nataragung.id, Bandar Lampung — Lima puluh tiga tahun bukanlah perjalanan singkat bagi sebuah partai politik. Ia adalah rentang waktu yang dipenuhi luka sejarah, ujian kekuasaan, tekanan zaman, hingga pertaruhan keberpihakan. Pada usia ke-53 inilah, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) kembali berdiri di persimpangan sejarah: diuji oleh perubahan politik nasional, dinamika demokrasi, serta tuntutan rakyat yang semakin kritis.
Momentum bersejarah tersebut mendapat perhatian khusus dari H. Aribun Sayunis, S.Sos., MM., Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Lampung. Dengan nada reflektif dan penuh makna, ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus penghormatan mendalam atas perjalanan panjang PDI Perjuangan sebagai partai ideologis yang konsisten berpihak kepada rakyat.
“Saya mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-53 kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Usia ini adalah bukti bahwa PDI Perjuangan tidak hanya bertahan, tetapi terus berjuang. Partai ini lahir dari rahim penderitaan, ditempa oleh tekanan kekuasaan, dan dibesarkan oleh kepercayaan rakyat,” ungkapnya.
Menurut H. Aribun Sayunis, PDI Perjuangan memiliki posisi historis yang tidak dimiliki semua partai politik. Ia bukan sekadar organisasi kekuasaan, melainkan gerakan politik yang berakar pada ideologi Pancasila, ajaran Bung Karno, serta semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.
Dalam konteks kekinian, ketika politik kerap terjebak pada pragmatisme, transaksi kekuasaan, dan jarak dengan rakyat, PDI Perjuangan dinilai tetap menjaga watak ideologisnya. Keberpihakan pada wong cilik, penguatan ekonomi kerakyatan, serta keberanian bersuara demi keadilan sosial menjadi ciri yang terus dijaga.
“Di tengah derasnya arus politik praktis dan kepentingan sesaat, PDI Perjuangan tetap berdiri sebagai partai yang berani mengambil sikap. Tidak selalu populer, tetapi berpihak. Tidak selalu mudah, tetapi berprinsip,” tegasnya.
Sebagai Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Lampung, H. Aribun Sayunis menilai peran PDI Perjuangan semakin krusial dalam menjaga keseimbangan demokrasi, memperkuat tata kelola pemerintahan daerah, serta memastikan kebijakan publik benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat luas, khususnya masyarakat kecil, petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
Ia menambahkan, usia 53 tahun seharusnya menjadi momentum konsolidasi dan refleksi mendalam bagi PDI Perjuangan untuk terus memperbaiki diri, memperkuat barisan, dan menghadirkan politik yang bermoral serta bermartabat.
“PDI Perjuangan harus terus menjadi rumah besar perjuangan rakyat. Rumah yang kokoh secara ideologi, kuat secara organisasi, dan jujur dalam pengabdian. Politik bukan semata tentang kekuasaan, tetapi tentang keberanian memperjuangkan kebenaran,” ujarnya.
Lebih jauh, H. Aribun Sayunis berharap PDI Perjuangan mampu terus melahirkan kader-kader bangsa yang berintegritas, berjiwa nasionalis, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kader yang hadir bukan hanya saat pemilu, tetapi senantiasa bersama rakyat dalam setiap denyut kehidupan.
“Di usia ke-53 ini, semoga PDI Perjuangan semakin dewasa dalam berpolitik, semakin matang dalam mengambil keputusan, dan semakin kuat dalam menjaga amanat rakyat. Tetap setia pada ideologi Pancasila dan cita-cita Bung Karno, serta tidak pernah lelah berdiri di barisan rakyat,” pungkasnya.
Peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan peneguhan kembali jalan perjuangan: bahwa politik sejatinya adalah alat pengabdian. Dan selama api ideologi masih menyala, PDI Perjuangan diyakini akan terus berdiri tegak menghadapi gelombang zaman, bersama rakyat, untuk Indonesia yang berkeadilan sosial.
Editor : Muhammad Arya

