Bulan: Juli 2025

  • Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku – 2. Asal-usul Way Beliuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku – 2. Asal-usul Way Beliuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, di suatu masa jauh sebelum manusia mengenal batas desa dan nama-nama wilayah, terdapat sebuah lembah hijau nan subur yang dialiri oleh sebuah sungai yang tidak pernah kering. Sungai itu bukan sungai biasa. Ia dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Way Beliuk, atau “Sungai yang Berliku”, karena alirannya seperti tubuh ular naga yang meliuk tenang di antara hutan dan bukit.

    Di tepi Way Beliuk, berdiri sebuah kampung tua bernama Tiyuh Keniangan, dipimpin oleh seorang penyimbang perempuan bijaksana bernama Induk Kiya Semah. Ia tidak hanya dihormati karena garis keturunannya, tetapi karena kemampuannya berkomunikasi dengan alam dan roh leluhur.

    Suatu hari, sungai itu tiba-tiba mengering. Semua warga panik. Ikan mati, sawah kering, dan air sumur pun mulai asin. Induk Kiya pun bermeditasi di atas batu besar yang berada di tengah sungai. Ia bermunajat kepada roh sungai, meminta petunjuk. Dalam kesunyian, terdengar suara lirih dari batu besar itu: “Manusia telah melupakan ikatan mereka dengan adat. Mereka memotong pohon tanpa izin, menambang pasir tanpa syarat, dan berdebat tanpa musyawarah. Way Beliuk menangis, bukan karena kering, tapi karena kehilangan makna.”

    Saat Induk Kiya meneteskan air mata di atas batu itu, tiba-tiba langit mendung. Hujan turun deras, dan Way Beliuk kembali mengalir deras, membawa bau harum bunga dan getah hutan. Batu itu kemudian disebut Batu Tangisan, dan menjadi tempat suci yang dikunjungi setiap musim panen, sebagai lambang penyatuan antara manusia, alam, dan adat.

    Cerita ini terus hidup dari generasi ke generasi. Way Beliuk bukan sekadar sungai, tetapi sumbu spiritual dan budaya masyarakatnya. Di sanalah pusat segala kebijakan adat, tempat berkumpulnya penyimbang, dan ruang sakral untuk memutuskan nasib kampung.

    Way Beliuk secara geografis berada di wilayah yang kini termasuk dalam kawasan Lampung Tengah dan sebagian Lampung Barat. Wilayah ini memiliki karakteristik bentang alam yang terdiri dari:
    * Perbukitan dengan hutan tropis
    * Aliran sungai utama Way Beliuk yang bercabang ke anak sungai
    * Lembah subur yang cocok untuk pertanian dan perladangan

    Nama “Way Beliuk” diambil dari bahasa Lampung:
    * Way: artinya sungai
    * Beliuk: artinya berliku-liku, tidak lurus tetapi tetap menuju satu arah
    Filosofi dari nama ini mencerminkan jalan hidup masyarakatnya yang penuh tantangan, tidak selalu lurus, tetapi selalu kembali kepada satu tujuan: adat, kebersamaan, dan spiritualitas.

    Masyarakat Way Beliuk mengenal struktur sosial berdasarkan:
    * Tiyuh (kampung adat)
    * Buay (kelompok kekerabatan)
    * Suku
    * Penyimbang (pemimpin adat)

    Setiap penyimbang memimpin berdasarkan kesepakatan dan garis keturunan, namun harus melalui proses cakak pepadun, yaitu pengukuhan adat secara resmi. Mereka yang menjadi penyimbang bukan hanya orang tua atau kaya, tetapi mereka yang mengerti nilai adat, mampu bicara dalam forum, dan berlaku adil.

    Nilai-nilai Sosial dan Budaya
    * Musyawarah Mufakat: Setiap keputusan besar, seperti pemilihan tanah ulayat, pernikahan antar suku, atau penyelesaian sengketa, diambil melalui forum adat yang disebut buwai.
    * Gotong Royong: Kegiatan seperti menanam padi, mendirikan rumah, atau acara kematian dilakukan bersama-sama dengan sistem “ngai-ngai” atau saling bantu.
    * Pelestarian Bahasa dan Simbol Adat: Bahasa Lampung dialek Way Beliuk digunakan dalam acara adat, dengan simbol-simbol adat seperti tumpal, siger, dan tapis yang menjadi lambang identitas.

    Makna filosofis Way Beliuk adalah keteguhan dalam fleksibilitas. Dalam hidup, manusia tidak akan selalu lurus jalannya. Ada saatnya harus belok, mengalah, menunggu. Tapi seperti Way Beliuk, selama arah hidup masih menuju nilai-nilai adat dan moral, maka dia tetap “berjalan lurus” secara prinsip.

    Kisah Batu Tangisan mengajarkan bahwa kerusakan alam adalah cermin dari kerusakan moral manusia. Maka dalam adat Way Beliuk, dilarang menebang pohon sembarangan, menangkap ikan dengan racun, atau berburu hewan hutan saat masa bertelur.

    Setiap tahun, masyarakat Way Beliuk melakukan ritual yang disebut “Mapak Way”, yaitu membersihkan tujuh titik sungai dan empat mata air keramat sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Ritual ini melibatkan:
    * Pembacaan doa adat oleh penyimbang
    * Sesaji dari hasil bumi
    * Larangan memakai logam atau benda elektronik saat upacara

    Spiritualitas Way Beliuk tidak memisahkan agama dan adat. Mereka percaya bahwa roh leluhur menjaga kampung melalui alam. Oleh karena itu, pohon tua, batu besar, dan simpang tiga sering diberi tanda dan tidak boleh sembarangan dirusak.

    Banyak anak muda Way Beliuk yang kini tinggal di kota. Mereka perlahan melupakan bahasa ibu, cara duduk dalam musyawarah, dan arti dari baju adat yang mereka kenakan saat festival. Namun masih ada harapan:
    * Sekolah adat mulai dibentuk
    * Festival Way Beliuk digelar setiap tahun
    * Media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai adat

    Beberapa penyimbang muda kini menggagas konsep ekowisata adat, di mana wisatawan datang untuk melihat:
    * Upacara adat Way Beliuk
    * Kerajinan tapis dan tenun
    * Ritual spiritual di Batu Tangisan
    Dengan cara ini, adat tidak hanya dilestarikan, tapi juga memberi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
    Way Beliuk bukan sekadar wilayah, melainkan pusat nilai hidup masyarakatnya. Dalam kelokan sungainya tersimpan cerita tentang kearifan, dalam hijaunya hutan terpatri moral leluhur, dan dalam kisah Batu Tangisan ada pesan bahwa manusia, adat, dan alam tidak dapat dipisahkan.

    Ketika dunia bergerak cepat, Way Beliuk mengajarkan bahwa melambat bukan berarti mundur. Berliku bukan berarti sesat. Selama arah hidup tetap menuju kebenaran adat, maka masyarakat akan tetap memiliki arah, jati diri, dan harga diri. (*)

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Langkah di Jalan-Nya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Langkah di Jalan-Nya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Natar – Setiap langkah yang kita ayunkan di jalan kebenaran, meski berat, meski sunyi, meski kita tak tahu ke mana akan berlabuh, ketahuilah ada langit yang menyaksikan, ada bumi yang siap terbuka luas menyambut perjuangan kita.

    “ومن يُهاجرْ في سبيل الله يجدْ في الأرض مراغماً كثيراً وسعة”

    “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak.” (QS Annisa’ : 100)

    Maka jangan pernah kita ragu melangkah dalam kebaikan,
    jangan pernah takut meninggalkan zona nyaman demi panggilan iman.

    Karena setiap langkah kita menuju cahaya, telah dijanjikan kelapangan bersamanya oleh Sang Maha Pengasih.

    Tak ada jejak yang sia-sia di jalan Allah,
    tak ada pengorbanan yang luput dari perhatian-Nya.
    Mari kita melangkahkan kaki dengan niat yang lurus, dan menyaksikan bagaimana sempitnya hidup berganti menjadi keluasan yang menenangkan jiwa.

    Jangan pernah takut memulai, karena Allah telah menjanjikan di setiap langkah kita dalam kebenaran, ada keluasan yang senantiasa menanti. (29).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Perempuan Pengusaha Bergerak. IWAPI dan Pemkab Lampung Selatan Satukan Kekuatan Bangkitkan UMKM

    Perempuan Pengusaha Bergerak. IWAPI dan Pemkab Lampung Selatan Satukan Kekuatan Bangkitkan UMKM

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Permkab) Lampung Selatan menyatakan kesiapannya untuk memperkuat sinergi dengan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) dalam mendorong pertumbuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya yang digerakkan oleh perempuan.

    Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, saat menghadiri acara silaturahmi IWAPI Provinsi Lampung yang digelar di Senaya Beach, Kalianda, Selasa (29/7/2025).

    Acara yang diselenggarakan oleh IWAPI Kabupaten Lampung Selatan tersebut, turut dihadiri pula Ketua IWAPI Provinsi Lampung, Armalia Reny Madrie, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi pengusaha perempuan dan pemerintah daerah.

    “IWAPI memiliki mayoritas anggota dari pelaku UMKM, yakni sebesar 80%. Sisanya 13% adalah pengusaha menengah, dan 2% pengusaha besar,” ungkap Armalia.

    Armalia juga mengajak Pemkab Lampung Selatan untuk membuka ruang kolaborasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan pelaku usaha.

    “Kami berharap UMKM di Lampung Selatan dapat diikutsertakan dalam pelatihan, perizinan usaha, hingga sertifikasi halal produk,” ujar Armalia.

    Menanggapi hal tersebut, Sekda Supriyanto menyampaikan apresiasi atas peran IWAPI dalam mendorong ekonomi daerah. Ia menyebut Kabupaten Lampung Selatan memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, pariwisata, serta industri kecil dan menengah yang perlu didorong melalui kemitraan yang kuat.

    “Namun potensi ini tidak akan berkembang maksimal tanpa peran aktif pelaku usaha, khususnya perempuan. Pemerintah siap bekerja sama dalam pelatihan, fasilitasi, dan promosi produk usaha,” tegasnya.

    Ia juga menilai kegiatan seperti ini mampu memperkuat sinergi antarwilayah sebagai kekuatan dalam menggerakkan roda ekonomi.

    “Selamat bersilaturahmi, berdiskusi, dan saling menginspirasi. Semoga dari pertemuan ini lahir ide-ide cemerlang, kerja sama yang produktif, dan semangat baru untuk terus berkarya demi kemajuan bersama,” tutup Supriyanto.

    Acara silaturahmi ini juga menjadi ruang berbagi inspirasi dan penguatan jaringan antaranggota IWAPI se-Provinsi Lampung. (mara)

  • Bawa Semangat Perubahan dan Rumah Keadilan. Kepemimpinan Kejari Lamsel Berubah, Suci Wijayanti Gantikan Afni Carolina

    Bawa Semangat Perubahan dan Rumah Keadilan. Kepemimpinan Kejari Lamsel Berubah, Suci Wijayanti Gantikan Afni Carolina

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menggelar acara pisah sambut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lampung Selatan dari Afni Carolina, S.H., M.H., kepada penggantinya, Suci Wijayanti, S.H., M.Kn., di Aula Sebuku, rumah dinas bupati setempat, Senin malam (28/7/2025).

    Acara berlangsung khidmat dan penuh kehangatan, dihadiri langsung oleh Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, Staf Ahli Bupati, para Asisten Setda, kepala perangkat daerah, para camat, TP PKK, Dharma Wanita, tokoh adat Sai Batin Lima Marga, serta undangan lainnya.

    Dalam sambutannya, Bupati Egi memberikan apresiasi tinggi atas kinerja Afni Carolina selama hampir dua tahun menjabat sebagai Kajari. Ia menyebut Afni sebagai sosok perempuan tangguh dan mitra kerja strategis dalam pembangunan hukum.

    “Saya bangga karena Lampung Selatan pernah dipimpin oleh seorang Kajari perempuan yang berintegritas, tangguh, dan penuh semangat. Namun, tentu saya juga merasa haru harus berpisah dengan mitra kerja yang luar biasa,” ujar Egi.

    Ia juga menyampaikan harapannya kepada Kajari yang baru, Suci Wijayanti, untuk melanjutkan sinergi positif yang telah dibangun. Menurutnya, semangat kolaboratif dengan prinsip BISA (Berinovasi, Inisiatif, Sehat, Adaptif) harus terus dijaga dan ditumbuhkan.

    Bupati Egi mengungkapkan bahwa salah satu agenda awal bersama Kajari baru adalah menggelar dialog dengan seluruh kepala desa se-Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan ini akan menjadi forum kolaborasi untuk membangun sistem penegakan hukum yang lebih humanis dan transparan.

    Sementara itu, Afni Carolina menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan tugasnya di Lampung Selatan. Ia juga menyampaikan rasa bangganya karena posisinya dilanjutkan oleh sesama perempuan.

    “Saya yakin Ibu Suci akan mampu membawa Kejaksaan Negeri Lampung Selatan semakin maju. Saya mohon maaf jika selama ini ada kekhilafan. Semua dilakukan tanpa niat buruk,” ucap Afni Carolina haru.

    Dalam sambutannya, Kajari baru Suci Wijayanti menyampaikan tekadnya untuk melanjutkan fondasi kerja yang telah dibangun oleh pendahulunya. Ia juga menegaskan pentingnya membangun sinergi antarlembaga sebagai landasan utama dalam menciptakan sistem hukum yang adil dan terpercaya.

    “Saya hadir tidak hanya membawa semangat perubahan, tetapi juga komitmen kuat untuk menjadikan Lampung Selatan sebagai rumah integritas dan keadilan bagi semua,” kata Suci penuh semangat.

    Acara pisah sambut ini ditutup dengan penyerahan cenderamata sebagai simbol apresiasi dan kesinambungan kolaborasi antara Kejaksaan Negeri dan Pemkab Lampung Selatan. (mara)

  • Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan, Yang Tetap di Pegang Teguh Oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku 1 – Jejak Leluhur, Asal Usul Marga Pubian BukukJadi Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan, Yang Tetap di Pegang Teguh Oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku 1 – Jejak Leluhur, Asal Usul Marga Pubian BukukJadi Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Di tengah hamparan bukit hijau dan lebatnya hutan Lampung bagian tengah, hiduplah seorang penyimbang muda bernama Sutan Gajah Ratu, pewaris garis keturunan tua dari marga Pubian.
    Sutan Gajah dikenal karena keberaniannya menolak kekuasaan raja asing yang hendak menaklukkan wilayah adat mereka.
    Ia memilih bertapa selama tujuh musim di kaki Gunung Pesagi untuk mencari petunjuk leluhur tentang cara mempertahankan tanah adat dan nilai budaya.

    Suatu malam, di bawah cahaya bulan purnama, ia mendapat petunjuk melalui mimpi: seekor burung Bukuk (burung hutan yang terbang lurus dan tak pernah melengkung jalannya) datang dan hinggap di atas batu datar, lalu berkata dalam bahasa leluhur: “Jadilah seperti aku, Bukuk yang telah Jadi. Yang tegak lurus dan tidak terpecah.”

    Ketika ia terbangun, ia pun mengikrarkan janji: bahwa anak cucunya akan hidup mengikuti garis lurus adat, tidak menyimpang dari nilai-nilai luhur, tidak tunduk pada kekuasaan luar yang mengancam moral dan struktur adat.

    Sejak hari itu, komunitas yang ia pimpin dikenal dengan sebutan BukukJadi, nama yang menjadi lambang keteguhan, kematangan, dan integritas moral.
    Janji itu kemudian menjadi sumpah adat yang diwariskan, dan seluruh anggota marga Pubian BukukJadi hidup menjaga garis itu. Tidak ada yang boleh berkhianat pada nilai musyawarah, kejujuran, dan kesetiaan terhadap adat. Cerita ini masih hidup di antara anak-anak marga hingga hari ini, diceritakan ulang setiap kali begawi adat digelar.

    Secara historis, masyarakat adat Lampung terdiri dari dua sistem utama: Saibatin (pesisir) dan Pepadun (pedalaman). Marga Pubian termasuk dalam struktur Pepadun, yang mengedepankan musyawarah, keterbukaan terhadap proses sosial, dan pelantikan penyimbang melalui upacara cakak pepadun.

    Marga Pubian BukukJadi merupakan salah satu subkelompok penting dari Pubian Telu Suku, bersama dengan Suku Tatow dan Suku Tegineneng. Mereka bermukim terutama di wilayah tengah Provinsi Lampung, termasuk daerah Kalirejo, Sendang Agung, Gunung Sugih, dan sekitarnya.

    Dalam struktur masyarakatnya, marga menjadi satuan sosial utama yang menaungi buay (kelompok keturunan), tiyuh (kampung adat), dan suku. Di atas semua struktur ini berdiri penyimbang adat, yaitu pemimpin adat yang naik melalui prosesi cakak pepadun dan diakui oleh komunitas. Dalam konteks BukukJadi, penyimbang tidak hanya dipilih karena garis keturunan, tetapi juga karena integritas moral dan pengetahuan adat.

    Secara linguistik dan filosofis, nama “BukukJadi” berasal dari dua kata:
    * Bukuk: berarti tegak, lurus, tidak bengkok
    * Jadi: berarti matang, utuh, telah terbentuk secara sempurna

    Nama ini tidak hanya sekadar simbol, melainkan juga pedoman hidup. Seorang warga BukukJadi diajarkan sejak kecil untuk menjadi pribadi yang lurus pikirannya, matang tindakannya, dan utuh dalam menjaga adat dan moral.

    Dalam praktik adat, filosofi ini tercermin dalam berbagai ritual:
    * Musyawarah mufakat dalam menyelesaikan konflik
    * Konsistensi dalam menyelenggarakan begawi dan cakak pepadun
    * Pendidikan moral dan adat kepada generasi muda secara turun-temurun

    Dalam struktur adat Pepadun, semua keputusan diambil melalui musyawarah para penyimbang, termasuk pengangkatan gelar, penyelesaian sengketa, hingga pembagian tanah ulayat. Nilai ini memperlihatkan bahwa masyarakat BukukJadi telah menerapkan prinsip demokrasi partisipatif jauh sebelum sistem politik modern diperkenalkan.
    Kegiatan seperti begawi, mbangun rumah, dan acara kematian selalu dilakukan secara bersama. Semua warga saling membantu tanpa pamrih. Ini menunjukkan kuatnya nilai solidaritas sosial dalam tatanan adat BukukJadi.

    Bahasa Lampung, khususnya dialek Pubian, masih digunakan dalam musyawarah adat, acara begawi, dan komunikasi sehari-hari di kampung. Ini menjadi tameng dari hilangnya identitas.
    Kesenian seperti tari pepadun, nyambai, dan alat musik gamelan dan gambus masih menjadi bagian dari upacara adat. Mereka bukan sekadar hiburan, tapi juga media edukasi budaya.

    Sumpah adat Uppu-Tuyuk adalah bentuk spiritualitas yang menyatu dalam relasi sosial. Makna “Mak Segangguan, Mak Secadangan” menunjukkan janji yang bersifat abadi, tidak bisa dicabut atau digantikan.

    Dalam kepercayaan lokal, leluhur tetap hidup dalam nilai dan ritual. Gunung, sungai, dan batu dianggap sebagai saksi janji. Oleh karena itu, adat BukukJadi mengajarkan keselarasan dengan alam sebagai wujud hormat kepada leluhur.

    Di era digital, nilai-nilai ini menghadapi tantangan besar:
    * Migrasi ke kota dan hilangnya bahasa ibu
    * Minimnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan adat
    * Modernisasi yang kadang meminggirkan nilai kolektif dan spiritual

    Namun, relevansi adat tetap kuat, terutama dalam:
    * Membangun etika sosial yang jujur, terbuka, dan adil
    * Meningkatkan kesadaran ekologis dan relasi spiritual dengan alam
    * Menumbuhkan identitas lokal sebagai kekuatan menghadapi globalisasi

    Adat bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cermin dari kebijaksanaan, penuntun arah dalam menghadapi masa depan. Melalui pemahaman atas sejarah dan nilai-nilai yang dijunjung oleh Marga Pubian BukukJadi, kita bisa belajar bagaimana suatu komunitas dapat bertahan, berkembang, dan tetap bermartabat di tengah perubahan zaman.

    Masyarakat adat Lampung, terutama Pubian BukukJadi, menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan hal yang kuno. Ia adalah kekayaan spiritual dan sosial yang layak dijaga, diajarkan, dan diwariskan. Dalam tegaknya Bukuk, dalam utuhnya Jadi, kita menemukan jati diri sebagai bangsa. (*)

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Kita dan jejak sejarah Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Kita dan jejak sejarah Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Natar – Dan Kami tuliskan apa yang telah mereka lakukan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan…”
    (QS. Yasin: 12)

    Jiwa akan pergi, tubuh akan layu,
    Namun jejak kebaikan… tetap hidup dan tak akan berlalu.
    Waktu adalah pena, amalmu adalah tinta,
    Dan dunia hanyalah lembaran sementara.

    Langkahmu di bumi adalah saksi,
    Setiap kebaikan yang kau ukir akan abadi.
    Raga boleh terkubur, namun amal terus bertumbuh,
    Ia menyusup ke hati manusia, menetes menjadi pelita di tengah gulita.

    Maka tinggalkanlah jejak yang wangi,
    Sebelum nafas terakhir menutup pintu hari.
    Jangan tunggu senja merenggut cahaya,
    Bergeraklah sekarang, sebelum segalanya terlambat adanya.

    Jejakmu adalah warisan langit,
    Tinggalkan ia dalam bentuk amal yang tak hancur oleh waktu.
    Sebelum engkau pergi tanpa kembali,
    Biarlah bumi bersaksi bahwa engkau pernah berarti. (28)
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana Lantik 266 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)

    Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana Lantik 266 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)

    nataragung.id, Bandar Lampung — Wali Kota Bandar Lampung Hj. Eva Dwiana Resmi Mengangkat Sekaligus Melantik Pada Pengambilan Sumpah Jabatan Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I, Di Aula Gedung Semergo Pemkot Bandar Lampung.

    Sebanyak 266 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung secara resmi menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan, pada hari Senin (28/07/2025).

    Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Bandar Lampung, Wali Kota Hj. Eva Dwiana memberikan ucapan selamat kepada pegawai yang hari ini resmi dilantik dan menerima SK sebagai PPPK.

    “saya mengucapkan selamat kepada saudara-saudari sekalian yang hari ini resmi dilantik dan menerima SK sebagai PPPK,” ujar Wali Kota Hj. Eva Dwiana.

    Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hal yang mudah, melainkan hasil dari proses panjang dan seleksi ketat yang meliputi tahapan administrasi hingga uji kompetensi.

    Wali kota juga meminta agar para PPPK yang telah dilantik tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan oleh negara dan daerah.

    “Pelantikan ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar sebagai abdi negara. Kalian dituntut menunjukkan profesionalisme, dedikasi, dan integritas tinggi dalam melaksanakan setiap tugas,” Tegasnya.

    Ia juga menekankan pentingnya etika dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas. meminta agar seluruh pegawai, khususnya PPPK yang baru diangkat, dapat menjadi teladan, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

    “Jangan nodai kepercayaan yang telah diberikan negara. Jadilah contoh yang membanggakan, bukan hanya bagi institusi, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat,” Pungkasnya.

    Editor  : Muhammad Arya

  • Gerai Sembako KDMP Desa Wawasan Kecamatan Tanjung Sari Diresmikan. Ini Pesan Wabup Syaiful

    Gerai Sembako KDMP Desa Wawasan Kecamatan Tanjung Sari Diresmikan. Ini Pesan Wabup Syaiful

    nataragung.id – Tanjung Sari – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan kembali menegaskan komitmennya dalam menguatkan kemandirian ekonomi desa. Pada Senin (28/7/2025), Wakil Bupati, M. Syaiful Anwar, secara resmi membuka Gerai Sembako Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari.

    Gerai sembako ini hadir sebagai langkah strategis untuk memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat, sekaligus membuka ruang usaha dan distribusi produk lokal desa.

    “Mudah-mudahan berkah. Mudah-mudahan bisa menjadi tulang punggung ekonomi di Desa Wawasan,” ujar Wabup Syaiful di hadapan warga dan pengurus KDMP Desa Wawasan.

    Peresmian tersebut menjadi bukti nyata keseriusan Pemkab Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama dan Wabup M. Syaiful Anwar dalam mendorong koperasi berbasis desa sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi rakyat.

    Lebih dari sekadar toko kebutuhan pokok, koperasi ini diharapkan menjadi pusat ekonomi gotong royong, memperkuat solidaritas masyarakat, dan menggerakkan potensi desa secara mandiri dan berkelanjutan.

    Koperasi Desa Merah Putih digagas tidak hanya untuk memperlancar distribusi sembako, tetapi juga sebagai wadah bagi pelaku usaha lokal memasarkan produknya. Pemkab Lampung Selatan pun berkomitmen memperluas inisiatif serupa ke desa-desa lain.

    Dengan semangat “Bismillah Bisa”, Pemkab Lampung Selatan optimistis koperasi desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif, adil, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. (mara)

  • Pemkab Lampung Selatan Dorong Kesetaraan Gender Lewat Strategi PUG

    Pemkab Lampung Selatan Dorong Kesetaraan Gender Lewat Strategi PUG

    nataragung.id – Kalianda – Seruan “Pembangunan Tidak Boleh Bias Gender” menggema dalam kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Aula Rajabasa, kantor bupati setempat, Senin (28/7/2025).

    Acara ini melibatkan para perencana dari berbagai perangkat daerah dan turut dihadiri Kepala Bidang (Kabid) Kualitas Hidup Perempuan dan Kualitas Keluarga Dinas PPPA Provinsi Lampung, Nuraida Safitri Harahap, sebagai bentuk komitmen bersama dalam mengintegrasikan perspektif gender ke dalam proses pembangunan daerah.

    Dalam laporan pembuka, Kabid Kualitas Hidup Perempuan dan Kualitas Keluarga Dinas PPPA Lampung Selatan, Sri Handayani menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mendorong pemahaman para perencana mengenai pentingnya perencanaan dan penganggaran yang responsif gender.

    “Tujuan utamanya adalah menghapus hambatan struktural dan kultural yang menghambat tercapainya kesetaraan gender di Lampung Selatan,” ujar Sri Handayani.

    Sementara itu, Sekretaris Dinas PPPA Lampung Selatan, Hari Surya Wijaya, menegaskan bahwa PUG bukan sekadar regulasi, melainkan upaya nyata untuk menjamin hak-hak setara bagi perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.

    “Ini bagian dari emansipasi. Laki-laki dan perempuan harus punya kesempatan yang sama dalam menikmati hasil pembangunan,” jelasnya.

    Hari menambahkan, pelaksanaan PUG membutuhkan strategi yang menyeluruh, mulai dari penyusunan perencanaan hingga penganggaran berbasis gender. Ia mengajak seluruh perangkat daerah agar aktif menyusun program-program yang mempertimbangkan kebutuhan serta aspirasi kedua jenis kelamin.

    “Kita ingin pembangunan yang adil, merata, dan berkelanjutan. Kesetaraan gender adalah fondasi penting untuk mencapainya,” kat Hari Surya Wijaya.

    Melalui kegiatan ini, Pemkab Lampung Selatan berharap seluruh pemangku kepentingan semakin memahami urgensi keadilan gender, dan menjadikannya sebagai dasar dalam merancang kebijakan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan. (mara)

  • MUTIARA PAGI : Kata Baik yang Menghidupkan Jiwa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Kata Baik yang Menghidupkan Jiwa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Natar – Kadang, hanya sebuah kata—ringan di lisan,
    tapi berat timbangannya di langit Tuhan.
    Kau ucap tanpa sadar, namun menumbuhkan harapan pada jiwa yang hampir mati ditelan kecewa.

    Sebuah sapaan lembut, seulas senyum yang kau selipkan di antara lelah dunia, bisa jadi pelita bagi hati yang gelap, penawar bagi luka yang tak terlihat,
    dan pelukan tak kasat bagi jiwa yang remuk.

    ﴿ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا ﴾

    “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

    Jangan remehkan satu kata baik,
    sebab bisa jadi di situlah awal hidup baru bagi seseorang. Mungkin engkau lupa,
    tapi langit tak pernah melupakan kebaikan sekecil apa pun.

    Maka tebarkanlah kata-kata yang menghidupkan, yang memeluk tanpa raga,
    yang menyembuhkan tanpa obat, sebab setiap kebaikan akan kembali padamu suatu hari nanti, di waktu dan cara yang tak pernah kau sangka. (27)
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.