nataragung.id – Pemanggilan – Amal perbuatan tidak pernah benar-benar tersembunyi. Ia mungkin dilakukan dalam sunyi, jauh dari pandangan manusia, namun pengaruhnya perlahan naik ke permukaan dan menampakkan diri pada wajah.
Hati adalah sumbernya, amal adalah jalannya, dan wajah adalah cerminnya. Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang ingkar dengan sangat jelas:
{ تَعۡرِفُ فِی وُجُوهِ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلۡمُنكَرَۖ }
“Engkau mengenali pada wajah orang-orang kafir itu tanda-tanda keingkaran.” [Surat Al-Hajj: 72]
Ada kekerasan, kegelisahan, dan penolakan terhadap kebenaran yang tercetak tanpa perlu diucapkan. Bukan karena rupa yang buruk, tetapi karena hati yang menolak cahaya petunjuk.
Sebaliknya, orang-orang beriman disebut dengan kemuliaan yang lembut:
{ سِیمَاهُمۡ فِی وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ }
“Tanda-tanda mereka tampak pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud.” Surat Al-Fath: 29]
Ia bukan sekadar bekas hitam di dahi, melainkan cahaya ketundukan, ketenangan jiwa, dan kerendahan hati yang lahir dari seringnya bersimpuh di hadapan Allah. Sujud yang tulus membersihkan hati, lalu memantulkan ketenangan pada raut wajah.
Inilah sunnatullah: siapa yang akrab dengan ketaatan, wajahnya akan dipoles oleh ketenteraman. Siapa yang terbiasa dengan maksiat, wajahnya akan dibebani kegelisahan.
Maka sebelum sibuk memperindah wajah, perindahlah amal. Sebab wajah hanyalah cermin, sedangkan yang menentukan pantulannya adalah apa yang kita tanam dalam hati dan kita lakukan dalam kehidupan. (KIS)
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

