nataragung.id – Pemanggilan – Setan itu tidak selalu datang dengan rupa yang menyeramkan dan tanduk yang menakutkan. Ia justru sering hadir dalam bentuk yang akrab, halus, dan dekat dengan kehidupan manusia. Bahkan, setan hari ini bisa dikenali dalam tiga bentuk.
Pertama, setan yang takut dengan Ayat Kursi.
Inilah setan dalam makna asalnya. Ia lari ketika nama Allah disebut, gemetar saat tauhid ditegakkan, dan tak berdaya di hadapan dzikir dan iman. Ayat Kursi menjadi benteng yang memutus langkahnya. Setan jenis ini hanya berkuasa atas hati yang lalai dan jiwa yang jauh dari Allah.
Kedua, setan yang takut kehilangan kursi.
Setan ini tidak gentar pada ayat-ayat Allah, tetapi sangat takut pada goyahnya jabatan.
Hidupnya bertumpu pada kekuasaan, bukan pada amanah. Setiap kebijakan diukur bukan dengan benar dan salah, melainkan aman atau tidak bagi posisinya.
Ia berbicara tentang agama, keadilan, dan rakyat selama semua itu tidak mengancam kursi yang ia duduki.
Ketika kursi mulai terancam, nurani dikorbankan, kebenaran disembunyikan, dan kritik dianggap musuh. Ia bukan takut pada dosa, tetapi takut kehilangan jabatan. Bukan khawatir pada hisab, tetapi gelisah pada hilangnya pengaruh. Ayat Kursi tak membuatnya lari, karena yang ia jaga bukan iman, melainkan singgasana dunia.
Ketiga, setan yang menjilat mereka yang sedang di kursi.
Inilah setan paling licik dan berbahaya. Ia selalu berada di lingkar kekuasaan, menyanjung tanpa batas dan membenarkan tanpa akal.
Setiap kebijakan dianggap bijak, setiap kesalahan disebut strategi, dan setiap kritik dicap ancaman. Ia membungkam kebenaran dengan pujian dan merusak kekuasaan dengan sanjungan palsu.
Ia tidak takut kepada Allah, tidak peduli kepada rakyat, dan tidak setia kepada kebenaran. Kesetiaannya hanya satu: selama ia masih kebagian remah-remah kekuasaan.
Maka berhati-hatilah. Tidak semua yang memusuhi itu setan, dan tidak semua yang memuji itu malaikat. Setan bisa takut pada Ayat Kursi, bisa gemetar karena takut kehilangan kursi, dan bisa tersenyum manis demi mempertahankan kursi.
Yang menyelamatkan manusia bukanlah jabatan, pujian, atau kekuasaan, melainkan iman yang jujur, akal yang sehat, dan keberanian untuk berdiri di atas kebenaran, baik saat duduk di kursi, maupun ketika tidak lagi memilikinya.<>
(KIS/168).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

