MIMBAR JUM’AT : Tujuh Hal yang Menjaga Niat Tetap Ikhlas Karena Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Tanpanya, amal yang besar menjadi hampa, dan perbuatan yang tampak indah menjadi tak bernilai di sisi Allah. Karena itulah Imam an-Nawawi membuka Riyaḍuṣ-Ṣaliḥin dengan bab Ikhlas dan Niat, seakan mengingatkan bahwa sebelum berbicara tentang amal, hati harus terlebih dahulu diluruskan.
Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas bukan sesuatu yang datang sekali lalu menetap selamanya. Ia harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan.

Berikut tujuh perkara yang dapat menjaga niat tetap ikhlas karena Allah.

1. Meluruskan Niat Sebelum Beramal

Ikhlas dimulai sebelum amal dikerjakan. Setiap langkah hendaknya diawali dengan pertanyaan dalam hati: Untuk siapa aku melakukan ini? Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim – Hadits pertama dalam Riyaḍuṣ-Ṣaliḥin)

Hadits ini adalah timbangan amal. Amal yang tampak sama bisa bernilai surga bagi satu orang dan sia-sia bagi yang lain, tergantung niat yang tersembunyi di dalam hati.

Baca Juga :  KHUTBAH JUM'AT : Santri Penjaga Agama dan Akhlak Umat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

2. Mengingat Bahwa Allah Maha Mengetahui Isi Hati

Ikhlas tumbuh ketika seorang hamba menyadari bahwa Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia. Pandangan manusia bisa tertipu, tetapi Allah mengetahui rahasia terdalam.
Allah berfirman:

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah: jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)

Kesadaran ini membuat seorang mukmin tidak sibuk mengejar pujian, karena ia tahu bahwa penilaian Allah jauh lebih penting daripada penilaian manusia.

3. Menghindari Riya’ dan Syahwat Pujian

Riya’ adalah racun ikhlas. Ia menyusup halus dalam amal, mengubah ibadah menjadi panggung, dan menggeser orientasi dari Allah kepada manusia.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكَ الأَصْغَرُ

Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?”
Beliau menjawab:
الرِّيَاءُ
“Riya’.” (HR. Ahmad)

Ikhlas terjaga ketika seorang hamba belajar merasa cukup dengan penilaian Allah, meski tidak ada satu pun manusia yang memuji amalnya.

4. Memperbanyak Amal Tersembunyi

Amal yang paling aman dari riya’ adalah amal yang hanya diketahui oleh Allah. Semakin tersembunyi amal, semakin dekat ia kepada keikhlasan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah:

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Hari Ketika Segalanya Dihadirkan (Renungan dari surat Ali Imron ayat 30). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Amal tersembunyi adalah dialog rahasia antara hamba dan Rabb-nya.

5. Tidak Terpengaruh Pujian dan Celaan

Ikhlas akan goyah jika hati terlalu bergantung pada komentar manusia. Orang yang ikhlas tidak bertambah semangat karena pujian, dan tidak berhenti beramal karena celaan.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata (dikutip oleh Imam an-Nawawi):
“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Hamba yang ikhlas berjalan dengan tenang, karena ia tahu bahwa nilai amalnya tidak ditentukan oleh suara manusia, melainkan oleh ridha Allah.

6. Mengingat Bahwa Amal Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai

Banyak amal akan datang pada hari kiamat, namun hancur karena niat yang salah.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Menjaga Amalan Baik. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Allah berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal dan ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan amal itu dan kesyirikannya.” (HR. Muslim – Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn)

Ikhlas adalah syarat diterimanya amal, sebagaimana benarnya amal adalah syarat sahnya.

7. Terus Memohon Ikhlas kepada Allah
Ikhlas bukan hasil kekuatan diri, tetapi karunia dari Allah. Karena itu, orang-orang saleh selalu memohon agar Allah menjaga hati mereka.
Sebagian ulama salaf berkata:
“Aku tidak pernah berjuang melawan sesuatu seberat perjuanganku melawan niatku.”

Doa adalah benteng terakhir ikhlas. Tanpa pertolongan Allah, hati mudah berbelok dan niat mudah tercemar.

Ikhlas adalah perjalanan seumur hidup. Ia tidak selalu terasa, tetapi dampaknya sangat besar. Amal yang kecil dengan ikhlas dapat mengantarkan ke surga, sementara amal besar tanpa ikhlas bisa berakhir sia-sia.

Semoga Allah menjadikan setiap amal kita murni karena-Nya, diterima di sisi-Nya, dan menjadi pemberat timbangan kebaikan kita di hari kiamat.
(KIS)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini