasi keuangan semakin tumbuh di tengah masyarakat Kabupaten Pesawaran.


    “Kami berharap gerakan literasi tidak berhenti pada sebuah kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi gerakan bersama yang mampu melahirkan generasi Pesawaran yang gemar membaca, cerdas, kreatif, berkarakter, serta memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan. Melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat, kami optimistis budaya literasi akan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah,” tutup Cindy. (*/Diah)

  • Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Maksuba dalam Tradisi Hari Besar Islam. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Maksuba dalam Tradisi Hari Besar Islam. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh di tepian Sungai Tulang Bawang, hiduplah seorang puyang bernama Umpu Ngegakh Raja. Beliau adalah keturunan marga Sungkai, salah satu marga tertua di Lampung yang dikenal dengan kebijaksanaannya. Keluarga ini sangat taat beragama dan selalu merayakan hari-hari besar Islam dengan penuh suka cita.
    Menjelang Idul Fitri suatu tahun, seluruh keluarga berkumpul untuk merencanakan hidangan istimewa. Namun, nini (nenek) merasa bahwa hidangan yang biasa-biasa saja tidak cukup untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Beliau ingin menciptakan sesuatu yang istimewa, sebuah kue yang melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam.
    Malam itu, nini bermimpi didatangi oleh seorang ulun tuha (tetua) yang memberinya petunjuk. Dalam mimpinya, sang ulun tuha berkata: “Buatlah kue yang berlapis-lapis seperti tangga ke langit, karena setiap lapisan adalah doa dan syukurmu kepada Yang Maha Kuasa.”

    Keesokan paginya, nini pun bergegas ke dapur. Beliau mengocok puluhan telur bebek, yang konon melambangkan banyaknya amalan selama Ramadhan, dicampur dengan gula, mentega, dan susu kental manis. Adonan dituang setipis mungkin, selapis demi selapis, ke dalam loyang yang telah diolesi mentega. Setiap lapisan dipanggang satu per satu menggunakan api atas, menunggu lapisan sebelumnya matang sempurna. Proses ini memakan waktu berjam-jam, dengan kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa.
    Ketika kue itu akhirnya matang, lapisan-lapisannya keemasan, terlihat seperti seribu lapisan doa yang naik ke langit. “Maksuba,” bisik nini dengan haru. Dalam bahasa Lampung, kata itu terinspirasi dari keindahan lapisan yang “tersusun rapi” dan “bertingkat” seperti “bersusun” atau “bertingkat”. Sejak saat itu, Maksuba menjadi kue wajib dalam setiap perayaan keagamaan, menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

    Maksuba bukanlah sekadar kue lapis yang lezat. Di balik setiap lapisannya tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Para tetua kami sering berkata, “Maksuba itu seperti hidup, harus dibangun lapis demi lapis, sabar dan telaten.”
    Proses pembuatan Maksuba yang memakan waktu 2 hingga 4 jam dengan pemanggangan selapis demi selapis mengajarkan tentang kesabaran dan ketekunan. Setiap lapisan adonan tipis harus matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan, ini mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup dan beribadah, setiap langkah harus dilakukan dengan baik dan penuh kesungguhan.
    Kue ini juga mencerminkan nilai Piil Pesenggiri, terutama Pesenggiri itu sendiri, harga diri dan kehormatan.

    Dalam tradisi menjamu tamu di hari raya, menyajikan Maksuba adalah bentuk penghormatan tertinggi. Tamu yang datang bukan sekadar pengunjung, melainkan “utusan Tuhan” yang harus dimuliakan. Seperti yang tertuang dalam falsafah hidup orang Lampung, “Nemui Nyimah” mengajarkan keramahan dan kemurahan hati dalam menerima tamu. Maksuba dengan lapisan-lapisannya yang indah menjadi perwujudan dari keramahan itu.
    Tidak hanya itu, Maksuba yang dibuat dengan telur, gula, dan mentega tanpa tepung terigu memiliki tekstur yang basah, lembut, dan sedikit kenyal. Kelembutan ini mengingatkan kita pada ajaran Islam tentang tawadhu’, rendah hati di hadapan Allah dan sesama manusia.

    Dalam naskah kuno Kitab Kuntara Raja Niti yang menjadi rujukan para Punyimbang, pemuka adat yang disegani karena kebijaksanaan dan pengetahuannya tentang hukum adat, disebutkan bahwa orang Lampung memiliki “piil” yang keras dan pendirian teguh. Kitab yang ditulis pada era Majapahit ini mengatur tata cara hidup bermasyarakat dan menjadi pedoman bagi masyarakat Lampung hingga kini.
    Kutipan dari Kitab Kuntara Raja Niti menyebutkan prinsip Piil Pesenggiri dalam kehidupan masyarakat: “Raja piilnya wanita, lemah lembut terhadap masyarakat; Punyimbang piilnya gadis, selalu berupaya mendapatkan kecintaan dan kekaguman masyarakat; Ibu Rumah piilnya bahan makanan dan biaya hidangan”.
    Makna dari kutipan ini sangat dalam. Dalam konteks Maksuba, kita bisa memahami bahwa menyajikan kue terbaik dalam perayaan keagamaan adalah bagian dari menjaga kehormatan keluarga (Pesenggiri) dan menunjukkan keramahan (Nemui Nyimah). Ketika Maksuba hadir di meja makan saat Idul Fitri atau Idul Adha, itu bukan sekadar hidangan, itu adalah simbol bahwa keluarga tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama.

    Dengan masuknya Islam ke Lampung yang dibawa oleh para ulama, nilai-nilai adat diselaraskan dengan syariat. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti juga diajarkan tentang “ganjaran bubai punyimbang” yang mengajarkan tentang religius, menghargai prestasi, mandiri, dan disiplin. Kue Maksuba yang dihadirkan pada hari raya adalah wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai tersebut, merayakan hari kemenangan dengan penuh syukur dan kebersamaan, tidak bertentangan dengan Islam karena bahan dasarnya halal dan prosesnya mencerminkan nilai-nilai spiritual.
    Berikut adalah resep turun-temurun dari para leluhur Lampung untuk membuat Maksuba yang autentik dan sarat makna. Resep ini diwariskan dari nini kepada ibu, lalu kepada anak cucu, sebagai bagian dari pelestarian budaya dan tradisi keagamaan.

    Bahan-bahan yang diperlukan:
    * 20-25 butir telur ayam atau bebek, semakin banyak telur, semakin tebal lapisannya. Dalam tradisi, telur melambangkan banyaknya amalan yang dilakukan
    * 400-650 gram gula pasir, sesuai selera kemanisan
    * 1 kaleng susu kental manis (ukuran 370 ml) untuk memberikan kelembutan dan cita rasa legit
    * 120-150 gram margarin cair, pilih yang berkualitas baik untuk hasil yang lembut
    * Vanili secukupnya untuk aroma harum
    * Loyang ukuran 18×18 cm hingga 22×22 cm, tergantung ketebalan yang diinginkan

    Cara membuat dengan penuh cinta dan kesabaran:
    1. Siapkan loyang dengan mengolesi mentega dan melapisi kertas roti agar kue tidak lengket
    2. Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang sempurna, ini membutuhkan ketelatenan karena proses ini menentukan tekstur kue. Menurut cerita turun-temurun, semakin lama mengocok, semakin berkah kue yang dihasilkan
    3. Masukkan susu kental manis dan vanili, aduk perlahan hingga tercampur rata. Jangan terlalu keras agar adonan tetap lembut
    4. Tuangkan margarin cair sambil diaduk perlahan dengan teknik “aduk balik” agar adonan tidak turun volumenya
    5. Panaskan oven dengan api atas, ini adalah keunikan Maksuba karena hanya menggunakan api atas, berbeda dengan lapis legit yang menggunakan api bawah atau api atas-bawah
    6. Tuang adonan setipis mungkin ke dalam loyang, panggang selapis demi selapis. Setiap lapisan harus dipanggang hingga matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan. Proses ini diulang hingga adonan habis
    7. Total waktu pemanggangan antara 2 hingga 4 jam, tergantung ketebalan lapisan yang diinginkan
    8. Setelah matang sempurna dan lapisan terbentuk dengan rapi, angkat dan dinginkan sebelum dipotong

    Tips dari pengalaman para tetua:
    * Gunakan telur dalam suhu ruang agar lebih mudah mengembang
    * Margarin harus benar-benar cair dan dalam suhu ruang
    * Kesabaran adalah kunci utama, jangan terburu-buru menuangkan lapisan berikutnya sebelum lapisan bawah matang
    * Oven dengan api atas menghasilkan lapisan yang renyah di setiap permukaan, inilah yang membedakan Maksuba dari kue lapis lainnya

    Maksuba disajikan dalam dulang (talam besar) bersama dengan hidangan lainnya. Dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, kue ini diletakkan di tengah meja sebagai pusat perhatian, melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur. Biasanya disajikan bersama dengan sekubal (kue ketan khas Lampung) dan minuman tradisional seperti kopi robusta atau teh manis. Dalam acara yang lebih besar, Maksuba menjadi bagian dari bancakan yang dibagikan kepada seluruh hadirin sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi di hari kemenangan.

    Maksuba mengajarkan kita tentang nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam dan Pancasila. Proses pembuatannya yang panjang dan penuh kesabaran mengingatkan kita pada pentingnya “sabar” dalam menjalani hidup, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Setiap lapisan yang terbentuk adalah simbol dari setiap amalan yang kita lakukan, semakin banyak dan baik lapisannya, semakin indah hasil akhirnya.
    Nilai ini sejalan dengan sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia. Di meja makan saat hari raya, semua anggota keluarga dan tetangga duduk bersama, menikmati Maksuba yang sama. Tidak ada perbedaan status sosial, usia, atau pekerjaan, semua setara di hadapan hidangan yang disajikan. Inilah kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
    Seperti yang sering diucapkan para ulun tuha (tetua adat): “Pusatken ghik mak ngelapah, sinji ghik mak bejuluk”, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Maksuba adalah cerminan bahwa dalam kebersamaan, ada kekuatan dan kebahagiaan yang manis seperti gula dan halus seperti lapisan telur. Dalam konteks keislaman, kebersamaan ini sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang pentingnya silaturahmi dan berbagi kebahagiaan di hari raya.
    Maksuba juga mengajarkan nilai Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi.

    Dengan menyajikan kue ini untuk tamu dari berbagai latar belakang, kita membuka diri untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan. Ini adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran, sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan yang kita anut.
    Generasi muda Lampung kini mungkin lebih akrab dengan kue-kue modern yang instan, padahal Maksuba menyimpan cerita dan makna yang tak ternilai. Kue ini lahir dari kreativitas dan kesabaran nenek moyang, menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur dalam perayaan keagamaan.
    Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, kita perlu berusaha menjaga warisan kuliner ini agar tidak punah. Mulailah dari hal kecil, buatlah Maksuba di rumah saat hari raya tiba. Ajak anak-anak untuk ikut membuatnya, merasakan proses yang memakan waktu, dan memahami bahwa di balik setiap lapisan ada doa dan syukur yang dipanjatkan.
    Dengan melestarikan Maksuba, kita bukan saja menjaga warisan kuliner, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur: Piil Pesenggiri, keislaman, dan kebangsaan. Kita menjaga identitas sebagai orang Lampung sekaligus memperkuat jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk namun tetap bersatu. Mari kita hidupkan kembali Maksuba di meja-meja makan saat hari raya, karena di situlah keluarga bersatu, rasa syukur terucap, dan warisan leluhur tetap hidup dalam setiap generasi.
    “Segagham ni ghik sebambangan, sai mak gham kenal mak gham sayang”, makanan yang dimasak bersama, yang tidak kita kenal tidak kita sayangi. Mari kenali dan sayangi Maksuba, kue tradisional Lampung yang sarat makna spiritual dan nilai-nilai luhur ini. (*)

    Daftar Pustaka
    1. Radartv.com. (2025). Serupa Tapi Tak Sama: Maksuba vs Lapis Legit.
    2. Tribunlampung.co.id. (2022). 7 Menu Santapan Idul Adha di Nusantara.
    3. Tribun Travel. (2020). 17 Kuliner Khas Idul Adha dari Berbagai Daerah.
    4. Parapuan.co. (2021). Tak Hanya Daging, Ini Masakan Idul Adha yang Khas dari Tiap Daerah.
    5. Journal2.um.ac.id. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti.
    6. Repository.lppm.unila.ac.id. (2021). Draft Buku Monograf Lampung.
    7. Garuda.kemdikbud.go.id. (2011). Upaya Penyelamatan Naskah Kuno Lampung.
    8. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri.
    9. Lemon8. Resep Lapis Legit Lampung Asli Maksuba.
    10. Sadewo, P.A., dkk. (2024). Gastronomy in the Perspective of Local Wisdom of Lampung Community.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Mutiara Pagi: Datanglah ke Masjid sebagai Jamaah, Sebelum Datang sebagai Jenazah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Mutiara Pagi: Datanglah ke Masjid sebagai Jamaah, Sebelum Datang sebagai Jenazah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Ada langkah yang masih mampu memilih ke mana ia akan menuju. Ada kaki yang masih kuat melangkah, ada hati yang masih diberi kesempatan untuk bergetar mendengar panggilan azan.
    Selama nikmat itu masih ada, jangan biarkan ia habis hanya untuk mengejar dunia yang tak pernah selesai.
    Datanglah ke masjid sebagai jamaah, sebelum suatu hari engkau datang sebagai jenazah yang dipikul di atas bahu saudara-saudaramu.
    Betapa jauh perbedaan antara dua kedatangan itu.
    Hari ini engkau datang dengan kedua kakimu sendiri. Engkau masih dapat berwudhu, meluruskan saf, mengangkat kedua tangan bertakbir, lalu bersujud dengan penuh kerendahan di hadapan Rabb semesta alam.
    Malaikat mencatat setiap langkahmu sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat.
    Namun kelak, akan tiba hari ketika engkau kembali ke masjid tanpa mampu lagi melangkah.
    Tubuhmu terbujur kaku, dipikul oleh orang-orang yang dahulu mungkin pernah kau jumpai di jalan menuju masjid.
    Saat itu engkau tidak lagi mendengar azan, tidak lagi mampu mengucapkan takbir, tidak lagi dapat menambah satu rakaat pun sebagai bekal perjalananmu.
    Hari itu, shalat telah selesai bagimu. Yang tersisa hanyalah shalat atasmu.
    Alangkah ruginya seseorang yang berkali-kali mendengar azan, tetapi selalu menundanya. Betapa menyedihkannya hati yang begitu ringan menuju pasar, kantor, kebun, atau tempat hiburan, namun terasa berat melangkah menuju rumah Allah.
    Padahal masjid bukan hanya bangunan yang berdinding bata dan beratap kubah. Ia adalah pelabuhan bagi jiwa yang letih, taman bagi hati yang gersang, dan pintu yang menghubungkan bumi dengan langit. Di sanalah air mata taubat lebih berharga daripada mutiara, dan satu sujud lebih bernilai daripada seluruh kenikmatan dunia.
    Allah Ta’ala berfirman:
    «إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
    “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”
    (QS. At-Taubah: 18).»
    Maka jangan menunggu usia senja untuk menjadi tamu Allah. Jangan menunggu rambut memutih untuk memenuhi saf-saf shalat. Dan jangan menunggu tubuh terbujur kaku untuk kembali ke masjid.
    Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui, apakah azan yang sedang berkumandang hari ini adalah azan terakhir yang masih dapat ia jawab.
    Datanglah ke masjid sebagai jamaah, sebelum engkau datang sebagai jenazah. Sebab orang yang paling berbahagia bukanlah yang paling lama hidup, tetapi yang menggunakan sisa umurnya untuk memperbanyak langkah menuju rumah Allah.
    Ketika akhirnya ia dipanggil pulang, ia telah lebih dahulu mengenal jalan menuju masjid, sehingga mudah baginya menemukan jalan menuju Rabb yang memiliki masjid itu. (*/307).
    WaAllahu A’lam

    _____
    ✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
    ☀️ Shobahul Khair
    📚 Mutiara Pagi

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Pemkab Pesawaran Buka Seleksi Terbuka Enam Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Tahun 2026

    Pemkab Pesawaran Buka Seleksi Terbuka Enam Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Tahun 2026

    nataragung.id – Pesawaran – Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui Panitia Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama membuka kesempatan kepada Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung serta pemerintah kabupaten/kota se-Provinsi Lampung yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Tahun 2026.

    Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama yang akan diisi melalui seleksi terbuka tersebut meliputi:

    Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah;

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;

    Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman;

    Kepala Dinas Sosial;

    Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan; dan

    Kepala Dinas Perhubungan.

    Pendaftaran dan penyampaian berkas lamaran dilaksanakan secara daring mulai 28 Juli sampai dengan 11 Agustus 2026 melalui laman ASN Karier BKN pada alamat asnkarier.bkn.go.id.

    Pelamar wajib memenuhi seluruh persyaratan administrasi dan persyaratan jabatan sebagaimana tercantum dalam pengumuman resmi. Tahapan seleksi meliputi seleksi administrasi dan rekam jejak, uji kompetensi manajerial dan sosial kultural, penulisan makalah, serta wawancara.

    Pelamar hanya diperbolehkan melamar pada satu Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama yang diminati. Seluruh proses seleksi tidak dipungut biaya, kecuali biaya pemeriksaan kesehatan, kejiwaan, bebas narkoba, dan pengurusan SKCK yang menjadi tanggung jawab masing-masing peserta.

    Unduh Dokumen
    Untuk mengetahui persyaratan, tata cara pendaftaran, kelengkapan berkas, serta jadwal pelaksanaan seleksi secara lengkap, calon peserta dapat mengunduh dokumen berikut:

    Pengumuman Seleksi Terbuka JPT Pratama Kabupaten Pesawaran Tahun 2026
    Lampiran 1 – Format Surat Lamaran
    Lampiran 2 – Format Surat Persetujuan Pejabat Pembina Kepegawaian
    Lampiran 3 – Format Daftar Riwayat Hidup
    Lampiran 4 – Format Pakta Integritas
    Lampiran 5 – Format Surat Pernyataan Kesediaan Mengikuti Seluruh Tahapan Seleksi
    Lampiran 6 – Format Surat Pernyataan Tidak Pernah Dijatuhi Hukuman Disiplin
    Silakan klik tautan unduhan yang tersedia pada bagian bawah halaman ini untuk memperoleh dokumen pengumuman dan seluruh lampiran persyaratan.

    Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Sekretariat Panitia Seleksi Terbuka JPT Pratama Kabupaten Pesawaran atau melalui website resmi Pemerintah Kabupaten Pesawaran. Jadwal pelaksanaan dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan keputusan Panitia Seleksi. (*/SMh)

  • Efek Domino Main Hakim Sendiri: Satu Korban, Banyak Kehancuran Perspektif Psikologi Terapan

    Efek Domino Main Hakim Sendiri: Satu Korban, Banyak Kehancuran Perspektif Psikologi Terapan

    Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A.
    Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

    nataragung.id – Metro – Kasus meninggalnya seorang ayah di Bali yang diduga menjadi korban pengeroyokan massa setelah dituduh mencuri ayam kembali menyadarkan publik bahwa aksi main hakim sendiri tidak pernah melahirkan pemenang. Simpati masyarakat mengalir kepada anak-anak korban yang menangis kehilangan ayah, sementara sejumlah pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Fenomena serupa sebelumnya juga terjadi di Bekasi, Tangerang, Sumatera Utara, Lampung, dan berbagai daerah lain, ketika terduga pelaku pencurian dianiaya, bahkan dibakar hidup-hidup oleh massa. Setelah amarah mereda, yang tersisa hanyalah keluarga yang berduka, anak-anak yang kehilangan orang tua, serta pelaku yang harus menjalani hukuman pidana.

    Menurut Perspektif “Ecological Systems Theory”, Urie Bronfenbrenner (1979) menjelaskan bahwa kehidupan manusia berada dalam jejaring hubungan yang saling memengaruhi. Ketika satu individu mengalami tragedi, dampaknya menjalar kepada keluarga, sekolah, lingkungan sosial, bahkan institusi negara. Main hakim sendiri bukan sekadar menghilangkan satu nyawa, tetapi menciptakan efek domino yang menghancurkan banyak kehidupan. Allah Swt. berfirman: “…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8). Ayat tersebut menegaskan bahwa kemarahan tidak boleh mengalahkan keadilan.

    Efek Domino bagi Korban, Pelaku, dan Keluarga.

    Korban utama memang orang yang meninggal atau mengalami luka berat. Namun, dampak psikologis terbesar sering kali justru dialami keluarga yang ditinggalkan. Anak kehilangan figur ayah atau ibu, pasangan kehilangan pendamping hidup, sementara orang tua kehilangan anaknya. Menurut “Attachment Theory” dari John Bowlby (1969), kehilangan figur kelekatan secara mendadak dapat memicu trauma, kecemasan, depresi, bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Efek berikutnya menimpa pelaku pengeroyokan.

    Banyak hasil pemeriksaan kepolisian menunjukkan bahwa sebagian pelaku mengaku “ikut-ikutan”, “terbawa emosi”, atau “tidak menyangka korban meninggal”. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, muncul penyesalan yang mendalam. Kondisi tersebut sejalan dengan teori “Cognitive Dissonance” dari Leon Festinger, yaitu konflik batin yang muncul ketika seseorang menyadari bahwa tindakan yang dilakukan bertentangan dengan nilai moral yang selama ini diyakininya. Keluarga pelaku pun tidak luput dari penderitaan. Anak kehilangan kehadiran ayah karena harus menjalani hukuman penjara, istri memikul beban ekonomi, sementara stigma sosial melekat pada seluruh anggota keluarga. Tragedi yang semula berawal dari satu dugaan tindak pidana akhirnya melahirkan korban-korban baru yang sama sekali tidak terlibat.

    Main Hakim sendiri Versus Kepercayaan pada Hukum.

    Efek domino berikutnya menjangkau masyarakat luas. Anak-anak yang menyaksikan pengeroyokan dapat belajar bahwa kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah. Menurut “Social Learning Theory”, Albert Bandura (1977), perilaku agresif dapat dipelajari melalui proses mengamati dan meniru. Kekerasan yang dilakukan secara beramai-ramai berpotensi menjadi contoh negatif bagi generasi muda apabila terus berulang. Main hakim sendiri juga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum. Sebagian warga menganggap proses hukum terlalu lambat sehingga memilih menghukum sendiri.

    Padahal, semakin sering masyarakat mengambil alih fungsi penegakan hukum, semakin lemah pula legitimasi negara di mata publik. Menurut “Procedural Justice Theory” dari Tom R. Tyler (1990), kepatuhan masyarakat terhadap hukum sangat dipengaruhi oleh kepercayaan bahwa proses hukum berjalan adil, transparan, dan dapat dipercaya. Islam memberikan peringatan agar kemarahan tidak berubah menjadi kezaliman. Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kekuatan sejati terletak pada pengendalian diri, bukan pada pelampiasan amarah.

    Akhirnya penting untuk dipahami bahwa main hakim sendiri tidak pernah berhenti pada satu korban. Satu orang kehilangan nyawa, seorang anak kehilangan ayah, seorang istri kehilangan suami, orang tua kehilangan anak, pelaku kehilangan kebebasan, keluarga pelaku kehilangan ketenangan, saksi membawa beban psikologis, dan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap hukum. Itulah efek domino yang sering luput dari perhatian. Psikologi terapan mengajarkan bahwa kemarahan yang tidak dikelola akan melahirkan kekerasan, sedangkan keadilan yang diserahkan kepada mekanisme hukum akan melahirkan ketertiban sosial. Upaya pencegahan harus dilakukan melalui penguatan literasi hukum, pendidikan regulasi emosi, peningkatan kepercayaan terhadap aparat penegak hukum, serta pembinaan karakter yang menanamkan penghormatan terhadap martabat manusia. Sebab, masyarakat yang beradab bukanlah masyarakat yang paling cepat menghukum, melainkan masyarakat yang paling mampu menahan amarah demi tegaknya keadilan dan kemanusiaan. (*)

  • Pemkab Lampung Selatan Matangkan Paperahan 2026, Tradisi Sedekah Bumi Sumur Kumbang Bersiap Jadi Ikon Wisata Budaya

    Pemkab Lampung Selatan Matangkan Paperahan 2026, Tradisi Sedekah Bumi Sumur Kumbang Bersiap Jadi Ikon Wisata Budaya

    nataragung.id – Kalianda  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus mematangkan persiapan pelaksanaan Paperahan atau Sedekah Bumi yang digelar berlangsung pada Jumat, 31 Juli 2026, di Desa Sumur Kumbang, Kalianda.

    Tradisi adat yang menjadi warisan budaya masyarakat tersebut dipersiapkan tidak hanya sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga sebagai upaya memperkuat identitas budaya sekaligus mengembangkan potensi pariwisata daerah.

    Pemantapan pelaksanaan kegiatan dibahas dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas, Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, Selasa (28/7/2026).

    Rapat dipimpin Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kabupaten Lampung Selatan, Anasrullah, serta dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan I Nyoman Setiawan, Kepala Desa Sumur Kumbang Armad, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan panitia pelaksana.

    Mengusung tema “Amparan Syukur di Kaki Gunung Rajabasa”, Paperahan tahun ini diharapkan mampu berkembang menjadi agenda budaya unggulan yang memiliki daya tarik wisata, tanpa mengurangi nilai sakral dan keaslian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

    Dalam arahannya, Anasrullah menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan upaya memperkenalkan potensi wisata daerah. Menurutnya, Paperahan memiliki peluang besar untuk menjadi atraksi budaya yang dikenal lebih luas jika dikemas secara menarik, namun tetap mempertahankan autentisitasnya.

    “Kalau bisa dijadikan objek wisata. Ke depan bukan sekadar menjalankan tradisi seperti biasa, tapi dibuat lebih berwarna. Nilai sakralnya tetap ada, nilai jualnya juga ada. Dikemas agar masyarakat luar mengenal Paperahan. Namun, jangan sampai autentiknya hilang dan nilai aslinya memudar,” ujar Anasrullah.


    Sementara itu, Kepala Desa Sumur Kumbang, Armad, menyampaikan bahwa pelaksanaan Sedekah Bumi tahun ini akan menghadirkan sejumlah prosesi baru yang memperkuat nilai budaya sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi dan tamu yang hadir.

    Armad menjelaskan, Bupati Lampung Selatan direncanakan akan disambut melalui arak-arakan dari pintu masuk desa, kemudian dikalungi sarung dan dikenakan peci oleh tokoh adat atau pewaris budaya sebagai simbol penghormatan terhadap pemimpin daerah sekaligus bentuk penghargaan terhadap tradisi lokal.

    “Selanjutnya, rombongan akan disambut dengan hasil bumi masyarakat yang diarak dalam parade hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas keberkahan alam. Rangkaian kegiatan yang dimulai sejak pagi hari itu juga akan diisi dengan pembacaan sejarah Paperahan guna memperkenalkan tradisi asal-usul kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.

    Selain itu, sebagai wujud komitmen menjaga kelestarian lingkungan di kawasan kaki Gunung Rajabasa, kegiatan juga akan dirangkaikan dengan penanaman pohon. Bibit pohon akan diserahkan oleh Bupati kepada para sesepuh, kemudian diteruskan kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Proses tersebut menjadi simbol pesan lintas generasi untuk terus menjaga dan merawat alam.

    Melalui berbagai inovasi yang disiapkan, Pemkab Lampung Selatan berharap Paperahan atau Sedekah Bumi tidak hanya menjadi tradisi tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi, tetapi juga berkembang menjadi ikon wisata budaya Kabupaten Lampung Selatan yang mampu menarik minat masyarakat luas, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai adat yang menjadi jati diri masyarakat Desa Sumur Kumbang. (mara-kmf)

  • Pemkab Lampung Selatan Hadirkan Kembali DAMRI di Kalianda, Rute Langsung ke Jakarta-Bandung-BSD Ditargetkan Beroperasi September 2026

    Pemkab Lampung Selatan Hadirkan Kembali DAMRI di Kalianda, Rute Langsung ke Jakarta-Bandung-BSD Ditargetkan Beroperasi September 2026

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus memperkuat sinergi dengan Perusahaan Umum (Perum) DAMRI guna menghadirkan kembali layanan transportasi Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di wilayah Kalianda.

    Rencananya, layanan bus DAMRI dengan trayek Kalianda-Jakarta, Kalianda-Bandung, dan Kalianda-BSD akan mulai beroperasi paling lambat pada September 2026 mendatang.

    Rencana tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi antara Pemkab Lampung Selatan dan jajaran Perum DAMRI Cabang Lampung yang dipimpin Asisten Administrasi Umum (Adum) Edy Firnandi, di Ruang Rapat Asisten Adum Setdakab Lampung Selatan, Selasa (28/7/2026).

    Rapat tersebut dihadiri General Manager Perum DAMRI Cabang Lampung, Resta Mahardika beserta jajaran, Staf Ahli Bupati Bidang Keuangan Wahidin Amin, Pelaksana tugas Kepala Dinas Perhubungan Lampung Selatan Djuanda, serta sejumlah perangkat daerah terkait.

    General Manager Perum DAMRI Cabang Lampung, Resta Mahardika, menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan layanan komersial tersebut sudah dapat beroperasi paling lambat pada September 2026.

    Menurut Resta, hasil survei lapangan yang dilakukan bersama pemerintah daerah telah mengidentifikasi lokasi yang diproyeksikan menjadi titik pick up dan drop point penumpang di Kalianda.

    “Insyaallah paling lambat bulan September layanan komersial sudah bisa kita mulai. Lokasi yang telah disurvei berada di aset milik pemerintah daerah yang nantinya akan menjadi titik naik dan turun penumpang sekaligus mendukung pelayanan DAMRI di Lampung Selatan,” ujar Resta.

    Pada tahap awal, layanan AKAP yang disiapkan akan melayani rute menuju Jakarta, Bandung hingga BSD dengan armada Executive maupun Royal Class guna memberikan kenyamanan bagi masyarakat pengguna jasa transportasi.

    Selain layanan komersial, DAMRI juga menawarkan peluang pengembangan angkutan perintis dan angkutan melalui kolaborasi bersama Pemkab Lampung Selatan, Dinas Perhubungan, Balai Pengelola Transportasi Darat, serta Kementerian Perhubungan.


    Restoran menilai Lampung Selatan memiliki potensi pariwisata yang besar sehingga membutuhkan dukungan sistem transportasi yang semakin terintegrasi dan mudah diakses.

    “Potensi wisata di Lampung Selatan sangat besar. Kami berharap ke depan tidak hanya layanan komersial yang berjalan, tetapi juga angkutan perintis dan angkutan pariwisata sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” kata Resta.

    Dalam rapat tersebut, juga dibahas sejumlah alternatif lokasi pelayanan DAMRI, antara lain kawasan Mal Pelayanan Publik (MPP), Kebun Edukasi, Terminal Kalianda, dan kawasan Gedung Olahraga Way Handak (GWH) Kalianda.

    Berdasarkan hasil survei awal, kawasan di depan MPP dinilai sebagai lokasi yang paling strategis untuk menjadi pusat layanan DAMRI karena mampu mendukung pengembangan layanan komersial, angkutan perintis, hingga angkutan pariwisata secara terintegrasi.

    Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Setdakab Lampung Selatan, Edy Firnandi, menegaskan bahwa rencana menghadirkan kembali layanan DAMRI merupakan tindak lanjut Arah Bupati Lampung Selatan sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan aksesibilitas transportasi masyarakat.

    Menurut Edy, selama ini masyarakat Lampung Selatan yang ingin menggunakan layanan DAMRI menuju Jakarta maupun kota-kota lain di Pulau Jawa masih harus berangkat ke Bakauheni terlebih dahulu. Kondisi tersebut dinilai kurang efektif dan sering menjadi keluhan masyarakat.

    “Harapan masyarakat besar agar DAMRI kembali hadir di Lampung Selatan. Kehadiran layanan ini nantinya akan memudahkan masyarakat dalam mengakses transportasi antarkota tanpa harus menuju Bakauheni terlebih dahulu,” ujar Edy.

    Edy juga menegaskan kesiapan Pemkab Lampung Selatan untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan yang diperlukan guna merealisasikan kerja sama tersebut, termasuk menyiapkan skema pemanfaatan aset daerah sesuai ketentuan yang berlaku.

    “Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan DAMRI. Nanti bentuk kerja sama dan pemanfaatan aset daerah akan dibahas lebih lanjut agar seluruh proses berjalan sesuai regulasi,” katanya.

    Melalui kolaborasi tersebut, Pemkab Lampung Selatan berharap layanan DAMRI dapat kembali hadir dan menjadi solusi transportasi yang lebih mudah menjangkau masyarakat. Kehadiran layanan ini juga diharapkan mampu meningkatkan konektivitas wilayah, memperkuat sektor pariwisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (mara-kmf)

  • Tingkatkan Kualitas Hidup Penyandang Disabilitas, Pemprov Lampung Salurkan Bantuan Kaki Palsu kepada 20 Penerima Manfaat

    Tingkatkan Kualitas Hidup Penyandang Disabilitas, Pemprov Lampung Salurkan Bantuan Kaki Palsu kepada 20 Penerima Manfaat

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Sosial menyerahkan bantuan kaki palsu kepada penyandang disabilitas sebagai upaya meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup mereka.Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Mirza, di Mahan Agung, Senin (27/7/2026).

    Sebanyak 20 penyandang disabilitas menerima bantuan kaki palsu pada kesempatan tersebut, terdiri atas 13 laki-laki dan 7 perempuan yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

    Dalam kesempatan tersebut, Batin Wulan menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian Pemerintah Provinsi Lampung dalam memastikan penyandang disabilitas memperoleh hak yang sama untuk hidup mandiri, produktif, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

    Ia mengatakan, meskipun kondisi fiskal daerah menghadapi berbagai tantangan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal tetap menempatkan pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas sebagai salah satu prioritas pemerintah daerah.

    “Pemberian bantuan ini merupakan bentuk dukungan, perhatian, dan kasih sayang Pemerintah Provinsi Lampung agar Bapak dan Ibu semua memperoleh hak yang sama untuk dapat beraktivitas dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri,” ujar Batin Wulan.

    Menurutnya, bantuan kaki palsu tidak hanya menjadi alat bantu mobilitas, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan harapan baru bagi para penerima manfaat untuk kembali bekerja, beraktivitas, bersosialisasi, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih percaya diri.

    “Insyaallah mulai malam ini Bapak Ibu semua sudah dapat beraktivitas sebagaimana mestinya. Yang sebelumnya mungkin masih membutuhkan bantuan keluarga, dengan kaki palsu ini semoga aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah,” katanya.

    Batin Wulan juga memberikan semangat kepada para penerima manfaat agar tetap bersabar, bersyukur, dan tidak menyerah menghadapi keterbatasan. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

    Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Lampung akan terus mendorong Dinas Sosial menghadirkan pelayanan yang inklusif melalui penyediaan berbagai alat bantu bagi penyandang disabilitas, seperti kursi roda, alat bantu dengar, tangan palsu, kaki palsu, serta berbagai alat bantu lainnya sesuai kebutuhan.

    Salah seorang penerima bantuan menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Provinsi Lampung. Menurutnya, bantuan kaki palsu tersebut menjadi penyemangat untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

    “Saya mewakili penyandang disabilitas daksa mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur atas bantuan kaki palsu ini. Insyaallah bantuan ini menjadi penyemangat baru bagi kami untuk kembali beraktivitas sebagaimana mestinya,” ungkapnya.

    Melalui program ini, Pemerintah Provinsi Lampung berharap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk hidup lebih mandiri, produktif, dan sejahtera, sekaligus memperoleh akses yang setara terhadap pelayanan sosial sebagai bagian dari pembangunan yang inklusif. (*/SMh)

  • Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Seri Islam dalam Kehidupan Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Seri Islam dalam Kehidupan Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, ananda sekalian. Izinkanlah seorang tua ini bercerita di beranda yang sederhana, ditemani angin senja yang berbisik di antara dedaunan. Kita akan menyusuri jejak-jejak lama yang masih membekas di tanah Lampung tercinta, merawatnya agar tak lapuk ditelan zaman.
    Dahulu kala, ketika kerajaan Sekala Bekhak masih berdiri megah di kaki Gunung Pesagi, para leluhur kami sering berkumpul di bawah pohon beringin besar di tepian Way Sekampung. Di kampung-kampung seperti Gunung Sugih, Natar, dan Tegineneng, setiap senja selalu diisi dengan cerita tentang Buay, klan keluarga, dan bagaimana para leluhur berlayar menyusuri sungai mencari tanah baru. Saya masih ingat pesan nenek saya, “Nak, kenalilah dari mana kau berasal, karena di situlah kau akan tahu ke mana kau akan melangkah.”

    Di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai ini, ada dua aliran besar yang mengalir, dua jurai yang menghidupi. Ada Pepadun, mereka yang mendiami daratan dengan singgasana adatnya yang kokoh, dan Saibatin, penghuni pesisir dengan kepemimpinan yang diwariskan secara turun-temurun. Perbedaan itu bagaikan pasang dan surut di lautan, dua hal yang tak bisa dipisahkan dan justru membuat tanah Lampung subur dengan kearifan. Semua hidup rukun, diikat oleh falsafah yang sama, yang kami sebut Piil Pesenggiri.
    Namun, ananda sekalian, akhir-akhir ini hati saya resah. Banyak generasi muda yang sudah tak hafal lagi marga keluarganya sendiri, apalagi silsilah leluhurnya. Mereka mungkin cakap mengoperasikan gawai, tetapi lupa bagaimana memberi salam adat yang benar ketika bertemu Punyimbang, tokoh adat yang dihormati dan mewarisi kepemimpinan berdasarkan garis keturunan. Inilah yang kita sebut sebagai gejala kehilangan akar. Padahal, mengenal akar budaya adalah upaya untuk meneguhkan identitas di tengah arus globalisasi yang deras.
    Mari kita dengarkan sebuah kisah. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi pegangan para tetua adat dalam menjalankan kebijaksanaan, tersurat ajaran agung. Ada ungkapan yang berbunyi, “Cawa sepuluh sudi cukup, Muli meranai lamon sai ranta sapun, Raji ni sabar, Anak buwoh maka kakira”. Kurang lebih artinya, untuk mencapai ketenteraman kampung, cukuplah berbicara sepuluh kata yang bermakna; para pemuda pemudi harus santun; pemimpinnya sabar; dan rakyatnya berhati-hati. Inilah nilai yang mengajarkan bahwa kekayaan budaya bukan sekadar seremonial, melainkan perekat sosial yang kuat.
    Saya teringat sebuah cerita yang sering dituturkan oleh Dalom Putekha Jaya Makhga tentang Sumpah Uppu-Tuyuk, sebuah ikrar perdamaian abadi antara Buay Beliuk dan Pubian Bukuk Jadi. Konon, ritualnya dilakukan .dengan melemparkan batu besar ke lubuk ..sungai Way Sekampung. Batu yang tenggelam melambangkan .janji yang takkan pernah diingkari; sungai yang ,mengalir melambangkan kehidupan yang terus berkesinambungan. Ini adalah wujud nyata dari Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan yang menjadi fondasi kerukunan antar kelompok. Sumpah perdamaian antar .marga adalah manifestasi dari ajakan untuk saling ,,mengenal, bukan saling membenci.
    Nilai-nilai luhur inilah yang kemudian kami jaga dan selaraskan dengan ajaran suci yang kami imani.

    Sebagai orang Lampung yang beriman, kami percaya bahwa adat dan syarak bagaikan dua sisi mata uang. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13,
    يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
    Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja’alnaakum shu’uubanw wa qabaaa’ila lita’aarafuu inna akramakum ‘indal laahi atqookum innal laaha ‘Aliimun khabiir
    “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
    Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa”. Ayat ini, yang turun untuk mengajarkan persamaan derajat, selaras sekali dengan semangat Sakai Sambayan dan Nengah Nyappur. Ajaran ini menegaskan bahwa harga diri (Pesenggiri) bukanlah untuk saling meninggikan diri, tetapi untuk saling memuliakan karena ketakwaan.

    Selaras pula dengan Pancasila, ananda. Sakai Sambayan, semangat gotong-royong, mencerminkan sila ketiga dan kelima, Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial. Nemui Nyimah yang mengajarkan keramahan adalah perwujudan dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Begitulah, adat Lampung mengalir seirama dengan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.
    Tidak ada satu pun upacara adat kami yang bertentangan dengan syariat. Ambil contoh Upacara Begawi atau Cakak Pepadun, penobatan gelar kehormatan (Juluk-Adok). Di dalamnya terkandung nilai keikhlasan, tolong-menolong, dan ajakan kepada kebaikan yang merupakan inti dari dakwah Islam. Tidak ada unsur kemusyrikan, yang ada hanyalah penghormatan kepada leluhur dan penguatan ikatan sosial. Ini semua adalah perwujudan dari Piil Pesenggiri itu sendiri.
    Maka, merawat jejak hidup Lampung adalah tugas kita semua.

    Kita bisa memulainya dari hal kecil: mengajak anak-anak bercerita tentang asal-usul keluarga, mengunjungi makam leluhur, atau sekadar mengenalkan lagu-lagu daerah dan tarian Cangget yang sarat makna.
    Jangan biarkan mereka menjadi generasi yang keblinger, tidak mengenal dirinya sendiri. Dengan mengenal dan mencintai nilai-nilai budaya sendiri, mereka akan memiliki benteng kokoh untuk menghadapi segala tantangan zaman. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki Pesenggiri, hormat pada Juluk-Adok, santun dalam Nemui Nyimah, terbuka dalam Nengah Nyappur, dan solider dalam Sakai Sambayan.
    Saya tutup dengan petuah: “Hilangnya ingatan tentang leluhur adalah musnahnya peradaban. Ajarilah anak-anakmu, karena mereka adalah pewaris marwah kita”.

    Semoga jejak hidup Lampung tetap terawat, dan generasi mendatang tak pernah kehilangan arah untuk pulang ke rumah budayanya.
    Tabik pun, semoga tulisan ini bermanfaat. (*)

    Daftar Pustaka
    1. Bahagianda, M.M. (2026). Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Menjadi Generasi yang Tidak Kehilangan Akar. Portal Berita Natar Agung.
    2. Bahagianda, M.M. (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Sejarah Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung [Buku].
    3. Direktorat Jenderal Kebudayaan. (1992). Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Lampung. Repositori Kemdikbud.
    4. Riadi, B. (2023). The Values of Local Wisdom in Lampung Folklore: A Piil Pesenggiri Perspective. Uluslararası Kıbrıs Üniversitesi.
    5. NU Online. (2021). Mengenal Sai Bumi Ruwa Jurai, Moto Provinsi Lampung.
    6. Bahagianda, M.M. (2025). Raja Terakhir Sekala Bekhak. Hatipena.
    7. Raafita, D. (2022). Analisis Nilai-Nilai Dakwah Dan Komunikasi Islam Dalam Tradisi Begawi Cakak Pepadun. IAIN Metro Repository.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.