Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 6. “Seruit dan Kebersamaan: Hidangan yang Menyatukan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah di zaman kemarau panjang, sebuah kampung di wilayah Pepadun Marga Way Lima dilanda paceklik. Sawah mengering, ladang tak berbuah. Sang Penyimbang, Ki Arya Dering, memerintahkan seluruh warga mengumpulkan sisa bahan makanan yang ada: segenggam beras, setangkai singkong, beberapa ikun daun talas. Semua dikumpulkan di Sesat (balai adat).
Istrinya, Muli Sari, kemudian memasak semua bahan itu bersama-sama dalam sebuah kulo (kuali besar), menciptakan satu hidangan campuran yang sederhana namun mengenyangkan. Ki Arya Dering kemudian mengumpulkan seluruh warga. Ia bersabda, “Nyak niwah sasambatan, kitok niwah sepenyandingan. Sai mak ngakuk, mak bedewa.” (“Kita ini satu sambatan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mari kita makan, jangan ada yang merasa asing.”)

Hidangan itu kemudian dibagikan secara merata kepada setiap kepala keluarga, dari yang miskin hingga yang dahulu kaya. Ajaibnya, dari kuali itu, makanan terus bertambah hingga semua kenyang. Peristiwa ini disebut Nasi Bekulo atau Nasi Sambatan.
Sejak itu, tradisi Makan Sambatan dilakukan setiap kali ada bencana atau kerja bakti besar (Sambatan).

Hidangan itu mengajarkan bahwa dalam kesulitan, semua perbedaan status lenyap; yang ada hanyalah manusia yang sama-sama lapar dan perlu bersatu untuk bertahan hidup.

Analisis Filosofis:

Legenda ini adalah fondasi filosofi kebersamaan Lampung: egalitarianisme dalam penderitaan dan kemurahan hati. Sambatan bukan sekadar kerja bakti, tetapi sebuah kontrak sosial untuk saling menopang. Nasi Bekulo adalah simbol transformasi: bahan seadanya yang dikumpulkan dan dimasak bersama menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Proses membagi makanan secara merata (pepat/nyame) adalah tindakan politik dan spiritual untuk menegaskan bahwa di hadapan rasa lapar dan kebutuhan dasar, semua manusia setara.

Seruit: Filosofi dalam Sepiring Santan dan Ikan Bakar.

Seruit bukan sekadar makanan, melainkan sebuah pernyataan hidup yang lengkap. Hidangan khas Lampung ini terdiri dari ikan bakar (biasanya lais, baung, atau kembung) yang disuwir, dicampur dengan sambal terasi (cabul), dan diremas-remas dengan irisan mangga muda atau dalam (terung khas), lalu disiram santan. Proses penyajian dan penyantapannya penuh makna.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 2 – Etika Bicara: Santun dalam Ucapan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pertama, ikan yang dipilih adalah hasil tangkapan sungai atau danau, mewakili kebergantungan pada alam (ngetikan bumi). Proses membakar melambangkan penyucian. Kemudian, aktivitas meremas-remas (gejok) semua bahan menjadi satu adalah simbol paling kuat: penyatuan berbagai elemen yang berbeda menjadi suatu keutuhan yang harmonis dan lezat. Tidak ada lagi yang berdiri sendiri; daging ikan, pedas sambal, asam mangga, dan gurih santan melebur.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, ada petunjuk tentang jamuan: “Nyamai makat jejama, sai mak bejongok, sai mak beriding.” (“Enak makan bersama, jangan berat sebelah, jangan saling membelakangi.”) Artinya, saat makan jejama (makan bersama), semua harus duduk dalam formasi melingkar atau berhadapan (behimpok), menciptakan ruang setara tanpa hierarki.

Seruit selalu disajikan di atas talam (nampan besar) atau daun pisang yang dibentangkan, untuk dinikmati bersama-sama oleh 4-6 orang. Setiap orang mengambil dari pusat yang sama.

Analisis Filosofis:

Seruit adalah metafora tentang masyarakat ideal. Ikan bisa dianggap sebagai “masalah” atau “nikmat” yang didapat bersama. Sambal adalah “konflik” atau “penyelesaian yang tajam”. Mangga muda adalah “kritik” atau “penyeimbang yang segar”. Santan adalah “kearifan” atau “lemak kebersamaan” yang melunakkan segala sudut. Dengan meremasnya bersama, masyarakat diajak untuk secara proaktif “mencampur” dan “mengolah” segala perbedaan dan tantangan hidup mereka hingga menghasilkan suatu kesatuan yang nikmat (nyamai) untuk dinikmati bersama. Makan dari satu wadah adalah ikatan simbolis yang sangat kuat, menciptakan kesatuan nasib (sepenyandingan).

Jamuan Adat: Makan sebagai Ritual Pemersatu.

Setiap upacara adat di Lampung, dari kelahiran (Ngebabali), khitanan (Betandak), pernikahan (Cangget/Begawei), hingga kematian (Belangiran), selalu dimahkotai dengan jamuan makan bersama. Jenis makanannya punya makna tersendiri. Dalam pernikahan adat Saibatin, misalnya, disajikan Pekhidem, yaitu nasi yang dibungkus daun talas bersama lauk, yang harus dibagikan kepada seluruh undangan sebagai simbol penyebaran berkat dan ikatan baru.

Baca Juga :  Buku Seri Lampung Pubian Dalam Komunitas Pepadun. Seri 4: Pubian dalam Konteks Sosial Kontemporer Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam Piagem Adat Lampung tercatat aturan tentang jamuan: “Adat makat, sai muwah ngehaga, ngebuga, mak ngerara.” (“Adat makan, harus bisa mengenyangkan, menyegarkan, bukan menyakiti.”)

Analisisnya mendalam: sebuah jamuan adat memiliki tiga fungsi. Pertama, ngehaga (mengenyangkan): memenuhi kebutuhan fisik sebagai wujud terima kasih. Kedua, ngebuga (menyegarkan): menyenangkan hati, memperbarui semangat, dan mencairkan suasana. Ketiga, mak ngerara (bukan menyakiti): makanan harus halal, baik, dan disajikan dengan tata cara yang tidak mempermalukan atau membuat tamu tidak nyaman.

Ritual Nyambai (mengundang makan) pun sakral. Tamu yang diundang tidak boleh menolak, karena itu dianggap menolak kebersamaan. Sebelum makan, seringkali dipimpin doa atau petuah singkat: “Makat khak ngehujok, inum khak ngeghebug. Sai mak lupa pada sai bejamo.” (“Makan jangan sampai tersedak, minum jangan sampai tersendak. Jangan lupa pada yang memberi rezeki.”) Ini adalah pengingat untuk bersyukur, bersikap santun, dan mengingat asal-usul rezeki (Tuhan dan sesama).

Analisis Filosofis:

Jamuan adat adalah ritual integrasi. Dengan makan bersama setelah sebuah peristiwa penting, komunitas secara simbolis “mencerna” peristiwa tersebut bersama-sama. Mereka mengubah energi acara (baik sukacita maupun dukacita) menjadi ikatan fisik dan emosional yang lebih kuat. Meja makan (dulang) menjadi Balai mini tempat segala perbedaan status sosial dinetralkan oleh tindakan dasar yang sama: menyantap makanan. Tradisi ini melawan individualisme dengan cara yang paling elegan: melalui keramahan dan rasa kenyang yang dibagikan.
Rasa yang Mengingatkan Kita pada Siapa Kita
Di era makanan cepat saji yang dikonsumsi dalam kesendirian, filosofi Seruit dan Makan Jejama bagai suara penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa makanan terlezat adalah yang dibagi, bahwa kepuasan sejati terletak pada kenyangnya bersama, bukan kekenyangan sendiri.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 7 – Tata Krama dalam Kegiatan Adat dan Sosial. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Seruit mengajarkan seni hidup: bahwa hidup yang “enak” adalah hasil dari keberanian untuk “meremas” dan menyatukan berbagai pengalaman, pahit, pedas, asam, gurih, menjadi suatu kebijaksanaan hidup yang utuh. Setiap undangan makan dalam adat Lampung adalah pengulangan sumpah sosial: kita adalah sasambatan, satu komunitas yang terikat bukan hanya oleh darah dan aturan, tetapi juga oleh rasa yang sama dalam mulut dan kehangatan yang sama di hati. Pada akhirnya, di tanah Lampung, yang menyatukan kita bukan hanya kata-kata dalam musyawarah, tetapi juga keakraban yang lahir dari satu talam tempat kita semua mencelupkan jari.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hilman Hadikusuma (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Buku Fisik). [Bab tentang sistem kekerabatan, gotong royong (Sambatan), dan upacara adat].
2. Iskandar, Z. (2017). Makna Simbolik Makanan dalam Upacara Adat Pernikahan Masyarakat Lampung Saibatin. Jurnal Kandai, Vol. 13, No. 2. (Jurnal Digital terindeks). [Analisis mendalam tentang Pekhidem dan jamuan pernikahan].
3. Adrianus Laga (Penyunting) (2018). Piagem-Piagem Pesenggiri: Naskah Hukum Adat Lampung. Kantor Bahasa Provinsi Lampung. (Buku Digital PDF). [Tentang aturan jamuan dan prinsip nyamai makat jejama].
4. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno). Transliterasi dan terjemahan tersimpan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung. (Dokumen Fisik/Digital Arsip). [Sumber petuah tentang adat makan].

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini