Keraton dan Peradaban. Oleh : M.Habib Purnomo *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di Bulan Nopember 2025, publik melihat berita tentang telah wafatnya Raja Surakarta Pakubuwono ke XIII, yaitu pada tanggal 2 Nopember 2025. Kemudian disusul suksesi raja baru Pakubuwono ke-XIV di keraton Surakarta Hadiningrat.

Pada momentum suksesi ini ada baiknya kita membaca kembali (kilas balik) tentang sejarah Keraton ini.

Ketika keraton Mataram di Kartosuro berhasil di kuasai pemberontak tahun 1742 M, Sunan Pakubuwono ke II mengungsi dan tinggal dipesantren Tegalsari, Ponorogo di bawah asuhan dan perlindungan Kiai Ageng Muhammad Besari.

Setelah keraton Kartosuro berhasil di rebut kembali oleh Sunan Pakubuwono ke II ternyata Keraton Kartosuro sudah di bumi hanguskan oleh pemberontak, kemudian di bentuk panitia untuk mencari lokasi untuk di bangunnya keraton Mataram yang baru dan di temukan tempat nya didekat bengawan Solo di desa Solo dan keraton baru ini di beri nama keraton Surakarta Hadiningrat tahun 1744.

Baca Juga :  Tanah Perdikan Tegal Sari - Ponorogo. Oleh : M. Habib Purnomo *)

Dalam perjalanannya akhirnya kesultanan Mataram pecah jadi dua di Surakarta dan di Jogyakarta disusul menjadi 4 yaitu ditambah Pakualaman dan Mangkunegaran.

Cicit Pakubuwono ke II yang ada di keraton Jogyakarta bernama Pangeran Diponegoro (Mustahar/Ontowiryo) sekolah di pesantren Tegalsari-Ponorogo di bawah asuhan Kiai Ageng Khasan Besari dan menjadi menantu sang Kiai, tempat di mana dulu sang kakek( Pakubuwono ke II tinggal dan mengungsi).

Kiai Ageng Khasan Besari punya cucu yg bernama Haji Oemar Syahid (HOS Cokroaminoto) pahlawan nasional yg merupakan guru dan mertua Ir.Soekarno (pahlawan nasional),
Istrinya KH. Hasyim Asy’ari juga berasal dari keluarga pesantren perdikan Tegalsari yang kemudian menurunkan pahlawan nasional KH.Wahid Hasyim dan pahlawan nasional KH. Abdurrahman Wahid, KH. Hasyim Asy’ari (kakeknya Gus Dur) juga pahlawan nasional .

Baca Juga :  Yakin Ngana Mo Buang Pa Gibran?. ✍️ Pepih Nugraha //Owner and Founder Pepnews

Orang tua SBY presiden ke 6 adalah seorang tentara yg juga keturunan dari pesantren perdikan Tegalsari, tinggal dan bertugas di Pacitan sedang ibu nya SBY yaitu Habibah putri pengasuh pesantren Termas Pacitan.

Kata Gus Dur “kakek2 saya para ulama tokoh nasional pejuang bangsa dan negara Indonesia”

Pesantren Tegalsari dan pesantren-pesantren lainnya (lembaga pendidikan) adalah tempat kawah candradimuka di semainya semangat nasionalisme memperjuangkan dan membela tanah air”

“Keraton dan pesantren” (lembaga pendidikan) adalah dua lembaga yg tidak bisa di pisahkan untuk terjaminnya keberlangsungan peradaban bangsa Indonesia.

Keraton-Keraton Nusantara yang sangat banyak jumlahnya walau sudah tidak mengurusi rakyat dari sisi politik/negara, namun misi meneruskan budaya bangsa tidak boleh berhenti, budaya dalam arti luas yaitu seluruh hasil cipta karya manusia (peradaban).

Baca Juga :  Whoosh dan AHY. Oleh : Pepih Nugraha *)

Bukankah Palembang ibu kota kerajaan Sriwijaya dulu juga sebagai pusat lembaga pendidikan. Kerajaan Majapahit membuat dan membiayai desa-desa “perdikan” yang konsentrasi didunia pendidikan yang kemudian diteruskan oleh keraton Mataram Islam.

Sudah seharusnya sekarang keraton-keraton yang ada disetiap daerah “konsen di dunia pendidikan” sebagai pertanggung-jawaban sejarahnya ( legacy) sekecil apapun itu, karena peradaban (kebudayaan) adiluhung (agung) hanya muncul dari dunia pendidikan. (**)

*) Penulis Adalah : Penggiat NU Lampung, Tinggal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini