nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu kala, di puncak Gunung Pesagi yang diselimuti kabut, hiduplah seorang pemimpin bijaksana bernama Ratu Dipuncak. Kerajaannya, Sekala Bekhak, makmur dan damai. Namun, suatu ketika, sang Ratu bermimpi. Dalam mimpinya, seekor burung raksasa dengan sembilan bulu emas yang berkilauan terbang ke arah matahari terbit, dan dari setiap bulu yang rontok, memancarlah sembilan mata air jernih.
Menganggap mimpi itu sebagai sebuah firasat, Ratu Dipuncak memanggil keempat putranya: Unyi, Unyai, Subing, dan Nuban. “Pergilah kalian, wahai putra-putraku,” titahnya, “Ikuti jejak burung emas itu. Carilah sembilan mata air itu dan dirikanlah permukiman baru di sana. Bawalah serta warisan adat kita, agar kelak kalian bersatu bagai sembilan aliran sungai yang bermuara ke satu lautan.”
Keempat pangeran itu pun berangkat, menyusuri lembah dan menyeberangi sungai. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan lima kelompok masyarakat lainnya: Anak Tuha, Selagai, Beliyuk, Kunang, dan Nyerupa. Bersama-sama, mereka akhirnya menemukan sembilan sumber mata air yang subur. Di sanalah mereka bersumpah untuk bersatu, membentuk satu kesatuan masyarakat yang kuat, yang kelak dikenal sebagai Abung Siwo Mego, Sembilan Marga yang Satu Jiwa.
Untuk mengenang persatuan itu, seorang empu menciptakan sebuah mahkota yang agung. Mahkota itu memiliki sembilan lekukan, masing-masing melambangkan satu marga yang telah bersumpah setia. Mahkota itu dinamakan Siger, dan menjadi simbol abadi persatuan dan kebesaran masyarakat Pepadun. Berbeda dengan Siger masyarakat pesisir (Saibatin) yang memiliki tujuh lekukan yang melambangkan tujuh tingkatan bangsawan, Siger Pepadun dengan sembilan lekukannya adalah cerminan dari persatuan yang egaliter.
Siger bukan sekadar perhiasan kepala; ia adalah jiwa yang menyatu dengan pemakainya. Dalam konteks Begawi Cakak Pepadun, Siger yang dikenakan oleh pengantin wanita adalah mahkota kebesaran yang penuh makna. Bentuknya yang menyerupai buah Sekala, buah suci dari Gunung Pesagi, menghubungkan secara spiritual masyarakat Pepadun modern dengan nenek moyang mereka dari Kerajaan Sekala Bekhak.
Setiap lekukan pada Siger Pepadun adalah pengingat akan sumpah dan ikrar leluhur. Sebuah naskah kuno, Kutara Rajantti, yang menjadi pedoman hidup orang Lampung, menyiratkan makna ini dalam baitnya: “Sai bai mak muakhi, sai bai mak seghendo.” Yang artinya, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Sembilan lekukan Siger adalah perwujudan fisik dari falsafah Pi’il Pesenggiri ini, yang menekankan harga diri, kebersamaan, dan kesatuan.
Berbeda dengan Siger Saibatin yang lekukannya tujuh, melambangkan tujuh gelar kebangsawanan turun-temurun (seperti Suttan, Raja, Batin, Radin), Siger Pepadun lebih menekankan pada aspek kemasyarakatan dan persatuan klan. Jika Siger Saibatin bentuknya mirip dengan atap Rumah Gadang Minangkabau, menunjukkan pengaruh kerajaan Pagaruyung, Siger Pepadun justru lebih organik, mencerminkan akar kebudayaannya yang tumbuh dari dataran tinggi Sekala Bekhak.
Warna dominan dalam pakaian adat pengantin Pepadun adalah putih. Warna ini melambangkan kesucian, kebersihan hati, dan niat yang tulus dalam memulai kehidupan baru dan mengemban tanggung jawab adat. Busana pengantin wanita terdiri dari baju kurung putih yang dihiasi dengan buah Jukum. Jukum adalah rangkanian buah rukem yang terbuat dari kuningan, menyerupai tasbih besar. Setiap butir Jukum melambangkan kesabaran dan ketekunan, serta doa yang tak putus-putusnya untuk keberkahan rumah tangga.
Pada lengan pengantin wanita, terdapat lukisan yang disebut wrap-wrap. Lukisan ini dibuat dari campuran tepung tawar dan kunyit, membentuk pola yang mirip dengan tubuh manusia yang sedang berdiri. Wrap-wrap ini bukan sekadar hiasan; ia berfungsi sebagai penolak bala dan pelindung spiritual, menjaga calon penyimbang baru dari pengaruh-pengaruh jahat. Ia adalah simbol dari “baju zirah” moral yang harus dikenakan seorang pemimpin.
Di kepala pengantin pria, berdiri tegak Kopiah Emas (Songkok Emas). Mahkota yang terbuat dari kuningan ini berbentuk seperti songkok yang tinggi, melambangkan kekuatan, kewibawaan, dan kreativitas pemikiran. Sebuah makna filosofis menyebutkan, “Hendaknya laki-laki itu wajib kreatif dan punya kekuatan pemikiran yang bisa menembus angkasa luar sekalipun.”
Kopiah Emas adalah pengingat bahwa seorang penyimbang harus memiliki visi yang jauh dan pikiran yang jernih dalam memimpin.
Setiap benda yang digunakan dalam Begawi Cakak Pepadun adalah simbol yang hidup, masing-masing membawa cerita dan filosofinya sendiri.
1. Pepadun: Singgasana Keadatan. Pepadun adalah jantung dari seluruh upacara. Ia adalah singgasana kayu berukir yang menjadi takhta dimana calon penyimbang akan dinobatkan. Kata “Cakak Pepadun” sendiri berarti “naik ke atas Pepadun”. Prosesi menduduki Pepadun ini adalah momen sakral dimana seseorang secara resmi diakui oleh seluruh masyarakat adat. Pepadun melambangkan amanah, tanggung jawab, dan status sosial yang telah diraih, bukan karena keturunan semata, tetapi karena kesanggupan memenuhi syarat-syarat adat. Duduk di atas Pepadun berarti siap memikul beban untuk mengayomi dan memimpin.
2. Sesat/Balai Adat: Rumah Kebersamaan. Sesat adalah balai pertemuan adat tempat prosesi inti Begawi berlangsung. Ia adalah mikrokosmos dari masyarakat Lampung itu sendiri. Di dalam Sesat, semua unsur masyarakat duduk bersama, bermusyawarah, dan menyaksikan peristiwa penting. Keberadaan Sesat menegaskan bahwa pengangkatan seorang penyimbang adalah urusan seluruh komunitas, bukan urusan individu atau keluarga semata. Setiap pilar dan ruang di Sesat memiliki maknanya sendiri, mencerminkan tatanan sosial yang harmonis.
3. Ratou/Jepanou: Kendaraan Kebesaran. Pengantin diarak menuju Sesat dengan menaiki Ratou (kereta kencana beroda empat) atau Jepanou (tandu beratap). Prosesi arakan ini adalah simbol perjalanan menuju kehidupan baru yang penuh kemuliaan dan tanggung jawab. Ratou yang megah melambangkan bahwa perjalanan menjadi seorang pemimpin adalah sebuah peristiwa yang mulia dan dihormati. Di belakangnya, mengiringi dua orang laki-laki bersenjatakan tombak, yang disebut siku kanan dan siku kiri, sebagai simbol pelindung dan penjaga kedaulatan adat.
4. Talo/Gamelan: Irama Penyatu Jiwa. Irama yang dimainkan oleh Talo (gong) dan gamelan tradisional lainnya bukan sekadar pengiring tarian. Ia adalah napas dari upacara. Setiap pukulan dan alunan nada mengatur ritme prosesi, membangkitkan semangat, dan menyatukan emosi semua yang hadir. Musik tradisional dalam Begawi, seperti dalam prosesi Cangget dan Nigel, menciptakan ruang sakral dimana yang profan dan yang spiritual bertemu. Ia adalah bahasa universal yang mengingatkan semua orang pada akar budaya mereka yang sama.
5. Payung Agung & Tombak: Simbol Kekuasaan dan Perlindungan
Payung Agung (payung kebesaran) yang berwarna putih (sesuai dengan pangkat Pepadun) adalah simbol perlindungan. Ia melambangkan bahwa seorang penyimbang berada di bawah lindungan adat dan Tuhan, dan pada saat yang sama, dialah yang harus memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Tombak yang dibawa oleh pengiring adalah lambang kewibawaan, ketegasan, dan kesiapan untuk membela kebenaran dan masyarakat. Bersama-sama, Payung Agung dan Tombak merepresentasikan konsep kepemimpinan yang seimbang: mengayomi dan menegakkan keadilan.
Pakaian, simbol, dan kelengkapan dalam Begawi Cakak Pepadun adalah lebih dari sekadar benda mati. Mereka adalah naskah visual yang berisi sejarah, falsafah hidup, dan cita-cita luhur masyarakat Lampung Pepadun. Dari Siger yang mempersatukan sembilan marga, hingga Pepadun yang menjadi singgasana amanah, setiap unsur bercerita tentang sebuah peradaban yang menjunjung tinggi persatuan, musyawarah, dan kesempatan yang setara untuk meraih kehormatan.
Melalui Begawi, nilai-nilai ini tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan dan diwariskan. Setiap helai kain, setiap lekuk ukiran, dan setiap dentuman Talo adalah pengingat bahwa adat istiadat bukanlah beban yang kaku, melainkan denyut nadi yang membuat identitas budaya Lampung tetap hidup dan relevan dari masa ke masa, bersemi di hati generasi penerusnya. (**)
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

