nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah ruang kerja co-working space di Bandar Lampung, Genta Maulana, seorang pemuda keturunan Marga Pubian (Pepadun) yang bekerja sebagai desainer aplikasi, merasa resah. Baru saja ia menyaksikan seorang temannya dari suku Lampung menjadi bahan perbincangan negatif di media sosial karena sebuah unggahan yang tidak pada tempatnya. Komentar-komentar pedas dan cemoohan membanjiri linimasa, seakan melupakan bahwa di balik akun itu ada manusia dengan harga diri yang harus dijunjung tinggi.
Malam itu, Genta berkunjung ke rumah kakeknya, Penyimbang Batin Wijaya, seorang tetua adat yang bijaksana. Kepada sang kakek, ia menceritakan kegelisahannya. “Kakek, di dunia maya, sekat-sekat adat seperti sirna. Orang mudah sekali menghujat, menyebar kebencian, dan lupa akan Piil Pesenggiri,” keluh Genta.
Sang kakek kemudian mengeluarkan sebuah naskah kuno reproduksi, Kuntara Raja Niti. “Dengarkan, Genta,” ujarnya dengan suara tenang. “Punyimu murah, adat piil pesenggiri. Bejuluk beadok, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambaian.” (Hartamu murah, yang utama adalah adat dan harga diri.
Berjuluk beradek, menerima tamu, bergaul, tolong-menolong) . “Duniamu mungkin telah berubah, Genta, tetapi jiwa dari petuah ini abadi.
Tantanganmu sekarang adalah bagaimana menjadi Penyimbang Muda yang menerapkan nilai-nilai luhur ini di medan yang baru, di dunia digital.”
Dengan beban pemikiran yang mulai tercerahkan, Genta pulang. Ia menyadari bahwa gelar Bejuluk Beadok yang akan ia sandang suatu hari nanti, bukan hanya bermakna dalam konteks adat secara fisik, tetapi juga amanah untuk menjadi teladan di mana pun ia berada, termasuk di ruang digital. Malam itu juga, ia mulai merancang sebuah gerakan sosial bernama “Sekala Brak Digital”, sebuah inisiatif untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya Lampung di dunia maya.
Piil Pesenggiri Digital: Martabat di Medan Maya.
Gerakan Sekala Brak Digital dimulai dengan seri webinar pertama bertajuk “Piil Pesenggiri Digital: Jaga Martabat di Medan Maya”.
Genta, sebagai pemantik diskusi, menjelaskan bahwa Piil Pesenggiri yang intinya adalah harga diri, kehormatan, dan rasa malu untuk berbuat tercela, harus menjadi tameng utama setiap warganet .
“Ibaratnya, Bejuluk Beadok (gelar dan panggilan adat) di dunia nyata melekat pada nama dan marga kita. Di dunia digital, Bejuluk Beadok kita adalah username dan digital footprint kita,” papar Genta. “Setiap unggahan, komentar, dan like adalah cerminan dari Piil Pesenggiri kita. Menyebarkan hoaks atau ujaran kebencian sama saja dengan merusak gelar kehormatan kita sendiri di mata publik.”
Ia kemudian mengaitkannya dengan QS. Al-Qalam: 4, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
” Ayat ini mengajarkan kita untuk menjaga akhlak dalam setiap ucapan dan tindakan, termasuk dalam bentuk tulisan di media sosial,” tambahnya.
Menjaga privasi juga merupakan bagian dari Piil Pesenggiri Digital, karena dengan menjaga aib dan informasi pribadi, kita menjaga kehormatan diri dan keluarga dari fitnah dan kejahatan digital.
Nemui Nyimah & Nengah Nyappur Digital: Silaturahmi dan Jejaring yang Berkah
Seri webinar kedua gerakan Genta membahas “Nemui Nyimah & Nengah Nyappur Digital: Silaturahmi dan Jejaring yang Berkah”. Genta menjelaskan bahwa Nemui Nyimah (keramah-tamahan) dalam konteks digital berarti berbagi konten yang bermanfaat, menyebarkan kebaikan, dan membantu menyelesaikan masalah di grup komunitas online .
“Bukan hanya menerima tamu dengan jamuan di rumah, tetapi juga bagaimana kita ‘menjamu’ linimasa orang lain dengan konten yang positif dan mencerdaskan,” ujarnya. Sementara itu, Nengah Nyappur (kemampuan bergaul) diterjemahkan sebagai kemampuan membangun jaringan yang sehat dan bersilaturahmi via online, namun dengan tetap menjaga etika atau netiket.
Nilai ini selaras dengan larangan ghibah dalam QS. Al-Hujurat: 12, “…dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”
“Menggunjing di grup chat atau menyebarkan aib orang lain di media sosial adalah bentuk pelanggaran terhadap Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur, sekaligus melanggar ajaran agama,” tegas Genta. Ia mendorong agar semangat Nengah Nyappur digunakan untuk memperluas jaringan yang positif, seperti tergabung dalam grup komunitas pelajar, usaha, atau keagamaan, untuk saling menimba ilmu dan pengalaman, bukan untuk menyebar kebencian.
Sakai Sambayan Digital: Gotong Royong Melampaui Batas Geografis.
Ujian nyata bagi gerakan Genta datang ketika seorang anak dari keluarga kurang mampu di sebuah pelosok Lampung membutuhkan biaya pengobatan yang besar. Genta dan kawan-kawan segera mempraktikkan nilai Sakai Sambayan (kebersamaan) dalam bentuk digital.
Mereka menggalang dana secara online dengan prinsip transparansi penuh. Laporan penggunaan dana di-update secara berkala dan dapat diakses oleh semua donatur. Dalam waktu singkat, bantuan mengalir dari berbagai penjuru, tidak hanya dari warga Lampung, tetapi juga dari masyarakat Indonesia lain yang tergerak oleh solidaritas.
“Inilah wujud Sakai Sambayan Digital,” seru Genta dalam sebuah update-nya. “Gotong royong tidak lagi terbatas oleh jarak dan waktu. Teknologi memungkinkan kita untuk saling menopang dalam kebaikan, seluas-luasnya.”
Kisah sukses penggalangan dana ini menjadi bukti nyata bahwa nilai luhur leluhur dapat berpadu dengan teknologi untuk menciptakan dampak sosial yang masif. Semangat Sakai Sambayan ini juga dapat diwujudkan dalam kerja sama tim mengerjakan proyek digital, saling membantu memecahkan masalah teknis di forum online, atau berbagi sumber daya secara gratis (open source), yang semuanya mencerminkan semangat tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (QS. Al-Ma’idah: 2).
Warisan Abadi dalam Pusaran Digital.
Setahun kemudian, gerakan Sekala Brak Digital telah berkembang pesat. Komunitas ini tidak hanya terdiri dari anak muda Lampung, tetapi juga diikuti oleh berbagai kalangan dari seluruh Indonesia yang tertarik pada konsep etika digital berbasis kearifan lokal.
Dalam sebuah acara penutupan festival budaya digital, Genta berdiri di panggung. “Kakek pernah berkata, tantangan saya adalah menjadi Penyimbang Muda di medan baru. Hari ini, saya sadar bahwa penyimbang tidak lagi hanya pemimpin adat di balai, tetapi setiap dari kita bisa menjadi penyimbang di ruang digitalnya masing-masing,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.
“Dengan menjalankan Piil Pesenggiri Digital, kita adalah penyimbang bagi martabat diri kita. Dengan Nemui Nyimah Digital, kita adalah penyimbang bagi konten positif di linimasa. Dengan Nengah Nyappur Digital, kita adalah penyimbang bagi jejaring yang sehat. Dan dengan Sakai Sambayan Digital, kita adalah penyimbang bagi solidaritas dan gotong royong sesama anak bangsa.”
Epik Genta Maulana menutup dengan keyakinan bahwa falsafah hidup orang Lampung bukanlah relikui masa lalu yang usang. Ia adalah living philosophy yang mampu beradaptasi, menjadi filter, dan penuntun dalam menghadapi era disruptif sekalipun. Nilai-nilai luhur yang Bersendi Kitabullah ini akan terus bergema, dari Bumi Sekala Brak hingga ke ujung jagat digital, membentuk peradaban digital Indonesia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika dan beradab.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Baharudin, M., & Luthfan, M. A. (2020). Aksiologi Religiusitas Islam pada Falsafah Hidup Ulun Lampung. International Journal Ihya’ ‘Ulum Al-Din, 21(2), 158–181 .
2. Nururi, I. (2024). Tradisi dan Religi: Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri Masyarakat Suku Lampung sebagai Dasar Etika dan Relevansinya dengan Agama Islam .
3. Yusuf, H. (2010). Dimensi Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri Relevansinya terhadap Pengembangan Kebudayaan Daerah Lampung. Jurnal Filsafat UGM, 20(3) .
4. Fernanda, F. E., & Samsuri, S. (2020). Mempertahankan Piil Pesenggiri Sebagai Identitas Budaya Suku Lampung. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 22(2), 168–177 .
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

