Dekade Khidmah dan Militansi Kader di Ambang Pandemi – Catatan Untuk Seorang Mang Iful. Oleh: Edi Sriyanto *)

0

nataragung.id – Sidomulyo – Menemukan sosok kader yang konsisten bergerak selama lebih dari tiga dekade bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Nahdliyin di Lampung Selatan, sosok Ust. Syaifullah atau yang lebih akrab disapa Mang Iful adalah bukti hidup bahwa khidmah di Nahdlatul Ulama adalah perjalanan panjang yang melampaui urusan jabatan struktural.

Perjalanan Mang Iful dimulai dari rahim pengaderan paling dasar. Pada tahun 1992, saat masih duduk di bangku Madrasah, saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Assalamiyah, Serang, Banten, ia telah mematri janji sebagai kader IPNU. Akar santri Banten inilah yang kemudian membentuk mentalitas bajanya saat kembali dan berjuang di tanah Lampung Selatan.

Militansinya teruji saat ia dipercaya menakhodai PAC GP Ansor Merbau Mataram selama dua periode, terhitung sejak tahun 2004 hingga 2008. Selepas dari Ansor, Mang Iful memasuki fase yang menarik: khidmah tanpa jabatan struktural.

Baca Juga :  Lembaga Falakiyah PBNU: 1 Syawal 1447 H Sabtu 21 Maret

Selama lebih dari satu dekade (2008-2019), ia tetap bergerak “di bawah radar”, menjadi pendukung setia setiap kegiatan NU, membuktikan bahwa seorang kader sejati tidak butuh surat keputusan (SK) untuk tetap berkhidmah.

“Beliau ini multi-peran. Kadang di depan, kadang di belakang layar, tapi yang pasti beliau selalu ada di setiap denyut nadi pergerakan NU di Tanjung Bintang dan Merbau Mataram,” ujar salah satu rekan sejawatnya yang memantau langsung kiprahnya selama ini.

Momentum krusial terjadi pada tahun 2020. Mang Iful memutuskan untuk memperkuat sanad ideologinya dengan mengikuti Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) Angkatan ke-2 di Pondok Pesantren Miftahul Huda 606, Agom, Kalianda.

Ada cerita heroik di angkatan ini. Mang Iful bersama jajaran kader lainnya melaksanakan prosesi baiat tepat pada 17 Maret 2020. Hanya berselang tiga hari setelah kalimat baiat diikrarkan, dunia seolah berhenti akibat kebijakan pembatasan sosial (lockdown) pandemi Covid-19. Seolah-olah, langit mengizinkan mereka menyelesaikan proses penyucian ideologi tepat sebelum pintu pertemuan fisik tertutup rapat. Tugas pertamanya sebagai kader penggerak pun langsung diuji oleh krisis global.

Baca Juga :  Wujud Khidmah Kemanusiaan NU: Galang Donasi Bencana Sumatera Hingga 20 Desember, Lamsel Buktikan Solidaritas Kultural-Struktural

Kini, sebagai Wakil Ketua MWCNU Tanjung Bintang sejak 2019, peran Mang Iful semakin sentral. Ia bukan hanya sekadar pengurus, melainkan “Humas Kultural” yang menjadi mata dan telinga organisasi. Aktif melaporkan setiap kegiatan melalui dokumentasi foto dan video, hingga menjadi “kurir” kaderisasi yang mengirimkan peserta PD-PKPNU lintas daerah, mulai dari Bandar Lampung hingga Pesawaran.

Karakternya yang slenge’an namun fokus, menjadikannya sosok yang cair di tengah jamaah. Ia bisa seketika bertransformasi menjadi “reporter dadakan” yang sigap saat dibutuhkan, sebuah performa kader lapangan yang multifungsi.

Baca Juga :  PC Fatayat NU Lampung Selatan Gelar Rutinan Khotmil Qur'an Binadhor, Perkuat Spiritual Kader

Bagi Mang Iful, khidmah di NU adalah soal memastikan bendera organisasi tetap berkibar, bahkan di wilayah yang minim pergerakan sekalipun. Perjalanannya dari IPNU hingga menjadi jangkar di MWCNU Tanjung Bintang adalah potret nyata dari slogan “Kader Penggerak”: terus bergerak, tanpa menoleh ke belakang (tingak-tinguk), demi menjaga marwah ulama dan jam’iyyah.

_Merawat Nahdlatul Ulama adalah ikhtiar menyambungkan kemuliaan sanad keilmuan dengan ketulusan militansi pergerakan._
Siapa Kita…???!!!

*) Penulis adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Lampung Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini