Kritik Konstruktif terhadap Gagasan Pemindahan dan Pembangunan Tugu Pahlawan Radin Inten

0

nataragung.id – Lampung Selatan – Gagasan untuk memindahkan sekaligus memperbesar Tugu Pahlawan Radin Inten di jalan nasional tentu memiliki niat baik untuk menghormati sosok pahlawan Lampung. Namun, menurut Doni Afandi, S.E., Gelar Kakhiya Pukhba Makuta, salah satu paksi dari Marga Keratuan Menangsi, Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, dalam rilis yang diterima nataragung.id Senin Malam (18/8/25), mengatakan gagasan ini perlu dilihat secara lebih kritis agar tidak menyederhanakan identitas Lampung Selatan hanya pada satu simbol semata.

“Pembangunan monumen memang sah sebagai bentuk kebanggaan. Tetapi jangan sampai memberi kesan bahwa identitas Lampung Selatan dimonopoli hanya oleh figur Raden Intan. Padahal kita memiliki kekayaan adat istiadat, khususnya masyarakat adat Sai Batin, yang hingga kini belum pernah mendapat representasi dalam simbol-simbol ruang publik,” ungkap Doni Afandi.

Ia menegaskan bahwa Lampung Selatan bukan hanya tentang satu pahlawan, melainkan juga rumah bagi beragam masyarakat adat yang memiliki nilai luhur, tradisi, dan kearifan lokal. Representasi terhadap keragaman ini, menurutnya, justru akan memperkuat jati diri Lampung Selatan di mata warganya sendiri maupun publik luas.

Baca Juga :  Pansel JPTP Sekda Lampung Selatan Belum Umumkan Hasil Seleksi

“Lampung Selatan memiliki kekayaan adat istiadat dan keragaman masyarakat yang harusnya juga mendapat ruang dalam representasi simbolik. Ikon adat Sai Batin, misalnya, hingga kini belum pernah disentuh sebagai bentuk representasi identitas kolektif Lampung Selatan. Jangan sampai pembangunan simbol daerah terjebak hanya pada satu narasi, sementara kearifan lokal yang lain terabaikan,” ungkapnya.

Dirinya menegaskan bahwa kritik ini bukanlah bentuk penolakan, melainkan ajakan untuk menata prioritas pembangunan daerah. Menurutnya, di tengah upaya memperkuat identitas Lampung Selatan, justru akan lebih relevan bila pemerintah juga menghadirkan ikon-ikon adat & budaya yang mencerminkan keberagaman adat, seperti Taman budaya, Festival Budaya, atau ruang publik yang mampu menampilkan kekayaan tradisi Lampung.

Dari sisi kebijakan, Doni juga menyoroti pentingnya pertimbangan anggaran. Di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang fokus pada efisiensi, ia menilai perlu kehati-hatian agar setiap pembangunan memiliki relevansi dan daya guna yang kuat.

Baca Juga :  Ribuan Pelajar Meriahkan Gebyar 14th Smandana, HUT ke-14 SMA Negeri 2 Natar

“Kalau memang daerah memiliki kemampuan anggaran yang mumpuni, menurut saya akan jauh lebih relevan bila dibangun monumen Tugu atau Patung Pengantin Sai Batin. Itu adalah simbol pakaian adat Lampung Selatan yang notabene wilayah adat Sai Batin. Kehadirannya akan lebih tepat dalam merepresentasikan identitas kultural daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Doni menyampaikan bahwa ada gagasan yang lebih visioner untuk diprioritaskan, seperti menghadirkan ruang publik inklusif, seperti, taman budaya, festival adat, atau pusat kesenian yang mampu memunculkan kekayaan tradisi Lampung. Dengan demikian, monumen tidak hanya berfungsi sebagai tanda sejarah perjuangan, tetapi juga simbol kebersamaan.

“Penghormatan terhadap salah satu pahlawan tentu bisa dilakukan, tetapi akan lebih bijaksana bila diwujudkan dengan pendekatan inklusif yang juga mengangkat adat istiadat Sai Batin dan keragaman masyarakat Lampung Selatan. Inilah cara kita menjaga keseimbangan antara penghargaan terhadap pahlawan dan pelestarian identitas kultural,” tambahnya.

Baca Juga :  Egi-Syaiful Hadiri Rakornas 2026, Siap Kawal Program Prioritas Presiden di Lampung Selatan

Doni menambahkan bahwa sesungguhnya ada aspirasi yang lebih mendesak dari masyarakat, yakni perbaikan infrastruktur jalan. Baginya, pembangunan jalan yang mulus dan layak adalah kebutuhan prioritas karena berdampak langsung pada kehidupan warga.
“Kalau kita mau jujur, hari ini aspirasi masyarakat yang paling kuat adalah soal jalan rusak. Bagaimana caranya jalan di Lampung Selatan ini benar-benar mulus. Itu akan sangat besar dampaknya bagi kelancaran mobilitas, menurunkan biaya ekonomi, dan menghidupkan perputaran ekonomi masyarakat. Menurut saya, inilah yang jauh lebih dibutuhkan masyarakat saat ini,” tegasnya.

Sebagai penutup, Doni menekankan perlunya dialog partisipatif dalam setiap gagasan pembangunan simbol daerah. Melibatkan tokoh adat, akademisi, generasi muda, hingga komunitas seni budaya akan memastikan bahwa simbol-simbol identitas daerah benar-benar lahir dari aspirasi bersama, bukan sekadar proyek semata. (SMh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini