nataragung.id – Natar – 3 hari yang lalu, tepatnya tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional, kita diingatkan kembali bahwa di balik setiap ayat yang kita pahami, setiap akhlak yang kita jaga, setiap langkah baik yang kita ambil, ada seorang guru yang dahulu membimbing kita. Khutbah Jum’at kali ini khatib akan mengambil tema : 7 Keutamaan Menjadi Guru – Penyebar Cahaya, Pewaris Nabi, Peletak Masa Depan Ummat.
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdhu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā mudlilla lah, wa man yudhlilhu fa lā hādiya lah.
Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.
Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).
Ma‘āsyiral Muslimīn jama’ah Jum’at rahimakumullāh,
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Hari ini mimbar ini kembali mengingatkan kita tentang sosok yang berjasa namun sering terlupa, tentang pejuang diam yang tidak membawa senjata, tetapi mampu melahirkan pejuang-pejuang kebenaran. Tentang mereka yang tidak memiliki pangkat tinggi, tetapi mengangkat derajat sebuah bangsa.
3 hari yang lalu, tepatnya tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional, kita diingatkan kembali bahwa di balik setiap ayat yang kita pahami, setiap akhlak yang kita jaga, setiap langkah baik yang kita ambil, ada seorang guru yang dahulu membimbing kita.
Maka khutbah ini Khotib persembahkan untuk mereka:
Mereka yang mungkin tidak dikenal dunia, tetapi sangat dikenal oleh langit.
7 Keutamaan Menjadi Guru :
Pertama, Guru adalah Pewaris Para Nabi.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Innal ‘ulamā-a waratsatul anbiyā’.”
“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud)
Dan guru—yang mengajarkan kebenaran, kejujuran, adab, dan ilmu ikut memikul warisan kenabian itu.
Mereka tidak membawa wahyu, tetapi menyampaikan nilai-nilai wahyu kepada umat.
Maka sungguh mulia kedudukan guru, karena ia berjalan di atas jejak para rasul.
Kedua, Allah Mengangkat Derajat Para Guru
Firman Allah:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Yarfa‘illāhu alladzīna āmanū minkum walladzīna ūtū al-‘ilma darajāt.”
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādalah: 11)
Guru bukan hanya dimuliakan manusia, tetapi ditinggikan derajatnya oleh Allah, bahkan ketika dunia tidak mengangkatnya.
Ketiga, Pahala Jariyah yang Tidak Pernah Padam
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِه
“…aw ‘ilmin yuntafa‘u bih.”
“…atau ilmu yang bermanfaat.”
(HR. Muslim)
Seorang guru mungkin wafat,
tetapi huruf-huruf yang ia ajarkan tetap hidup di hati murid-muridnya,
dan pahala itu mengalir seperti sungai yang tak pernah mengering.
Setiap murid yang shalat, setiap kebaikan yang mereka lakukan,
ada bagian pahala dari guru yang mengajarkannya.
Keempat, Guru Menjadi Jalan Hidayah bagi Banyak Manusia
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“La-an yahdiyallāhu bika rajulan wāhidan khayrun laka min ḥumri an-na‘am.”
“Memberikan hidayah kepada satu orang melalui dirimu lebih baik daripada unta merah.” (HR. Bukhari)
Betapa banyak murid yang berubah menjadi lebih baik karena ucapannya…
Betapa banyak jiwa yang tadinya gelap menjadi terang karena sentuhannya…
Betapa banyak masa depan yang terselamatkan oleh satu guru yang baik.
Kelima, Guru Mendapatkan Doa Para Malaikat
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ… لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“…layuṣallūna ‘alā mu‘allimin-nāsi al-khayr.”
“Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Saat seorang guru menjelaskan satu ayat, saat ia membetulkan akhlak seorang anak, saat ia membimbing murid yang kesulitan, maka malaikat sedang memintakan ampun dan rahmat untuknya.
Sungguh kemuliaan yang tak mampu dibeli dengan dunia.
Keenam, Guru Menjadi Pelindung Generasi dari Kebodohan dan Kerusakan
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ… تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Ta’murūna bil-ma‘rūfi wa tanhawna ‘anil-munkar.”
“Kalian adalah umat terbaik… mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Pada hakikatnya guru adalah benteng umat:
mereka menjaga akhlak, aqidah, dan adab murid-muridnya dari gelombang zaman yang penuh fitnah.
Merekalah penjaga masa depan bangsa.
Ketujuh, Guru Mendapat Cahaya di Hari Kiamat
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Man dalla ‘alā khayrin falahu mitslu ajri fā‘ilih.”
“Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan, ia mendapat pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim)
Jika seorang murid kelak menjadi orang baik, menjadi orang shaleh, menjadi penolong agama, maka cahaya amalnya juga menerangi perjalanan sang guru di akhirat.
Ikhwan fillah…
Pada momentum Hari Guru Nasional 25 November ini,
marilah kita kenang kembali betapa besar jasa mereka:
Guru yang mengajar dengan kapur putih dan papan tulis sederhana…
Guru yang menahan lapar, menahan lelah. Guru yang menghapus air mata murid tanpa seorang pun tahu. Guru yang tetap tersenyum meski beban hidupnya berat. Guru yang mendoakan murid-muridnya dalam sujud yang panjang. Guru yang tak terlihat, tetapi selalu ada.
Mereka adalah pembuka masa depan, penanam benih-benih iman,
pencetak akhlak mulia dan cahaya yang menerangi jalan umat.
Kaum muslimin rahimakumullah…
Di hari guru ini, marilah kita panjatkan doa untuk para guru:
اللهم اغْفِرْ لِمُعَلِّمِينَا، وَارْحَمْهُمْ، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ، وَجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ.
“Ya Allah, ampunilah guru-guru kami, rahmatilah mereka, angkat derajatnya, dan balaslah mereka dengan balasan terbaik.”
اللهم جَعَلْ طُرُقَهُمْ نُورًا، وَأَعْمَالَهُمْ جَارِيَةً، وَذُرِّيَّاتِهِمْ مُبَارَكَةً.
“Ya Allah, jadikan jalan hidup mereka penuh cahaya, amal mereka mengalir abadi, dan keturunan mereka diberkahi.”
Dan bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup: jadilah murid yang beradab, jadilah anak yang menghormati guru, jadilah umat yang mencintai ilmu.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat rahimakumullah
Demikianlah khutbah singkat pada hari Jumat yang mulia dan penuh berkah ini. Semoga apa yang telah Khotib sampaikan bisa dijadikan pegangan bagi kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang fana’ ini. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.
Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.
Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.
I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn
اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

