Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku – 2. Asal-usul Way Beliuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, di suatu masa jauh sebelum manusia mengenal batas desa dan nama-nama wilayah, terdapat sebuah lembah hijau nan subur yang dialiri oleh sebuah sungai yang tidak pernah kering. Sungai itu bukan sungai biasa. Ia dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Way Beliuk, atau “Sungai yang Berliku”, karena alirannya seperti tubuh ular naga yang meliuk tenang di antara hutan dan bukit.

Di tepi Way Beliuk, berdiri sebuah kampung tua bernama Tiyuh Keniangan, dipimpin oleh seorang penyimbang perempuan bijaksana bernama Induk Kiya Semah. Ia tidak hanya dihormati karena garis keturunannya, tetapi karena kemampuannya berkomunikasi dengan alam dan roh leluhur.

Suatu hari, sungai itu tiba-tiba mengering. Semua warga panik. Ikan mati, sawah kering, dan air sumur pun mulai asin. Induk Kiya pun bermeditasi di atas batu besar yang berada di tengah sungai. Ia bermunajat kepada roh sungai, meminta petunjuk. Dalam kesunyian, terdengar suara lirih dari batu besar itu: “Manusia telah melupakan ikatan mereka dengan adat. Mereka memotong pohon tanpa izin, menambang pasir tanpa syarat, dan berdebat tanpa musyawarah. Way Beliuk menangis, bukan karena kering, tapi karena kehilangan makna.”

Saat Induk Kiya meneteskan air mata di atas batu itu, tiba-tiba langit mendung. Hujan turun deras, dan Way Beliuk kembali mengalir deras, membawa bau harum bunga dan getah hutan. Batu itu kemudian disebut Batu Tangisan, dan menjadi tempat suci yang dikunjungi setiap musim panen, sebagai lambang penyatuan antara manusia, alam, dan adat.

Baca Juga :  Ngebabali (Prosesi adat menjelang perkawinan). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cerita ini terus hidup dari generasi ke generasi. Way Beliuk bukan sekadar sungai, tetapi sumbu spiritual dan budaya masyarakatnya. Di sanalah pusat segala kebijakan adat, tempat berkumpulnya penyimbang, dan ruang sakral untuk memutuskan nasib kampung.

Way Beliuk secara geografis berada di wilayah yang kini termasuk dalam kawasan Lampung Tengah dan sebagian Lampung Barat. Wilayah ini memiliki karakteristik bentang alam yang terdiri dari:
* Perbukitan dengan hutan tropis
* Aliran sungai utama Way Beliuk yang bercabang ke anak sungai
* Lembah subur yang cocok untuk pertanian dan perladangan

Nama “Way Beliuk” diambil dari bahasa Lampung:
* Way: artinya sungai
* Beliuk: artinya berliku-liku, tidak lurus tetapi tetap menuju satu arah
Filosofi dari nama ini mencerminkan jalan hidup masyarakatnya yang penuh tantangan, tidak selalu lurus, tetapi selalu kembali kepada satu tujuan: adat, kebersamaan, dan spiritualitas.

Masyarakat Way Beliuk mengenal struktur sosial berdasarkan:
* Tiyuh (kampung adat)
* Buay (kelompok kekerabatan)
* Suku
* Penyimbang (pemimpin adat)

Setiap penyimbang memimpin berdasarkan kesepakatan dan garis keturunan, namun harus melalui proses cakak pepadun, yaitu pengukuhan adat secara resmi. Mereka yang menjadi penyimbang bukan hanya orang tua atau kaya, tetapi mereka yang mengerti nilai adat, mampu bicara dalam forum, dan berlaku adil.

Nilai-nilai Sosial dan Budaya
* Musyawarah Mufakat: Setiap keputusan besar, seperti pemilihan tanah ulayat, pernikahan antar suku, atau penyelesaian sengketa, diambil melalui forum adat yang disebut buwai.
* Gotong Royong: Kegiatan seperti menanam padi, mendirikan rumah, atau acara kematian dilakukan bersama-sama dengan sistem “ngai-ngai” atau saling bantu.
* Pelestarian Bahasa dan Simbol Adat: Bahasa Lampung dialek Way Beliuk digunakan dalam acara adat, dengan simbol-simbol adat seperti tumpal, siger, dan tapis yang menjadi lambang identitas.

Baca Juga :  Piil Pesenggiri, Marak di Mata, Ikhsan di Hati. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Makna filosofis Way Beliuk adalah keteguhan dalam fleksibilitas. Dalam hidup, manusia tidak akan selalu lurus jalannya. Ada saatnya harus belok, mengalah, menunggu. Tapi seperti Way Beliuk, selama arah hidup masih menuju nilai-nilai adat dan moral, maka dia tetap “berjalan lurus” secara prinsip.

Kisah Batu Tangisan mengajarkan bahwa kerusakan alam adalah cermin dari kerusakan moral manusia. Maka dalam adat Way Beliuk, dilarang menebang pohon sembarangan, menangkap ikan dengan racun, atau berburu hewan hutan saat masa bertelur.

Setiap tahun, masyarakat Way Beliuk melakukan ritual yang disebut “Mapak Way”, yaitu membersihkan tujuh titik sungai dan empat mata air keramat sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Ritual ini melibatkan:
* Pembacaan doa adat oleh penyimbang
* Sesaji dari hasil bumi
* Larangan memakai logam atau benda elektronik saat upacara

Spiritualitas Way Beliuk tidak memisahkan agama dan adat. Mereka percaya bahwa roh leluhur menjaga kampung melalui alam. Oleh karena itu, pohon tua, batu besar, dan simpang tiga sering diberi tanda dan tidak boleh sembarangan dirusak.

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 2: Struktur Sosial dan Sejarah Institusi Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Banyak anak muda Way Beliuk yang kini tinggal di kota. Mereka perlahan melupakan bahasa ibu, cara duduk dalam musyawarah, dan arti dari baju adat yang mereka kenakan saat festival. Namun masih ada harapan:
* Sekolah adat mulai dibentuk
* Festival Way Beliuk digelar setiap tahun
* Media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai adat

Beberapa penyimbang muda kini menggagas konsep ekowisata adat, di mana wisatawan datang untuk melihat:
* Upacara adat Way Beliuk
* Kerajinan tapis dan tenun
* Ritual spiritual di Batu Tangisan
Dengan cara ini, adat tidak hanya dilestarikan, tapi juga memberi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Way Beliuk bukan sekadar wilayah, melainkan pusat nilai hidup masyarakatnya. Dalam kelokan sungainya tersimpan cerita tentang kearifan, dalam hijaunya hutan terpatri moral leluhur, dan dalam kisah Batu Tangisan ada pesan bahwa manusia, adat, dan alam tidak dapat dipisahkan.

Ketika dunia bergerak cepat, Way Beliuk mengajarkan bahwa melambat bukan berarti mundur. Berliku bukan berarti sesat. Selama arah hidup tetap menuju kebenaran adat, maka masyarakat akan tetap memiliki arah, jati diri, dan harga diri. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini