nataragung.id – Pemanggilan – “Kamu tidak akan pernah menemukan manusia yang sempurna; maka carilah seseorang yang kekurangannya tidak menyakitimu.”
Ungkapan ini mengajarkan kebijaksanaan besar dalam memandang manusia. Islam sejak awal telah menanamkan kesadaran bahwa kesempurnaan mutlak hanyalah milik Allah.
Manusia, siapa pun dia, pasti memiliki kekurangan, cela, dan keterbatasan. Maka, kebahagiaan dalam hidup, terutama dalam hubungan sosial, persahabatan, dan rumah tangga, bukan terletak pada mencari manusia tanpa cacat, tetapi pada kemampuan menerima kekurangan dengan lapang dada dan saling memaafkan.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisā’: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa kelemahan adalah fitrah manusia, bukan aib yang harus disangkal. Karena itu, menuntut kesempurnaan dari manusia lain sama saja dengan menentang sunnatullah.
Dalam ayat lain, Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Jika Allah saja tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan, maka mengapa kita membebani orang lain dengan tuntutan kesempurnaan yang tidak mampu mereka penuhi?
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengingatkan dengan sangat jelas:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Hadits ini mengajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan. Nilai seseorang bukan diukur dari bebasnya ia dari kekurangan, tetapi dari akhlaknya, kejujurannya, dan kesungguhannya untuk memperbaiki diri.
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ibnu Mājah)
Maka, mencari manusia yang “sempurna” hanyalah ilusi. Yang realistis dan Islami adalah mencari orang yang kekurangannya bisa kita terima, dan yang kehadirannya mendekatkan kita kepada Allah, bukan menjauhkan.
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala menjadikan kita hamba-hamba yang bijak dalam memilih, lapang dalam menerima, dan lembut dalam memaafkan. (KIS/166).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

