Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 5 – GENERASI MUDA DAN BUDAYA, ANTARA TRADISI DAN MODERNITAS. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kafe di Bandar Lampung, tiga sahabat sedang berkumpul. Raya, mahasiswa arsitektur, asyik memperlihatkan desain rumah modernnya di tablet. Galih, yang baru pulang dari Jakarta, bercerita tentang ritme kerja di perusahaan multinasional. Sementara Dira, yang baru saja membantu orang tuanya di kampung menggelar begawi, terdiam memandang gelasnya.
“Aku merasa seperti terbelah,” ujar Dira tiba-tiba. “Di kampus, aku harus bicara tentang algoritma dan tren global. Tapi di kampung, tanganku masih ingat cara menyematkan tapis, dan telingaku masih paham jika nenek melantunkan hadis munjung. Kadang, dua dunia itu terasa begitu jauh.”
“Lalu, dunia mana yang harus kita pilih?” tanya Raya.
“Atau, bisakah dua dunia itu bertemu?” tambah Galih.

Percakapan mereka adalah percerminan dari kebingungan ribuan pemuda Lampung. Di satu sisi, ada tarikan kuat modernitas yang menjanjikan kemajuan. Di sisi lain, ada desakan halus tradisi yang menuntut pelestarian. Di tengah tarik-ulik ini, di manakah peran negara?

Generasi muda bukanlah ruang kosong yang pasif. Mereka adalah medan pertempuran ide, nilai, dan identitas. Dalam konteks budaya Lampung, mereka adalah penerima warisan sekaligus pembentuk masa depan budaya itu sendiri.
Namun, ada jurang yang menganga. Warisan budaya yang diterima seringkali terasa sebagai beban kewajiban, bukan aset yang menginspirasi. Upacara adat dirasakan kaku, bahasa dianggap kurang gaul, dan filosofi hidup dipandang ketinggalan zaman. Ini terjadi karena adanya kesenjangan makna.

Sebuah pepatah Lampung kuno dari naskah Kuntara Raja Niti mengatakan: “Anak udeh jama kakah, kakah ngakuk pekekuk anak.” Artinya: “Anak menjaga orang tua, orang tua menjaga pegangan anak.” Makna mendalam dari pepatah ini adalah tentang siklus tanggung jawab timbal balik dan transmisi pengetahuan.
“Pegangan” (pekekuk) di sini bukan hanya harta benda, tetapi nilai, keterampilan, dan pedoman hidup (adat). Orang tua (generasi tua/penjaga adat) bertugas memberikan “pegangan” yang kokoh dan relevan. Anak (generasi muda) bertugas menjaga pemberian itu dengan cara mereka, mungkin dengan memperbarui “cara memegangnya”, bukan menelantarkannya. Krisis terjadi ketika “pegangan” yang diberikan terasa tidak sesuai dengan medan kehidupan yang dihadapi anak, sementara anak tak diberi ruang untuk menafsir ulang “pegangan” tersebut.
Dua kekuatan ini adalah pendorong utama pergeseran sikap generasi muda.
1. Urbanisasi, Terputusnya Akar Konkret
Banyak pemuda Lampung merantau ke kota atau ibukota provinsi. Di sana, mereka hidup sebagai individu, bukan lagi sebagai bagian dari jurai (marga) dan bebai (keluarga besar). Ikatan sosial berubah dari komunal menjadi kontraktual. Nilai seperti sakai sambayan (gotong royong) sulit dipraktikkan di apartemen yang individualis. Mereka menjadi “orang Lampung” yang abstrak, kehilangan konteks desa dan komunitas dimana adat itu hidup dan bernafas.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 4: Nemui Nyimah , Adab dalam Bertamu dan Menyambut Tamu. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Globalisasi, Banjir Pilihan Identitas
Melalui internet, pemuda Lampung hari ini adalah warga dunia. Mereka bisa mengadopsi gaya hidup K-Pop, selera film Hollywood, atau pemikiran filsuf Barat. Identitas budaya menjadi pilihan, bukan takdir. Di tengah lautan pilihan yang menarik ini, identitas Lampung harus bersaing. Jika ia hanya ditawarkan dalam bentuk ritual yang mahal, bahasa yang rumit, dan aturan yang ketat tanpa penjelasan makna, ia akan kalah. Generasi muda akan memilih identitas yang memberi mereka kebanggaan, kegunaan, dan kecocokan dengan aspirasi masa depan mereka.
Inilah tantangan sekaligus peluang terbesar. Tradisi bukanlah benda museum yang beku. Filosofi hidup Lampung, Piil Pesenggiri, sebenarnya sangat lentur dan relevan.
* Nemui Nyimah (Keramahan): Bisa diterjemahkan menjadi etika jejaring (networking) yang tulus di dunia kerja dan media sosial, bukan sekadar menyambut tamu.
* Nengah Nyappur (Keterbukaan): Bisa menjadi modal sosial untuk kolaborasi lintas bidang dan budaya, membuka wawasan tanpa kehilangan jati diri.
* Sakai Sambayan (Gotong Royong): Bisa dimaknai sebagai semangat komunitas kreatif, membangun startup, atau gerakan sosial bersama.
* Juluk Adok (Harga Diri dan Tata Krama): Bisa menjadi personal branding yang berintegritas, di mana prestasi diraih dengan cara terhormat.
* Piil Pesenggiri Inti: Adalah ketahanan mental (mental toughness) untuk tidak mudah tergerus arus, menjaga prinsip, dan berkontribusi pada masyarakat.

Baca Juga :  Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 4 Mak Secadangan: Mewariskan Kearifan dalam Dunia Tanpa Ingatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Legenda Muliq Khani, tokoh penyebar Islam di Lampung, memberikan contoh baik. Beliau tidak menghancurkan tradisi lama, tetapi mengisinya dengan makna baru yang selaras dengan zaman. Ini disebut akulturasi kreatif. Inilah yang perlu dilakukan generasi muda: menjadi Muliq Khani masa kini.
Judul serial ini kembali menohok. Pemerintah sering dianggap gagal menjadi jembatan. Kebijakan kebudayaan kerap:
1. Bersifat Seremonial: Fokus pada festival dan lomba yang bersifat insidental, bukan pada pembangunan ekosistem budaya yang berkelanjutan.
2. Melupakan Medium Generasi Muda: Sangat sedikit konten kreatif (game, komik web, series, musik pop) yang didanai atau difasilitasi pemerintah yang mengangkat nilai-nilai Lampung dengan bahasa kekinian.
3. Tidak Melibatkan Pemuda sebagai Subjek: Pemuda hanya jadi peserta atau penonton, bukan perancang. Ruang dialog antargenerasi tentang masa depan adat hampir tidak ada.
4. Abai terhadap Konteks Perkotaan: Tidak ada program yang dirancang khusus untuk memfasilitasi komunitas pemuda perantau Lampung di kota-kota besar agar bisa tetap terhubung dan berkontribusi pada budayanya.

Baca Juga :  Piil Pesenggiri di Tengah Gempuran Materialisme, Bisakah Martabat Bertahan? Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Akibatnya, generasi muda merasa tradisi adalah urusan “dinas kebudayaan” dan “tetua adat”, bukan urusan mereka. Mereka ditinggalkan berenang sendiri di antara dua dunia.
Masa depan budaya Lampung tidak ditentukan oleh seberapa banyak anak muda yang bisa menari cangget, tetapi oleh seberapa banyak anak muda yang memahami filosofi di balik gerakan tari itu dan mampu menerjemahkannya dalam bidang mereka masing-masing: sebagai programmer yang berintegritas (Piil Pesenggiri), desainer yang kolaboratif (Sakai Sambayan), atau entrepreneur yang menjunjung tinggi etika (Juluk Adek).
Pemerintah harus membuka mata dan berubah peran: dari pengawas budaya menjadi fasilitator inovasi budaya. Memberi ruang, dana, dan kepercayaan pada anak-anak muda kreatif untuk menafsir ulang warisan leluhur.
Generasi muda Lampung tidak perlu memilih antara tradisi atau modernitas. Tugas mereka adalah menciptakan tradisi yang modern dan modernitas yang berakar. Dengan begitu, mereka tidak akan menjadi generasi yang kehilangan arah, tetapi menjadi generasi yang memberi arah baru bagi “Sai Bumi Ruwai Jurai” di pentas global. Ini adalah wujud nyata dari Pancasila: memajukan peradaban dengan berakar pada kebudayaan bangsa sendiri.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno). Transkripsi koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung. (Dokumen digital/fisik).
2. Amalia, D. (2020). Identitas Budaya Generasi Muda Lampung di Era Digital. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9(2). (Artikel ilmiah digital terverifikasi).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini