Ramadan yang Berkualitas: Puasa Menggapai Langit, Sedekah Menggapai Bumi. Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Hari ini telah memasuki pertengahan bulan Syaban 1447 Hijriah, bulan yang sangat penting bagi umat Islam. Bulan yang didalamnya ada malam Nisfu Syaban yang sesuai kalender Hijriah diperkirakan jatuh pada Senin, 2 Februari 2026. Malam Nifsu Syaban memiliki beberapa keutamaan dan hikmah, diantaranya malam pengampunan dosa, dibukanya pintu rahmat dan diperbaharuinya catatan amal seseorang untuk setahun ke depan.

Ibarat buku rapor yang mencatat nilai dan prestasi seseorang selama satu tahun, pada malam tersebut Allah SWT memperbaharui catatan amal kita untuk di tahun mendatang. Dengan demikian, malam Nifsu Syaban menjadi kesempatan bagi kita untuk instrospeksi diri, memohon ampunan, dan berusaha meningkatkan kualitas amal kita di tahun mendatang. Selain itu, Syaban juga menjadi bulan persiapan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Masjid-masjid, mushola dan lembaga pendidikan non formal seperti TPA dan pondok pesantren mulai bergeliat mempersiapkan diri sebaik-baiknya, layaknya menyambut datangnya tamu agung. Mereka berlomba-lomba untuk menyediakan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan bernilai serta berkesan bagi masyarakat. Dengan penuh semangat, masjid-masjid berusaha untuk menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial, khususnya bagi masyarakat di sekitar. Pengurus masjid ingin memastikan bahwa bulan Ramadhan menjadi waktu yang penuh berkah dan bermanfaat bagi semua orang. Bulan Ramadhan bagaikan magnet yang memiliki daya tarik sangat kuat bagi umat muslim, karena keutamaan dan manfaat spiritual yang terkandung didalamnya. Semua berharap agar Ramadan bukan sekedar menjalankan puasa dan tarawih, tapi lebih bermakna bagi diri sendiri dan masyarakat. Bulan Sya’ban dalam hubungannya dengan Ramadhan adalah sebagai wahana konsolidasi diri dan kesempatan emas untuk tazkiyatun nafs atau pensucian jiwa dan pembersihan hati dari sifat-sifat negatif sebelum menjalankan ibadah puasa, serta amalan-amalan yang dituntunkan Rasulullah SAW di bulan Ramadhan.

Baca Juga :  MELEMPAR BANGKAI TANPA OPOSISI

Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan di bulan Syaban ini? Pertama persiapan jiwa, yakni melatih jiwa dengan cara memperbanyak ibadah di bulan Syaban seperti melaksanakan puasa sunnah sebagaimana amalan yang dilakukan Rasulullah SAW. Kedua, persiapan fisik material, yaitu mempersiapkan sarana-prasarana penunjang kegiatan Ramadhan, seperti memperbaiki tempat ibadah berikut sarana dan prasarananya, mempersiapkan harta untuk zakat, infak, shadaqah dan ibadah sosial lainnya. Ketiga, persiapan keilmuan, yaitu mengkaji ulang tentang ibadah wajib di bulan Ramadhan, yaitu shaum serta mengkaji tentang amal-amal yang disunnahkan di bulan Ramadhan, yaitu tentang Shadaqah, Qiyam Ramadhan, tilawatil Quran, dan Itikaf. Hanya dengan kajian keilmuan inilah kita dapat melaksanakan ibadah Ramadhan sesuai Sunnah Rasulullah SAW. Sejalan dengan perkembangan jaman dan peradaban Islam, umat muslim semakin menyadari bahwa bulan Ramadhan bukan hanya tentang persiapan untuk melakukan ibadah puasa dan tarawih, tetapi juga tentang mengisi berbagai kegiatan positif yang dapat meningkatkan kualitas spiritual dan sosial. Ramadhan merupakan bulan pembelajaran yang penuh hikmah dan berkah serta ampunan dari Allah SWT. Maka selain persiapan lahiriah, penting juga untuk melakukan persiapan batiniah serta paham terhadap hikmah puasa yang sesungguhnya.

Salah satu di antara sekian hikmah dan rahasia ibadah puasa di bulan Ramadan adalah memupuk semangat solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, kepedulian sesama dan kesetiakawanan sosial. Disinilah sesungguhnya tantangan terberat bagi umat muslim untuk tidak sekedar melaksanakan ibadah pribadi, tapi juga ibadah sosial. Bulan Ramadhan melatih umat muslim agar dapat meminimalisasi sikap kikir dan bakhil serta individualis dalam dirinya, untuk selanjutnya menjadi insan yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Selain berpuasa, umat muslim yang berkecukupan harta juga diperintahkan untuk membayar zakat fitrah, infak dan sedekah serta amal kebajikan lainnya. Selain zakat fitrah, umat muslim juga diperintahkan untuk menyegerakan zakat harta atau maal. Maka banyak umat muslim yang memilih menunaikan zakat hartanya pada bulan Ramadhan, dengan harapan selain untuk memenuhi kewajiban, sekaligus untuk meraih kemuliaan di bulan yang penuh maqhfirah ini. Maka ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah Ramadan dapat di ukur sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa dengan membuang jauh-jauh sifat bakhil tadi. Tidaklah mungkin seorang fakir akan menderita kelaparan atau kekurangan sandang, kecuali disebabkan kebakhilan pada diri umat muslim yang berharta dan berkecukupan.

Baca Juga :  Ramadan, Antara Ibadah Pribadi dan Sosial. Oleh : Gunawan Handoko *)

Kemiskinan yang terjadi di masyarakat kita bukan semata-mata disebabkan oleh kemalasan untuk bekerja, tetapi lebih diakibatkan dari pola kehidupan yang tidak adil (kemiskinan struktural). Semua terjadi karena rasa kesetiakawanan sosial diantara umat muslim sudah memudar sehingga terjadi jarak antara kelompok si kaya dengan si miskin. Maka apabila dana yang dihimpun dari zakat, infak dan sedekah dapat dikelola secara baik dan didistribusikan dengan tepat, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan dan kefakiran yang ada ditengah masyarakat kita akan dapat sedikit ditanggulangi atau paling tidak diperkecil. Kebahagiaan hati pun dapat dirasakan oleh para dermawan, selain dapat membantu kaum fakir miskin, juga telah berhasil menambal berbagai kesalahan individu yang terjadi selama menjalani puasa. Karena itu, ibadah puasa jangan hanya dimaknai sebagai sarana untuk meningkatkan kesalehan individu seperti melaksanakan shaum dan shalat tarawih, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial, khususnya dalam membantu sesama.

Baca Juga :  Tahun Baru Tanpa ‘Dar-Der-Dor’.(Menyongsong Tahun Baru 2026). Oleh : Gunawan Handoko *)

Firman Allah SWT sudah sangat jelas bahwa harta yang ada pada diri kita sesungguhnya hanya titipan-Nya. Maka kita harus berani menghilangkan jauh-jauh anggapan bahwa harta yang kita peroleh merupakan hasil jerih payah diri pribadi, tanpa adanya campur tangan-Nya. Dengan memberanikan diri menafkahkan sebagian harta yang dititipkan Allah tersebut, pada akhirnya kita mampu merasakan tarikan magnet dan gravitasi nikmatnya bersedekah. Karena sesungguhnya ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah Ramadhan bukan hanya di ukur dari berapa hari melaksanakan kewajiban puasa dan shalat tarawih berikut rangkaiannya, namun sejauh mana dirinya mampu menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa tersebut. Jangan sampai niat untuk berinfaq dan bersedekah terkalahkan dengan pemenuhan kebutuhan untuk perayaan lebaran Idul Fitri. Semoga Ramadhan tahun ini mampu mempertebal keyakinan kita untuk kembali pada tuntunan Allah, bahwa menjadi satu kewajiban bagi setiap muslim yang diberi kelebihan harta untuk dapat berbagi kepada kaum yang belum beruntung. Dengan berinfaq dan bersedekah semoga akan menyempurnakan ibadah puasa dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi dihadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat mutaqin. Wallahu alam bis-showab. Marhaban Ya Ramadhan. <>

*) Penulis adalah : Jamaah Masjid Al-Muawwanah Gedong Meneng Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini