nataragung.id – Pemanggilan – Kadang kita mengeluh pada keterbatasan, seakan ia adalah penghalang segala impian. Kita merasa sempit oleh keadaan, terikat oleh kemampuan, dan tertahan oleh apa yang tidak kita miliki. Padahal, sering kali justru di sanalah keselamatan disembunyikan.
Keterbatasan mengajarkan kita berhenti sebelum melampaui batas. Ia menahan langkah agar tidak terjerumus pada kesombongan, tidak terbakar oleh ambisi yang membabi buta.
Seandainya semua pintu terbuka lebar, mungkin kita lupa memilih mana jalan yang benar dan mana yang hanya tampak indah di mata.
Keterbatasan juga melatih kita bersandar. Saat daya tak lagi cukup, kita belajar berdoa. Saat akal tak menemukan jalan, hati mulai tunduk dan pasrah.
Di situlah manusia mengenal makna tawakal—bahwa tidak semua harus ditaklukkan, sebagian cukup diserahkan kepada Allah.
Banyak orang diselamatkan bukan karena kuatnya mereka, tetapi karena lemahnya mereka.
Lemah yang membuat mereka berhati-hati, sederhana yang menjauhkan dari kerakusan, dan kurang yang menjaga dari dosa-dosa yang berlebihan.
Keterbatasan menjadi pagar tak terlihat yang melindungi, meski sering disalahpahami sebagai hukuman.
Maka jangan selalu membenci keterbatasan. Bisa jadi ia adalah cara Allah menjaga kita, menunda sesuatu yang akan mencelakakan, atau mengarahkan pada jalan yang lebih berkah.
Sebab tidak semua yang kita inginkan membawa kebaikan, dan tidak semua yang dibatasi berarti keburukan.
Kadang, keterbatasan bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk menyelamatkan. (KIS/139).
Wallahu A’lamu
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

