nataragung.id – KALIANDA – Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita disuguhi pidato, tema, dan semangat membangun generasi cerdas. Namun, satu pertanyaan mendasar terus bergaung di benak saya: masihkah buku menjadi teman bagi anak-anak dan masyarakat Lampung Selatan? Atau buku kini hanya simbol pendidikan, bukan bagian dari keseharian?
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak memang bisa membaca, tapi tak memahami apa yang dibaca. Banyak pula orang dewasa yang aktif di media sosial, namun tak mampu membedakan informasi dan disinformasi. Inilah paradoks literasi kita hari ini: bisa membaca, tapi belum tentu literat.
Literasi yang Tak Lagi Didekati
Di banyak desa dan kecamatan, buku bacaan sulit ditemukan. Perpustakaan desa kalau pun ada, sepi pengunjung dan minim koleksi. Guru-guru kita bekerja keras, tapi terbatas oleh kurikulum yang belum memberi ruang kreatif untuk mengembangkan minat baca. Orang tua, sibuk memenuhi kebutuhan harian, belum banyak yang menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari pola pengasuhan.
Ini bukan soal kurang dana semata. Ini soal orientasi: apakah kita benar-benar menjadikan literasi sebagai kebutuhan budaya, atau hanya program kerja?
Menghidupkan Literasi di Tengah Keseharian
Saya percaya bahwa solusi literasi tidak selalu harus mahal. Kita bisa memulainya dari warung kopi yang jadi tempat berkumpul pemuda, dari pengajian ibu-ibu yang bisa disisipi pojok baca, dari majelis taklim yang mengulas bukan hanya ayat, tapi juga nilai-nilai kehidupan yang tertuang dalam bacaan populer maupun lokal.
Kita bisa ajak anak-anak untuk bercerita kembali apa yang mereka baca, bukan sekadar mengisi lembar soal pilihan ganda. Kita bisa galakkan lomba menulis cerita kampung, membuat podcast lokal, atau menulis catatan harian yang dikumpulkan di rumah baca sederhana.
Kebijakan Harus Menyentuh Komunitas
Pemerintah daerah punya peran kunci. Literasi tidak bisa hanya diletakkan dalam program Dinas Pendidikan. Harus masuk dalam skema pembangunan desa, kegiatan pemuda, PKK, bahkan musrenbang. Harus ada dukungan lintas sektor: dari perusahaan lokal, BUMDes, hingga lembaga zakat dan CSR swasta.
Yang lebih penting: jangan hanya menyiapkan fasilitas, tapi juga pendampingan. Kita butuh fasilitator literasi yang paham konteks lokal, bukan sekadar pengiriman buku.
Optimisme yang Perlu Dirawat
Meski masih banyak tantangan, saya tetap percaya Lampung Selatan tidak kekurangan semangat. Saya melihat pemuda-pemuda desa mulai membuka ruang baca, para guru muda mulai aktif membuat konten edukatif, dan sebagian komunitas warga mulai menyadari pentingnya membaca.
Ini adalah benih yang harus kita sirami bersama. Literasi bukan semata angka statistik, tapi soal membentuk cara berpikir, membangun karakter, dan membekali masyarakat menghadapi masa depan yang tak pasti.
Penutup: Kembali ke Buku, Kembali ke Makna
Kalau kita ingin Lampung Selatan menjadi daerah yang tumbuh dengan kecerdasan kolektif, maka kita harus mulai dari literasi. Kita harus kembalikan buku sebagai sahabat hidup, bukan sekadar hiasan di rak.
Bukan berarti kita harus menolak gawai atau teknologi. Justru kita perlu memastikan bahwa teknologi digunakan untuk mendekatkan diri pada bacaan bermakna, bukan menjauh dari makna itu sendiri.
Karena ketika buku tak lagi jadi teman, kita kehilangan pegangan dalam berpikir. Tapi ketika literasi hidup kembali, harapan pun menyala — pelan, pasti, dan mengakar.
*). Penulis adalah
1. ASN Pemkab Lampung Selatan.
2. Pemerhati Masalah Sosial.
3. Purna Pramuka Jambore Dunia 1991.

