BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN. Seri 5: BEGAWI DALAM KEHIDUPAN KONTEMPORER DAN UPAYA PELESTARIAN. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tengah rimbunnya hutan Sekala Bekhak, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Dipuncak. Ia adalah keturunan langsung dari Paksi Buay Bejalan Diway, salah satu marga tertua di Lampung.
Suatu malam, Ratu Dipuncak bermimpi bertemu dengan leluhurnya yang berpesan, “Singgasana pepadun bukanlah takhta warisan, melainkan amanah yang diperoleh melalui kesiapan jiwa dan pengorbanan.” Mimpi itu menggerakkan hatinya untuk mengadakan Begawi Cakak Pepadun.

Dengan dukungan keluarganya, ia mempersiapkan segala sesuatunya: dua ekor kerbau dipersembahkan, sesat adat didirikan, dan seluruh warga desa turut serta dalam persiapan upacara. Saat ia duduk di atas pepadun, seorang tetua adat berkata, “Barangsiapa naik ke singgasana ini, ia harus siap memikul tanggung jawab sebagai penyambung lidah rakyat dan penjaga adat.”

Kisah Ratu Dipuncak menjadi inspirasi bagi generasi penerus bahwa Begawi bukan sekadar pesta, melainkan perjalanan spiritual menuju kepemimpinan sejati.

Di era globalisasi, tradisi Begawi Cakak Pepadun menghadapi tantangan serius. Biaya pelaksanaannya yang mencapai ratusan juta rupiah menjadi penghalang bagi banyak keluarga.

Seperti dicatat dalam penelitian Septina dkk. (2014), biaya untuk menyembelih kerbau, menyelenggarakan pesta selama tujuh hari tujuh malam, dan memenuhi perlengkapan adat sering kali dianggap tidak lagi sejalan dengan tuntutan ekonomi modern.
Selain itu, generasi muda Lampung kerap mempertanyakan relevansi tradisi ini.
Seorang pemuda dari Pubian Telu Suku mengungkapkan, “Kami menghormati adat, tetapi apakah makna Begawi masih dapat dirasakan di tengah kehidupan yang serba cepat?”

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Seri - 1. “Ajaran Turun Lembing: Jalan Hidup Orang Lampung” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Namun, di balik tantangan ini, tersimpan harapan. Lembaga Perwatin, sebagai penjaga adat, mulai mengadaptasi tradisi dengan mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi tanpa mengorbankan esensi spiritualnya.
Masyarakat Lampung yang mayoritas Muslim berhasil memadukan nilai-nilai Islam dengan pelaksanaan Begawi.

Dalam prosesi pemotongan kerbau, misalnya, dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Seorang tetua adat menjelaskan, “Penyembelihan kerbau dalam Begawi tidak bertentangan dengan Islam, karena ia adalah simbol pengorbanan dan rasa syukur, mirip dengan ibadah kurban.”
Nilai spiritual dalam Begawi juga tercermin dari wejangan yang diberikan kepada calon penyimbang.

Seperti tertulis dalam kitab Kuntara Rajaniti, “Pemimpin harus berakal budi, berhati-hati terhadap pemicu kerusakan, dan mengutamakan kebaikan bagi sesama.” Pesan ini selaras dengan ajaran Islam tentang kepemimpinan yang amanah dan adil.

Begawi Cakak Pepadun bukan hanya sekadar upacara adat, melainkan wadah untuk memperkuat solidaritas sosial. Dalam penelitian di Pekon Tiuh Memon, ditemukan bahwa pelaksanaan Begawi memicu gotong royong, musyawarah, dan silaturahmi antarkeluarga.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 9. “Adat Berjalan Lurus: Menjaga Diri di Tanah Leluhur” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Seorang warga menuturkan, “Saat Begawi digelar, seluruh warga bahu-membahu, tanpa memandang suku atau agama.”
Nilai-nilai ini sejalan dengan teori solidaritas mekanik Emile Durkheim, yang menggambarkan masyarakat dengan ikatan kolektif yang kuat. Begawi menjadi simbol persatuan dalam keberagaman, memperkuat identitas Lampung di tengah arus multikultural.
Pelestarian Begawi Cakak Pepadun memerlukan sinergi antara tokoh adat, pemerintah, dan generasi muda.

Lembaga Perwatin berperan sebagai penjaga otentisitas tradisi, sementara Pemerintah Daerah Lampung telah menetapkan Begawi sebagai warisan budaya tak benda yang dilindungi.

Program pelestarian yang dilakukan antara lain:
1. Pendokumentasian: Prosesi Begawi direkam dalam bentuk video dan buku untuk dijadikan bahan edukasi.
2. Festival Budaya: Pemerintah mengadakan festival tahunan yang menampilkan rangkaian Begawi, menarik minat wisatawan dan generasi muda.
3. Pendekatan Edukatif: Tokoh adat mengunjungi sekolah-sekolah untuk bercerita tentang makna filosofis di balik setiap ritual Begawi.

Seorang tokoh adat dari Way Kanan Buway Lima berpesan, “Jika adat hilang, maka hilanglah jati diri kita. Mari jaga Begawi sebagai warisan leluhur yang tak ternilai.”

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 1 – Mengenal Tata Krama Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Begawi Cakak Pepadun adalah lebih dari sekadar upacara, ia adalah cermin dari nilai-nilai luhur masyarakat Lampung: kebersamaan, kepemimpinan, dan keteguhan hati. Di tengah gempuran modernitas, tradisi ini tetap relevan sebagai penjaga harmoni sosial dan spiritual.

Sebagai penutup, mari kita renungkan pesan leluhur Lampung: “Sai Bumi Ruwa Jurai”, satu bumi, dua peradaban. Dalam perbedaan, kita tetap bersatu. Mari terus mengenal, memahami, dan bangga akan kekayaan adat istiadat Lampung, karena di sanalah identitas bangsa kita bersemi.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung.
2. Depdikbud Lampung. (1999). Upacara Adat Begawi Cakak Pepadun.
3. Septina, R., dkk. (2014). Penyebab Menurunnya Pelaksanaan Begawi pada Perkawinan Suku Lampung.
4. Syarifah, F. (2021). Kayu Ara pada Acara Begawi Adat Lampung Pepadun.
5. Koentjaraningrat. (1990). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini