nataragung.id – Pemanggilan – Jangan menyakiti hatimu dengan memaksa diri menanggung sesuatu yang tidak sanggup kau pikul.
Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk hidup dalam keterpaksaan yang melukai jiwa. Hati adalah amanah, dan menjaganya adalah bagian dari ibadah.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menegaskan bahwa jika sesuatu telah melampaui batas kemampuan dan merusak ketenangan batin, maka itu bukan jalan yang Allah kehendaki.
Jangan pula engkau terus-menerus bermuamalah dengan kepura-puraan, menyenangkan orang lain dengan mengorbankan tenaga, waktu, dan jiwamu.
Islam mengajarkan kejujuran, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada diri sendiri.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَىٰ مَا لَا يَرِيبُكَ
“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, dan ambillah apa yang tidak meragukanmu.” (HR. At-Tirmidzi)
Jika suatu sikap membuat hati gelisah dan nurani lelah, sering kali itu isyarat agar kita berhenti. Dan jangan pernah merelakan martabat serta kedamaian hatimu hilang demi siapa pun.
Harga diri seorang mukmin sangatlah mulia, karena ia terikat langsung dengan kehambaannya kepada Allah.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan ini bukan untuk ditukar dengan penerimaan manusia, apalagi dengan merendahkan diri di hadapan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا يَنبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ
“Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri.” (HR. At-Tirmidzi)
Sebab orang yang meremehkan hak dirinya, kelak akan membayar mahal dengan luka batin, kelelahan jiwa, dan hilangnya ketenangan.
Hidup memang tidak selalu manis. Ada hari-hari pahit yang harus dilalui dengan sabar. Namun Allah tidak membiarkan hamba-Nya tenggelam terlalu lama dalam gelap. Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Manisnya hidup terkadang bukan berupa kelapangan besar, melainkan cahaya kecil yang datang di waktu gelap cukup untuk membuat kita bertahan.
Karena itu, berpeganglah pada cahaya Allah. Dialah sumber terang yang tak pernah padam. Dan rawatlah pula cahaya dalam dirimu: iman, harga diri, dan kejujuran hati.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)
Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memohon cahaya dalam setiap sisi kehidupan:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku.” (HR. Muslim)
Maka gantungkanlah hatimu pada cahaya Allah, lalu jaga cahaya dirimu sendiri. Sebab jika engkau bersama Allah, engkau takkan benar-benar sendiri. Dan jika engkau jujur pada dirimu, jiwamu takkan mengkhianatimu.
“Berpeganglah pada cahaya Allah, lalu pada cahaya dirimu sendiri. Dirimu takkan mengkhianati, dan Allah takkan pernah pergi.” <>
(KIS/159).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

