Tidak Cukup Tanggap Darurat, tapi Tanggap Penyebab. Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – MASIH TENTANG bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang hingga saat ini masih terus dilakukan upaya penanganan darurat, utamanya pencarian korban yang hilang dan melakukan evakuasi.

Berdasarkan data terbaru korban bencana hidrometeoroligi, jumlah korban meninggal dunia mencapai 836 jiwa dan 518 jiwa lainnya hilang. Pengungsi mencapai ratusan ribu jiwa dan total terdampak lebih dari 3 juta jiwa. Belum lagi kerusakan infrastruktur mencakup 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang dan 20.500 rumah rusak ringan. sementara lebih 1 juta orang terpaksa harus mengungsi dan tinggal di tempat-tempat penampungan.

Tingginya jumlah korban dan dampak yang luas menuntut kita semua untuk bersimpati dan memberikan dukungan kepada para korban dan keluarga mereka. Dalam suasana seperti sekarang ini, penting bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Bencana alam memang memiliki aspek yang kompleks, dan penting untuk memahami bahwa penyebabnya tidak hanya berasal dari satu faktor saja. Meskipun bencana dapat dianggap sebagai bagian dari alam atau kehendak Tuhan, manusia juga memiliki peran dalam mengurangi resiko dan dampak bencana melalui tindakan pencegahan dan mitigasi yang tepat.

Dari bencana besar yang terjadi di tiga provinsi tersebut, kita perlu melakukan analisis mendalam tentang penyebab bencana, termasuk faktor alam dan faktor manusia. Apakah selama ini kita sudah mengelola lingkungan dengan baik, seperti melestarikan hutan, mengelola air dan mengurangi polusi. Apakah selama ini kita sudah melakukan mitigasi bencana dengan memberikan edukasi dan pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana. Nyatanya masih banyak masyarakat yang lebih fokus mengambil foto dan video saat bencana datang, daripada mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan diri.

Baca Juga :  Bunda Eva, Dang Sehago-Hago. Oleh : Gunawan Handoko *)

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat belum atau tidak mengetahui prosedur keselamatan yang tepat saat bencana banjir, seperti jalur evakuasi dan tempat-tempat yang aman. Masyarakat mengira bahwa banjir yang terjadi kali ini sama dengan banjir-banjir sebelumnya. Bisa jadi hal tersebut akibat sistem peringatan dini yang kurang efektif, sehingga menyebabkan masyarakat tidak mendapatkan informasi yang tepat tentang potensi bencana. Yang pasti kita tidak bisa menyalahkan hujan yang turun, karena sesungguhnya air itu merupakan rahmat Tuhan. Tapi karena tidak dikelola dengan baik, nikmat Tuhan itu justru sering menimbulkan masalah. Saat musim hujan terjadi banjir, dan saat kemarau kita menderita kekurangan air. Maka untuk mengatasi banjir dan tanah longsor tidak bisa hanya dengan tanggap darurat, tapi harus dibarengi dengan tanggap bencana melalui mitigasi, melakukan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko dan dampak bencana. Jika ada yang bertanya, mana yang lebih penting, mitigasi bencana atau tanggap darurat? Kedua-duanya merupakan aspek yang penting dalam manajemen bencana, dan harus dilakukan secara bersamaan dan terintegrasi.

Baca Juga :  Keraton dan Peradaban. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Meski keduanya memiliki peran yang berbeda, namun sama-sama krusial dalam mengurangi resiko dan dampak bencana, maka keduanya harus saling melengkapi. Mitigasi bencana fokus pada pencegahan dan pengurangan resiko sebelum bencana terjadi, sedangkan tanggap darurat fokus pada respons cepat dan efektif ketika bencana terjadi. Dengan melakukan mitigasi bencana yang efektif, kita dapat mengurangi kebutuhan akan tanggap bencana yang besar. Maka sekali lagi, edukasi masyarakat sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang bencana dan prosedur keselamatan melalui kampanye edukasi dan pelatihan. Prioritas keselamatan jiwa harus selalu menjadi yang utama dalam menghadapi bencana. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) memiliki peran penting dalam menangani bencana di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Namun pada kenyataannya banyak BPBD, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota yang menghadapi kendala dalam menjalankan tugasnya. Selain anggaran yang minim, BPBD sering kali memiliki keterbatasan sumber daya, termasuk personel dan peralatan. Banyak BPBD yang bergantung pada anggaran dari pemerintah pusat, sehingga mengalami keterbatasan dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan.

Anggaran yang sangat terbatas tersebut seringkali diprioritaskan untuk kegiatan lain yang dianggap lebih mendesak, sehingga menyebabkan keterlambatan respons setiap kali menghadapi bencana. Minimnya anggaran juga menjadi penyebab BPBD kurang mampu melakukan edukasi masyarakat tentang bencana dan prosedur keselamatan. Dalam konteks ini, pemerintah daerah perlu meningkatkan anggaran yang memadai untuk BPBD agar dapat meningkatkan kapasitasnya dengan memberikan pendidikan dan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat, sehingga mereka tahu tentang cara menghadapi bencana dan mengurangi resiko. Dengan melakukan mitigasi bencana yang efektif dan memiliki sistem tanggap bencana yang baik, kita dapat mengurangi resiko bencana dan meminimalkan dampaknya.

Baca Juga :  Pembalasan Iran dan Senjata Minyak. Apa Efek Buat Indonesia? Oleh : Denny JA

Hal yang tidak kalah penting adalah mengembangkan infrastruktur yang tahan bencana dan melakukan penataan ruang yang mempertimbangkan resiko bencana. Dalam proses perencanaan perlu melibatkan masyarakat, khususnya dalam pengambilan keputusan terkait mitigasi bencana dan tanggap bencana. Di setiap daerah perlu memiliki sistem peringatan dini yang benar-benar efektif agar dapat memberikan informasi dan cepat dan akurat tentang potensi potensi bencana, sehingga masyarakat dapat melakukan evakuasi dan mengambil langkah-langkah keselamatan.
Bencana banjir dan tanah longsor masih menghantui beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera. Maka mitigasi bencana menjadi sangat penting dilakukan untuk melindungi masyarakat dan mengurangi jatuhnya korban. Semoga para korban bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi musibah ini. Jangan pernah merasa sendirian, karena Tuhan selalu bersama kita.

*) Pemerhati masalah Lingkungan dan Permukiman, tinggal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini